Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.
Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.
Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BISIKAN BAHAYA
💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Matahari belum sepenuhnya terbit menyingsing di ufuk timur, langit masih menyisakan nuansa kelabu yang samar, menciptakan suasana yang dingin dan hening. Di halaman belakang kediaman Valtieri yang biasanya ramai itu, kini tampak beberapa mobil SUV hitam besar yang sudah siap dengan mesin yang menyala. Awan asap tipis mengepul dari knalpotnya, menandakan bahwa kendaraan itu sudah dipanaskan dan siap untuk berangkat kapan saja.
Elara berdiri di depan pintu utama dengan wajah yang masih tampak lelah namun berusaha terlihat tenang. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan setelan pakaian santai berwarna gelap yang disiapkan oleh Bianca, dipadukan dengan jaket tebal berkerudung untuk menahan hawa dingin di perjalanan nanti. Tas punggung kecil berisi barang-barang keperluannya sudah tersampir di bahunya. Di sampingnya, Bianca tampak sibuk memastikan segala sesuatunya sudah beres, sesekali memberi isyarat kepada para pengawal yang sudah bersiaga di sana.
Namun mata Elara terus bergerak mencari sosok tertentu di antara kerumunan orang yang ada di sana. Ia berharap Dante bisa datang mengantarnya pergi, meskipun ia tahu betul bahwa saat ini pria itu pasti sangat sibuk mengurus masalah penyerangan kemarin dan mencari jejak si pengkhianat.
Seolah bisa mendengar isi hati Elara, sosok Dante tiba-tiba muncul dari balik pintu gedung itu. Pria itu masih mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin, meskipun sudah sedikit dibersihkan, namun guratan kelelahan yang mendalam masih terlihat jelas di wajahnya. Matanya yang tajam itu menyapu sekeliling dengan sigap, memastikan tidak ada hal mencurigakan di sekitar sana sebelum akhirnya tertuju pada Elara.
Dante berjalan mendekat ke arah Elara dengan langkah yang cepat namun tetap terjaga. Ia berhenti tepat di hadapan wanita itu, menatapnya lekat-lekat seolah ingin merekam setiap detail wajah Elara di dalam ingatannya.
"Kau sudah siap?" tanya Dante singkat, suaranya terdengar sedikit serak namun tetap berwibawa.
Elara mengangguk perlahan. "Sudah. Hanya saja... apakah kau yakin keputusan ini adalah yang terbaik, Dante? Aku merasa seperti sedang lari dari masalah padahal kau harus tetap tinggal di sini menghadapi semuanya sendirian," jawab Elara dengan nada rendah, matanya menatap mata Dante lekat-lekat, berusaha menyampaikan kekhawatirannya.
Wajah Dante sedikit melunak mendengar ucapan Elara itu. Ia mengulurkan tangannya perlahan dan menepuk pelan bahu wanita itu. "Jangan berpikiran begitu. Ini bukan soal lari dari masalah, tapi soal menjaga hal yang paling berharga bagiku agar tetap aman. Selama kau aman di sana, aku bisa berkonsentrasi penuh menyelesaikan masalah di sini tanpa harus memikirkan keselamatanmu terus-menerus," jelas Dante pelan namun tegas.
Ia berhenti sejenak, lalu mengambil sebuah ponsel khusus berwarna hitam polos dari sakunya dan menyodorkannya ke arah Elara. "Ini ponsel satelit khusus. Nomornya hanya diketahui olehku dan kepala pengawalmu di sana. Simpan baik-baik dan jangan sampai hilang. Jika terjadi apa-apa atau kau membutuhkan bantuan, hubungi aku lewat nomor ini. Aku akan segera meresponsnya secepat mungkin."
Elara menerima ponsel itu dengan ragu, lalu menggenggamnya erat-erat di tangannya. "Baiklah. Aku akan menyimpannya baik-baik. Tapi kau juga harus berjanji padaku, kau harus berhati-hati di sini. Jangan bertindak sembarangan demi ambisi atau dendam. Utamakan keselamatanmu sendiri," ucap Elara dengan nada memohon, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis yang hampir jatuh.
Dante menatap Elara sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Aku janji. Sekarang pergilah. Pengawalmu sudah menunggu."
