NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Cinta

Tiba-tiba Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: nisa_prafour

Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.

Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.

akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

"Miss! Wait!"

Aruna menghentikan pergerakannya dari membuka pintu mobil, Ia menoleh kesamping, dan mendapati tubuh tinggi itu menjulang menatapnya. Lengkap dengan nafasnya yang tersengal.

Laki-laki yang tadi pagi hampir membuatnya mati dan yang sialnya adalah dia salah satu anggota team nasional yang sudah dipastikan ia jelas berteman dengan kakaknya dan juga Marinos mungkin?

"Ya? Ada yang bisa dibantu?"

Oh ayolah, Aruna mencoba menjadi profesional kali ini. Siapa tahu si menyebalkan ini menghampirinya bukan karena kejadian tadi pagi kan? Siapa tahu membahas pekerjaan? Yaaa meskipun opsi terakhir adalah hal paling tidak mungkin.

"Miss masih ingat saya kan?"

"Saya belum lupa ingatan jika untuk kejadian beberapa jam yang lalu"

Laki-laki yang sudah Aruna ketahui namanya beberapa saat lalu itu terlihat sedikit canggung. Bahkan sudut bibirnya sedikit tertarik untuk membentuk sebuah senyuman namun urung ketika mendapat jawaban tegas Aruna.

"Aah ya, Sekali lagi Sorry. I'm sorry. Saya ngga tahu kalau Miss Runa bagian dari salah satu team manajemen kami"

"Runa. Just Runa"

"Iya Miss, maksud saya Runa"

"So, ada apa menemui saya?"

"Saya mau minta maaf atas kejadian tadi. Kamu tahu sendiri peraturan keterlambatan sangat intoleran di team saya"

Aruna menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian ia tersenyum lebar menatap sosok laki-laki didepannya ini.

"It's oke. Aku tahu. Lain kali hati-hati "

"I'm Liam Noah by the way "

"I know"

Noah menarik sebuah senyum simpul, Ia menatap Aruna kembali sebelum keduanya sama-sama terkekeh ringan.

"Nice to meet you Aruna"

"Me too and Se you next time "

.

.

.

.

.

Rintik hujan turun perlahan. Tidak deras namun cukup membuat siapapun yang berada dibawahnya akan basah kuyup. Padahal belum memasuki musim hujan bulan Ini, Namun siapa yang tahu kerandoman dunia?

Namun waktu kali ini tepat karena Aruna sudah berhasil menginjakkan kakinya di pelataran rumahnya ketika rintik hujan mulai membesar. Aruna sempat melambai kearah mobil yang membawanya pulang. Axcel. Iya, bosnya itu amat begitu ngotot untuk mengantarnya pulang hari ini. Jadi, mau tidak mau ia menerima kebaikan bosnya meski dengan hati yang terpaksa.

Belum selesai, Aruna harus dikejutkan dengan dua mobil yang terparkir rapi dihalaman rumahnya yang tidak terlalu luas. Dan itu bukan salah satu dari mobil kakaknya ataupun kenalan Ayahnya. Matanya memicing, dahinya berkerut ketika kakinya menginjak ruang tamu mininya.

Sekitar empat orang laki-laki yang sudah Aruna kenali duduk diatas sofa dan terlihat bersenda gurau lengkap dengan kakaknya? Sialan! Tahu begini Runa tidak pulang dulu tadi. Sekitar lima orang bersama dengan kakaknya, Kelima laki-laki itu kini serempak menatap dirinya yang berdiri menjulang didepan pintu.

"Run? Sudah pulang?" Suara kakaknya menyapanya, Namun ia hanya berdehem pelan untuk menyahut. Enggan basa-basi ataupun beramah tamah dengan para laki-laki itu. Hey ayolah sekarang ia dalam mode Aruna biasa bukan Designer yang bekerja sama dengan mereka kan? Jadi tidak ada salahnya jika ia bersikap sedikit arogan?

"Ada temen-temen ku. Kamu juga udah ada yang kenal beberapa kan?"

"Hmm"

"Yaudah sana masuk. Ayah nunggu kamu dibelakang"

Setelah menyapa beberapa teman Rehan dengan senyum canggung, Aruna dengan cepat berlari kedalam rumahnya. Meskipun ia masih bisa mendengar gasak-gusuk obrolan menyebalkan beberapa teman kakak nya itu.

'Aruna mode adik mu manis juga'

'Aruna sudah ada cowok?'

'Stupid! She's Rinos mine'

'Not for now. they've broken up'

'Bajingan kalian semua. Malah gosipin adik ku!'

Dan yaaaah masih banyak lagi obrolan -obrolan dari teman Rehan yang masih dapat Aruna dengar. Namun Aruna enggan memperdulikannya, Ia mencoba menulikan pendengarannya daripada harus mendapat asupan-asupan kalimat menyebalkan itu.

Memilih mengganti bajunya dengan cepat dan membersihkan dirinya Aruna melanjutkan niatnya untuk menemui sang Ayah yang katanya mencarinya.

Langkah kakinya membawanya pada area belakang rumah. Lebih tepatnya kebun dengan luas setengah hektar yang sudah disulap sang ayah menjadi peternakan ikan. Senyum Aruna yang lebar mendadak surut seketika saat didapatinya bukan hanya sosok sang ayah disana.

