NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:377
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Siang itu, Fania duduk di sebuah kafe dengan konsep terbuka. Angin sepoi-sepoi berhembus pelan, membawa aroma kopi yang menenangkan.

Di hadapannya, Chaerlina tengah tertawa kecil. Sementara pria di sampingnya menatap dengan penuh perhatian. Tangannya sesekali meraih gelas Chaerlina, memastikan wanita itu tidak kesulitan.

Gestur kecil namun hangat, Fania memperhatikan dalam diam.

“Fan?” panggil Chaerlina, menyadari sahabatnya itu tidak fokus.

Fania tersentak kecil. “Hm? Ya?”

“Kau kembali melamun” ujar Chaerlina sambil tersenyum tipis.

Fania menggeleng pelan. “Tidak, aku hanya lelah”

Alasan yang sama, dan lagi-lagi digunakan.

Chaerlina tidak langsung menanggapi. Ia hanya saling pandang dengan pasangannya, lalu tersenyum kecil.

“Dia memang begitu, denial” celetuk pria itu santai.

Fania mengerutkan kening. “Maksudnya?”

Chaerlina terkekeh. “Kau jelas terlihat banyak pikiran, tapi tak mau mengakuinya.”

Fania terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.

“Itu hanya perasaanmu” jawabnya ringan. Namun jawabannya tak benar-benar meyakinkan.

Obrolan kembali berjalan. Chaerlina bercerita banyak hal, sesekali diselingi candaan dengan pasangannya.

Fania banyak mendengarkan, sesekali ikut menanggapi. Karena memang benar, kepalanya penuh dengan banyak hal.

Fania terlihat sesekali mengalihkan pandangannya kearah mereka. Cara pria itu merapikan rambut Chaerlina yang tertiup angin. Cara Chaerlina bersandar santai di bahunya. Cara mereka berbicara tanpa canggung, dan tanpa jarak.

Fania menatap cukup lama, ada sesuatu yang terasa mengusik. Namun ia tak segera menyadarinya.

“Atau memang tak mau sadar?” bisik kecil dalam dirinya.

Fania mengalihkan pandangannya cepat, menyeruput minumannya. Mencoba fokus, namun bayangan itu tetap tertinggal. Tanpa sadar, ingatannya melayang. Ke masa lalu.

Saat ia dan Ronald masih seperti itu. Saat mereka masih hangat, begitu dekat, dan tanpa sekat. Ronald yang dulu selalu memastikan Ia makan tepat waktu. Ronald yang sering mengganggu hanya untuk melihat reaksinya. Dan Ronald yang selalu posesif saat Ia pergi keluar, dan dia yang dulu selalu ada untuknya.

Fania mengerjap cepat, menghentikan pikirannya. Ia menepisnya, tidak. Ia tidak ingin mengingat itu. Rasa sesak saat Ronald begitu posesif membuatnya seolah terkurung dalam pusaran kekangan suaminya.

“Kau yakin baik-baik saja, Fan?” tanya Chaerlina lagi, kali ini lebih serius. Sejak tadi Ia memperhatikan kegelisahan sahabatnya yang tampak tidak baik-baik saja.

Fania menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum.

“I'm ok” jawabnya. Namun kali ini suaranya sedikit lebih pelan.

Chaerlina menatapnya lama, seolah mencoba membaca sesuatu. Namun akhirnya ia menghela napas.

"Fan, jika memang ada yang ingin kau ceritakan aku siap mendengarkan. Livia sudah mengatakan padaku kalau kau memang sedang ada masalah. Namun dia juga tak paham masalah sebenarnya." Jelas Chaerlina dengan nada cemasnya.

Fania mengangguk, "Aku baik-baik saja, kalian tak perlu khawatir" senyuman tipis tersungging di bibirnya.

***

Sore hari, Fania pulang sendirian. Mobilnya melaju pelan, membelah jalanan kota yang mulai padat. Namun pikirannya tidak berada di sana. Ia kembali mengingat.

Tawa Chaerlina, sentuhan kecil, perhatian sederhana, dan hal-hal yang dulu pernah ia miliki. Fania menggenggam setir sedikit lebih erat. Dadanya terasa penuh dan sesak sekaligus.

“Apa aku merindukan itu?” pikirnya.

Pertanyaan itu muncul begitu saja, dan langsung ia tolak.

“Tidak” bisiknya cepat.

Namun semakin ia menolak, semakin terasa jelas. Fania menghela napas panjang, mengalihkan fokus ke jalan. Mencoba menenangkan diri.

