Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
"Kei, kamu jangan lari dari kami! Kami nggak akan pernah maafin kamu!!"
Keira terus berlari, langkahnya terasa amat berat, nafasnya bahkan sudah tersengal-sengal, namun ia tidak boleh tertangkap oleh dua orang yang ada di belakangnya itu. Bisa mati ia jika sampai tertangkap.
"Mau lari kemanapun kamu, kami akan tetap mendapatkan kamu! Jadi berhenti berlari."
Keira sungguh sudah tidak sanggup lagi, keringat membanjiri tubuhnya. Kakinya juga sudah sangat lemas sekali. Matanya menatap sekelilingnya, dan ia menemukan sebuah semak-semak belukar. Tanpa pikir panjang, Keira langsung ke sana, dan bersembunyi di semak belukar itu.
Dua orang yang mengejarnya tadi berhenti saat kehilangan jejak Keira tidak jauh dari tempat Keira bersembunyi.
"Sialan! Kita kehilangan jejak Keira."
"Iya, cepet banget tuh anak larinya."
"Tapi nggak mungkin deh. Kalaupun dia lari nggak secepat itu. Kayaknya dia sembunyi."
"Nah, bener itu, pasti dia sembunyi dan nggak jauh dari sekitar sini."
Keduanya langsung mencari di sebalik pohon. Beberapa menit mencari keberadaan Keira, namun hasilnya nihil.
"nggak ada."
"Sialan! Kemana tuh bocah!"
"Bang, ada semak." Tangannya menunjuk ke arah semak belukar yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Iya, gue yakin tuh bocah pasti sembunyi di sana."
Keira menahan nafasnya, ia berusaha tetap tenang, walaupun jantungnya sudah memompa tak karuan. Bagaimana kalau keduanya bisa menemukan dirinya? Bisa di siksa sampai mati ia. Dan Keira tidak mau. Ia masih ingin hidup, untuk membongkar semuanya.
Mereka terus mendekat, membuat Keira kehilangan tarikan nafasnya.
"Bang!! Lihat ini, gue nemuin jejak." Belum sempat keduanya menghampiri semak itu, terdengar suara menggelegar, membuat keduanya saling pandang.
"Yogi kan?"
"Iya bang."
"Ayo cabut!!"
Keduanya pergi dari sana, membuat Keira menghela nafasnya kasar. Ia menyandarkan tubuhnya, rasanya lelah luar biasa, namun ia harus bagaimana.
Beberapa menit berlalu, ia sudah lebih baik, Keira langsung bangkit dari sana, ia akan pergi jauh untuk sementara waktu sampai kedua orangtuanya kembali dari luar negeri.
Namun, saat baru beberapa langkah, seseorang menarik tangannya membuat Keira tersentak.
Tubuhnya menegang hebat, dengan detak jantung yang menggila.
Pikirannya sudah menduga-duga siapa yang menariknya.
"Tolong!!!"
"Mbak!! Mbak Keira bangun!!" Azizah menepuk-nepuk pelan pipi Keira membuat Keira langsung terlonjak kaget. Ia terduduk, dan langsung menatap sekelilingnya.
Keira mengerjapkan matanya, untuk beberapa saat ia seperti orang linglung.
"Mbak minum dulu" Azizah menyodorkan air yang ada di atas nakas kepada Keira.
Keira mengambilnya, lalu menenggaknya, ia kembali menatap sekelilingnya. Dan ia bisa menghela nafasnya, saat menyadari jika ia ada di rumah Gus Zayn, bukan di gedung tua ataupun di hutan belantara.
"Mbak, baik-baik aja? Kok teriak-teriak?" Tanya Azizah penasaran.
Keira menoleh dan menatap ke arah Azizah. "Maaf, tadi saya mimpi buruk."
Pantas saja Keira menjerit-jerit ternyata ia sedang mimpi buruk, Azizah mengusap dadanya. "Astaghfirullah. Mbak udah shalat isya?"
Kening Keira berlipat mendengarnya, ia sama sekali tidak tau shalat. Dan apa tadi katanya shalat isya. Apalagi tuh? Mengaji saja tadi ia bingung luar biasa. "Be-belum."
Azizah menarik tangan Keira, "Ayo, Zizah temenin mbak shalat dulu. Biar mbak nggak mimpi buruk lagi."
Keira pasrah saja di tarik, walaupun ia jadi bingung, bagaimana melaksanakan shalat itu. Ingin bertanya, namun ia malu dengan Azizah