Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?
Bab 13 (Cemburu Sang Kutub Utara)
Pagi hari di pulau pribadi menyambut mereka dengan hamparan langit biru cerah tanpa awan. Arini terbangun lebih awal dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sepanjang garis pantai, membiarkan kakinya yang telanjang sesekali disapu oleh air laut yang dingin dan jernih. Ia mengenakan gaun pantai tipis berwarna putih longgar yang bergerak indah ditiup angin laut.
Saat sedang asyik menikmati ketenangan, gawai di dalam saku gaunnya bergetar nyaring. Layar menampilkan sebuah nama yang sudah sangat familier: Reno. Ia adalah teman satu angkatan sekaligus mantan ketua senat di jurusannya saat kuliah dulu.
Arini menggeser layar dan mengangkatnya. "Halo, Reno? Ada apa?"
Suara Reno di seberang telepon terdengar sangat bersemangat. "Arini! Akhirnya teleponmu tersambung juga. Selamat ya atas kelulusanmu sebagai Cum Laude! Maaf aku baru sempat mengabari karena kemarin sibuk mengurus berkas kerja. Oh ya, kudengar dari teman-teman kamu mendadak menikah? Apa itu benar? Aku sempat tidak percaya saat melihat beritanya di media bisnis."
Arini tersenyum tipis, menatap hamparan pasir putih di depannya dengan perasaan canggung. "Terima kasih, Reno. Iya, beritanya benar. Semuanya terjadi begitu cepat, jadi aku belum sempat mengabari teman-teman kampus."
"Ah, sayang sekali. Padahal aku baru saja diterima bekerja di salah satu firma audit besar di Jakarta, dan tadinya aku berniat mengajakmu merayakannya bersama sambil makan malam berdua. Ternyata kamu sudah jadi Nyonya Muda sekarang," ucap Reno, terdengar ada nada kekecewaan yang terselip di balik tawa kecilnya.
"Maaf ya, Reno. Tapi kita masih bisa berteman dan berdiskusi tentang akuntansi lewat telepon, kan?" balas Arini ramah, tidak menyadari bahwa sifat aslinya yang hangat sebagai teman kuliah bisa disalahartikan.
Tanpa Arini sadari, dari arah teras vila, sepasang mata elang sejak tadi sedang mengawasi gerak-geriknya dengan sangat tajam. Adrian berdiri bersandar pada tiang kayu teras dengan kedua tangan terbenam di saku celana linennya. Rahangnya mengatup rapat. Mendengar Arini tertawa lepas dan berbicara dengan nada selembut itu kepada seorang pria asing mendadak menyulut sebuah letupan api panas yang asing di dalam dadanya.
Begitu Arini mematikan sambungan telepon dan berbalik hendak kembali ke vila, langkah kakinya langsung terhenti. Adrian sudah berdiri tepat di hadapannya, menghalangi jalan dengan aura yang kembali mendingin secara drastis—bahkan lebih dingin daripada biasanya.
"Siapa?" tanya Adrian pendek, suaranya terdengar ketus dan tajam.
Arini berkedip bingung melihat perubahan sikap suaminya yang mendadak. "Maaf?"
"Siapa pria yang baru saja meneleponmu pagi-pagi begini sampai membuatmu tertawa selebar itu, Arini?" tuntut Adrian, melangkah satu blok lebih maju hingga memotong jarak di antara mereka. Matanya berkilat penuh emosi yang tertahan.
“Oh, itu Reno. Teman satu jurusan saya dulu saat kuliah. Dia hanya menelepon untuk mengucapkan selamat lulus dan bertanya tentang kabar pernikahan saya," jawab Arini jujur, heran melihat reaksi berlebihan dari Adrian.
Adrian mendengus sinis, memalingkan wajahnya sejenak sebelum kembali menatap Arini dengan intensitas yang mengintimidasi. "Aturan nomor 89: selama masa kontrak ini berjalan, kamu adalah istriku di mata publik. Menjaga kedekatan dengan pria lain dari masa lalumu—termasuk teman kuliahmu itu—bisa memicu rumor negatif yang merugikan nama baik Wijaya Group jika ada media yang mengendus."
Arini menegakkan bahunya, rasa herannya kini berubah menjadi kekesalan karena merasa ruang pribadinya diusik secara tidak adil. "Reno hanya seorang teman, Adrian! Percakapan kami tadi sama sekali tidak melanggar hukum atau merusak reputasi Anda. Kenapa Anda menjadi begitu sensitif dan otoriter seperti ini?"
“Aku tidak sensitif, aku hanya bersikap rasional sebagai rekan bisnismu!" potong Adrian dengan suara yang sedikit ditinggikan, mengalahkan suara deburan ombak di sekitar mereka.
Ia kembali melangkah maju hingga tubuh bidangnya hampir bersentuhan dengan tubuh ramping Arini. Adrian menundukkan kepalanya, menatap dalam ke manik mata Arini dengan napas yang memburu karena emosi yang tidak mampu lagi ia kendalikan dengan logikanya. "Aku hanya tidak suka melihat milikku... tampak begitu ramah dan mudah dijangkau oleh pria lain. Paham?"
Jantung Arini seketika berdentum menggila mendengar kata 'milikku' keluar dari mulut sang Es Kutub Utara. Sifat posesif dan kilatan cemburu di mata Adrian malam ini tampak begitu telanjang, menghancurkan seluruh argumen tentang 'kontrak bisnis murni' yang selama ini selalu pria itu agungkan. Di bawah terpaan angin pantai yang kencang, kedua ego mereka kini saling berbenturan, menyisakan ketegangan romantis yang semakin membakar perasaan mereka jauh lebih dalam dari sebelumnya.