Dimas Saputra seorang pemuda tampan yang sholeh, mendapatkan hati seorang wanita cantik yang kaya raya.
Seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan besar milik keluarga Haristian, kini telah memikat hati seorang putri cantik dari pemilik perusahaan tersebut.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, membuat dirinya merasa tak pantas untuk mendampingi wanita yang begitu terlihat sempurna. Namun kenyataannya jika yang kuasa sudah berkehendak, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enchya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Beberapa menit perjalanan, Dimas sampai di resto tempat dia bekerja. Ardi yang juga baru sampai di resto itu lalu menyapa Dimas terlebih dahulu.
"Baru datang bro,?" sapa Ardi.
"Iya, kamu juga baru nyampe ya?" balas Dimas.
"Iya ini, o iya katanya hari ini akan ada pengumuman penting dari si bos." lanjut Ardi lagi.
"Pengumuman penting apa?" tanya Dimas penasaran.
"Ga tau juga sih, cuma tadi ada yang bilang semua karyawan disuruh datang pagi ini akan ada pengumuman gitu." jawab Ardi sambil berjalan menuju resto.
"Ya udah ayo masuk, ngapain kamu masih disitu." lanjut Ardi saat melihat Dimas yang masih berdiri di tempat semula.
"Eeehh iya, bentar lagi aku nyusul, kamu duluan aja." jawab Dimas.
Setelah semua karyawan datang, Laras memberi tahu semua temannya untuk berkumpul di ruangan pemilik resto tersebut.
"Baiklah semua sudah berkumpul disini."
Ucap pemilik resto sebagai pembukaan.
"Di sini saya akan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada samua karyawan saya yang sudah bekerja sama dengan saya, baik yang sudah lama ataupun yang baru di sini. Tanpa kerja keras kalian semua saya yakin resto saya tidak akan bisa seramai ini." Lanjutnya.
Pemilik resto itu diam sejenak, dia mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya kasar.
"Saya di sini juga akan meminta maaf kepada kalian, jika selama kalian bekerja disini mungkin ada ketidak nyamanan, atau ada kesalahan saya baik yang disengaja ataupun tidak saya sengaja, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya."
"Baik langsung saja, saya sebenarnya dengan berat hati memilih keputusan ini, tapi karena sesuatu hal maka saya harus kabarkan kepada kalian semua berita yang tidak enak ini. Bahwa mulai besuk resto ini dengan terpaksa akan saya tutup. Saya bermaksut akan menjualnya tetapi belum pasti dengan rencana tersebut, maka dengan berat hati kalian semua saya berhentikan dan ini pesangon buat kalian." Ucap pemilik resto sambil memberikan amplop kepada semua karyawannya.
"Sekali lagi saya mohon maaf kepada kalian semuanya" Lanjut pemilik resto itu.
Semua karyawan di buat bingung dengan keputusan pemilik resto itu yang dengan tiba-tiba akan menutup restonya, tapi tak ada satu orang pun yang berani menanyakannya karena pemilik resto sendiri sudah memberi keputusan yang bulat.
Setelah pembicaraan selesai, semua karyawan keluar dari ruangan itu dengan wajah lesu.
"Terus kita bakalan kerja dimana?" Ucap salah satu teman Dimas.
"Iya jaman sekarang kan cari kerjaan susah." jawab yang lain.
"Iya padahal aku sangat butuh pekerjaan ini." jawab Laras.
"Ya mau gimana lagi kalau si bos uda menghentikan kita, masa iya kita harus memaksanya untuk kita tetep kerja." ucap Ardi.
"Sudah sudah, mungkin si bos lagi ada masalah. Kelihatan kan tadi wajahnya kebingungan gitu. Ayo kita pulang dulu sambil kita nyari info buat kerja di tempat lain." Ucap Dimas menengahi pembicaraan.
"Ya udah ayo kita pulang sama-sama." Ucap Ardi melanjutkan.
Mereka semua berjalan menuju parkiran khusus karyawan, dan mereka mengendarai motornya masing-masing lalu berjalan menuju rumahnya.
Di perjalanan Dimas masih memikirkan bosnya itu.
"Kenapa ya dengan si bos, ada masalah apa sampai dia memilih keputusan sebesar ini, padahal restonya lagi ramai-ramainya malah harus di tutup, tidak mungkin ini tanpa alasan." Dimas bicara dalam hati.
Setelah beberapa menit Dimas sampai di rumahnya. Rumah dimas sepi saat siang hari. karena ibu dan bapaknya bekerja.
"Assalamu'alaikum." Ucap dimas saat melangkahkan kaki dan membuka pintu rumahnya. Dimas tau tidak ada orang dirumah, tapi memang mengucapkan salam saat masuk rumah itu wajib walaupun di rumah kosong sekalipun.
