Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Di warung sederhana itu aku dan Maya bertemu, aku duduk kembali di kursi plastik yang tersedia ketika Maya sedang membeli sesuatu untuk dirinya di warung itu. Sore hari ini, aku tidak menyangka akan mendapatkan pengalaman baru bertemu dan bersama Maya di tempat seperti ini. Padahal kami akan rawan di lihat oleh teman satu sekolah, namun sepertinya Maya sudah cukup emosi melihatku berpisah dari kelompok study tour dan tidak lagi memedulikan jika kami terlihat oleh teman satu sekolah sedang berduaan.
Tidak lama Maya terlihat keluar dari warung lalu duduk di kursi plastik yang ada di sebelah kananku dan kami terpisah dengan sebuah meja kecil, dia menjatuhkan tubuhnya ke kursi itu cukup keras sampai menimbulkan bunyi yang mengagetkanku. Aku sangat sadar kalau dia marah besar, tapi apa boleh buat.
...Krek! Cssshhhh!!...
Bunyi botol cola yang terbuka dengan sangat keras, dia membuka dengan seluruh emosinya aku rasa. Tapi... ini pertama kalinya aku melihatnya membeli sebuah cola, dia pun meminumnya beberapa kali teguk sampai membuatnya bersendawa.
“Kamu... suka minum cola juga?” tanyaku memecah keheningan di antara kami, Maya membuang muka.
“Nggak!” jawabnya dengan bentakan, lalu kenapa dia membeli cola?
Lalu kami saling berdiam diri lagi, aku semakin yakin dia benar – benar marah padaku... tapi kami tidak boleh seperti ini terus, dia sudah beberapa kali terlalu berlebihan mencampuri urusanku...
“Kenapa kamu di sini? Kelompokmu mana?” tanyaku sambil menoleh kanan – kiri untuk mencari kelompok Maya namun sepanjang mata memandang aku tidak melihat teman – teman Maya di sekitar sini, lalu tidak lama aku mendengar Maya menghela nafas.
“Aku liat kamu duduk kebingungan di sini dan... aku meninggalkan mereka” jawabnya datar, aku cukup terkejut Maya benar - banar meninggalkan kelompoknya demi aku sampai membuatku tidak tahu harus berkata apa selain...
“Eeeh...” agak bergumam aku mengatakannya
Tergantung situasinya, mungkin yang dia katakan ini bisa membuat orang yang mendengarnya bahagia. Tapi kenyataan dia sedang duduk di sebelahku dengan raut wajah marah malah membuatku takut, terlebih aku sama sekali tidak bisa menghiburnya. Tentu saja itu karena aku yang telah mengacaukan kesenangan study tour-nya.
“Kenapa kamu gak sama kelompoknya Luna?!” bentak Maya sambil dia menatapku dengan raut wajah marah, aku sampai sedikit tersentak tiba – tiba dia membentak seperti itu.
“Aku.. cuma akan membuatnya dalam masalah kalau tetap bersama mereka, aku memang bersyukur Luna mengajakku masuk dalam kelompoknya, tapi yah itu... aku cuma akan membawa masalah bagi Luna” jawabku setelah sebelumnya menghela nafas, sepertinya jawabanku itu dapat di mengerti dengan baik oleh Maya.
Maya perlahan menundukkan pandangannya lalu terlihat sedih...
“Begitu ya...” gumamnya
“Kepribadiannya juga yang membuat Luna semakin menderita kalau aku terus bersama kelompoknya” timpalku
“Kamu juga sama aja, Raka” ucap Maya
“Entahlah, aku merasa punya alasan untuk menderita” timpalku lagi
“Hah?!” terdengar Maya kembali emosi mendengar perkataanku, dia kembali menatapku sedangkan aku menatap langit sore yang semakin berwarna oranye
“Iya ini seperti hukuman Tuhan atas hal – hal seperti sikapku, keterampilan sosial, sikap kepada teman dan berakhir dengan ganjaran dari kehidupan sebelumnya yang akhirnya membuatku menjadi seorang penyendiri” aku bicara apa saja yang terbesit di kepalaku ketika itu meski aku juga bingung dengan apa yang aku katakan, aku cuma ingin Maya bisa mengerti tentang keputusanku dan dia tidak lagi memaksaku untuk kembali ke kelompok Luna ataupun berakhir seperti Maya meninggalkan kelompoknya cuma demi menemaniku seorang.