Melainkan ada tiga sosok laki-laki lain yang tengah asik melihat ikan ternak ayahnya. Dua diantaranya adalah yang Aruna ketahui namanya, serta laki-laki disampingnya aaah Aruna lupa namanya. Yang jelas laki-laki itu adalah si penjaga gawang karena Aruna ingat jika untuk desain baju pria itu beda sendiri nantinya.

Dan yang terkahir, laki-laki yang tengah bercengkrama dengan Ayahnya, Sialan! Kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar ketika sorot laki-laki itu menatapnya dengan terang-terangan? Bahkan ia tersenyum tipis saat sang Ayah melambaikan tangan memanggilnya.

"Run, sini!"

Tidak ada pilihan lain selain mendekat pada sang ayah, Aruna dengan langkah ragu-ragunya berjalan mendekat.

"Kenalan dulu ini Noah namanya. Iya betul begitu kan namanya?" Alih-alih menatap putrinya, ayahnya malah mencoba memastikan pada sang pemilik nama jika ia tidak salah melafalkan namanya barusan.

"Iya Sir. Benar Noah"

Shayne lagi-lagi menarik senyum tipisnya. Dan sialnya itu membuat jantung Aruna tiba-tiba berdebar.

"Tapi Ayah yakin kalau kamu juga sudah kenal kan? Katanya Rehan kamu ada kerjasama dengan mereka kan ya terkait desain baju?"

"I-iya yah"

"Yasudah kalau gitu. Jadi nggak usah kenalan lagi"

"Iya yah. Ngomong-ngomong Kok bisa disini temen-temen Rehan?"

"Ada waktu senggang 3 hari sebelum pertandingan katanya. Makanya mas mu ajak mereka jalan-jalan tadinya, Tapi mereka bilang bosan. Jadinya yasudah mereka minta ke rumah sini. Sekalian lihat peternakan ikan katanya "

Aruna hanya manggut-manggut mengerti  menanggapi alasan yang diberikan ayahnya perihal teman-teman kakaknya yang berkunjung tiba-tiba. Aruna dengan refleks mengambil pakan ikan yang berada ditangan sang ayah dan beralih melempar pakan itu kearah kolam buatan bapak.

"Yasudah kalau gitu Noah, lanjut ngobrol sama Aruna ya. Saya tinggal kedalam dulu mau ngopi"

"Iya pak"

"Loh ayah mau kemana?!"

"Kedalam sebentar. Temani temen-temen mas mu dulu ya"

Ingin Aruna berkata kasar, tapi sadar, ia tidak boleh melakukannya didepan sang ayah. Bisa habis ia ditenggelamkan dalam kolam yang dalamnya hampir se dagu nya ini. Jadi Aruna lebih memilih menghembuskan nafas kasar setelah ayahnua benar-benar pergi meninggalkan dirinya dan Noah berdua.

"Hai!"

"Hai"

"Baru pulang?"

"Iya"

"How's your day?"

"Good"

"Aruna?"

"Ya?"

"You still remember me?"

Aruna tergelak. Ia berhenti melempar pakan ikan dan kini fokus menatap Noah yang menatapnya tajam dengan kelopak mata mungilnya, "Aku tidak lupa ingatan jika harus mengingat siapa kamu Liam Noah"

Dan keduanya terkekeh kecil bersama. "Thanks"

"For what?"

"Mengingat ku Run"

"Sudah seharusnya"

"Aku suka rumah mu. Kecil diluar luas didalam. Ini menyenangkan"

"Kenapa begitu?"

"Aku belum pernah merasa nyaman di tempat selain rumahku"

"Kalau suka kamu boleh main kesini"

"May I?"

"Of course if you have many time"

"Itu sebuah kehormatan untukku"

"Kamu berasal darimana?"

"Belanda, tapi aku menetap di Italia. "

"Wow. Menakjubkan, kamu tahu banyak soal Italia?"

"Nggak banyak dan nggak sedikit juga, why?"

"It's one of the places I want to visit"

"Oh ya? Apa yang buat kamu tertarik kesana?"

"Banyak!"

"Mau pergi kesana?"

"Tentu saja. Tapi aku nggak tahu kapan bisa kesana"

"Tomorrow?"

Aruna tertawa. Dan itu sukses membuat Noah terpekur untuk beberapa saat. Matanya bahkan tidak berkedip untuk menatap sosok Aruna disampingnya yang terlihat begitu cantik dengan tawa kecil yang menghiasi wajah mungilnya.

"Jangan konyol kamu. Kamu kira segampang itu. Bukan begitu konsepnya Noah"

"Lalu apalagi? Kamu hanya harus beli tiket dan berangkat "

"Noah, aku tahu kalau itu. Masalahnya, aku tidak ada persiapan apapun untuk pergi kesana"

"Planning? Your mean?"

"Hmm"

"Like a money? Or ..."

Alis Noah naik sebelah. Laki-laki itu menatap Aruna dengan penuh tanda tanya besar di dalam bola matanya.

"Bukan tentang uang Noah. Banyak salah satunya kerjaan ku yang nggak bisa ditinggal begitu saja, dan tentunya izin dari orangtua ku. Ditambah lagi, aku masih belum tahu kemana pastinya jika aku ke Italia"

"I see"

"Kecuali kamu bantuin aku rekomendasikan apa aja yang menarik disana"

"Kamu mau pergi bersama?"

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!