NovelToon NovelToon
Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dfe

Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?

Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!

Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang dimulai

Kilau masih berdiri di sana, mematung dengan ujung jari yang baru saja menyentuh helai rambut di dahi Badai. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ada dorongan aneh di benaknya untuk terus memandangi wajah tampan itu, wajah yang biasanya penuh sarkasme dan terlihat tidak peduli pada dunia, namun kini tampak begitu tenang, rapuh, dan jujur dalam tidurnya. Namun, suara notifikasi email dari laptopnya di meja kerja membuat Kilau tersentak. Dia segera menarik tangannya, berbalik dengan cepat seolah-olah baru saja tertangkap basah melakukan tindak kriminal kelas berat. Tak lupa dia tutupi tubuh Dai dengan selimut yang tersedia di sana, perhatian kecil yang jelas mengandung kebaperan yang haqiqi.

Kilau kembali duduk, mencoba fokus pada deretan angka di layar, tapi sudut matanya terus melirik ke arah sofa.

"Dasar kebo," gumamnya pelan, meski bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang sangat tidak ingin dia akui.

Waktu merayap pelan. Jarum jam di dinding ruangan Kilau sudah melewati angka sepuluh, hampir menyentuh pukul sebelas siang ketika Dai akhirnya mengerang kecil. Kesadarannya perlahan terkumpul. Hal pertama yang dia rasakan adalah suasana dinginnya AC yang menusuk kulit meski sudah ada selimut di atas dadanya, lalu aroma kopi mahal yang menguar di ruangan itu. Dia membuka mata, mengerjap beberapa kali, dan langsung disambut oleh pemandangan seorang Kilau yang ada di balik meja kerjanya.

"Ki.. Maaf gue ketiduran." Suaranya serak khas orang bangun tidur. Matanya saja masih merah seperti belum sepenuhnya sadar.

"Nggak apa-apa. Gue tau lo capek dan lo butuh istirahat." suara Kilau terdengar datar, tapi tidak juga ketus.

Dai menegakkan duduknya, merenggangkan otot leher yang terasa kaku. "Jam berapa ini Ki?"

"Hampir jam sebelas. Tidur lo nyenyak banget, Dai sampai gue pikir lo pingsan," Kilau beranjak dari kursinya, merapikan blazer yang dia kenakan. "Lo belum sarapan kan, ini malah udah mau masuk waktu makan siang. Ayo ikut gue, kita cari makan."

"Gue baru bangun, Ki. Astaga nyawa gue aja belum kumpul semua ini," keluh Dai sambil mengusap wajahnya kasar.

"Kumpulin di jalan aja kan bisa."

"Lo nyelimutin gue ya, Ki?" Dai sadar ada selimut yang memeluk tubuhnya padahal sebelumnya nggak ada.

"Nggak usah kepedean, itu si Arga tadi." Nggak pengen banget ketahuan kalau abis ngasih perhatian.

Meski tampak ogah, tapi Dai tetap mengikuti keinginan Kilau untuk makan siang. Mereka berjalan keluar. Kilau berjalan di depan dengan langkah tegas yang menuntut perhatian, sementara Dai mengekor di belakang dengan gaya santainya, tangan dimasukkan ke saku celana. Di kafe yang bernuansa industrial minimalis itu, mereka duduk di pojok yang agak tersembunyi.

"Lo mau makan apa?" tanya Kilau sambil membolak-balik menu.

"Apa aja yang penting kenyang dan bukan makanan yang namanya susah disebut," jawab Dai jujur.

Kilau memesankan dua porsi mi ayam pangsit, dimsum jamur, ayam teriyaki, dan tempura. Tak lupa juga minuman pendampingnya, selama menunggu makanan, suasana di antara mereka terasa lebih cair.

"Lo pesen makanan kayak gue udah seminggu nggak makan aja." Dai memulai obrolan.

"Badan lo kurus banget gitu, lo butuh perbaikan gizi, gue nggak akan biarin pacar gue tinggal tulang sama kulit." Mendengar jawaban Kilau, Dai terkekeh pelan.

"Orang tua lo itu tipe yang gimana?" tanya Dai keluar dari jalur.

