NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 : Nayra penasaran

Mobil kembali hening, ucapan Raya menggantung di udara. “Kalau Mama sedih lagi, aku nggak akan diam.”

Kalimat itu… bukan ancaman kosong. Itu janji, dan semua orang di dalam mobil bisa merasakannya.

Beberapa detik berlalu.

Lalu... “Dia tidak akan sedih.” Suara Arsen terdengar lagi. Kali ini… lebih pelan, tidak setajam sebelumnya.

Raya langsung menatap ke depan, matanya menyipit. “Om yakin?”

Tidak ada jawaban cepat. Hanya suara mesin mobil yang terus berjalan stabil.

Beberapa detik kemudian…

“Aku pastikan.” Singkat.

Tapi berbeda, untuk pertama kalinya… ada sesuatu yang terdengar seperti keseriusan, bukan sekadar keputusan sepihak.

Raya terdiam. Ia tidak langsung percaya, namun juga… tidak membantah lagi. Perlahan, ia bersandar kembali. Tapi tangannya masih menggenggam Nayra erat.

Nayra menunduk sedikit, hatinya bergetar. Bukan karena ucapan Arsen saja. Tapi karena cara ia mengatakannya. Seolah ia benar-benar akan melakukan apa yang ia katakan.

Mobil terus melaju hingga akhirnya berhenti di depan mansion.

Pintu terbuka.

Arsen turun lebih dulu. Nayra keluar bersama kedua anaknya. Baru beberapa langkah masuk ke dalam...

“Tuan Arsen.”

Seorang pria paruh baya mendekat dengan langkah cepat. Wajahnya terlihat serius.

“Ada laporan penting.”

Arsen berhenti. Tatapannya langsung berubah.

“Katakan.”

Pria itu menyerahkan sebuah tablet. Arsen menerimanya tanpa banyak kata. Matanya bergerak cepat membaca isi layar.

Beberapa detik, tiba-tiba rahangnya mengeras. Aura di sekitarnya langsung berubah dingin. Lebih dingin dari sebelumnya.

Beberapa detik…

Hanya keheningan yang terasa semakin menekan. Arsen masih menatap layar tablet itu. Rahangnya mengeras, sorot matanya berubah tajam, penuh perhitungan.

Tanpa berkata apa-apa, ia mengembalikan tablet itu pada pria paruh baya tadi.

“Siapkan semuanya,” ucapnya dingin.

“Baik, Tuan.”

Pria itu langsung pergi.

Nayra berdiri tidak jauh dari sana. Jantungnya masih berdegup tidak tenang. Ia bisa merasakan… sesuatu yang buruk sedang mendekat.

Raya dan Alea berdiri di sisi Nayra, tanpa sadar mendekat.

Lalu, Arsen mengeluarkan ponselnya. Ia berjalan beberapa langkah menjauh, tapi masih dalam jangkauan pandangan mereka.

Panggilan dilakukan. Beberapa detik… tersambung.

“Ya.”

Suara Arsen berubah. Lebih formal dan terkendali.

“Dad.”

Nayra sedikit terkejut. Ia tidak sengaja mendengar.

“Aku sudah lihat laporannya,” lanjut Arsen singkat.

Suara di seberang tidak terdengar, tapi jelas cukup serius hingga membuat Arsen terdiam beberapa saat.

“Tidak, biar Aku saja yang tangani,” ucap Arsen lagi. Nada suaranya tegas. Tidak memberi ruang untuk dibantah.

Beberapa detik hening, lalu...

“Daddy tidak perlu kembali dari Swiss. Aku bisa urus semuanya.”

Kalimat itu membuat Nayra semakin gelisah. Swiss? Berarti ada yang sangat penting.

Arsen memejamkan mata sejenak, lalu membuka kembali. “Percayakan padaku, Dad.”

Panggilan berakhir.

Arsen menurunkan ponselnya perlahan. Wajahnya kembali dingin seperti biasa. Namun kali ini, ada sesuatu yang lebih berat di baliknya.

Ia menoleh, tatapannya langsung bertemu dengan Nayra. Dan dalam satu gerakan kecil, ia memberi isyarat. Hanya anggukan ringan ke arah dalam mansion.

Nayra langsung mengerti. Tangannya refleks menggenggam Raya dan Alea lebih erat.

“Ayo masuk,” bisiknya pelan.

Mereka bertiga berjalan masuk. Langkah Nayra terasa sedikit berat, perasaannya tidak tenang.

Arsen masih berdiri. Menatap punggung Nayra yang menjauh, matanya menyipit sedikit. Lalu akhirnya, ia berjalan masuk juga.

Begitu pintu mansion tertutup, suasana langsung berubah. Arsen tidak berhenti. Langkahnya cepat, tegas, tanpa ragu sedikit pun. Ia melewati ruang tengah, bahkan tidak menoleh ke belakang. Aura dingin yang menyelimuti dirinya terasa semakin kuat.