Sebelum Elara sempat menjawab, Dante tiba-tiba menarik tangan Elara perlahan, lalu membimbingnya menuju mobil yang sudah ditentukan. Ia membukakan pintu mobil itu dan memastikan Elara duduk dengan nyaman di kursi penumpang bagian belakang. Di sana sudah ada dua orang pengawal wanita yang ditugaskan khusus untuk menjaga dan melayani Elara selama perjalanan dan di tempat persembunyian nanti.
"Jagalah Nyonya Valtieri dengan nyawa kalian. Jangan biarkan apa pun terjadi padanya, meskipun nyawa kalian sendiri yang harus menjadi taruhannya," perintah Dante dengan nada dingin dan tegas kepada kedua pengawal wanita itu sebelum menutup pintu mobil itu rapat-rapat.
Mobil itu perlahan mulai melaju meninggalkan halaman belakang kediaman itu, diikuti oleh dua mobil pengawal lainnya di depan dan belakangnya sebagai bentuk pengawalan ketat. Elara menoleh ke belakang melalui jendela kaca mobil yang tertutup tirai gelap itu, menatap sosok Dante yang masih berdiri diam di sana hingga perlahan tubuhnya semakin menjauh dan akhirnya hilang tertutup tembok tinggi kediaman itu. Hati Elara terasa perih dan kosong seketika. Ia tidak tahu kapan ia bisa bertemu lagi dengan Dante, atau bahkan apakah ia bisa bertemu lagi dengan pria itu dalam keadaan selamat.
Perjalanan menuju rumah liburan keluarga Valtieri di pegunungan itu memakan waktu sekitar empat hingga lima jam perjalanan darat. Sepanjang jalan, suasana di dalam mobil itu terasa hening dan tegang. Para pengawal yang mengantar Elara tampak sangat waspada dan sigap, sesekali berkomunikasi lewat radio HT di pinggang mereka untuk memantau situasi di sepanjang jalan. Mereka sengaja mengambil jalan memutar yang agak jauh dan jarang dilewati orang demi menghindari kemungkinan adanya penyergapan dari musuh.
Elara duduk diam di kursinya, menatap pemandangan di luar jendela mobil yang berubah dari pemandangan perkotaan yang padat menjadi pemandangan pedesaan yang sepi dan dihiasi oleh pepohonan hijau yang rimbun. Namun pemandangan indah itu sama sekali tidak menarik perhatiannya. Pikirannya terus melayang kembali ke kediaman Valtieri, membayangkan apa yang sedang dilakukan Dante saat ini, apakah pria itu baik-baik saja atau sedang menghadapi masalah baru yang lebih berat.
"Jangan khawatir, Nyonya. Tuan Valtieri sudah mengatur semuanya dengan sangat matang. Kami sudah memeriksa rute perjalanan ini berkali-kali dan memastikan keamanannya. Anda pasti akan sampai di tempat tujuan dengan selamat," ucap salah satu pengawal wanita yang duduk di sebelah Elara seolah bisa membaca pikiran wanita itu.
Elara tersenyum tipis namun terasa kaku. "Terima kasih. Aku hanya... cemas saja," jawabnya pelan.
Pengawal wanita itu mengangguk mengerti, lalu kembali diam di tempatnya, namun tatapan matanya tetap waspada mengawasi keadaan di luar sana.
Sekitar tiga jam perjalanan berlalu, mobil yang ditumpangi Elara beserta pengawalnya itu mulai memasuki kawasan pegunungan yang berliku dan sepi. Jalanan yang dilalui mereka semakin sempit dan berkelok-kelok, diapit oleh tebing curam di satu sisi dan jurang dalam di sisi lainnya. Hawa dingin yang menusuk tulang mulai terasa merembes masuk ke dalam mobil meskipun pendingin ruangan di dalamnya sudah dimatikan.
Namun seketika itu juga, suasana di dalam iring-iringan mobil itu berubah menjadi tegang. Terdengar suara komunikasi lewat radio HT dari pengawal yang duduk di kursi depan terdengar cepat dan panik.
"Peringatan! Ada mobil hitam mencurigakan yang mengikuti kita dari kejauhan sejak sepuluh menit yang lalu. Dan sekarang, ada dua mobil lagi yang tiba-tiba muncul dari arah depan dan memotong jalan kita. Kita terjebak di tengah, Tuan!" lapor pengawal itu dengan napas terengah-engah.