Kilau terdiam sejenak, memainkan sedotan di gelas minumannya. "Kaku. Perfeksionis. Buat mereka, citra keluarga itu segalanya. Makanya mereka ngebet banget mau jodohin gue sama Arang. Menurut mereka, Arang itu paket lengkap. Koneksi bisnis, latar belakang keluarga yang setara, dan yang paling penting, dia bisa dikendalikan."

"Terus kenapa lo nggak mau? Arang keliatan tajir, kan? Hidup lo bakal terjamin," pancing Dai.

Kilau mendongak, menatap mata Dai dengan tajam. "Gue nggak butuh orang buat menjamin hidup gue, Dai. Gue udah bisa ngelakuin itu sendiri. Yang gue butuh itu kebebasan, bukan sangkar emas yang pintunya dijaga sama orang kayak Arang. Dan lagi... gue nggak suka cara dia mandang perempuan seolah-olah kita ini cuma aset perusahaan."

Dai manggut-manggut. "Jadi, peran gue nanti malem adalah jadi 'perusak' sangkar itu?"

"Tepat. Tapi inget, jangan terlalu berlebihan. Cukup tunjukin kalau gue udah punya pilihan sendiri, dan pilihan gue itu... ya, lo."

"Gue yang anak bengkel ini?" Dai terkekeh. "Lo yakin mereka nggak bakal serangan jantung?"

"Itu poin plusnya, karena lo berbeda dari lingkup mereka. Lo nggak bisa disetir sama mereka."

Setelah makan siang yang singkat namun cukup membekas itu, Dai pamit. Dia harus kembali ke bengkel karena pekerjaan pasti sudah menantinya. Namun, setelah dia memarkirkan motornya di depan bengkel, perasaan tak enak langsung menyergap.

Suasana bengkel yang biasanya riuh dengan suara denting kunci inggris dan tawa para pegawainya, kini terasa tegang. Di sana, duduk Ambar, ibunya, di kursi panjang yang biasa digunakan pelanggan untuk menunggu. Wajah Ambar tidak seperti biasanya. Tidak ada senyum slay atau keramahan yang biasa terpancar. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan tangannya gemetar memegang sebuah ponsel.

"Lho, Buk? Kok di sini? Ada apa?" Dai mendekat,

Ambar mendongak. Begitu melihat putranya, air matanya jatuh lagi. Dia tidak berkata-kata, hanya menyodorkan ponsel itu ke arah Dai. "Jelaskan sama Ibu, Dai... Ini apa?"

Dai menerima ponsel itu. Layarnya menampilkan sebuah video dengan pencahayaan remang-remang, khas suasana klub malam. Di sana, terlihat dua orang yang sangat dia kenali yaitu dirinya dan Lalin. Mereka tampak sedang melakukan tindakan tidak senonoh di atas sebuah sofa. Sudut pengambilan gambarnya sangat licik, membuat apa pun yang terjadi di sana terlihat begitu nyata dan intim. Darah Dai mendidih. Lalin udah keterlaluan,

"Buk, ini editan. Sumpah, ini nggak bener," Dai berlutut di depan ibunya, mencoba memegang tangan Ambar.

"Editan gimana, Dai? Mukanya jelas itu kamu! Bajunya juga baju yang kamu pakai kemarin!" suara Ambar meninggi karena kecewa. "Ibu nggak pernah didik kamu jadi laki-laki yang nggak punya harga diri kayak gini, Dai. Kamu melakukan hubungan kayak gini sebelum menikah, di tempat kayak gitu,... Ya Allah, Dai!"

"Buk, dengerin aku dulu. Lalin itu emang sengaja jebak aku. Dan aku bisa buktikan kalau video itu hasil editan. Jangan langsung percaya sama dia buk."

"Jujur Ibu kecewa dan marah sama kamu Dai. Lalin tadi pagi datang ke rumah, dia nangis-nangis sambil ngasih rekaman ini sama ibu, dia bilang dia takut kalau kamu nggak mau tanggung jawab."

Dai mengepalkan tinjunya sampai buku-bukunya memutih. "Dia bilang gitu buk? Benar-benar iblis itu cewek! Padahal aku nggak nyentuh dia sama sekali."

"Kalau emang ini nggak bener, buktikan, Dai. Tapi sebelum itu jelas, Ibu nggak mau bicara sama kamu," Ambar berdiri, mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu berjalan pergi meninggalkan bengkel tanpa menoleh lagi.

