NovelToon NovelToon
NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Abai Shaden

Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.

​Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Gemuruh di Perbatasan dan Penyatuan Dua Takdir

Udara di perbatasan terluar Lembah Naga terasa sangat berbeda dari Hutan Kematian Hijau. Jika di hutan udara terasa lembap dan dipenuhi bau lumut, di sini udara terasa kering, tajam, dan mengandung bau ozon yang menyengat. Langit tidak lagi tertutup kanopi pohon raksasa, melainkan terbuka lebar, memperlihatkan awan-awan perak yang berputar lambat, seolah-olah seluruh atmosfer di atas lembah ini sedang berada dalam pusaran badai yang abadi.

Wang Jian dan Lin Meiling mendirikan kemah darurat di bawah sebuah tebing batu yang menjorok keluar. Struktur batu di sini unik; warnanya hitam legam dengan urat-urat emas yang berpendar setiap kali petir menyambar di kejauhan. Ini adalah Batu Konduktor Primordial, jenis batuan yang mampu menyimpan energi listrik dari alam.

"Jian, ini saatnya," ucap Meiling dengan nada serius. Di depannya, ia telah menyusun berbagai alat alkimia—botol-botol kristal, timbangan presisi, dan yang paling utama, Bunga Es Abadi yang baru saja mereka dapatkan dari Gua Kristal Magnetik. Bunga itu ditempatkan di dalam wadah transparan, mengeluarkan kabut biru yang sangat dingin hingga membekukan embun di udara sekitarnya.

"Resep Pil Pemurni Tulang Suci ini membutuhkan sinkronisasi yang sempurna," lanjut Meiling sambil membuka gulungan kulit tua yang kusam. "Kita harus mengekstrak sari pati Bunga Es, lalu mencampurnya dengan Inti Monster Peringkat 2 yang kau dapatkan kemarin. Namun, masalahnya adalah panas api biasanya menghancurkan struktur 'Es' dari bunga ini sebelum ia sempat menyatu dengan 'Energi Hewani' dari inti monster."

Wang Jian mengangguk, ia paham arah pembicaraan Meiling. "Kau ingin aku menggunakan Alkimia Dingin untuk melakukan penyatuan di bawah tekanan tinggi."

"Benar. Aku akan menyiapkan bahan dasarnya, tapi saat kristalisasi dimulai, kau harus membungkus seluruh campuran itu dengan pusaran anginmu. Kau harus menekannya hingga mencapai titik massa tertentu tanpa membiarkan suhu naik sedikit pun. Bisakah kau melakukannya?"

Jian menatap telapak tangannya. "Aku akan mencoba. Fondasi tulangku sudah stabil, tapi aku butuh lonjakan energi ini untuk mempersiapkan tubuhku menuju Ranah Pemurnian Qi."

Proses Alkimia Dingin yang Intens

Meiling mulai bekerja. Jarinya bergerak dengan kelincahan seorang ahli, memotong akar-akar obat dan mencampurnya menjadi cairan hijau pekat. Saat ia memasukkan kelopak Bunga Es Abadi, suhu di sekitar mereka mendadak turun drastis hingga salju mulai turun di dalam area perkemahan mereka.

"Sekarang, Jian! Masukkan energinya!"

Wang Jian maju. Ia tidak menggunakan kuali logam. Ia merentangkan kedua tangannya di atas campuran obat tersebut.

Wuuusssss!

Angin mulai menderu. Jian menciptakan Kubah Vakum kecil yang mengurung campuran obat di tengah-tengahnya. Dengan kontrol yang sangat teliti, ia mulai memutar angin secara radial, menciptakan tekanan atmosfer yang meningkat ribuan kali lipat dalam hitungan detik.

"Sembilan Putaran Angin... Putaran Keempat: Penempaan Tekanan!"

Peluh mulai bercucuran di dahi Jian meski udara sangat dingin. Mengontrol tekanan sedemikian rupa memerlukan konsentrasi mental yang luar biasa. Ia harus memastikan tekanan itu merata dari segala sisi, jika tidak, cairan obat itu akan meledak dan menghancurkan mereka berdua.

Di dalam pusaran tersebut, cairan hijau dan kabut biru mulai berputar hebat. Tekanan yang dihasilkan Jian memaksa molekul-molekul es untuk berikatan secara paksa dengan energi liar dari inti monster. Cahaya perak mulai memancar dari pusat pusaran, diikuti oleh suara berdenting halus—suara kristalisasi.

Tiba-tiba, percikan biru petir dari Dantian Jian ikut tersedot ke dalam pusaran tanpa sengaja.

"Jian! Hati-hati! Ada energi asing masuk!" teriak Meiling panik.

Jian menggertakkan gigi. "Jangan khawatir... aku akan menjadikannya katalis!"

Bukannya menarik kembali petirnya, Jian justru menyuntikkan lebih banyak mutasi petirnya ke dalam proses tersebut. Ia ingin menciptakan sesuatu yang belum pernah ada: Pil Pemurni Tulang Petir Es.

