kisah seorang dokter internship yang bertemu dengan seorang polisi yang menurutnya sangat menjengkelkan dan terjebak pernikahan dengannya akibat kejadian suatu malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nad Nanad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10
Aku berjalan menuju meja makan untuk sarapan, disana masih ada keluarga besarku disana, termasuk tante julidku.
"Hei Anna! sini nak sarapan dulu, dimana suamimu itu?" Panggil Tante Lina padaku dengan senyum mengejek.
"Pak Dean gak tau kemana udah kabur kali." Ucapku ngasal karena sejak aku bangun, dia sudah tidak ada di kamarku.
"Kok masih panggil pak sih, tapi memang iya sih suami kamu itu udah kayak om kamu, liat dong si Yanti suaminya masih muda manager restoran mewah lagi." Lagi-lagi dia memamerkan kehebatan anaknya itu.
Tapi sampai saat ini aku belum tau pasti profesi pak Dean itu apa, apakah ia polisi atau dokter gigi? Ah lupakan aku tak ingin membahasnya dulu semoga saja dia tidak kembali lagi.
"Ma, Anna makan di kamar aja ya!" Ucapku pada mama karena kesal dengan sikap Tante Lina yang terus meremehkanku.
"Sekalian bawain buat Dean!" Ucap mama padaku.
"Gak usah dikasih makan dia ma." Jawabku yang langsung mendapat plototan dari mama.
"Hehe iya ma, Anna becanda kok."
Aku berjalan naik kembali ke kamarku membawa nampan berisi makanan untukku dan untuk pak Dean. Aku bertemu dengannya di depan kamar, dia ternyata ingin masuk juga.
"Mau masuk?" Tanyanya saat aku kesusahan hendak membuka pintu.
"Gak! cuma mau mainin pintu." Jawabku asal
"Oh kalo gitu saya mau masuk! kamu mainin aja pintunya."
"Saya mau masuk pak!! cepet bukain."
Ucapku semakin kesal.
"Apanya?"
"Pintunya! Ya Allah bisa stres Anna kalo sama dia terus."
"Ouh iya, ini silahkan masuk tuan putri."
Aku menerobos masuk kala pintu kamar sudah terbuka lalu meletakkan makanan tadi di atas nakas.
"Nih makan! tapi saya sudah campurin racun tikus."
"Hmm ... menarik!"
"Silahkan dicicipi tuan."
"Kamu gak makan?"
"Gak, liat muka bapak saya jadi gak nafsu makan."
"Nasib orang ganteng." Kurasa kepedeannya itu kambuh lagi.
Aku diam tak menghiraukannya, ia pun langsung melahap makanan yang kubawa tadi. Aku memperhatikan wajahnya yang menunduk sambil makan hingga aku tak menyadari kepalaku terus mengikuti arah wajahnya.
"Kenapa liatin saya kayak gitu?" Tanyanya saat aku ketahuan memperhatikannya.
"Dilihat-lihat, muka bapak ini ganteng juga tapi diumur begini baru nikah maksa orang lagi". Sindirku padanya dengan menekankan kata 'Maksa'.
"Saya gak tua-tua amat lah, saya seumuran sama Satya! Satya pun masih belum nikah lagi pula saya kan sudah pernah bilang kalo saya itu nungguin kamu".
Flashback
Author POV
Dua orang gadis yang masih menggunakan seragam putih abu-abunya nampak duduk di pinggir lapangan sambil menonton polisi-polisi yang sedang latihan. Nampak salah satu dari gadis itu terus bersembunyi dibelakang temannya tadi.
Mereka adalah Anna dan Ify.
"Fy, pulang yuk! Di sana banyak pak polisi aku takut."
Ucap Anna yang ketakutan.
"Nanti lah An, itu pada ganteng-ganteng tau pakpolnya." Jawab Ify yang masih saja memfokuskan matanya pada barisan disana.
"Pulang yuk!" Bujuk Anna lagi.
"Ah kamu mah penakut! Pakpol itu gak selamanya galak tau gak, coba lihat deh mana ganteng banget><."
"Eh aku gak penakut ya fy." Ucap Anna berkacak pinggang tak terima dibilang penakut oleh Ify padahal hampir setiap hari ia terlibat perkelahian para preman sekolah.
"Kamu mah beraninya cuma sama si Anto dan temen-temennya itu." Ucap Ify lagi yang memanas-manasi Anna yang menyebut nama ketua preman sekolah itu.
"Kamu nantangin? Oke aku samperin mereka." Ujar Anna sambil menunjuk ke arah polisi-polisi tadi yang mulai beristirahat.
