NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:30.1k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

"Kamu gila, Pa! Aku nggak bisa! Jangankan gambar pola, megang pensil jahit aja aku nggak tahu rasanya!"

Suara Airin melengking di ruang tengah, pecah oleh histeria yang tertahan. Wajahnya yang biasanya dipulas sempurna kini pucat pasi, nyaris sewarna dengan kertas sketsa yang berserakan di atas meja marmer.

"Diam, Airin! Jaga suaramu!" Prasetya membentak, suaranya rendah tapi penuh ancaman. "Kakek Wijaya sudah di depan gerbang. Kalau dia tahu kita bohong, bukan cuma beasiswa kamu yang dicabut, tapi kerja sama perusahaan Papa juga tamat!"

Pintu depan terbuka. Suara langkah kaki yang berat dan teratur menggema di lorong. Wijaya Pratama masuk dengan setelan batik sutra gelap, tongkat kayu cendananya mengetuk lantai dengan bunyi tuk, tuk, tuk yang terdengar seperti lonceng kematian di telingaku.

Aku berdiri mematung di balik pilar, tanganku masih basah oleh air sabun karena baru saja selesai mencuci piring. Ratna, Ibuku, tiba-tiba menyambar lenganku dengan cengkeraman yang menyakitkan.

"Ikut Mama," desisnya. Ia menyeretku paksa menuju ruang tamu, namun bukan untuk menyambut tamu, melainkan mendorongku ke balik tirai beludru tebal yang memisahkan ruang tamu dengan ruang kerja Papa.

"Dengar, Aira," Ibu berbisik tepat di telingaku, aromanya yang wangi mawar terasa mencekik. "Airin akan duduk di meja itu. Kamu berdiri di sini, di balik tirai. Kamu harus membisikkan setiap detail, setiap garis, dan teknik apa yang harus dia gambar kalau Kakek Wijaya bertanya. Satu saja kesalahan keluar dari mulutmu, Papa nggak akan segan-segan mengusirmu malam ini juga. Paham?!"

Aku hanya bisa mengangguk pelan, menelan ludah yang terasa pahit. Aku bisa melihat bayangan Airin yang duduk gemetar di kursi melalui celah tipis tirai.

*

"Jadi, ini 'Ai' jenius yang dibanggakan Alvaro?"

Suara Kakek Wijaya berat dan berwibawa. Beliau tidak duduk, melainkan berdiri mengitari meja, menatap Airin seolah sedang menguliti setiap lapisan kebohongan di wajah kembaranku itu.

"I—iya, Kek. Saya hanya... mencoba melakukan yang terbaik untuk Alvaro," suara Airin bergetar hebat.

Kakek Wijaya meletakkan selembar kertas kosong dan sebuah pensil 2B di depan Airin. "Desain 'The Silent Heart' itu luar biasa. Terutama teknik Hidden Rose Stitch di bagian kerahnya. Saya ingin melihatmu menggambar polanya sekarang. Secara kasar saja, saya ingin melihat bagaimana jarimu menari di atas kertas."

Aku bisa melihat keringat dingin mengucur di tengkuk Airin. Ia memegang pensil itu seperti memegang granat yang siap meledak.

"Aira... cepat..." bisik Airin, nyaris tak terdengar, bibirnya hampir tidak bergerak.

Aku mendekatkan mulutku ke celah tirai, hatiku berdegup kencang hingga rasanya mau meledak. "Tarik garis melengkung dari sudut kiri atas, Rin," bisikku setipis mungkin. "Buat tiga tumpang tindih seperti kelopak layu. Jangan ditekan, tipis saja..."

Airin mulai menggerakkan pensilnya. Kaku. Benar-benar kaku.

"Kenapa tanganmu gemetar, Cah Ayu?" Kakek Wijaya bertanya, nadanya tenang tapi mematikan.

"S-saya sedikit gugup karena ada Kakek di sini," sahut Airin cepat.

"Lanjutkan," perintah Kakek.