Dai berdiri mematung. Dunia rasanya berputar. Fitnah Lalin benar-benar menghantam titik terlemahnya: keluarga. Perempuan kalau udah kecintaan bakal melakukan apapun demi mendapatkan apa yang diinginkan, terkadang sedikit horor dengan melakukan hal di luar nalar juga, tuh contohnya si Lalinan.

Dan malam pun tiba. Langit yang biasanya penuh polusi tampak sedikit lebih gelap karena mendung mengepung, seolah mendukung suasana hati Badai yang sedang kacau. Namun, dia sudah berjanji. Dan seorang Badai tidak pernah ingkar janji, seberat apa pun bebannya.

Dia mandi, membersihkan sisa-sisa oli yang menempel di sela kuku, dan mengenakan setelan jas mahal pemberian Kilau. Jas itu pas sekali di tubuhnya yang tegap, memberikan kesan maskulin namun elegan. Meski begitu, Dai menolak untuk tampil sepenuhnya seperti "pria berdasi" yang diinginkan Kilau. Dia tidak memakai sepatu pantofel formal, melainkan sepatu kulit yang sedikit lebih santai, dan yang paling penting, dia tetap mengendarai motor sport-nya. Dia tak ingin dijemput oleh Arif, supir Kilau yang diperintahkan Kilau untuk mengantar jemput dirinya malam ini.

Suara raungan mesin motor sport-nya membelah sunyi kompleks perumahan elit tempat tinggal Kilau. Dia berhenti tepat di depan gerbang besar yang dijaga ketat. Petugas keamanan sempat ragu, namun begitu melihat wajah Dai dan setelan yang dia kenakan, mereka akhirnya mengizinkannya masuk.

Dai turun dari motor, melepas helm, dan merapikan rambutnya sekilas di kaca spion. Dia berjalan masuk ke rumah besar yang lebih mirip istana itu. Di ruang tamu yang megah, suasana sudah sangat mencekam. Kilau duduk di sana, diapit oleh kedua orang tuanya yang tampak kaku. Di seberang mereka, duduk Arang si pria idaman orang tua Kilau, si tepung serbaguna kalau kata Dai. Lelaki itu sedang memegang gelas kristal berisi minuman berwarna amber.

Begitu Dai masuk, semua mata tertuju padanya. Ayah Kilau, seorang pria paruh baya dengan tatapan yang bisa membekukan air, memperhatikan Dai dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Ooow jadi ini laki-laki yang kamu banggakan itu, Kilau? Badai. Teman mu waktu SMA?" tanya ayahnya dengan nada meremehkan yang kental. Tentu saja papanya Kilau mengenal siapa lelaki yang sekarang berjalan mendekat ke arah mereka.

"Cukup rapi.. Tapi, jas sama jam tangan itu terlalu mewah untuk ukuran orang yang datang ke sini dengan cuma naik motor." ledek mamanya Kilau agak sinis.

"Aku yang ngasih, kenapa mamah nggak suka?" Kilau memotong dengan nada dingin.

"Kilau, kamu menyamakan aku sama laki-laki mokondo nggak jelas kayak gitu? Yang bener aja lah. Aku pengusaha sukses, harus bersaing sama... Ah sudahlah. Memang nggak level!" Kali ini Arang yang bicara.

Dai menarik napas panjang. Dia sudah menyiapkan mental untuk ini. "Maaf jika kedatangan saya mengganggu ketenangan malam ini. Saya ke sini bukan untuk minta restu, karena saya tahu itu mustahil. Saya ke sini cuma mau nunjukin kalau Kilau berhak menentukan siapa yang pantas di samping dia."

"Pantas?" mama Kilau unjuk suara lagi, suaranya halus tapi tajam seperti sembilu. "Kamu bicara soal kepantasan di rumah ini? Lihat diri mu. Kamu itu cuma gangguan kecil dalam rencana besar keluarga kami. Jangan mimpi bisa masuk ke dunia kami."

Hinaan demi hinaan terus mengalir. Suasana makin memanas ketika Arang berdiri dan mulai memprovokasi Dai secara fisik, mendorong bahu Dai sambil terus melontarkan kata-kata pedas tentang rendahnya martabat seorang mekanik.