"Kamu gak usah gelud sama mereka nanti tulang-tulang kamu berserakan mending kamu godain salah satu dari mereka, ingat! pilih yang paling ganteng!"
"Oke aku berani!" Ujar Anna berlari ke arah mereka.
Anna berjalan ke arah seorang pria yang sedang memegang botol air yang sedang duduk sendirian, ia memilihnya karena hanya dia yang duduk sendirian setidaknya ia tidak terlalu malu.
"Kak!" Panggil Anna pada pria itu.
Saat pria itu berbalik ke arah Anna, tiba-tiba Anna terpaku dengan pesonanya.
"Iya kenapa dek?" Jawab pria itu.
"Kakak mau gak jadi suami aku? Tapi tungguin aku lulus dulu ya jadi dokter". Ucap Anna tanpa malu sambil nyengir.
"Serius?". Tanya pria itu sambil memperhatikan sosok didepannya itu yang terang-terangan memintanya menjadi suami. Pria yang bername tag Andrean Prasetya itu memperhatikan penampilan Anna dengan dua lesung pipi yang menghiasi pipinya serta gigi gingsulnya. Ia hampir tertawa dengan pernyataan Anna tadi namun saat melihat Anna ada sesuatu yang ia rasakan sangat berbeda.
"Kakak mau kan?" Ucap Anna dengan serius, rupanya Anna bersungguh-sungguh kali ini.
"kamu sekolah dimana?" Tanya Dean.
"Di SMA dekat sini kak itu di depan!" Jawab Anna sambil menunjuk arah sekolahnya.
"Hmm kamu belajar yang bener ya sampe cita-cita kamu terwujud! Kalo kita berjodoh pasti ketemu lagi". Ucap Dean mengelus rambut gadis pendek di hadapannya itu.
"Anna! pulang yukk!" Tiba-tiba Ify memanggil Anna untuk pulang karena hari sudah mulai senja.
"Saya pamit dulu kak." Pamit Anna sambil tersenyum manis pada Dean.
"Nama kamu siapa?" Tanya Dean lagi sebelum Anna benar-benaar pergi dari hadapannya.
"Anastasya Azalea kak, panggil Anna aja! Gimana? mudah diucapin depan penghulu kan?". Ucap Anna sedikit berteriak dan mengundang gelak tawa dari rekan-rekan Dean yang ada disana.
Flashback end
Anna POV
Ingatanku terulang pada kejadian saat aku dan Ify sedang menonton latihan polisi di lapangan dekat sekolahku dulu, dan ternyata Pak Dean adalah sasaranku dulu.
Aku menunduk malu kurasakan pipiku memanas aku tak bergeming sedikitpun.
"Kamu sendiri kan yang nyuruh saya jadi suami kamu." Ucap pak Dean yang ingin menyuapiku.
"Ayo makan!" Ucap pak Dean lagi.
Aku membuka mulut terpaksa daripada harus terjebak dalam suasana canggung ini lagi, aku mencoba tetap rileks.
Dia terus menyuapiku hingga makanan di dalam piring mulai habis. setelah itu aku baru membuka suara.
"Tapi pak saya waktu itu kan becanda, itu juga karena tantangan dari Ify." Ucapku membela diri.
"Tapi saya liat ekspresi wajah kamu itu serius, jadi saya terus ngawasin kamu sejak kejadian itu karena saya yakin kamu jodoh saya, dan saat saya tahu kalau kamu itu adik sahabat saya, tekad saya semakin kuat untuk memiliki kamu."
Kata-katanya sungguh membuat hati wanita meleleh tapi tidak denganku aku harus jual mahal:v
"Kamu mau kan bangun rumah tangga bersama saya? Temanin saya disaat suka maupun duka, terima saya apa adanya, temanin saya saat menjalankan tugas negara."
Aku diam mematung menatapnya yang bersungguh-sungguh sambil menggenggam tanganku namun tiba-tiba ...
"Perut saya mules pak!" Ucapku langsung menuju kamar mandi.
"Mungkin racun tikusnya udah mulai bekerja". Jawabnya sambil menertawakanku.
To Be Continued ...
Yeah akhirnya bisa up lagi:)
Author terima kasih banget loh sama penggemar setia Annadean😘
Sampai jumpa chapt selanjutnya
maaf kalo upnya lama soalnya tugas online author numpuk:)
mmm ... anu jangan lupa follow juga ya😌
thor...
knpa g dilanjutin kisahnya Dean sm Anna
👍🤗