"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulah Kaelan
"Hei Kaelan! kamu harus bertanggung jawab!" teriak Narno dari arah luar
Jamal dan Saidah yang sedang sarapan merasa terkejut, bahkan Kaelan yang sedang menggendong Kalingga juga tak kalah terkejut mendengar suara Narno di luar.
Ceklek.
"Ada apa Mbah?" tanya Jamal buru buru menghampiri Narno.
"Salbiah terluka karena dia lewat di depan rumahmu! dia di serang Maryani semalam, Kunti itu menyerang Salbiah dan sekarang dia terluka! Kaelan harus tanggung jawab!" jawab Narno
"Tapi kami tidak melihat apapun, bahkan gosip yang kalian katakan Maryani mengganggu rumah orang orang juga tidak pernah saya lihat, justru mahluk berbentuk lintah yang mengetuk ngetuk rumah warga di sini" ucap Jamal membuat Narno marah.
"Jadi kamu keluar malam Jamal! kamu mencari gara gara dengan cara melanggar adat! hanya orang orang yang menjadi penjaga kampung yang bisa keluar malam dengan bebas di tempat ini!" bentak Narno
"Maafkan saya Mbah, saya hanya penasaran karena rumah saya sama sekali tidak di ganggu" ucap Jamal
"Tentu saja tidak diganggu, Kunti itu kan tinggal di sini!" jawab Narno sinis
"Lalu apa yang di lakukan Salbiah di sini malam malam!" bentak Kaelan
"Salbiah bilang dia mau mengembalikan uang kembalian mangga, tapi dia tidak tahu kalau di sini waktu suruf orang orang sudah tidak boleh keluar rumah" jawab Narno
"Yakin hanya itu Mbah" ucap Kaelan
Pluk.
Kaelan melempar bungkusan putih yang semalam di kubur Salbiah di samping rumahnya, Narno membuka bungkusan itu dan matanya terbelalak saat melihat itu adalah sebuah gulungan kertas bertuliskan nama Kaelan Rahmadi dan ada sebuah benang yang terhubung ke kertas itu dengan ikatan tiga kali ikatan.
"Ini... pelet" ucap Wisnu yang menemani Narno sebagai tetua kampung
"Apa ini?" tanya Narno
"Salbiah menanan itu di samping rumahku! Maryani memergokinya jadi Maryani menyerangnya, dia ingin mengganggu anakku juga dengan memberikan mangga berisi kelabang beracun!" jawab Kaelan
"Jangan fitnah!" ucap Narno
"Aku tidak memfitnah siapapun! aku bicara jujur dan saksinya adalah ayah Karna juga beberapa warga, aku membeli mangga untuk ibu dan setelah di kupas isinya adalah kelabang" jawab Kaelan
"Sebaiknya kita adakan pemeriksaan gaib Mbah, kalau apa yang di katakan Kaelan benar, berarti kampung kita ini sudah di masuki dukun luar Mbah, itu melanggar aturan kampung karena hanya Mbah Narno yang boleh praktek di sini" ucap Wisnu memanas manasi Narno meskipun dia tahu mungkin Narno juga terlibat.
"Tapi Salbiah terluka parah sekarang, bahkan dia tidak bisa berjalan jadi dia meminta keadilan padaku, dia ingin Kaelan merawatnya sampai sembuh" jawab Narno
"Saya tidak bersedia, bukan saya yang menyerang Salbiah, minta Maryani saja yang merawatnya" jawab Kaelan membuat Tirta yang ada di sana menahan senyumnya.
"Jangan kurang ajar kamu Kaelan! aku tidak mungkin meminta Kunti merawat Salbiah, dia bisa mati!" ucap Narno
"Lalu harus bagaimana, bukankah Maryani yang melukai dia? kenapa harus saya yang bertanggung jawab, saya punya Kalingga yang harus saya rawat, dia tidak mau di gendong orang lain bahkan kedua orang tua saya juga" jawab Kaelan
"Jangan membuat alasan Kaelan!"
"Saya tidak beralasan Mbah, lihat saja kalau tidak percaya"
Kaelan mendekati Tirta, dia lalu memberikan Kalingga padahal Tirta dan seketika itu juga Kalingga menangis. Narno dan Wisnu menjauh, mereka menutup mulut mereka tapi Tirta terlihat menenangkan Kalingga yang terus menangis meskipun tidak berhasil.