Dimas kemudian memasuki kamarnya, dan dia berbaring diatas kasur miliknya.
Dimas masih memikirkan tentang bosnya itu.
"kasian si bos, dia orang yang baik banget sama semua karyawan. Ya allah mudahkanlah segala urusan si bos jika dia sedang ada masalah." Dimas bicara sendiri dan mendo'akan bosnya.
Beberapa menit Dimas berbaring di tempat tidurnya kemudian dimas terlelap.
.
.
.
Lisa...
Pagi-pagi Lisa bangun dari tidurnya dan bersiap-siap untuk ke kampus. Setelah mandi Lisa seperti biasa bingung memilih pakaian yang akan di kenakan hari ini. Sampai pada akhirnya pilihannya jatuh di dress warna merah, dress tanpa lengan dengan panjang selutut dan sangat cocok di padukan dengan kulitnya yang putih.
Setelah ganti pakaian, Lisa mendudukkan dirinya di depan cermin meja riasnya. Tak lupa dia memoleskan sedikit make up di wajahnya.
Lisa tersenyum sendiri di depan cermin mengingat wajah tampan yang berpapasan dengannya kemarin. Tanpa sadar dia bergumam "Bisakah hari ini aku bertemu dengannya lagi?."
"Ih apaan sih aku malah mikirin dia terus, tau aja ngga dia siapa dan dari mana asalnya." Lisa bicara sendiri sambil menepuk jidatnya.
"Sudah lupakan" Lanjutnya lagi.
Pada kenyataannya saat ingin melupakan Dimas, Lisa malah selalu terbayang-bayang dengan wajah tampan itu. Selesai memakai sedikit make up, Lisa turun ke lantai satu untuk sarapan.
"Bii,, tolong buatkan aku susu putih ya." Ucap Lisa saat menuruni tangga.
"Baik non." Jawab bi Inah.
Tak lama susu yang di pesan sudah jadi, bi Inah memberikannya kepada Lisa di meja makan. Di mana lisa sedang mengoleskan selai di rotinya.
"Makasih bi." Ucap Lisa.
"Iya non, sama-sama." Jawab bi Inah.
"Papa sudah berangkat bi?" tanya Lisa.
"Sudah non, tuan berangkat pagi karena ada meeting penting pagi ini katanya." Jawab bi Inah.
Lisa memakan rotinya dan meminum susunya kemudian berangkat ke kampus.
"Bii, Lisa berangkat dulu ya, tolong nanti bilangin ke mama kalau Lisa uda berangkat. Lisa ga sempet Pamitan karena waktunya sudah mepet. Assalamu'alaikum." Ucap Lisa sambil keluar rumah.
"Iya non, wa'alaikumsalam." Jawab bi Inah sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Lisa.
Lisa memasuki mobil yang sudah di buka oleh pak Mamat.
"Ayo jalan pak, nanti berhenti sebentar di toko buku ya pak, ada yang mau Lisa beli di sana."
ujar Lisa.
"Baik non," jawab pak Mamat.
Pak Mamat melajukan mobilnya ke arah toko buku tersebut yang kebetulan searah dengan kampus Lisa.
Setelah sampai toko buku itu, Lisa turun dan masuk ke toko tersebut lalu menuju tempat buku yang dia cari. Setelah selesai Lisa membayarnya dan keluar dari toko langsung memasuki mobilnya lagi.
"Sudah non,?" Tanya pak Mamat.
"Sudah pak." jawab Lisa.
Pak Mamat melajukan mobilnya menuju kampus Lisa. Setelah sampai, Lisa turun dan dia berjalan masuk dan menaiki tangga menuju ruangan.
Tiba-,tiba ada seseorang yang memanggilnya.
"Lis..."
Lisa menoleh ke arah suara.
"Ya Ris,ada apa??" jawab Lisa.
"Hari ini ada acara ga?" tanya Risky.
"Ga ada." jawab Lisa singkat.
"Boleh makan siang bareng?" tanya Risky lagi.
"Ga bisa, a-aku ada janji sama Vika, tadi lupa. Jawab Lisa mencari alasan.
"Ayo lah Lis, please, ada yang pengen aku omongin sama kamu." Ucap Risky dengan nada memelas.
"Ngomong aja disini, ada apa?" tanya Lisa
"Ga enak Lis kalau disini, nanti aku tunggu kamu di cafe deket kampus aja jam satu,
pokoknya harus datang." Ucap Risky.
Sebelum Lisa menjawab Risky langsung pergi menjauh, takut lisa menolak ajakannya.
**buat author tetap semangat untuk membuat cerita ini ya guys..jangan lupa vote ya🤗