“Kamu ini ngomong apa sih?!! Kamu tahu apa yang diinginkan Tuhan?!” bentaknya lagi padaku, aku pun hanya diam saja menatap langit sore ini.
“Tapi aku masih aja berpikir kamu gak seharusnya mengorbankan diri buat orang lain...” ucap Maya sambil menendang batu kerikil di bawah kakinya, aku menoleh menatapnya dan aku dapati dia kembali menundukkan kepala.
“Aku bukan orang yang paling malang kok, penyendiri yang bertekat itu jauh lebih baik sendirian daripada bergaul dengan suatu kelompok. Beberapa orang memang suka bepergian sendiri daripada bersama orang lain, aku ini serigala yang meniti jalanku sendiri” jelasku mencoba membuat Maya tidak lagi mengkhawatirkanku yang di benci satu sekolah karena menyelamatkan Elma, meski begitu aku tidak yakin kata rumit seperti itu bisa membuatnya baikkan.
“Kamu cuma sedang mendeskripsikan dirimu sendiri sebagai sesuatu yang keren padahal enggak!” bantah Maya, yah sesuai dugaanku...
“Ya udah sih, yang penting Elma bisa menikmati study tour ini tidak seperti di kehidupan sebelumnya. Aku ini seorang yang dermawan” aku mengatakannya sambil tertawa puas, namun Maya masih saja cemberut.
“Dermawan apanya? Kamu itu cuma gak peduli sama perasaan orang lain!! Termasuk aku, tahu?!!” bentaknya terdengar begitu emosi
Jujur saja aku terkejut mendengar perkataan Maya, di dalam kepala langsung bertanya ‘Apa – apaan barusan?’ memang aku akui aku tidak pernah peduli dengan perasaan orang lain, aku tidak punya banyak pengalaman dengan suatu hubungan interpersonal. Sekeras apa pun aku berpikir, aku tetap saja tidak mampu memahami perasaan mereka. Karena itulah aku memilih untuk menarik diri dari segala jenis hubungan interpersonal...
Aku selalu mudah salah paham setelah terlalu banyak memikirkan tentang hubungan antar manusia, pada akhirnya akulah yang akan kecewa setelah punya ekspektasi aneh terhadap mereka. Karena pengalaman itu, aku memutuskan untuk tidak lagi terlalu memikirkannya, daripada aku punya kenalan yang berakhir canggung karena aku memutuskan untuk memiliki seorang teman, aku lebih baik menyerah untuk membangun hubungan personal sedari awal.
“Pokoknya aku sudah puas sama yang aku lakukan sekarang, kamu gak punya alasan buat komplain soal ini. Bahkan ibuku aja membiarkanku memilih jalanku ini” celetukku lalu meminum cola-ku beberapa teguk untuk menyegarkan tenggorokanku.
“Kamu sungguh sudah puas sama kehidupanmu ini? kamu itu gak punya teman dan diasingkan di kelas, kamu beneran berpikir kehidupan SMA seperti ini bagus?” tanya Maya dengan nada sedihnya
Aku tidak bermasalah dengan semua yang dikatakan Maya sebenarnya, tapi ketika hal – hal itu di ucapkan oleh orang lain ternyata rasanya begitu menyakitkan di hati... pada dasarnya, sebenarnya orang – orang seperti aku ini harusnya di perlakukan seperti sebuah gelas kaca, oke?
