Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Hujan turun dengan derasnya, seolah langit Los Angeles sedang ikut menumpahkan kemarahan yang sejak tadi tertahan di dada Catherina. Bunyi rintik yang menghantam atap teras mansion Mettond terdengar seperti tepuk tangan sarkastik bagi kehancuran hidupnya. Catherina berdiri di ambang pintu besar itu, mendekap Liam yang terbungkus selimut tebal di dalam dekapannya.
Seorang penjaga keamanan mansion, yang selama ini sering melihat bagaimana Catherina diperlakukan dengan dingin oleh keluarga Mettond, mendekat dengan wajah penuh iba. Ia menyodorkan sebuah payung hitam besar.
"Nyonya... Anda yakin ingin pergi sekarang? Hujannya sangat lebat," bisik penjaga itu pelan.
Catherina mengambil payung itu, jemarinya yang pucat bersentuhan dengan gagang yang dingin. "Terima kasih, Pak. Tapi tempat ini bukan lagi rumah bagi kami."
Tanpa menoleh lagi ke arah bangunan megah yang kini terasa seperti penjara berlapis emas, Catherina melangkah menembus tirai hujan. Setiap langkahnya menjauhi mansion itu terasa seperti beban berat yang perlahan terangkat dari bahunya, namun digantikan oleh rasa hampa yang luar biasa. Ia berjalan kaki menuju gerbang utama, mengabaikan genangan air yang mulai membasahi sepatu mahalnya.
Di sepanjang jalan yang sunyi itu, hanya suara hujan dan isak tangis Liam yang menemani. Namun, di dalam kepala Catherina, suara-suara dari masa lalu mulai berputar, membawanya kembali ke masa-masa di mana ia tidak pernah merasa sesepi ini.
Catherina teringat masa-masa High School. Saat itu, ia hanyalah gadis yatim piatu yang hidup dalam jaminan finansial keluarga besar mendiang orang tuanya. Hidupnya cukup, namun ia selalu merasa seperti orang asing di tengah keluarga besarnya sendiri. Hingga Everest Cavanaught datang.
Everest, sang "Pangeran Berandalan", yang bisa mendapatkan wanita mana pun hanya dengan satu jentikan jari, justru menjatuhkan pilihannya pada Catherina. Memacari Everest sejak bangku sekolah menengah adalah kebanggaan terbesar sekaligus ketakutan terdalam bagi Catherina.
“Cathe, lihat aku,” suara Everest di masa lalu terngiang begitu nyata. Saat itu mereka sedang duduk di perpustakaan, pura-pura belajar padahal Everest hanya sibuk memandangi wajahnya. “Aku tidak peduli dengan apa yang orang katakan. Bagiku, kau adalah pusat gravitasi. Tanpamu, aku akan melayang hilang arah.”
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar bersama di Penthouse mewah milik Everest. Di sana, di atas sofa kulit yang sangat nyaman, Everest sering kali membisikkan janji-janji masa depan.
“Nanti, setelah kita lulus, aku akan membangunkanmu sebuah istana yang lebih besar dari ini. Kita akan punya perpustakaan pribadi, dan kau tidak perlu lagi merasa kesepian,” janji Everest saat itu.
Masuk ke tahun pertama kuliah, Everest mulai mendesaknya untuk bertemu dengan keluarga besar Cavanaught. Ia ingin meresmikan hubungan mereka di hadapan dinasti bisnis yang tak tertandingi itu. Namun, setiap kali Everest mengajak, Catherina selalu menarik diri.
“Everest, aku tidak yakin orang tuamu akan setuju dengan hubungan kita,” ujar Catherina saat itu, suaranya bergetar karena rasa tidak percaya diri yang akut. “Kerajaan Cavanaught adalah sesuatu yang mustahil aku gapai. Aku hanya... aku hanya gadis biasa. Latar belakangku akan memalukanmu.”
Everest akan selalu menariknya ke dalam pelukan, mencium keningnya dengan lembut. “Orang tuaku akan mencintaimu karena aku mencintaimu, Cathe. Berhenti meragukan dirimu sendiri. Di mataku, kau jauh lebih berharga daripada seluruh saham Cavanaught Group.”
