NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotoran

Keheningan mansion pecah seketika dengan kedatangan Moltemer Ashford. Paman Aurora itu melangkah masuk ke foyer dengan keanggunan seorang predator, senyumnya sama sekali tidak mencapai matanya yang penuh perhitungan.

Di sampingnya ada Clara, istri mudanya. Clara tampak seperti boneka yang terbuat dari renda dan mutiara, dengan ekspresi rapuh yang terasa sangat palsu.

"Aurora, sayang!" Clara memekik kecil, suaranya terdengar seperti melodi tinggi yang mengganggu saat ia meremas tangan Aurora.

"Kami benar-benar tidak sabar untuk melihat bagaimana kau beradaptasi dengan... kehidupan domestik ini."

Tatapannya menyapu seluruh ruangan, matanya tertahan cukup lama pada dekorasi mewah di sana dengan rasa lapar yang membuat kulit Aurora meremang.

"Dan Lucien? Apa suamimu itu masih terkubur dalam buku besarnya? Sayang sekali dia membiarkan bunga secantik ini tidak terjaga."

Aurora merasakan gelombang mual. Baginya, Moltemer dan Clara seperti replika lukisan yang buruk—mencolok di permukaan, namun kosong dan membusuk di dalamnya. Setiap senyum yang mereka berikan terasa seperti transaksi yang sudah diperhitungkan.

"Manis sekali kalian mau mampir," balas Aurora, meskipun suaranya terdengar seperti belati yang disembunyikan di balik kain sutra.

Ia tidak membalas remasan tangan Clara, tubuhnya justru menegang.

"Tapi ini cukup aneh. Kau tidak pernah berkunjung tanpa agenda khusus, Paman."

Aurora menatap langsung ke mata Moltemer, tatapannya tajam dan mengamati. Kehangatan palsu di ruangan itu terasa menyesakkan.

Mereka tidak datang untuk sekadar minum teh. Mereka menginginkan sesuatu. Membayangkan manipulasi yang akan mereka lakukan membuat jemari Aurora gatal ingin memegang kuas, ingin sekali menyapu bersih "kotoran" yang dibawa oleh kehadiran mereka.

Senyum Moltemer melebar, meski tetap terlihat klinis.

"Selalu peka, Aurora. Itulah alasan kenapa museum itu diberikan padamu."

Ia berjalan mondar-mandir dengan pelan, suaranya merendah menjadi seperti sutra yang halus namun berbahaya.

"Warisan Ashford adalah hal yang rapuh. Akhir-akhir ini, ada banyak... bisikan. Rumor bahwa manajemen saat ini kurang lincah untuk bertahan dalam pergeseran pasar yang akan datang."

Clara mengembuskan napas panjang yang dibuat-buat, seolah merasa prihatin.

"Kami hanya ingin membantu, Sayang. Moltemer punya beberapa kenalan yang bisa 'merestrukturisasi' jajaran direksi. Tentu saja, itu akan memerlukan sedikit pergeseran dalam otoritas hukum."

Genggaman Aurora pada gaunnya mengencang.

Ini adalah perebutan kekuasaan, murni dan sederhana. Mereka sedang mengepungnya, menunggu momen di mana jarak antara dirinya dan Lucien menjadi celah yang bisa mereka eksploitasi.

Aurora menatap Clara dengan kilatan rasa tidak percaya yang nyata.

Cara Clara memiringkan kepala dan berbicara dengan nada keibuan yang merendah itu benar-benar konyol—mengingat mereka sebenarnya seumuran. Itu adalah akting yang sangat transparan hingga hampir terasa seperti sebuah komedi.

"Keprihatinanmu sungguh menyentuh, Clara," ujar Aurora, suaranya meneteskan ironi yang tajam.

"Tapi aku takjub melihat betapa cepatnya kau mendalami peran sebagai seorang bibi. Katakan padaku, apa peran ini pakai naskah, atau kau sedang berimprovisasi sekarang?"

Senyum Clara goyah sesaat. Topeng porselennya retak, memperlihatkan kilasan kekesalan yang nyata. Udara di ruangan itu mendadak terasa rapuh.

Moltemer meremas tongkatnya lebih erat, mencoba mengambil alih kendali.

"Sudahlah, jangan tidak sopan. Clara hanya menawarkan stabilitas yang jelas tidak kau miliki," ucapnya dengan bisikan predator.