"Arsir bagian dalamnya dengan gerakan memutar kecil-kecil," bisikku lagi, air mataku mulai menggenang. Menyakitkan rasanya memberikan instruksi untuk mahakarya yang lahir dari air mataku sendiri, hanya agar orang lain yang mendapatkan pujiannya. "Ingat, pola mawar itu harus tersembunyi di balik lipatan garis vertikal. Itu kuncinya."

Airin mengikuti instruksiku. Di atas kertas, sebuah pola mulai terbentuk, meski jauh dari kata sempurna. Tapi setidaknya, itu terlihat seperti teknik yang sama dengan gaun yang menang lomba.

Kakek Wijaya terdiam cukup lama. Beliau membungkuk, memperhatikan goresan pensil Airin dengan sangat teliti. Suasana ruangan itu begitu hening hingga suara detak jam dinding terasa seperti dentuman meriam.

"Menarik," gumam Kakek Wijaya. Beliau menegakkan tubuhnya, matanya yang tajam di balik kacamata emas itu menatap ke arah meja, lalu perlahan... matanya beralih.

Bukan ke arah Airin. Bukan ke arah Papa atau Mama yang berdiri tegang di sudut ruangan.

Tapi ke arah tirai beludru tempatku bersembunyi.

"Goresan pensilmu lumayan, Airin. Tapi..." Kakek Wijaya melangkah pelan, suara tongkatnya kini berhenti tepat di samping tirai. "Suara serangga di ruangan ini terdengar sangat jelas ya? Seperti ada yang sedang membacakan mantra dari balik kain ini."

Jantungku berhenti berdetak. Aku menahan napas, merapatkan tubuhku ke dinding dingin di belakangku. Aku bisa mencium aroma kayu cendana dari Kakek Wijaya yang kini berdiri hanya beberapa senti dari tempatku bersembunyi.

"Kek, itu... itu mungkin suara angin dari jendela," Papa mencoba menimpali, suaranya terdengar sangat panik.

"Angin tidak bisa menjelaskan teknik menjahit, Prasetya," sahut Kakek Wijaya dingin.

Beliau tidak menunggu jawaban lagi. Dengan gerakan yang sangat cepat untuk pria seusianya, Kakek Wijaya menyambar pinggiran tirai beludru itu dan menyentaknya hingga terbuka lebar.

Cahaya lampu ruang tamu yang terang benderang langsung menusuk mataku. Aku terpaku, berdiri gemetar dengan baju rumahan yang kusam dan tangan yang masih merah karena sabun cuci. Aku melihat keterkejutan di wajah Alvaro yang baru saja masuk ke ruangan, dan kemarahan yang meluap di wajah Papa.

Kakek Wijaya menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya yang tajam seolah-olah bisa menembus tulang rusukku dan melihat seluruh kebenaran yang kusimpan.

"Jadi..." Kakek Wijaya tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat bulu kudukku meremang. "Siapa yang bersembunyi di sini? Keluar! Jelaskan padaku, kenapa pelayan rumah ini lebih tahu tentang mawar tersembunyi daripada sang desainer itu sendiri?"

