Sudah genap dua puluh tahun pangeran Syah Hang diungsikan. Kini saatnya dia harus kembali ke Kerjaan untuk mengambil hak tahtanya yang sedang diperbutkan oleh dua saudara tirinya. Yaitu Pangeran Hang Djie dan Hang Tsu anak dari selir ayahnya. Karena keserakahan dari selir Tsu En, pangeran asli pewaris tahta harus terasingkan. Tapi takdir kebaikan akan selalu mencari jalannya. Hingga sampailah di hari pangeran Syah Hang pewaris tahta asli kembali dan mendapatkan tahtanya dan memimpin Kerjaan dengan kebijaksanaan.
Tapi kedua saudara tirinya tidak mau tinggal diam. Keduanya bersekutu untuk menjatuhkan pangeran Syah Hang dari tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anand Mehra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukan Jejak Kipas Sakti 102
"Dia pikir akan bisa melepas topengnya" Wai Hang menatap ke arah perdana menteri Dong Zhang dengan sinis.
"Sepertinya topeng ini bukan topeng biasa" Dong Zhang berkata setengah berbisik di dekat pangeran Syah Hang.
Pangeran muda Syah Hang kembali tersenyum di balik topengnya. Kali ini ia benar-benar merasa sudah bisa mengendalikannya.
Energi Hua Khon kini berada dalam kendalinya penuh.
Pangeran Syah Hang, sengaja mengizinkan perdana menteri Dong Zhang untuk bisa membuka topengnya. Tapi sengatan itu akan tetap terasa. Karena itu murni dari energi topeng Hua Khon itu sendiri.
Perdana menteri Dong Zhang pun membuka topeng Hua Khon dari wajah pangeran Syah Hang. Begitu tangannya menyentuh topeng Hua Khon.
Perdana menteri Dong Zhang pun menyeringai menahan sengatan listrik dari topeng itu.
Zaaapp......Suuuiiing...
Topeng Hua Khon itu pun terlepas dari wajah pangeran muda Syah Hang.
Wai Hang melotot melihat wajah pangeran muda Syah Hang yang tiba-tiba saja ada bekas luka sayatan pedang tipis di pipi sebelah kanannya.
"Luka itu?"
Panglima Wai Hang bertanya-tanya darimana luka itu? Kapan? dan bagaimana kejadiannya?
"Luka yang menyedihkan, apakah luka ini yang membuat wajah tampanmu harus ditutupi dengan topeng ini?" perdana menteri Dong Zhang memakaikan kembali topeng Hua Khon itu di wajah pangeran muda Syah Hang.
"Luka ini bahkan bisa mewabah jika tidak kututupi tuan perdana menteri"
Pangeran muda Syah Hang sengaja mengarang cerita yang berlebih. Dan itu untuk menciptakan rumor alasan dirinya selalu bertopeng.
"Akan kucarikan tabib terbaik untuk menyembuhkan luka di wajahmu" perdana menteri Dong Zhang menaiki kudanya.
"Bawa mereka ke istana Zhang milikku"
"Baik tuan menteri" kepala pemimpin pasukan memberi perintah pada pasukannya sesuai perintah perdana menteri Dong Zhang.
Para pasukan pengawal kusus pangeran Hang Djie pun membawa Wai Hang dan pangeran Syah Hang ke istana Perdana menteri Dong Zhang.
"Kenapa Dong Zhang bisa membuka topeng pangeran muda?" Wai Hang bertanya-tanya dalam hatinya.
Padahal dia sendiri tidak bisa melepaskan topeng itu dari wajah pangeran muda Syah Hang.
"Pasti ini juga bagian dari rencana pangeran" Wai Hang menerka-nerka.
"Pendekar bertopeng itu bukan orang sembarangan. Aku membutuhkannya" Dong Zhang tersenyum penuh arti konpirasi tersendiri dari atas kudanya.
Perdana menteri Dong Zhang pun meneruskan perjalanannya kembali ke istananya. Dengan diikuti para pendekar bayarannya. Dong Zhang masih sangat penasaran dengan topeng Hua Khon milik pangeran muda Syah Hang.
"Topeng itu bukan topeng biasa, sengatan itu seolah energi murni dari topeng itu sendiri" ujar perdana menteri Dong Zhang.
"Wang Wei, cari tau tentang topeng yang dipakai oleh tawanan itu"
"Baik tuan Dong Zhang" si Wang Wei pendekar Golok Kembar memberi hormat pada perdana menteri Dong Zhang tanda siap menjalankan perintahnya.
~~
Di Istana Tepi Barat Kota
"Menteri Yank, kita harus kembali ke timur sebelum malam tiba" pangeran Hang Tsu meneguk arak terakhirnya.
"Hamba mengerti pangeran. Ibunda Tsu En juga sudah berpesan supaya kita tidak bermalam di barat"
"Adik Djie, aku harus pamit dulu. Kita akan berjumpa sepekan lagi. Semoga hadiahnya menyenangkan hatimu" Pangeran Hang Tsu berpamitan pada pangeran Hang Djie.
"Baik kakak Tsu, hati-hati di perjalanan"
"Pangeran Hang Djie, hamba pamit" menteri Yank Haq memberi hormat.
"Terima kasih kunjungannya menteri Yank" pangeran Hang Djie memberi salam balik pada menteri Yank Haq.
Pangeran Hang Djie mengantarkan pangeran Hang Tsu dan menteri Yank Haq sampai ke gerbang keluar aula istana utama tepi barat kota.
Pangeran Hang Tsu dan menteri Yank Haq pun berangkat menuju ke istana tepi timur kota. Mereka dikawal oleh tujuh pendekar bayaran. Diantaranya juga Shan Yie sang wakil menteri Yank.
Secara kebetulan mereka berpapasan dengan pasukan pengawal kusus pangeran Hang Djie. Menteri Yank dan pangeran Hang Tsu sempat melihat dua orang yang diikat di barisan para pasukan itu.
"Siapa seseorang yang bertopeng itu?" menteri Yank Haq menghentikan laju kudanya sejenak.
"Apakah menteri mengenali mereka?" pangeran Hang Tsu berhenti di samping menteri Yank.
"Topeng Hijau Khon, sudah sangat lama topeng itu menghilang" ujar wakil menteri Shan Yie.
"Topeng raja Hua Khon" para pendekar bayaran itu juga terheran-heran ketika melihat topeng Hua Khon milik pangeran muda Syah Hang.
"Topeng itu sama legendarisnya dengan kipas ku ini" salah seorang pendekar bayaran mengeluarkan kipas sakti 102 milik pangeran muda Syah Hang.
"Pendekar Xhan, darimana anda dapatkan kipas itu?" menteri Yank Haq mendekati pendekar yang dipanggilnya Xhan.
"Kipas ini pemberian dari guruku tuan menteri" Xhan tersenyum congkak sambil mengipas-ngipaskan kipas 102 di tangannya.
"Aku kagum kipas milik pendekar tersohor dari barat itu bisa di tangan anda tuan Xhan" menteri Yank memuji pendekar Xhan.
"Terima kasih tuan menteri, kipas ini memang tidak bisa sembarangan dimiliki oleh orang. Anda tau sendiri tuan Menteri"
"Selain hebat, anda juga cerdas"
Pujian dari menteri Yank Haq, membuat para pendekar yang lain merasa iri pada pendekar Xhan. Pandangan sinis, dan juga bengis mulai ditunjukkan oleh para pendekar bayaran itu.