Wajah pengawal yang duduk di sebelah Elara seketika berubah menjadi pucat pasi namun tetap berusaha tenang. Ia segera memerintahkan pengemudi untuk mempercepat laju mobil dan mencoba mencari celah untuk lolos dari kepungan itu. Namun sayang, jalanan di depan sana sudah diblokir oleh dua mobil hitam besar yang menghalangi jalan, sementara mobil yang mengikuti dari belakang itu semakin mendekat dan mempersempit jarak.
"Kita disergap! Tetap tenang dan lindungi Nyonya Valtieri dengan segala cara!" teriak kepala pengawal itu lewat radio HT.
Belum sempat Elara menyadari apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba terdengar suara letusan senjata api yang keras memecah keheningan pegunungan itu. Kaca jendela mobil di depan mereka pecah berkeping-keping terkena tembakan peluru, diikuti oleh suara benturan keras saat mobil itu menabrak tebing di pinggir jalan akibat pengemudinya yang tertembak.
Mobil yang ditumpangi Elara pun tersentak keras saat pengemudinya berusaha mengerem mendadak untuk menghindari tabrakan dengan mobil di depannya itu. Elara terdorong ke depan dengan keras, kepalanya terbentur kursi di depannya hingga terasa pening dan berkunang-kunang.
"Turun! Kita harus keluar dari sini sekarang!" seru salah satu pengawal wanita itu sambil menarik tangan Elara dengan kasar namun terlihat penuh kekhawatiran. Ia segera membuka pintu mobil itu dan menarik Elara berlari menuju tempat yang agak terlindungi di balik bebatuan besar di pinggir jalan itu.
Di luar sana, pertempuran sengit sedang terjadi. Para pengawal yang mengawal Elara berusaha mati-matian menahan serangan para penyerang yang jumlahnya tampak cukup banyak dan persenjataannya sangat lengkap. Suara letusan senjata api terdengar bersahut-sahutan di udara, menciptakan suasana yang sangat mencekam dan mengerikan. Asap hitam mulai mengepul dari mobil yang terbakar di depan sana, menebarkan bau mesiu dan bensin yang menyengat hidung.
Elara duduk bersembunyi di balik bebatuan besar itu dengan wajah pucat pasi dan tubuh yang gemetar hebat. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak, takut jika salah satu peluru liar itu akan mengenai dirinya atau orang-orang yang berusaha melindunginya. Ia tidak mengerti, bagaimana bisa musuh mengetahui rute perjalanan mereka yang seharusnya sudah dirahasiakan dan dijaga ketat ini? Apakah ada pengkhianat lain yang masih berkeliaran dan membocorkan informasi ini?
Namun di tengah kepanikan dan kekacauan itu, mata Elara tidak sengaja menangkap sosok seorang pria bertopeng yang tampak memimpin pasukan penyerang itu sedang berjalan mendekat ke arah tempat persembunyiannya. Pria itu berjalan dengan tenang namun penuh percaya diri, seolah yakin bahwa ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan hari ini. Dan saat pria itu melewati tempat di mana cahaya matahari menyinari wajahnya samar-samar di balik topeng itu, napas Elara seketika tertahan.
Meskipun hanya sekilas dan tertutup sebagian oleh topeng itu, Elara bisa mengenali tato berbentuk naga di leher pria itu. Tato yang sama persis dengan tato yang dimiliki oleh asisten kepercayaan Dante di kediaman Valtieri, orang yang selama ini selalu terlihat setia dan patuh kepada tuannya.
Jadi ternyata... pengkhianat itu bukan hanya satu orang. Dan bahaya yang mengancam mereka ternyata sudah menyusup jauh ke dalam jantung pertahanan keluarga Valtieri sendiri.
Tubuh Elara menegang kaku di tempatnya, matanya menatap lurus ke arah sosok pria bertopeng itu dengan perasaan yang tak terlukiskan. Ia sadar bahwa situasi yang dihadapinya saat ini jauh lebih berbahaya dan rumit dari pada yang ia bayangkan sebelumnya. Dan ia harus berjuang sekuat tenaga untuk bisa lolos dari jeratan musuh yang ternyata sudah menyusup di dekatnya ini.
BERSAMBUNG
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^