“Aku bukan seperti kamu, aku gak perlu nyanyi sambil joget sambil barbeku-an!” balasku dengan sindiran karena aku merasa dia sudah keterlaluan menyakiti hatiku dengan kata – katanya, sepertinya kata – kata itu tepat sasaran karena Maya terlihat malu yang tampak dari wajahnya yang memerah dan juga ekspresinya terlihat kesal menatapku.
“Aku sebenarnya gak mau lakuin itu, tau?!!” Maya mengatakannya dengan bentakan, aku tidak peduli lalu membalik kepala agar tidak melihat wajah kesalnya padaku.
“Dari mana sih pemikiran anehmu itu?!!” tanya Maya dengan bentakan namun kali ini tangannya memukul punggungku dengan keras.
“Uhuk! Tapi aku serius tentang kamu gak punya hak untuk menyuruhku harus apa dan jangan apa, kenapa juga kamu mau repot – repot memerintahku? Sampai kesini segala meninggalkan kelompokmu pula” tegas aku katakan agar Maya bisa mengerti kalau aku sudah benar – benar muak dengan apa yang dilakukannya kepadaku selama kami menjalani kehidupan kedua ini, tiba – tiba Maya menghentak botol cola-nya di atas meja dengan sangat keras sampai membuatku terkejut dan terpaku menatapnya.
“Aku mau... bersama kamu di kehidupan kedua ini” ucapnya dengan raut wajah yang terlihat begitu serius dengan apa yang di ucapkannya meski aku melihat wajahnya memerah, aku sampai tidak bisa berkata apa pun lagi.
“Aku juga yang telah menyeretmu kembali menuju tiga tahun lalu ke dunia kita sekarang... karena itu... aku bertanggungjawab memedulikan kamu” Maya melanjutkan kata – katanya dan aku langsung membuang muka ketika itu
“Kamu bilang bertanggungjawab? Aku yang harus bertanggungjawab atas hidupku...” belum selesai kalimatku, Maya memotongnya
“Mungkin kamu benar, tapi...” tidak ingin aku mendengar apa pun lagi dari mulut Maya, aku yang kali ini membalas memotong kalimatnya.
“Sebaiknya kamu kembali ke kelompokmu, mereka pasti khawatir sama kamu sekarang” timpalku tegas
“Mereka... lagian kamu gak kenal satu pun anggota kelompokku” ucap Maya
“Setidaknya aku tahu kalau kamu sangat dekat sama mereka” timpalku lagi dan Maya terdiam
“Sekarang ini aku berusaha keras untuk melakukan apa yang bisa dilakukan oleh seorang serigala penyendiri sepertiku, kamu cuma membuatku berada dalam posisi yang menyulitkanku sejak pertemuan pertama kita di kehidupan kedua ini” ucapku tegas.
“Bisa bisanya... kamu bilang gitu...” agak terbata Maya mengatakannya, aku merasakan jika Maya mau menangis setelah mendengar kata – kataku itu...
...Sepertinya kata – kataku sudah keterlaluan...
...tidak, lebih baik aku segera akhiri ini sesegera mungkin...
“Kamu sebenarnya sudah menyadarinya, kan? Kita punya pola pikir yang sangat jauh berbeda, ujung – ujungnya, kita cuma hanya akan memperdebatkan hal sepele seperti ini. Jadi, bisa kamu tinggalkan aku sendiri?” pintaku padanya sambil menatapnya dengan senyum, namun yang aku dapati saat itu adalah raut wajah terkejut dari Maya juga mata yang terlihat berkaca – kaca.
Tapi... itulah jawaban yang aku dapatkan setelah aku berpikir keras akan hubunganku dengan Maya di kehidupan kedua ini... seharusnya aku mengatakan hal ini lebih awal, tapi aku malah terus menyeretnya sampai detik ini. Aku rasa ini karena aku dibuat terlalu nyaman... bergaul bersamanya di kafe setiap hari Senin sepulang sekolah, tetapi aku harus segera melepas hubungan sama Maya mulai hari ini... ini adalah keputusan terbaik...