Selama bertahun-tahun tinggal bersama Everest di Penthouse-nya, Catherina tidak pernah sekalipun menangis karena merasa terabaikan. Everest mungkin kasar pada dunia, mungkin berandal di mata dosen, tapi di depan Catherina, dia adalah pria yang akan berlutut hanya untuk memakaikan sepatu atau memastikan Catherina makan tepat waktu. Everest menjamin hidupnya dengan kemewahan yang dibalut kasih sayang tulus.
Namun, ketakutan Catherina justru menjadi bumerang. Ia begitu takut hamil dan terikat selamanya dengan tanggung jawab besar keluarga Cavanaught sebelum ia merasa "pantas". Itulah yang memicunya untuk terus mengonsumsi obat pencegah kehamilan secara sembunyi-sembunyi.
Dan saat rahasia itu terbongkar, dunia Catherina runtuh. Everest tidak berteriak, tapi tatapan matanya yang hancur membuat Catherina merasa lebih rendah dari debu. Everest pergi, dan Catherina menganggap kepergian itu sebagai tanda bahwa Everest telah membuangnya.
Catherina tersentak dari lamunannya saat sebuah mobil melintas cepat, mencipratkan air ke arahnya. Ia mengeratkan pelukan pada Liam.
Aku benar-benar merindukanmu, Everest... batinnya menjerit.
Memilih Adrian Mettond adalah bentuk pelariannya yang paling bodoh. Setelah dua minggu berpacaran, ia setuju menikah karena ia ingin membangun keluarga baru yang "normal", tanpa bayang-bayang nama besar keluarga yang mengintimidasi. Ia pikir, dengan Adrian yang berasal dari keluarga yang tidak se-ekstrem Cavanaught, ia bisa merasa aman.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Adrian adalah pria yang mencintai status, bukan manusia. Adrian menginginkan "Catherina sang Gadis Populer" untuk melengkapi koleksinya, sementara Everest menginginkan "Catherina" untuk melengkapi jiwanya.
"Maafkan Ibu, Liam," bisik Catherina di tengah hujan yang semakin menderu. "Ibu pikir Ibu bisa lari dari bayang-bayang masalalu dengan cara menikahi ayahmu. Ibu pikir Ibu bisa melupakan rasa sakit saat Everest pergi."
Kini ia sadar, ia tidak pernah berhenti mencintai Everest. Keputusannya menerima lamaran Adrian hanyalah upaya putus asa untuk membuktikan bahwa ia bisa hidup tanpa Everest. Tapi kenyataannya? Berbulan-bulan bersama Adrian terasa seperti hukuman mati, sementara empat tahun bersama Everest adalah satu-satunya saat di mana ia benar-benar merasa hidup.
Langkah kaki Catherina terhenti di pinggir jalan raya yang besar. Ia menatap lampu-lampu kendaraan yang lalu lalang. Ia tidak punya arah, tidak punya tujuan pasti. Namun, di dalam hatinya, hanya ada satu koordinat yang ingin ia tuju.
Ia ingin meminta maaf. Ia ingin Everest tahu bahwa anak yang sekarang ada di pelukannya adalah satu-satunya alasan baginya untuk terus bernapas. Wajah Liam Yang mirip dengan Everest, Cathe yakin itu bukan kebetulan. Dan jika benar Liam adalah darah daging Everest—maka Catherina akan memberikan seluruh sisa hidupnya untuk menebus kesalahan masa lalunya.
"Aku kembali, Everest," gumam Catherina, matanya menatap tajam ke depan meski pandangannya kabur oleh air hujan. "Bukan sebagai gadis yang tidak percaya diri, tapi sebagai seorang ibu yang akan melindungi Liam dari monster seperti Adrian."
Catherina mengangkat tangannya, mencoba menghentikan taksi yang lewat. Ia harus pergi dari sini. Ia harus menjauh dari pengaruh Mettond sebelum Adrian benar-benar menyebarkan berita sampah itu. Ia akan bersembunyi, mengumpulkan kekuatan.
Malam itu, di bawah guyuran hujan yang tak kunjung usai, Catherina Lawrence resmi meninggalkan kehidupannya yang palsu. Ia berjalan menuju masa lalu yang pernah ia khianati, berharap masih ada sisa-sisa cinta di hati Everest Cavanaught yang dingin untuk menyelamatkannya sekali lagi.