"Kak, Kalingga menangis, kasihan dia" ucap Tirta
"Kaelan!" bentak Narno terlihat murka
"Kenapa Mbah? aku sedang membuktikan kalau Kalingga itu tidak bisa di gendong orang lain" ucap Kaelan yang dalam hatinya tertawa karena dia berhasil membuat Tirta di asingkan selama tiga tahun dari kampung dan dia bisa bersekolah.
"Kamu membuat warga kampung ini menggendong bayi Kunti itu! itu sebuah kesialan!" bentak Narno
"Kesialan... Tapi Kaelan tidak tahu Mbah, maafkan Kaelan" ucap Kaelan berpura-pura terkejut
"Mbah bagaimana ini? Tirta akan menikahi putri Mbah Sadikin dari kampung Sukun hari ini, kalau ini terjadi dia tidak bisa menikah!" teriak Wisnu
"Tenang Wisnu! jangan panik, Tirta, kamu tahu kan apa yang akan terjadi setelah kamu menggendong seorang bayi Kunti!" ucap Narno
"Saya... saya akan di asingkan selama tiga tahun dan saya tidak di perbolehkan mendatangi keluarga saya yang ada di sini ataupun di kampung lain, saya juga tidak bisa menikah sampai kesialan itu hilang, saya tidak mau Mbah" jawab Tirta bersimpuh di depan Narno
"Kaelan! kamu sudah membuat kesalahan besar, kamu aku hukum tidak boleh keluar kampung! untuk satu bulan ini kamu di larang keluar rumah!" bentak Narno
"Maafkan saya Mbah, saya tidak tahu, Saya akan menerima hukuman dari Mbah dan tidak akan keluar rumah selama satu bulan" jawab Kaelan kembali membawa Kalingga masuk dengan tatapan datar Jamal yang tahu anaknya itu sengaja melakukan itu.
"Anak itu.... Ibu akan menyusul dia pak" ucap Saidah juga ikut masuk ke dalam rumah.
"Mbah Wisnu, Mbah Narno, Tirta, tolong maafkan Kaelan, dia benar benar tidak tahu kalau apa yang dia lakukan sudah membuat Tirta kena masalah" ungkap Jamal juga bersimpuh di samping Tirta
"Itu sebabnya dulu aku tidak suka Kaelan pergi dari kampung ini Jamal! Dia jadi lupa semua aturan kampung bahkan sudah tiga kali dia melanggar aturan!" bentak Narno
"Maafkan saya Mbah, saya akan mendidik Kaelan setelah ini" ungkap Jamal
"Mbah, Tirta sekarang sudah terkena sial, apa tidak bisa Tirta pergi besok saja, kasihan dia kalau harus menderita di hutan" ucap Wisnu
"Tidak mau pak, Tirta tidak mau jauh dari kalian, kalian kan mau cucu dari Tirta" ucap Tirta berpura pura menangis
"Tidak bisa nak, kamu harus pergi, untuk sekarang kamu harus bersuci dengan air sumur yang ada di dekat pemakaman kampung cadas, setelah itu kamu berkeliling kampung dan minta sebutir beras dari setiap rumah, kamu simpan beras itu dan bawa pergi sebagai tanda kalau kamu membawa kesialan kamu juga pergi" ucap Narno
"Ini nak, ini gelang hitam milik Kalingga, kamu juga harus memakai gelang ini selama tiga tahun, buka saat kamu kembali ke sini dan kembalikan pada Kalingga" ucap Jamal memakaikan gelang Kalingga pada Tirta
"Aku harap ini terakhir kali Kaelan melakukan pelanggaran di kampung ini Jamal!" ucap Narno
"Baik Mbah"
Narno, Wisnu dan Tirta pergi dari sana, Jamal kembali masuk dan saat masuk dia melihat Saidah dan Kaelan sedang melanjutkan sarapan mereka yang terganggu dengan kedatangan Narno.
"Enak ya kalian makan setelah membuat anak orang beruntung bisa pergi tiga tahun dari sini" cibir Jamal dan ketiganya tertawa.