Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.
Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.
Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Pagi itu, apartemen mewah milik Charles terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan yang bekerja terlalu keras, melainkan karena keheningan yang menyelimuti setiap sudut ruangan. Aku duduk di tepi tempat tidur, masih mengenakan piyama flanel yang nyaman, namun pikiranku melayang jauh ke gedung SMA Nusantara. Seharusnya, saat ini aku sedang duduk di barisan depan kelas Biologi, mendengarkan penjelasan tentang struktur sel, bukannya meringkuk ketakutan di balik tembok marmer yang megah ini.
Di atas meja nakas, ponselku bergetar tanpa henti. Notifikasi dari berbagai media sosial dan pesan grup kelas masuk seperti air bah yang menjebol bendungan. Aku tidak berani membukanya. Aku tahu apa yang ada di sana: foto-fotoku bersama Charles yang diambil secara sembunyi-sembunyi, spekulasi liar tentang statusku, dan kalimat-kalimat yang menghakimi hidupku tanpa pernah tahu kebenaran di baliknya.
Tepat pukul 09.00 pagi, sebuah panggilan masuk memecah kesunyian. Layar ponselku menampilkan nama yang membuat jantungku berdegup kencang: *Kepala Sekolah SMA Nusantara*.
Dengan tangan gemetar, aku menggeser ikon hijau. "Halo... Assalamualaikum, Pak."
"Waalaikumsalam. Nak Andini?" Suara Pak Kepala Sekolah terdengar berat dan penuh kehati-hatian. Tidak ada nada amarah, namun ada tekanan formalitas yang membuat tenggorokanku terasa kering. "Bapak ingin bicara mengenai situasi yang sedang berkembang saat ini. Apakah Nak Andini sedang bersama orang tua atau wali?"
"Saya... saya sendiri di rumah, Pak. Pak Charles sedang ada urusan mendadak," jawabku lirih. Aku merasa seperti siswi kecil yang tertangkap basah melakukan kesalahan besar, padahal aku hanya mencoba bertahan hidup di tengah wasiat yang rumit.
"Begini, Nak Andini," beliau menghela napas panjang, sebuah jeda yang terasa seperti keabadian bagiku. "Pihak sekolah telah menerima banyak sekali panggilan dan surat elektronik dari komite sekolah serta orang tua murid lainnya. Mereka merasa keberatan dengan pemberitaan yang melibatkan namamu dan salah satu tokoh publik terkemuka. Mereka khawatir hal ini akan memengaruhi citra sekolah dan fokus belajar siswa-siswi lainnya."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. "Tapi Pak, saya tetap mengerjakan tugas saya. Saya tidak pernah melanggar aturan moral di sekolah. Hubungan saya dan Pak Charles memiliki dasar yang sah dan sangat pribadi..."
"Kami mengerti, Andini. Kami sangat menghargai integritas dan prestasimu selama ini sebagai murid teladan," sela beliau dengan nada yang lebih lembut, seolah mencoba membalut luka yang akan ia torehkan. "Namun, lingkungan pendidikan memerlukan ketenangan. Saat ini, keberadaanmu di sekolah akan memicu kerumunan media dan tekanan psikologis bagi teman-temanmu. Setelah melalui rapat panjang dengan jajaran yayasan, kami dengan berat hati menyarankan agar Nak Andini mengambil pengunduran diri secara sukarela demi kebaikan bersama. Kami akan membantu proses perpindahan berkas ke sekolah lain atau program belajar mandiri."
Kalimat itu jatuh seperti vonis mati bagi masa remajaku. "Pengunduran diri secara sukarela," kata-kata itu terdengar sangat sopan, namun maknanya tetap sama: aku tidak lagi diinginkan di sana. Harapanku untuk bisa lulus bersama Siska, mengenakan toga di panggung yang sama, dan merayakan kelulusan sebagai siswi biasa, hancur berkeping-keping melalui sambungan telepon ini.
"Saya mengerti, Pak. Terima kasih atas informasinya," bisikku sebelum menutup sambungan.