1
Ma Em
Wah pak Prasetya ditantang Aira untuk melakukan tes DNA malah kabur , berarti benar Aira bkn anaknya pak Prasetya .
Allea
kalo lo ga bongkar kebusukan si airin trus kpn bales kebusukannya ,enak si airin dong aman2 bae 😁
Salwa Blora
kak lantoot semangat kak😁😁
M ipan
semangat ya💪
Aletheia: thanks, atas komen dan like nya kak👍
total 1 replies
Ma Em
Prasetya , Ratna dan Airin kenapa selalu jadi duri dlm setiap ada kegiatan atau acara yg Aira adakan , kapan Prasetya , Ratna juga Airin akan dapat karmanya dan membiarkan Aira hdp bahagia tanpa diganggu ketiga iblis berbentuk manusia ini , semoga kebohongan Airin segera diketahui Alvaro bahwa anak yg dikandung Airin bkn darah daging Alvaro tapi benih dari tuan Burhan .
Aletheia: terimakasih kak atas komennya,bisa tulis di rating ya kak terus kesan novelnya di disana🤭
total 1 replies
Tetii Riiani
ceritanya seru n gak bertele tele
Aletheia: thanks kak atas ratingnya, semoga sehat selalu dan lancar rejekinya 🙏
total 1 replies
Rinrin Novani
sangat bagus
Aletheia: terimakasih kak atas ratingnya semoga sehat selalu dan lancar rejekinya 🙏
total 1 replies
andi tahang
lanjutyy
Ma Em
Semoga secepatnya Aira menikah dgn Bara jgn ditunggu lama lagi karena terlalu banyak orang yg akan menghancurkan Aira .
Ma Em
Aira kamu berani melawan dan hilangkan rasa trauma kamu Aira dan jgn sampai kamu tertipu oleh bapakmu , ibumu juga Airin yg licik itu mereka hanya mau memanfaatkan kamu Aira , Aira jgn terlalu senang dulu dgn modal yg diberikan pak Darmawan karena ada Alvaro yg sdh mengincar dan akan membuat usaha Aira gagal , Aira hrs hati hati jgn sampai lengah .
Aletheia: thanks ya kak udah komen,minta ratingnya karena besok mau up banyak
total 1 replies
Allea
sebenarnya Aira itu tangguh ga sih 😁
Ma Em
Ada hubungan rahasia antara Prasetya dgn tuan Galaksi tentang Aira yg selalu dikurung didalam gudang bawah tanah , apakah Aira bkn anak kandung pak Prasetya , tapi aku agak kecewa pada Aira sepertinya Aira msh suka pada Alvaro setelah Alvaro menyakiti dan selalu menghina Aira tetapi Aira diam saja saat dipeluk Alvaro , hati2 Aira kamu jgn mengecewakan Bara karena Bara yg sdh menolong mu dan mengangkat derajatmu sehingga jadi desainer yg hebat jadi lupakan Alvaro itu cuma masa lalu yg menyakitkan Aira jgn luluh dgn Alvaro .
Yeni Astriani
Alvaro sungguh pria tidak tahu malu dan gak punya harga diri sama sekali
Ma Em
Aira lawan jgn takut lagi sama Airin juga ibumu kasih pelajaran untuk Airin juga ibumu agar kapok dan tdk akan mengganggu Aira lagi , masa Aira sdh jauh2 belajar di Milan msh bisa ditekan dan diancam sama Airin .
Ma Em
Bagus Aira kamu jgn lupakan pengorbanan Bara yg sdh menolong dan menjadikan Aira designer yg handal , biarkan Alvaro menyesal karena kebodohan nya , mau tau juga bagaimana nasibnya Airin juga bapak dan ibunya , manusia sombong dan pilih kasih pada anak sendiri bagaimana kehidupan nya sekarang setelah ditinggalkan Aira .
Ma Em
Aira lupakan Alvaro masa kamu msh mau menerima Alvaro lelaki yg selalu menghina dan merendahkan kamu , ingat Aira kamu sdh diangkat derajatmu sama Bara dan sekarang sdh jadi designer yg hebat disekolahkan di Milan ingat itu Aira jgn melupakan jasa Bara hanya karena lelaki teman masa kecilmu yg sdh melupakanmu Aira , jgn sampai jadi manusia yg tdk bisa balas budi .
partini
dah ada filing akan macam ini ,, teringat novel th 2018 tapi luka karya siapa gitu di NT
si cewe ending nya sama yg lama yg baru hempas
Aletheia: haha,tunggu aja ya kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh kumat lolanya aira
Allea
cari masalah si aira harusnya lgsg geser biar ngegabruk tuh si al ngapain malah bernarasi dalam hati 😅
Aletheia: haha,biar greget kak🤭🤭🙏
total 1 replies
Ma Em
Buat Maheswari bangkrut dan Airin nasibnya hancur dan tersebar semua kelakuan Airin yg sdh menjual diri demi kemewahan .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!