Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Heri dan Tarjo duduk terpaku di sofa beludru ruangan VIP yang remang. Raut wajah mereka masih menyisakan sisa-sisa badai emosi, perpaduan antara sisa kekesalan, rasa malu yang membakar, dan keterkejutan luar biasa.
Hinaan dua wanita penghibur murahan tadi benar-benar meninggalkan bekas luka pada harga diri mereka yang baru saja mekar.
Mereka tidak pernah menyangka, malam yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan justru diawali dengan drama menjijikkan yang menjadikan mereka bahan tertawaan seantero lokalisasi kotor itu.
Tak lama kemudian, sang penanggung jawab kembali dengan langkah yang jauh lebih sopan. Ia membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu ke telinga Juan dengan nada yang sangat hormat. Pesannya jelas, dua permata terbaik di tempat itu, wanita penghibur kelas VVIP, sudah tiba dan siap melayani di ruangan khusus.
Heri dan Tarjo tersentak, mata mereka membulat sempurna.
“Bro… kamu serius?” tanya Tarjo dengan suara bergetar, seolah-olah ia sedang menunggu vonis bahwa semua ini hanyalah mimpi di siang bolong.
Juan tidak menjawab dengan kata-kata muluk. Ia hanya mengangguk pelan sembari menyesap rokoknya dalam-dalam.
Asap mengepul dari sela bibirnya, menciptakan siluet wajah yang sangat tenang. “Ya. Kalian tidak perlu lagi memikirkan sampah-sampah tadi. Anggap saja malam ini adalah kompensasi atas semua tekanan hidup yang kalian alami selama ini.”
Heri menggelengkan kepala, merasa sangat tidak enak. “Tapi, Juan… uangmu sudah habis banyak hari ini. Kami jadi merasa seperti benalu.”
“Kalian adalah sahabatku, bukan beban,” jawab Juan dengan nada rendah namun penuh penekanan. “Jika ada orang yang berani merendahkan kalian hanya karena penampilan atau uang, biarkan mereka melihat sendiri siapa yang sebenarnya memegang kendali.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Di balik kalimat Juan, ada pesan tentang harga diri yang sangat dalam. Bukan hanya soal membungkam lawan dengan uang, tapi soal martabat pria yang telah lama diinjak-injak oleh keadaan.
Pintu jati ruangan itu terbuka perlahan, menyebarkan aroma parfum mahal yang seketika mengusir bau apek di lorong tadi. Dua sosok wanita melangkah masuk dengan keanggunan yang menghipnotis.
Mereka tidak seperti wanita penghibur pada umumnya, mereka membawa diri dengan kelas seorang putri. Pakaian mereka sopan namun sangat menggoda, gaun sutra yang memeluk lekuk tubuh dengan sempurna, memperlihatkan siluet pinggang ramping dan kaki jenjang yang mulus. Serta buah dada yang sangat menggoda iman.
Riasan wajah mereka tipis, elegan, menonjolkan kecantikan alami yang jauh dari kesan "dempul". Tatapan mata mereka lembut, penuh tata krama, dan sangat profesional.
“Selamat malam, Tuan-tuan,” ucap salah satunya dengan suara semanis madu sembari menunduk hormat.
“Maafkan kami jika telah membuat Anda menunggu terlalu lama,” lanjut yang satunya lagi dengan senyum yang sanggup meluluhkan hati pria mana pun.
Heri dan Tarjo menelan ludah serentak. Ini bukan sekadar cantik, ini adalah kesempurnaan fisik. Bukit kembar mereka terlihat ranum dan kencang di balik kain tipis, menggoda indra untuk segera menjamah.
Bokong mereka yang semok dan padat bergoyang gemulai setiap kali mereka melangkah. Sulit dipercaya bahwa wanita sekelas ini ada di tempat seperti ini.
Juan memberi isyarat kecil. “Silakan temani teman-teman saya di ruangan sebelah. Pastikan mereka mendapatkan pelayanan terbaik malam ini.”
Heri dan Tarjo bangkit dengan wajah yang mendadak sumringah seperti anak kecil mendapat mainan baru. “Juan… terima kasih banyak. Sumpah, kamu luar biasa!” bisik Heri sebelum melangkah pergi.
Heri dan Tarjo dengan canggung namun bersemangat merangkul pinggang ramping wanita-wanita seksi itu.
Sebelum pintu tertutup, mereka menyempatkan diri mencicipi bibir merah muda yang ranum milik sang dewi malam.
Klik.
Pintu tertutup, menyisakan Juan dalam kesendirian yang tenang.
Ruangan VIP itu berubah menjadi oase kedamaian. Musik lounge yang pelan mengalun, aroma anggur merah berkelas berbaur dengan asap rokok Juan yang mahal. Juan bersandar di sofa empuk, menyesap wine-nya perlahan.
Ia sengaja tidak menyewa siapa pun untuk dirinya sendiri. Baginya, hiburan malam ini cukup dengan melihat kebahagiaan sahabatnya.
Lagi pula, setelah mencicipi kematangan Tante Hena dan melihat pesona otoriter Alisa, seleranya telah naik ke level yang berbeda. Ia tidak ingin sembarang menyentuh wanita hanya karena nafsu sesaat.