Aku meletakkan ponsel itu di atas kasur, lalu perlahan merosot ke lantai. Aku memeluk lututku, membiarkan tangis yang sedari tadi kutahan pecah di dalam kamar yang sunyi ini. Aku teringat Bapak Sudarman dan Ibu Narsiah. Mereka pasti sangat sedih melihat putri mereka harus meninggalkan bangku sekolah bukan karena nilai yang buruk, melainkan karena prasangka dunia. Aku merasa telah mengecewakan harapan mereka.
"Bapak... Ibu... Andini minta maaf," isakku pelan.
Di tengah kesedihanku, pintu kamar perlahan terbuka. Charles berdiri di sana. Ia tidak lagi mengenakan jas formalnya. Ia tampak berantakan, dasinya sudah dilonggarkan, dan wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa. Ia pasti baru saja pulang setelah mendengar kabar tentang kegaduhan di sekolah.
Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di depanku. Tanpa berkata-kata, ia menarikku ke dalam pelukannya. Genggamannya sangat kuat, seolah ia mencoba menyatukan kembali kepingan hatiku yang hancur.
"Aku sudah mendengar semuanya dari Gunawan. Kepala sekolah menghubungiku juga setelah meneleponmu," bisik Charles tepat di telingaku. Suaranya tidak lagi dingin; ada getaran emosi yang sangat nyata di sana.
"Charles, mereka mengusirku... secara halus," ucapku di sela tangis. "Duniaku yang dulu sudah benar-benar hilang."
Charles menjauhkan sedikit tubuhnya agar bisa menatap mataku. Ia menghapus air mataku dengan ibu jarinya, sebuah gestur yang sangat santun dan penuh perlindungan. "Dengarkan aku, Andini. Sekolah itu mungkin telah menutup pintunya, tapi itu bukan akhir dari masa depanmu. Mereka melihatmu sebagai beban, tapi bagiku, kau adalah tanggung jawab yang paling berharga."
Ia berdiri dan membantuku bangkit. "Jangan biarkan keputusan mereka menentukan nilaimu sebagai manusia. Kau adalah gadis yang kuat, putri dari orang-orang hebat. Jika dunia luar tidak memberimu ruang, maka aku akan membangun dunia baru untukmu."
Charles menuntun menuju ruang kerja di apartemennya. Di sana, sudah tersusun rapi beberapa berkas pendidikan internasional dan jadwal bimbingan belajar privat. "Aku sudah menyiapkan semuanya. Kau tetap bisa belajar, kau tetap bisa ikut ujian nasional, dan kau akan tetap menjadi penulis seperti yang kau impikan. Tidak akan ada lagi bisikan jahat, tidak akan ada lagi tatapan menghakimi."
Aku menatap Charles dengan pandangan baru. Pria yang dulu kuanggap sebagai gunung es yang angkuh, kini berdiri sebagai pelindung yang tak tergoyahkan. Ia mengorbankan ketenangannya, menghadapi direksi perusahaannya yang marah, hanya untuk memastikan aku tidak jatuh terlalu dalam.
"Kenapa kau begitu baik padaku, Charles? Padahal aku hanya pembawa masalah bagi reputasimu," tanyaku lirih.
Charles terdiam sejenak, menatap keluar jendela ke arah gedung-gedung tinggi Jakarta yang tampak kecil dari sini. "Karena saat aku melihatmu menghadapi badai ini dengan kepala tegak, aku melihat diriku sendiri sepuluh tahun yang lalu. Dan saat itu, tidak ada siapa pun yang memelukku. Aku tidak akan membiarkanmu merasakan kesendirian yang sama."
Pagi itu, di dalam rumah yang tenang, aku belajar sebuah pelajaran hidup yang tidak pernah diajarkan di sekolah mana pun. Bahwa rumah bukan hanya tentang bangunan atau alamat, melainkan tentang seseorang yang memberikan rasa aman di saat seluruh dunia mencoba mengusirmu.
Aku melepaskan sisa-sisa duka tentang SMA Nusantara. Aku berjalan menuju meja kerja, membuka buku catatan pemberian Bapak Sudarman, dan mulai menulis. Masa sekolahku yang biasa mungkin berakhir lewat telepon pagi ini, tapi hidupku sebagai wanita yang tangguh baru saja dimulai di samping Charles Utama. Kami tidak lagi hanya terikat oleh kontrak atau wasiat, melainkan oleh sebuah janji tak terucap untuk saling menjaga di tengah badai yang tak kunjung usai.