"Tanpa Lucien, kau hanyalah pajangan, Aurora. Wajah cantik di dalam bingkai emas. Sedikit tanda tangan pada dokumen amandemen akan memastikan museum tidak hancur karena... keinginan artistikmu yang labil."

Aurora baru saja akan membalas, namun suara berat pintu depan yang terbuka memotong kalimatnya.

Atmosfer ruangan berubah seketika; udara menjadi dingin dan menekan saat sebuah kehadiran yang sangat dikenal memenuhi ruangan.

Lucien melangkah masuk ke aula. Setelan jasnya tampak setajam ekspresi wajahnya. Ia tidak perlu bicara banyak; keberadaannya saja seolah sanggup menguras oksigen dari sana.

Ia tidak langsung menatap tamu-tamunya. Sebaliknya, mata abu-abunya menyapu sosok Aurora, menyadari ketegangan di bahu istrinya.

"Moltemer Ashford," sapanya dengan suara datar yang mematikan. Clara seketika menciut.

"Aku tidak tahu kalau rumah ini sedang jadi tempat audisi untuk jajaran direksi baru. Atau kau mengira ini adalah yayasan amal untuk orang-orang yang berhalusinasi?"

Lucien berjalan maju, menempatkan tangannya di pinggang bawah Aurora—sebuah tekanan yang posesif dan berat.

"Pergi. Sekarang. Sebelum aku memutuskan untuk mengaudit seluruh sisa harta keluargamu."

Wajah Moltemer memucat. Masker predatornya hancur seketika. Clara terengah pelan, ekspresi rapuhnya kini menjadi nyata karena ketakutan. "Lucien, kami hanya sedang mendiskusikan—"

"Kalian sedang mendiskusikan bagaimana cara mencuri apa yang bukan milik kalian," potong Lucien tajam. Suaranya rendah namun mutlak.

"Perbaiki langkah kalian dan keluar dari rumahku. Sekarang."

Rahang Moltemer mengeras. Harga dirinya bertarung hebat dengan rasa takut yang ditanamkan oleh Lucien. Pria itu tahu betul kapan dirinya sedang kalah telak.

Dengan anggukan kaku dan terpaksa, ia melangkah mundur. Suaranya terdengar berat dan dipaksakan.

"Tentu saja. Kami tidak ingin berlama-lama sampai dianggap mengganggu."

Clara tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia nyaris berlarian menuju pintu, kalung mutiaranya berdenting berisik mengikuti langkah tergesa-gesa mengejar suaminya.

Mereka pergi dengan terburu-buru, seolah dikejar ketakutan.

Pintu kayu ek yang berat itu tertutup rapat di belakang mereka, menghasilkan bunyi yang bergema di seluruh aula seolah mengakhiri segalanya.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan, namun rasanya kini berbeda. Tidak lagi terasa dingin dan kaku, melainkan lebih intim.

Lucien tidak melepaskan tangannya dari pinggang Aurora. Ibu jarinya bergerak perlahan, menelusuri garis di atas kain gaunnya dengan gerakan yang jelas-jelas posesif.

Aurora menghembuskan napas panjang. Napas yang ternyata selama ini tertahan di dadanya. Ketegangan di sekujur tubuhnya perlahan hilang.

Ia bersandar sedikit ke belakang, menengadah menatap wajah Lucien dengan perasaan campur aduk antara rasa lega dan curiga.

Panas dari telapak tangan pria itu masih terasa nyata—menjadi tumpuan yang anehnya terasa begitu menenangkan setelah kejadian tadi.

"Kau pulang lebih awal," gumam Aurora. Nadanya kembali lembut seperti biasanya, namun terdengar penuh tanya.

"Sejak kapan kau meninggalkan kantor sebelum matahari terbenam? Apakah dunia keuangan tiba-tiba memutuskan untuk berlibur, atau kau hanya bisa mencium bau udara yang mulai tercemar oleh kehadiran pamanku?"

Ekspresi Lucien tetap datar, seperti topeng yang sulit dibaca, namun tangannya tidak beranjak sedikit pun. Mata abu-abunya menatap tajam ke dalam manik mata Aurora.

"Aku punya firasat bahwa 'tamu-tamu'mu itu tidak akan pergi begitu saja tanpa mencoba mengambil sesuatu yang bukan milik mereka."