Baru saja ia hendak menikmati ketenangannya, pintu ruangan itu terbuka kasar tanpa ketukan.
Dua sosok wanita yang sangat tidak diinginkan masuk kembali.
Juan mengenali mereka, dua wanita "foto editan" yang tadi menghina dan menyebabkan keributan di lorong. Kini, mereka memasang wajah manis yang dibuat-buat, namun tetap terlihat licik di mata Juan.
“Eh, Tuan Besar yang katanya punya uang lima miliar,” ucap salah satunya dengan nada yang mencoba terdengar manja, namun tetap terasa beracun.
Juan menghela napas panjang, meletakkan gelas wine-nya. “Apa lagi yang kalian inginkan?”
Tanpa diundang, salah satu dari mereka duduk mepet di sofa Juan, aroma parfum murahannya menusuk hidung. “Aduh, jangan galak-galak begitu dong. Tadi kan cuma bercanda. Lagian kalian sudah bayar kompensasi, jadi kami merasa punya kewajiban untuk menemani Tuan Besar yang kesepian ini.”
Wanita kedua duduk di sisi kanan Juan, sengaja menyentuhkan paha kasarnya ke kaki Juan. “Kami dengar kamu orang kaya baru. Kok sendirian saja? Teman-temanmu sedang berpesta, masa kamu cuma melamun di sini? Kasihan sekali.”
Juan tetap diam, matanya lurus menatap gelas anggur. Ia merasa muak dengan kemunafikan ini.
Wanita pertama mencondongkan tubuhnya, sengaja menempelkan bukit kembarnya yang sudah mulai kendor ke lengan Juan, berusaha memancing gairah pria itu. “Kalau teman-temanmu dapat yang kelas atas, kami juga bisa memberikan layanan yang tidak kalah hebat. Jangan malu-malu, Sayang. Tadi kamu berani membayar mahal, sekarang mari kita main.”
Juan tetap bergeming. “Pergilah. Aku tidak tertarik pada drama murahan kalian.”
Senyum wanita itu berubah sedikit pahit, namun mereka belum menyerah. Mereka merasa posisi Juan masih bisa diinjak. “Kenapa? Takut ya? Atau jangan-jangan kamu ini cuma sok kaya tapi 'burungmu' tidak bisa bangun?” ejek wanita kedua sambil tertawa kecil, mencoba memancing harga diri lelaki Juan.
“Kamu boleh pura-pura berkelas, tapi ujung-ujungnya kamu pasti butuh lubang untuk membuang bebanmu, kan? Semua laki-laki itu sama, munafik!” lanjutnya lagi sambil mencoba mengelus dagu Juan.
Juan menepis tangan kotor itu dengan gerakan tegas yang membuat wanita itu tersentak.
“Jangan. Pernah. Menyentuhku,” desis Juan, suaranya sangat rendah namun mengandung ancaman yang membuat bulu kuduk berdiri.
Suasana ruangan mendadak dingin. Senjata terakhir kedua wanita itu pun keluar, sebuah serangan verbal yang dipenuhi rasa iri.
“Pantas saja kamu sendirian! Punya uang banyak tapi tidak punya nyali menghadapi wanita. Kamu itu cuma pria pecundang yang kebetulan dapat undian, kan? Sok suci di tempat kotor, benar-benar munafik!” teriak salah satunya dengan nada menghina.
Juan bangkit berdiri. Tubuhnya yang kini tampak lebih kekar dan gagah memberikan tekanan intimidasi yang luar biasa pada kedua wanita itu.
“Aku bilang untuk terakhir kalinya. Keluar.”
“Kalau tidak mau ditemani, bilang saja! Tidak perlu sok memerintah kami! Kamu pikir kamu pemilik tempat ini?!” jerit wanita kedua yang mulai panik melihat sorot mata Juan yang berkilat aneh.
Juan tidak membuang nafas untuk membalas. Ia menekan tombol panggilan darurat di meja samping sofa. Dalam hitungan detik, dua petugas keamanan bertubuh tegap masuk ke ruangan.
“Seret kedua wanita ini keluar dari ruangan saya sekarang juga,” perintah Juan singkat dan dingin.
“Hey! Kalian tidak bisa melakukan ini! Kami ini ikon di sini!” teriak mereka sembari meronta saat petugas mencengkeram lengan mereka.
Juan menatap petugas itu tanpa emosi. “Jika mereka masih berisik, lempar mereka sampai ke luar pintu depan. Aku tidak ingin melihat wajah-wajah sampah ini di area VIP.”
Pintu tertutup dengan bantingan keras seiring dengan hilangnya suara teriakan mereka.
Hening kembali meraja. Musik lounge kembali menyembuhkan suasana. Juan menarik napas dalam-dalam, duduk kembali di sofanya, dan memejamkan mata sejenak.
Ia tidak marah ia hanya merasa muak pada dunia yang seringkali menukar martabat dengan lembaran kertas bernama uang.
Ia menyesap anggur merahnya sekali lagi, membiarkan cairan hangat itu mengalir di tenggorokannya. Di saku bajunya, kartu nama Alisa terasa seperti sebuah janji bahwa petualangannya yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.