Ledakan cahaya membutakan pandangan mereka sesaat. Saat cahaya memudar, di tangan Jian kini terdapat tiga butir pil berbentuk cakram kristal yang bening, namun di dalamnya terdapat aliran listrik biru yang berdenyut pelan.

"Ini... ini melampaui peringkat Alkemis Emas," bisik Meiling dengan tangan gemetar. "Kemurniannya mencapai seratus persen. Jian, kau baru saja menciptakan keajaiban."

Munculnya Long Xin: Sang Penjaga yang Arogan

Keberhasilan mereka menciptakan pil tersebut menciptakan riak energi yang sangat kuat di udara, sebuah sinyal yang tidak mungkin diabaikan oleh penghuni Lembah Naga.

ROAAARRRR!

Sebuah bayangan emas besar meluncur jatuh dari langit, menghantam tanah tepat di depan perkemahan mereka dengan kekuatan yang membuat bumi berguncang. Debu dan kerikil beterbangan. Saat debu menipis, sosok Long Xin, naga muda bersisik emas, berdiri dengan angkuh.

"Bau apa ini? Manusia rendahan sedang meracik sampah di depan gerbang klan naga?" Long Xin mendengus, lubang hidungnya mengeluarkan uap panas. Matanya yang vertikal beralih ke tangan Jian yang masih memegang pil. "Berikan benda itu padaku. Apapun yang dibuat di tanah ini adalah milik klan naga!"

Meiling gemetar ketakutan dan bersembunyi di belakang Jian. "Jian... itu naga sejati. Kita tidak bisa melawannya..."

Wang Jian melangkah maju, menutupi tubuh Meiling. Tatapannya dingin dan tak tergoyahkan, mencerminkan ketabahan seorang keturunan Sovereign. "Tanah ini mungkin milikmu, tapi usaha dan nyawa kami tidak. Pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran."

Long Xin tertawa, suara tawa yang terdengar seperti guntur. "Berani sekali! Kau hanyalah semut di Ranah Penguatan Tulang. Aku bisa menghancurkan setiap tulang di tubuhmu hanya dengan satu jentikan ekor!"

Naga muda itu bergerak secepat kilat. Ekornya yang dilapisi sisik sekeras berlian mengayun secara horizontal, meratakan pepohonan batu di sekitarnya.

Jian tidak menghindar. Ia ingin menguji hasil dari empat bulan latihannya.

"Gaya Berat: Massa Gunung!"

Jian memusatkan seluruh massa gravitasi ke lengan kirinya yang ia gunakan untuk menangkis.

DHUAAARRRR!

Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan tenda dan peralatan medis Meiling. Namun, yang mengejutkan Long Xin, manusia di depannya tidak bergerak satu inci pun. Kaki Jian amblas sepuluh sentimeter ke dalam tanah logam, namun lengannya tetap kokoh menahan ekor naga tersebut.

"Apa?! Bagaimana mungkin?!" Long Xin terbelalak. "Tulangmu... kau memiliki struktur Bintang Bumi?!"

"Sudah kukatakan," ucap Jian dengan suara rendah yang bergetar karena energi. "Jangan anggap remeh angin yang telah melewati neraka."

Duel Sengit di Perbatasan

Long Xin tidak lagi meremehkan lawannya. Ia melompat ke udara, memposisikan dirinya di atas Jian. "Nafas Naga: Kilat Emas!"

Semburan api berwarna emas yang bercampur dengan listrik murni meluncur turun. Serangan ini mampu melelehkan baja dalam sekejap.

"Meiling, menjauh!" teriak Jian.

Jian mengangkat tangannya ke langit. Ia tidak menggunakan teknik pertahanan biasa. Ia menggunakan Seni Pelahap yang baru saja ia pelajari dasarnya. Ia menciptakan pusaran vakum besar di atas kepalanya, mencoba menarik sebagian energi Nafas Naga tersebut untuk dialirkan ke tanah melalui kakinya.

Tanah di sekitar Jian mulai meleleh menjadi lava, namun Jian tetap berdiri tegak di tengah-tengah badai api. Ia merasakan panas yang luar biasa menyengat kulitnya, namun tulang-tulangnya justru berpendar semakin terang, menyerap tekanan dari serangan tersebut.

"Sekarang giliranku," gumam Jian.

Ia menggunakan Langkah Angin Kilat, namun kali ini ia menyuntikkan energi dari pil yang baru saja ia buat (tanpa menelannya, hanya menyerap uap energinya melalui pori-pori). Kecepatannya melonjak drastis, meninggalkan jejak petir biru di udara.

Jian muncul di depan wajah Long Xin. Naga itu terkejut dan mencoba mencakar, namun Jian lebih cepat.

"Teknik Primordial: Bor Udara Pemutus Langit - Gaya Berat!"

Pukulan Jian mendarat tepat di antara dua mata Long Xin. Pukulan ini tidak hanya membawa kecepatan angin, tapi juga berat jutaan ton tekanan yang dipadatkan.

BUMMM!

Long Xin terhempas ke belakang, menabrak tebing batu hingga hancur berkeping-keping. Naga emas itu merintih, kepalanya pening dan beberapa sisik emasnya retak.

Gencatan Senjata dan Pengakuan Tak Terduga

Saat Long Xin hendak bangkit kembali dengan amarah yang lebih besar, sebuah kehadiran yang jauh lebih kuat muncul di puncak tebing. Sesosok pria paruh baya dengan aura yang mampu membekukan waktu berdiri menatap mereka.

Long Xin segera menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Paman... Paman Long Wei..."

Long Wei tidak menoleh ke arah naga muda itu. Matanya terkunci pada Wang Jian, lalu beralih ke Lin Meiling, dan akhirnya ke pil kristal di tangan Jian.

"Sudah ribuan tahun aku tidak melihat teknik alkimia seperti itu," suara Long Wei menggema di seluruh lembah, tenang namun penuh otoritas. "Dan kau, bocah... kau memiliki tatapan yang sama dengan kakak tertuaku saat ia masih menjadi pelayan perpustakaan. Sombong, namun memiliki alasan untuk sombong."

Jian mengatur napasnya, ia merasakan seluruh energinya hampir terkuras habis. Namun ia tetap berdiri tegak. "Saya hanya melindungi apa yang menjadi hak saya."

Long Wei tertawa kecil. "Hak? Di dunia ini, hak hanya milik mereka yang kuat. Tapi kau... kau menarik perhatianku. Dan gadis di belakangmu, dia memiliki bakat alkimia yang langka. Klan Naga tidak akan menyakiti kalian... untuk saat ini."

Long Wei kemudian melemparkan sebuah lencana giok berbentuk kepala naga ke arah Jian. "Bawa gadis itu dan pilmu. Masuklah ke bagian dalam lembah. Ada sebuah tempat bernama Aula Seribu Angin. Jika kau bisa mencapai tempat itu dalam waktu tiga hari, aku akan mempertimbangkan untuk membiarkanmu tinggal dan berlatih di sini."

Long Xin tampak ingin protes, namun satu tatapan dari Long Wei membuatnya terdiam seribu bahasa.

Langkah Baru: Menuju Aula Seribu Angin

Setelah kepergian kedua naga tersebut, suasana kembali hening. Meiling keluar dari persembunyiannya dengan wajah yang masih pucat namun penuh dengan rasa syukur.

"Jian... kau gila. Kau benar-benar memukul naga sejati," ucapnya sambil memeriksa kondisi Jian.

"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan," jawab Jian sambil duduk di tanah, merasa seluruh ototnya gemetar. "Tapi Long Wei benar. Kita butuh tempat yang lebih aman untuk berkultivasi. Meiling, kau bersedia ikut denganku ke dalam Lembah Naga?"

Meiling menatap lencana giok di tangan Jian, lalu menatap ke arah lembah yang penuh dengan misteri dan bahaya. "Keluargaku sudah hancur, Jian. Aku tidak punya tempat kembali. Lagipula, siapa lagi yang akan mengobati luka-lukamu jika aku tidak ikut? Kita adalah tim sekarang."

Wang Jian tersenyum untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu. "Baiklah. Ayo kita buat pil itu berguna. Malam ini, aku akan menelan salah satu pil ini. Aku harus mencapai Ranah Penguatan Tulang Bintang 7 sebelum kita memasuki Aula Seribu Angin."

Malam itu, di bawah perlindungan lencana giok Long Wei, Wang Jian menelan pil kristal petir es yang mereka buat.

Prosesnya sangat menyakitkan. Es membekukan darahnya, sementara petir membakar sarafnya. Namun, dengan Meiling yang terus menjaga stabilitas suhunya menggunakan ramuan herbal, Jian berhasil melewati krisis tersebut.

Saat fajar menyingsing, Wang Jian berdiri dengan aura yang sama sekali berbeda. Tubuhnya tampak lebih langsing namun sekeras berlian. Setiap gerakannya kini diikuti oleh desis angin yang tajam.

[STATUS UPDATE - BAB 10]:

Ranah: Penguatan Tulang Bintang 7 (Mencapai tingkat Kesempurnaan Awal).

Fisik: Tulang Petir Es (Memiliki ketahanan terhadap elemen suhu ekstrim).

Teknik: Pengembangan Seni Pelahap (Mampu menyerap energi serangan lawan dalam skala kecil).

Partner: Lin Meiling (Alkemis Resmi Tim).

Perjalanan mereka yang sebenarnya di dalam Lembah Naga baru saja dimulai. Di depan mereka, Aula Seribu Angin menunggu dengan ujian-ujian yang akan menentukan apakah Wang Jian layak menjadi pewaris sejati Wang Tian atau hanya sekadar debu di dalam sejarah naga.

1
evelyn Syaquita
new saga
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.
evelyn Syaquita
Tahapan dari Qi Condensation hingga [Tahap Tertinggi] dijelaskan dengan detail yang memuaskan, membuat pembaca ikut merasakan jerih payah sang protagonis dalam bermeditasi dan menerjang kesengsaraan langit (Heavenly Tribulation).😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!