Aurora menatap Lucien dengan ekspresi datar. Ia mengembuskan napas panjang sambil menggelengkan kepala, benar-benar tidak habis pikir.

"Oh, luar biasa. Sekarang kau punya kemampuan psikis juga," gumamnya dengan nada yang penuh ironi.

Lucien bahkan tidak berkedip. Ia hanya balas menatap Aurora dengan tatapan tenang yang menyebalkan—keheningan yang berfungsi sebagai penyangkalan sekaligus konfirmasi.

"Aku tidak butuh kemampuan psikis untuk tahu kapan burung nazar sedang berputar-putar," jawabnya dengan nada sedingin ruang bedah.

"Aku hanya tahu bagaimana orang seperti Moltemer bekerja. Itu adalah pola yang sangat mudah ditebak."

Lucien akhirnya melepaskan tangannya dari pinggang Aurora dan melangkah mundur.

"Pergilah cuci tanganmu. Kau bau minyak turpentine dan keputusasaan."

Mulut Aurora ternganga. Matanya membulat karena rasa tidak percaya yang luar biasa. Ia menatap Lucien, sesaat kehilangan kata-kata atas kelancangan komentar suaminya.

"Apa—!" Aurora terbata, suaranya naik satu nada karena saking tidak percayanya.

"Beraninya kau! Aku tidak bau keputusasaan! Aku bau seni, dasar monster klinis!"

Aurora melangkah maju dan menudingkan jarinya ke dada Lucien, meski pria itu tidak bergeming sedikit pun. Pipi Aurora memerah karena campuran antara marah dan malu.

"Aku tadi sedang bekerja demi warisan yang sangat ingin kau lindungi itu! Satu kata lagi soal bau tubuhku, aku akan memastikan jas hitam favoritmu 'tidak sengaja' bertemu dengan satu tabung cat kobalt!"

Lucien tidak bergeming menghadapi ancaman itu. Ia bahkan tidak menoleh atau mengakui ledakan kemarahan Aurora. Ia terus berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah yang stabil dan metodis, seolah kekesalan Aurora hanyalah suara bising di latar belakang sebuah ruangan yang sunyi.

"Ancamanmu sama tidak presisinya dengan sapuan kuasmu," gumamnya pelan.

Aurora berdiri terpaku di lorong, jarinya masih tertuding di udara tempat dada Lucien berada tadi. Kelancangan pria itu saat pergi meninggalkannya membuat Aurora mendidih.

"Aku tidak 'tidak presisi'!" teriak Aurora ke arah punggungnya, meski suara itu tertelan oleh pintu mahoni ruang kerja Lucien yang berat.

Ia berbalik dan melangkah gusar menuju tangga, gaun sutranya berkibar di belakangnya. Ia ingin marah—ia memang marah—tapi bayangan saat Lucien melangkah maju untuk melindunginya dari Moltemer terus berputar di kepalanya.

Tadi, Lucien menatapnya sebagai sesuatu yang berharga untuk dilindungi, bukan sekadar kontrak yang harus dikelola.

......................

Begitu kembali ke studio yang terletak di hujung mansion, Aurora menyambar kuas dan menatap kanvas putih di depannya dengan napas memburu.

Aurora mengerang frustrasi. Ia membanting kuasnya ke atas palet dengan suara thwack yang basah dan keras. Ia menatap dinding kosong di depannya, dadanya naik-turun menahan emosi yang meluap.

"Aku benar-benar ingin menonjok wajah datarnya yang bodoh itu!" desisnya pada ruangan yang sunyi.

Bayangan ekspresi Lucien yang robotik dan tanpa dosa berkelebat di benaknya. Aurora membayangkan suara yang memuaskan jika tinjunya mendarat tepat di rahang pria yang sempurna dan kaku itu.

Lucien terlalu tenang. Terlalu klinis. Ia terlalu yakin akan segalanya, dan itu sangat menyebalkan. Pria itu tidak hanya mengelola dunia di sekitarnya, ia juga berusaha mengelola Aurora.

Pikiran itu membuat darah Aurora mendidih.

Ia menyambar satu tabung cat merah crimson, lalu memencetnya dengan kuat ke atas kanvas—sebuah gerakan agresif yang penuh amarah.

"Sekali saja," bisiknya tajam.

"Aku ingin melihatnya kehilangan ketenangan itu. Cukup sekali saja."

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!