"Lo pikir dengan jas ini lo bisa sejajar sama gue? Lo itu benalu, sampah,. Dan sampah harusnya ada di tempat sampah, bukan di ruang tamu ini," bisik Arang tepat di telinga Dai.

Dai sudah hampir kehilangan kesabaran. Tangannya sudah mengepal, siap untuk mendaratkan satu pukulan di wajah sombong itu. Namun, sebelum hal itu terjadi, sebuah pergerakan tiba-tiba menghentikan segalanya.

Kilau berdiri sangat dekat dengan Dai. Dia tidak berteriak, tidak juga menangis. Dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh penekanan, dia menarik kerah jas Dai, memaksa pria itu untuk menunduk, dan sedetik kemudian, dia mendaratkan bibirnya di atas bibir Dai. Kilau mencium Dai lembut, penuh perasaan dan menuntut untuk dibalas. Dai mengikuti cara main Kilau. Adegan ciuman secara membabi buta pun terjadi di ruang tamu megah itu.

Suasana ruangan itu mendadak sunyi senyap. Papa Kilau menjatuhkan cerutunya, mamanya menutup mulut dengan tangan karena terkejut, dan Arang mematung dengan wajah yang memerah padam, bukan karena malu, tapi karena murka yang luar biasa.

Ciuman selesai, namun pesannya sangat jelas. Di depan semua orang, di depan calon tunangan pilihan orang tuanya, Kilau baru saja mendeklarasikan kepemilikannya atas Badai.

Kilau melepaskan tautan itu sambil tersenyum menatap mata Badai, lalu menatap orang tuanya dengan tatapan yang tak tergoyahkan. "Pah, Mah, ini jawaban ku. Terserah kalian mau bilang apa, tapi pria ini adalah orang yang aku pilih. Dan nggak akan ada satu pun dari kalian yang bisa ngerubah itu."

Dai masih terpaku, merasakan sisa kehangatan di bibirnya. Dia sadar, malam ini baru saja dimulai, dan peperangan yang sebenarnya, baik melawan orang tua Kilau maupun fitnah Lalin akan menjadi jauh lebih brutal dari apa pun yang pernah dia bayangkan. Namun, melihat sorot mata Kilau yang penuh tekad, Dai tahu dia tidak akan menghadapi ini sendirian.

"Modal kont** aja gue laku keras gini, apalagi gue punya segalanya. Lo kebagian apa, boti tepung serbaguna?" balas Dai dengan senyum meremehkan pada Arang batok!

1
Badai pasti berkilau
Waduhh sesek ini, kalo sampe ibunya Dai tau 🤔
Bulan-⁶
bagaimana perasaan sang ibu kalo badai masih berhubungan dengan ayahnya
Bulan-⁶
untung dai punya bekingan yang lebih kuat
Bulan-⁶
wawwwwww
Bulan-⁶
ngerti sekarang kamu dai?
Bulan-⁶
sajen nganan liat pasangan didepan mata
Bulan-⁶
kebanyakan laki gak tahan sakit, langsung manjanya kumat
Bulan-⁶
bakar aja arang biar jadi abu,, ehh nunggu besok lah bentar lagi idul adha buat bakar sate aja biar lebih berguna itu arang
p
luar biasa
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
skrg bisa seenaknya mengaggap Badai sampah yg tak layak bersanding dg keluargamu Dji..
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
Wijaya Saha Thor?
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
widih, Badai emg dabes lah Ki..
bisa diandelin buat jadi pasangan😚
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
Badai klo udah spaneng, bisa menerjang lawan sampe luluh lantak nih
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
🤣🤣🤣🤣siap2 sujud2 noh bapaknya kilau kalo tau Badai anak sultan tajir melintir 🤭
Bulan-⁶
wkwkwk aman dai gak bakalan ditampar
Bulan-⁶
sajen beneran pasangannya dedemit
Bulan-⁶
wes lah mau pura2 atau beneran pacaran juga silahkan, udah kokopan juga tadi kan
Bulan-⁶
pake tossa aja thor
Bulan-⁶
perjalanan mu masih panjang dan berliku dai
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
sombong dikit boleh kok Dai🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!