"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Mulai mencintai
Bab 10 — Mulai mencintai
•••
Suasana di ruangan guru nampak ramai sekali. Jam pelajaran baru saja usai beberapa menit yang lalu. Varisha baru saja mendudukkan dirinya di kursi.
Tiba-tiba ia menjadi semangat ketika memikirkan Zayn.
'Zayn suka apa ya?' batin Varisha sembari berpikir.
'Oh iya, aku ingat. Dia suka sup daging.' ucap Varisha lagi.
"Pengantin baru sedang apa?" goda Melly, teman sesama guru di sekolah ini.
Varisha tersenyum menatap Melly.
"Kenapa tidak pergi bulan madu saja sih, Varisha?" ujar Melly.
"Tidak perlu. Lagian kita sedang sibuk saat ini," balas Varisha.
Melly melihat sesuatu di leher Varisha yang tertutup syal. Sebuah bercak merah tertera jelas di sana. Varisha yang melihat arah pandangan Melly mulai cemas.
"Ada apa?" tanyanya gugup.
Melly tersenyum jahil.
"Sudah berapa ronde?" godanya sembari menunjuk lehernya sendiri.
Varisha jadi merah merona. Ia menepuk lengan milik Melly pelan.
"Jangan bahas hal itu di sekolah, Melly!" tegur Varisha pelan.
"Apaan sih kamu ini. Aku kan cuma bicara pelan saja," ucap Melly mencoba mengelak.
"Tetap saja. Lebih baik kamu urus urusan ranjangmu dengan suamimu," omel Varisha.
Melly semakin tersenyum senang melihat Varisha yang kesal.
"Aku mau tanya deh, apa nggak canggung ya? Kalian kan sebelumnya sesama ipar, tapi sekarang jadi suami istri," ujar Melly penasaran.
Varisha tersenyum kecil.
"Aku juga pikir begitu. Tapi, biarlah waktu yang menjawab semuanya."
•••
Suasana sudah larut malam. Namun, Zayn masih berada di dalam bengkel miliknya. Bersama Adinda yang kini mengenakan kemeja putih milik Zayn. Pakaian itu terlihat kebesaran di tubuh wanita tersebut, memperlihatkan paha mulusnya dengan jelas.
Sedangkan Zayn sedang sibuk mencari suku cadang dari luar negeri melalui ponselnya.
"Pakai celanamu. Orang-orang nanti mengira kita melakukan sesuatu di sini," tegur Zayn pelan.
Adinda mendengus kesal. Ia menghampiri Zayn lalu bergelayut manja di leher pria itu.
"Kalau begitu ayo kita lakukan," ucapnya sembari membelai rahang kokoh milik Zayn.
Wanita itu bahkan duduk di pangkuan Zayn sambil meremas pahanya.
"Jangan seperti ini, Adinda. Kamu tahu sendiri, aku nggak akan menyentuhmu sebelum kita menikah. Aku nggak suka hubungan yang cuma didasari nafsu," ucap Zayn tanpa menatapnya.
"Ish, kamu ini. Orang-orang berlomba lomba ingin tidur denganku, sedangkan pacarku sendiri malah nggak mau," rajuk Adinda.
Zayn menatap tajam Adinda, “siapa yang bilang begitu?”
Adinda melirik kiri-kanan karna salah berucap, “enggak kok. Bukan itu, maksudnya aku…ahh, udah ahh. Kamu nyebelin!”
Melihat Adinda merajuk, Zayn tak tega. Ia memindahkan tubuh wanita itu ke atas meja, menatapnya lekat penuh cinta. Sedangkan Adinda masih membuang muka dengan kesal.
Zayn tersenyum kecil.
"Jangan marah dong, sayang~" bujuknya sembari menarik pelan pipi Adinda.
Adinda akhirnya mengalah. Ia menatap sepasang mata biru yang begitu indah di hadapannya. Senyuman tipis Zayn membuat pria itu semakin tampan.
"Kalau begitu cium aku," pinta Adinda manja sembari melingkarkan kedua tangannya di leher Zayn.
"Yakin?" Zayn kini memeluk pinggang Adinda erat.
"Aku jamin kamu bakal kehabisan napas."
"Itu yang aku harapkan," balas Adinda tersenyum.
Zayn ikut tersenyum. Adinda langsung mendekatkan bibirnya. Ciuman pelan itu perlahan berubah semakin dalam dan intens. Bahkan tangan Zayn mulai mengusap punggung Adinda perlahan.
Mereka tak sadar jika aksi itu kini disaksikan oleh sepasang mata yang berdiri membeku di depan pintu.
Varisha.
Wanita itu memegang tongkat di tangan kirinya dan sebuah goodie bag di tangan kanannya.
Ia menatap suaminya yang sedang berciuman dengan wanita lain di depan matanya sendiri.
Zayn yang awalnya larut dalam ciuman itu langsung terdiam saat melihat Varisha.
"Kenapa berhenti?" tanya Adinda heran. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Varisha berdiri di sana.
“Astagfirullah’alazim!”