“Sebaiknya kita berhenti ketemu di kafe dan gak mengganggu hubungan satu sama lain mulai sekarang” celetukku karena Maya hanya diam menatapku, perlahan dia kembali menatap ketanah dan tidak melakukan apa pun.
“...Kamu berpikir ini solusi yang tepat, benar begitu...?” tanya Maya terbata dan suaranya berubah... suaranya... terdengar berat dan serak...
“Ya, orang – orang dengan pola pikir yang berbeda akan selalu bertengkar satu sama lain jika mereka bersama. Nantinya malah akan membuat sebuah retakan yang semakin dalam dan akan menyebabkan rasa sakit bagi dua belah pihak, tapi yaah.. meski begitu aku akan tetap menyapamu kalau kita bertemu di luar sekolah, jadi kita tetap berteman cuma gak lagi saling mencampuri urusan satu sama lain” jawabku dengan penjelasan, perlahan aku kembali menatap ke depan meski mata ini terus melirik ke arah Maya.
Jujur... aku memaksakan diriku untuk tenang saat mengatakan hal itu, perpisahan pasti akan terjadi selama umat manusia ada. Akan sangat menyedihkan kalau selalu bersikap serius menghadapi setiap perpisahan, ya kan?
“...Aku...” agak bergumam Maya mengatakannya dan dia menggantung kata – kata itu agak lama sebelum melanjutkan kalimatnya, aku kembali menoleh menatapnya dan dia tampak sedikit bergemetar...
“...Kalau tau bakal gini... aku gak akan pernah kembali ke tiga tahun yang lalu...” ucapnya melanjutkan kalimatnya yang terputus
“Eeh...” jujur aku tidak mengerti apa yang akan dikatakan olehnya, aku pun cuma bisa terdiam ketika mendengar perkataannya itu...
“Aku benar – benar minta maaf” ucapnya dengan suara yang terdengar serak, lalu Maya berdiri namun masih dengan kepala yang tertunduk.
“Aku cuma bisa memaksakan pola pikir dan ekspektasiku padamu... lalu aku kecewa pada dirimu saat kamu tidak bisa mengikuti keegoisanku... aku benar – benar bodoh” ucap Maya sambil menyeka air matanya... seketika pikiranku menjadi begitu kacau, aku tidak tahu harus berkata apa dan harus bersikap bagaimana ketika melihat gadis nomor satu paling cantik di sekolahku menangis seperti ini di hadapanku...
“Ka.. kamu gak bodoh, justru aku yang bo...” belum selesai kalimatku, Maya memotongnya.
“Aku gak bakal ganggu kamu lagi, maaf” timpalnya
“Kenapa kamu yang minta maaf?” tanyaku dan entah kenapa aku kehilangan ketenanganku selama ini berbicara sama Maya, dengan tatapan yang masih tertunduk sambil berdiri, Maya memutar badan untuk menatapku.
“Aku benar – benar minta maaf...” ucap Maya lalu dia mengangkat kepala dan menatapku dengan senyum dan mata yang terlihat menggenang air mata, aku terpaku menatapnya ketika itu dan jujur saja.... ada sesuatu yang aneh sedang aku rasakan di dalam dadaku...
“...Aku gak bakal minta kamu buat maafin aku...” dengan lembut Maya mengatakannya, senyumnya...
...Tidak... bukan itu ekspresi yang ingin aku lihat darinya...
...Senyum itu...
Bukan senyum seperti yang dia tampakkan padaku seperti biasanya... tapi kenapa? ada perasaan aneh melihatnya tersenyum seperti itu...
“Selamat tinggal” ucap Maya sebelum akhirnya dia berbalik lalu berlari meninggalkanku di sana...