Pintu itu terbuka dengan sekali dorong, lalu tertutup kembali dengan suara pelan namun tegas.

Klik.

Nayra berdiri di ruang tengah, masih memegang tangan Raya dan Alea. Tatapannya sempat mengikuti arah Arsen pergi… sebelum akhirnya terhenti.

Perasaannya tidak enak. Bukan hanya karena sikap Arsen yang berubah, tapi juga… firasat yang tiba-tiba muncul tanpa alasan jelas.

“Ma…”

Suara kecil itu membuat Nayra menunduk. Raya menatapnya, alisnya sedikit berkerut. Wajahnya serius, jauh lebih dewasa dari usianya.

“Om Arsen kenapa, Ma?”

Nayra terdiam sejenak. Ia ingin menjawab, tapi… ia sendiri tidak tahu. Tangannya refleks mengusap kepala Raya dengan lembut.

“Mama juga nggak tahu,” jawabnya pelan, jujur.

Raya tidak langsung bicara lagi. Ia melirik ke arah lorong tempat Arsen menghilang, matanya menyipit tipis. Seperti mencoba memahami sesuatu.

“Dia kelihatan… marah,” gumam Raya pelan.

Alea yang sejak tadi diam, ikut memeluk Nayra dari samping. “Apa om akan seperti Ayah, Ma?” tanyanya polos.

Pertanyaan itu membuat hati Nayra mencelos.

Ia berjongkok perlahan di depan kedua anaknya. Tangannya memegang pipi Alea dengan lembut, lalu menatap keduanya bergantian.

“Dengar ya…” suaranya lembut, tapi berusaha tegas. “Apa pun yang terjadi, kalian nggak perlu takut.”

Raya masih menatapnya, seolah mencari kepastian.

Nayra menarik napas pelan. “Selama Mama di sini… Mama akan jaga kalian.”

Beberapa detik hening.

Raya akhirnya mengangguk kecil. Tapi tatapannya masih belum sepenuhnya tenang.

Di sisi lain, di dalam ruang kerja. Arsen berdiri di depan jendela besar, ponselnya kembali di tangannya. Wajahnya gelap.

Panggilan lain dilakukan.

“Cari tahu semuanya,” ucapnya dingin begitu tersambung. “Saya mau laporan lengkap dalam satu jam.”

Ia menutup panggilan tanpa menunggu jawaban. Tangannya mengepal sedikit. Lalu, ia menoleh ke arah pintu.

Tatapannya tajam. “Selalu saja dia yang menjadi sumber masalah,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Beberapa saat kemudian…

Nayra keluar dari kamar perlahan setelah memastikan Raya dan Alea sudah beristirahat. Ia menutup pintu dengan hati-hati, seolah tak ingin mengganggu ketenangan kecil yang akhirnya mereka dapatkan.

Langkahnya pelan menyusuri lorong mansion. Pikirannya masih dipenuhi banyak hal. Tanpa sadar, Nayra melangkah ke arah balkon. Ia berhenti di sana.

Angin malam berhembus lembut, menyentuh wajahnya. Dari atas, taman mansion terlihat luas dan indah. Tatapan Nayra jatuh pada hamparan bunga di bawah, berwarna-warni.

Ia mengernyit pelan. “Kenapa dari bawah bunga tidak terlihat…” gumamnya pelan.

Matanya sedikit menyipit, seolah mencoba melihat lebih jelas. “Aku jadi ingin sekali ke sana…”

Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Bukan sekadar keindahan, tapi seperti ada bagian yang tersembunyi.

Tanpa ia sadari, seseorang sudah berdiri di belakangnya. “Kalau Nona ingin ke sana, saya bisa mengantarnya.” Suara itu lembut, namun cukup membuat Nayra tersentak kecil.

Ia langsung menoleh. Seorang wanita paruh baya berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajahnya tenang, dengan senyum tipis yang sopan.

“Nona…” wanita itu sedikit menunduk hormat. “Perkenalkan, nama saya Martha.”

Nayra menatapnya beberapa detik. “Martha…?” ulang Nayra pelan.

Wanita itu mengangguk. “Saya yang mengurus bagian dalam mansion ini.” Nada suaranya halus, tapi terdengar berwibawa.

Nayra kembali melirik ke arah taman. “Bunga-bunga itu…” ucapnya pelan, “terlihat berbeda dari atas.”

Martha tersenyum kecil. “Memang, Nona. Taman itu memang dirancang untuk dilihat dari atas, bukan dari dekat.”

Nayra terdiam, jawaban itu… terasa seperti memiliki makna lain.

“Kalau Nona berkenan,” lanjut Martha, “saya bisa mengantar.”

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!