"Kenapa dia ada di sini, Zayn?" kesal Adinda.
Zayn langsung bangkit dari duduknya.
"Kamu kembali ke kamar sekarang," titah Zayn dengan mata tajam menatap Varisha.
Adinda segera turun dari meja, "Aku akan kasih pelajaran cewek pincang ini karena sudah berani menikah denganmu, Zayn!" Adinda ingin menghampiri Varisha.
Namun Zayn langsung mencegahnya. Akhirnya Adinda mendengus kesal lalu pergi menuju kamar pribadi Zayn di dalam bengkel.
Tatapan Varisha hanya tertuju pada pakaian yang dikenakan Adinda. Wanita itu hanya memakai kemeja milik Zayn.
Berbagai pikiran buruk langsung memenuhi kepala Varisha.
'Apa saja yang sudah mereka lakukan?' batinnya lirih.
Ia hampir menangis, namun berusaha menahannya.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Varisha menatap Zayn.
"Itu pacarku. Terserah dia mau apa di sini."
"Tapi, Mas... kita sudah menikah. Kamu nggak boleh melakukan hal seperti ini. Itu dosa””
"Eh, pincang! Gue tekankan lagi sama loe ya. Pernikahan ini itu terpaksa, jadi loe gak usah sok ngatur hidup gue!” Zayn begitu marah sambil menunjuk dahi Varisha dengan keras.
“Aww…”
"Tapi kalau Ayah dan Ibu tahu bagaimana? Kamu tahu sendiri penyakit Ayah bisa kambuh kapan saja," ujar Varisha cemas.
Zayn tersenyum miring meremehkannya. Kedua tangannya kini berada di pinggang.
"Bukan urusan loe! Dan buat apa loe datang kesini, hah?! Bikin bad mood aja.”
Varisha sedikit terkejut, namun tetap mencoba tegar.
Sedangkan tanpa mereka sadari, dari balik pintu kamar, Adinda mengintip dengan senyum puas. Ia senang melihat Zayn sangat membenci Varisha.
"Rasain, cewek pincang," bisiknya puas.
"Aku membawakan makanan kesukaanmu. Sup daging. Tapi karena kamu nggak pulang akhirnya aku membawanya ke sini." Varisha menyodorkan goodie bag tersebut dengan senyum kecil.
Namun Zayn sama sekali tidak berniat mengambilnya.
Varisha akhirnya meletakkannya di atas meja.
"Aku pergi dulu," ucap Varisha lirih sebelum berbalik pergi.
Zayn hanya bersandar sambil melipat kedua tangan di dada. Ia menatap Varisha tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Pengganggu," ketusnya sebelum kembali duduk.
Di luar ruangan, Varisha langsung menyeka air matanya. Namun semakin diusap, air mata itu semakin deras mengalir.
"Kamu harus kuat, Varisha... kamu harus kuat..."
"Mbak Varisha nggak apa-apa?" tanya Dion khawatir melihat kondisi wanita itu.
Varisha hanya menunduk.
"Aku nggak apa-apa. Aku pergi dulu. Assalamualaikum,”
“Wa’alaikumsalam.”
Dion menatap kepergian Varisha dengan wajah cemas.
"Kenapa lagi bocah tengik itu?" gumamnya mengenai Zayn.
Dion pun ingin masuk ke ruangan Zayn. Namun pemandangan di dalam langsung membuatnya m malas. Ia melihat Zayn kembali berciuman dengan Adinda.
"Ck!" Dion langsung memilih pergi lagi.
“View sampah lagi.”
•••
Di perjalanan pulang, Varisha terus menyeka air matanya. Hatinya terasa hancur melihat Zayn bersama wanita lain.
Tak lama, motor roda tiganya berhenti di area pemakaman umum. Varisha berjalan perlahan melewati deretan makam dan berhenti di depan satu batu nisan.
Di sana tertulis:
ADAM MAHENDRA
"Hiks... hiks... hiks... aku merindukanmu, mas," lirih Varisha sembari menempelkan kepalanya di atas makam tersebut.
Tanpa ia sadari, dari kejauhan tampak sosok pria berdiri di balik pohon besar.
"Benar kan. Dia saja nggak bisa menerima pernikahan ini. Dia masih merindukan Adam," ujar sosok yang mengenakan pakaian serba hitam. Bahkan, mengenakan masker.
Kembali pada Varisha.
Ia mengusap batu nisan Adam perlahan.
"Hari-hariku semakin sepi tanpamu, Mas. Nggak ada lagi sosok sepertimu..." lirihnya.
Varisha menggenggam batu nisan itu erat, seolah sedang menggenggam tangan Adam.
"...Tapi akhir-akhir ini aku merasa sedih bukan hanya karena kamu nggak ada. Melainkan karena hal lain."
Air matanya kembali jatuh.
"Maaf mengatakan ini, Adam... tapi sepertinya aku mulai mencintai Zayn."
Varisha tersenyum getir.
"Aku nggak suka melihatnya bersama wanita lain."
To be continue...
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya