NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Jembatan Yang Memisahkan

​Penerbangan dari Zurich ke Praha hanya memakan waktu sekitar satu jam, namun bagi Arga, setiap detik di dalam kabin pesawat terasa seperti taruhan nyawa. Dia duduk mematung, koper kulit tua milik kakeknya berada di pangkuan, seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak. Matanya terus terpaku pada layar laptop yang menampilkan rekaman CCTV real-time dari tim keamanannya di Praha.

​Di layar itu, Elina terlihat sedang duduk di sebuah kafe pinggir jalan, menyesap cokelat panas dengan wajah yang terlihat sembab. Dia tidak tahu bahwa maut sedang mengawasinya dari seberang jalan dalam wujud pria bertato kalajengking.

​"Tuan Arga, kita akan mendarat sepuluh menit lagi," lapor Dani dengan suara rendah. "Tim di lapangan sudah siaga. Mereka melaporkan ada setidaknya empat orang mencurigakan yang mengepung area apartemen Nona Elina. Mereka profesional, Tuan. Bukan kelas teri seperti orang-orang Winata."

​Arga menutup laptopnya dengan suara keras. "Jangan ada yang bergerak sebelum aku sampai di Jembatan Charles. Aku akan menemui mereka sendiri. Jika kalian menyerbu sekarang, mereka akan langsung meledakkan apartemen itu."

​"Tapi Tuan, masuk ke sana sendirian itu bunuh diri!"

​Arga menoleh ke arah Dani, matanya yang biasanya tenang kini berkilat penuh tekad yang menakutkan. "Aku sudah mati sejak hari aku diusir dari rumah Winata, Dan. Pria yang kau lihat sekarang hanya hidup untuk satu tujuan: memastikan Elina tidak meneteskan air mata lagi karena kesalahanku."

​Begitu mendarat, Arga langsung meluncur menuju pusat kota Praha. Langit sudah mulai gelap, dan lampu-lampu kuno di sepanjang Jembatan Charles mulai menyala, memberikan kesan romantis yang palsu di tengah ketegangan yang mencekam. Arga turun di ujung jembatan, berjalan kaki sendirian dengan koper di tangan kanan.

​Angin musim dingin yang menusuk tulang menyapu wajahnya. Di tengah jembatan, di bawah bayang-bayang patung St. John of Nepomuk, seorang pria berdiri menunggu. Itu adalah pria bertato kalajengking yang dilihatnya di video tadi.

​"Tuan Muda yang tepat waktu," ucap pria itu dalam bahasa Inggris dengan aksen Rusia yang kental. "Mana kopernya?"

​Arga berhenti tiga langkah di depannya. "Mana jaminannya bahwa Elina aman?"

​Pria itu menyeringai, mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan video. Layar menunjukkan Elina yang baru saja masuk ke apartemennya. Dia terlihat sedang melepas jaket birunya, tidak sadar bahwa di bawah meja makannya terdapat sebuah kotak hitam dengan lampu merah yang berkedip pelan.

​"Satu perintah dariku, dan apartemen itu akan menjadi kembang api tercantik di Praha malam ini," ancam pria itu. "Sekarang, berikan kopernya."

​Arga mengangkat koper itu. "Kalian ingin koper ini? Ambillah. Tapi kau harus tahu satu hal. Kakekku tidak hanya meninggalkan kode akses di Zurich. Dia juga meninggalkan 'asuransi' di dalam koper ini."

​Pria itu mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

​"Di dalam koper ini ada pelacak GPS yang terhubung langsung ke Interpol dan badan intelijen Eropa. Begitu kau membukanya tanpa kode biometrikku, data transaksi The Iron Circle akan langsung terkirim ke server mereka di lima negara berbeda," bohong Arga dengan wajah sedatar tembok. Dia tahu pria ini profesional, dan satu-satunya cara mengalahkan profesional adalah dengan gertakan yang masuk akal.

​Pria bertato itu ragu sejenak. Tangannya yang hendak mengambil koper itu tertahan di udara. "Kau berbohong."

​"Coba saja," tantang Arga. "Bunuh aku, ledakkan apartemen itu, dan kalian akan menghabiskan sisa hidup kalian sebagai buronan paling dicari di dunia. Atau, biarkan Elina pergi, matikan bom itu, dan aku akan memberikan kode biometriknya secara sukarela."

​Suasana di atas jembatan itu mendadak sunyi. Hanya suara aliran sungai Vltava yang terdengar di bawah mereka. Pria itu tampak menimbang-nimbang. Dia menyentuh earpiece di telinganya, berbicara dengan seseorang di seberang sana dalam bahasa yang tidak dimengerti Arga.

​Beberapa menit yang terasa seperti selamanya berlalu. Akhirnya, pria itu mengangguk.

​"Bos setuju. Tapi kau ikut dengan kami. Nona itu akan selamat, tapi kau... kau punya banyak hutang penjelasan pada kami."

​Pria itu mengeluarkan alat kendali jarak jauh dan menekan tombol hijau. "Bom sudah mati. Tim kami sudah ditarik dari apartemennya. Sekarang, ikut aku."

​Arga menghela napas lega yang sangat tipis. Dia melihat ke arah apartemen Elina dari kejauhan. Dia tahu, mulai detik ini, Jarak di antara mereka akan menjadi semakin nyata. Dia tidak bisa kembali ke apartemen itu. Jika dia kembali, dia hanya akan membawa bahaya lagi.

​"Dan," bisik Arga ke mikrofon tersembunyi di kerah bajunya. "Pastikan Elina segera keluar dari apartemen itu. Bawa dia ke tempat aman, tapi jangan biarkan dia tahu siapa yang menyelamatkannya. Bilang saja ada kebocoran gas atau apa pun."

​"Lalu Anda, Tuan?" suara Dani terdengar cemas di telinga Arga.

​Arga menatap pria bertato di depannya. "Aku akan pergi ke tempat di mana aku seharusnya berada. Bereskan sisanya di Jakarta. Winata sudah bukan prioritas kita lagi."

​Arga melangkah mengikuti pria bertato itu masuk ke dalam sebuah mobil van hitam yang sudah menunggu di ujung jembatan. Sebelum pintu tertutup, Arga sempat melihat Elina keluar dari gedung apartemennya dengan wajah bingung, dipandu oleh petugas keamanan yang menyamar.

​Elina menoleh ke arah jembatan, seolah merasakan keberadaan Arga di sana. Tapi yang dia lihat hanyalah kegelapan dan salju yang mulai turun lebih lebat.

​Maafkan aku, El, batin Arga. Jarak ini diciptakan bukan karena aku tidak mencintaimu, tapi karena aku ingin kau tetap bisa mencintai dunia ini tanpa rasa takut.

​Mobil van itu melesat pergi, membawa Arga menuju babak baru yang jauh lebih gelap di jantung Eropa. Jarak antara Jakarta-Praha kini berganti menjadi Jarak antara Hidup dan Mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!