NovelToon NovelToon
Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.

​Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LOGIKA YANG KEMBALI BERBICARA

Melihat tubuh Alana yang semakin lemas dan tak bertenaga karena habis menangis histeris, Samudera tidak tega membiarkannya terus berdiri. Dengan sangat hati-hati, ia melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Alana, memapah tubuh rapuh itu perlahan menuju sebuah bangku taman kayu yang terletak di bawah rindangnya pohon di halaman belakang.

​Alana tidak menolak. Kakinya benar-benar terasa seperti jeli, tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Seluruh energi defensifnya telah terkuras habis bersama air mata yang membasahi kemeja Samudera.

​Samudera mendudukkan Alana dengan perlahan di bangku tersebut. Alih-alih langsung duduk di sampingnya, Samudera justru memilih untuk berlutut di lantai teras di depan Alana. Posisi ini membuat tingkat pandangan mereka sejajar, menepis kesan bahwa ia ingin mengintimidasi atau menguasai wanita itu.

​Tangan besar Samudera masih memegang lembut kedua lengan Alana, memastikan wanita itu tidak limbung. Tangis Alana kini telah mereda menjadi sesenggukan kecil, menyisakan napas yang masih naik-turun tidak teratur.

​"Tarik napas dalam-dalam, Alana... pelan-pelan," bisik Samudera dengan suara yang begitu lembut dan menenangkan, sangat kontras dengan kepribadiannya yang biasanya dingin di dunia luar.

​Samudera mengeluarkan saputangan kain bersih dari saku celananya, lalu dengan gerakan yang sangat cermat, ia mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi pipi kemerahan Alana. Alana sempat memalingkan wajahnya sedikit karena merasa canggung, namun Samudera tetap bertahan dengan kelembutannya.

​"Aku tahu tidak ada satu kata maaf pun yang bisa menghapus penderitaan yang kamu lalui selama empat tahun ini," ujar Samudera, menatap lurus ke dalam sepasang mata sembap Alana dengan ketulusan yang mutlak. "Aku tidak meminta kamu untuk melupakan semua rasa sakit itu sekarang. Tapi tolong... beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Beri aku kesempatan untuk berada di sini, memikul beban itu bersama kamu. Demi Arka, dan demi kamu."

​Alana terdiam, menatap saputangan di tangan Samudera. Angin siang yang berembus perlahan menerbangkan beberapa helai rambutnya, menciptakan keheningan yang panjang di antara mereka berdua di halaman belakang yang sunyi itu.

Alana memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara siang yang hangat, lalu mengembuskannya perlahan lewat bibir yang masih sedikit bergetar. Proses itu ia ulangi beberapa kali, mencoba mengusir rasa sesak yang sempat menyumbat dadanya.

​Setiap embusan napasnya seolah membawa pergi sisa-sisa keheningan yang menyakitkan tadi.

​Perlahan, detak jantung Alana mulai kembali ke ritme normal. Kesadaran dan logika yang sempat lumpuh oleh emosi kini perlahan kembali ke tempatnya. Ia membuka mata, menatap lurus ke arah Samudera yang masih setia berlutut di depannya dengan sabar, menantikan kalimat apa pun yang akan keluar dari bibirnya.

​"Empat tahun bukan waktu yang sebentar, Samudera," ujar Alana akhirnya. Suaranya kini terdengar jauh lebih tenang dan datar, walau sisa serak akibat menangis tidak bisa disembunyikan.

​Alana menarik tangannya dari pegangan Samudera, melipatnya kembali di atas pangkuan. "Kamu tidak bisa datang di hari Minggu yang tenang, menjadi pahlawan dalam waktu tiga puluh detik, lalu berpikir semua luka dan ketakutanku selama empat tahun ini bisa menguap begitu saja hanya karena sebuah janji."

​Samudera mendengarkan dengan saksama. Ia tidak memotong ataupun mendebat. Pria itu tahu, ketenangan Alana yang sekarang justru jauh lebih berbahaya dan menuntut jawaban yang konkret ketimbang kemarahannya yang meledak-ledak tadi.

​"Aku tahu," jawab Samudera lirih namun tegas. Ia perlahan bangkit dari posisi berlututnya dan duduk di ujung bangku taman yang sama, memberikan jarak yang sopan agar Alana tidak merasa terintimidasi. "Aku tidak meminta segalanya berubah dalam semalam. Aku hanya meminta sebuah awal. Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya bahwa aku tidak akan pernah pergi lagi?"

​Alana menatap lurus ke taman kecil di hadapan mereka, memikirkan masa depan putranya yang kini telah berubah arah total sejak kehadiran pria di sampingnya ini.

1
Lubna Aulia
Ceritanya bagus. Menarik alurnya
Lubna Aulia
Alur ceritanya bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!