Sesampainya di rumah, suasana masih sama sepi dan sunyi. Fania masuk, meletakkan tasnya, lalu berjalan tanpa tujuan jelas. Langkahnya berhenti di ruang keluarga.

Ia berdiri di sana, menatap sofa yang kosong. Tanpa sadar, ia duduk terdiam. Ingatan itu kembali datang.

Ronald yang dulu sering duduk di sana bersamanya. Menonton sesuatu yang bahkan tak benar-benar mereka perhatikan. Hanya bersama

Fania memejamkan matanya, perasaan itu muncul lagi. Perasaan kerinduan, lebih kuat dari sebelumnya. Namun kali ini bercampur dengan sesuatu yang lain. Penyesalan?

Atau hanya kesadaran yang terlambat? Fania menggeleng pelan.

“Ini cuma sementara” bisiknya. Seolah menguatkan dirinya sendiri. Seolah percaya bahwa semuanya akan kembali seperti semula.

Padahal ia sendiri tidak yakin. Mengingat selama ini ada sesak yang juga turut menyertai ketika mengingat kebersamaan mereka dulu.

***

Malam datang. Ronald pulang lebih larut dari biasanya. Ia masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan. Seperti biasa, namun langkahnya terhenti. Di ruang keluarga, Fania tertidur di sofa.

Tubuhnya meringkuk kecil, selimut tipis menutupi sebagian tubuhnya. Ronald menatap dalam diam. Ekspresinya berubah, sangat teduh.

Ia mendekat berlutut sedikit di depan Fania.

Menatap wajah wanita itu yang terlihat lelah.

Tangannya terangkat perlahan, menyentuh pipi Fania dengan sangat lembut. Seolah memastikan sesuatu.

“Sepertinya kamu kelelahan” gumamnya pelan.

Tanpa berpikir panjang, Ronald mengangkat tubuh Fania dengan hati-hati. Membawanya ke kamar, langkahnya perlahan. Berusaha tidak membangunkan.

Sesampainya di ranjang, ia membaringkan Fania dengan lembut. Merapikan posisinya.

Menarik selimut hingga menutupi dengan rapi. Tangannya sempat terdiam di sana, menatap lama dalam diam.

Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Namun tak satu pun keluar. Ronald menunduk, kecupan hangat kembali mendarat di kening Fania. Lebih dalam dan ... lama. Seolah menyalurkan sesuatu yang tak bisa ia ucapkan.

“Jangan terlalu lelah, Sayang” lirihnya sangat pelan.

Fania bergerak sedikit, alisnya tampak mengernyit namun tetap terlelap. Ronald menarik dirinya perlahan. Namun sebelum pergi, ia menatap sekali lagi. Dalam, lalu berbalik pergi untuk membersihkan dirinya. Kembali menjadi dirinya yang biasa.

Beberapa saat kemudian, Fania membuka matanya perlahan. Ia mengerjap, menyadari dirinya sudah berada di ranjang. Padahal ia ingat tadi di sofa.

Fania terdiam. Matanya bergerak pelan, mencoba memahami. Lalu tangannya menyentuh selimut. Rapi dan hangat, Ia menelan pelan. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak.

“Ronald” gumamnya sangat pelan.

Nama itu keluar begitu saja, tanpa sadar. Fania menatap kosong ke depan, ingatan siang tadi kembali muncul.

Chaerlina, tawanya, kehangatan yang mereka tunjukkan dan kini Ronald dengan caranya sendiri. Yang diam-diam memperhatikan, tersembunyi namun nyata.

Fania memejamkan matanya. Kerinduan itu kembali datang. Kali ini lebih jujur, namun tetap ia tak mengakuinya.

Dan malam itu, sekali lagi ia memilih diam. Meski hatinya mulai berbicara.

Tak lama kemudian, Ronald terlihat keluar dari walk in closet dengan setelan santainya. Ia terlihat lebih segar dan selalu tampan.

Menyadari hal itu, Fania mendudukkan dirinya.

"Terimakasih sudah memindahkan ku ke kamar." Ujar Fania merasa harus melakukannya.

Ronald hanya menanggapi dengan gumaman nya. Hal itu membuat Fania mengangguk canggung dan kembali merebahkan diri untuk kembali memejamkan mata.

Fania dapat merasakan ranjang bergerak yang ia yakini Ronald juga akan membaringkan diri untuk tidur. Meski tak melihatnya dengan jelas karena posisinya yang memunggungi Ronald, tapi ia yakin akan hal itu.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!