NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

Dipaksa untuk pulang oleh sang ayah dengan ancaman atas nama pacarnya, Daniel. Membuat Elleta harus pulang ke Indonesia. Entah kesepakatan apa, papanya tega menjualnya ke laki-laki bernama Steve, pewaris utama Danendra group. Fakta baru yang ia tau, Steve pernah menikah.

Hanya untuk keamanan sang pacar, Elleta rela setuju. Akankah Elleta bisa menjalaninya, atau justru masuk lebih dalam ke kehidupan laki-laki itu.

"Selamat datang di kehidupan barumu, Elleta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Bukan Pahlawanmu

Kemarahan ternyata bisa menjadi bahan bakar yang bisa meledak. Elleta kira ia tidak menyangka rasa malu yang ia tanggung di mall tadi, bisa berubah menjadi energi nekat.

Ia memacu BMW emasnya, membelah padatnya jalanan Jakarta hanya demi mengejar sedan hitam milik Steve. Elleta tidak peduli seberapa nekat tindakannya saat ini.

Baginya, harga diri yang dilecehkan oleh laki-laki itu harus dikembalikan sekarang juga. ​Begitu mobil Steve berhenti di pelataran Danendra Group, Elleta langsung menginjak rem mendadak tepat di belakangnya.

Ia keluar dari mobil, membanting pintu, dan melangkah masuk ke lobi dengan tatapan lurus.

Petugas keamanan yang semula berniat menyapa langsung mengurungkan niat, melihat aura dingin dan langkah tegas Elleta sudah cukup memberi sinyal bahwa wanita ini bukan seseorang yang bisa dihentikan.

​Ia sempat kehilangan jejak Steve di lobi yang luas, tetapi Elleta tahu laki-laki seperti Steve pasti memiliki ruang privat di lantai tertinggi. Dengan jemari yang masih bergetar menahan emosi, ia masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai teratas.

​Ting!

​Pintu lift terbuka, langsung menghadap koridor utama. Theo, yang baru saja keluar dari ruang kerja Steve, hampir saja menjatuhkan berkas di tangannya saat melihat Elleta berjalan ke arahnya dengan napas memburu dan rambut yang sedikit berantakan.

​"Nona Crassia? Maaf, anda harus membuat janji temu terlebih dahulu..."

​Elleta melewati Theo begitu saja tanpa membalas ucapannya. Ia mendorong pintu ganda besar di depannya hingga terbuka lebar.

Di dalam ruangan, Steve sedang berdiri menghadap jendela kaca besar yang menampilkan lanskap kota. Mendengar dentuman pintu, pria itu berbalik dengan tenang.

​Steve tidak tampak terkejut atau terganggu. Sudut bibirnya justru terangkat tipis, membentuk senyuman samar yang nyaris tak kentara. "Kamu sampai lebih cepat dari perkiraanku, Elleta," ujarnya santai.

​"Ambil kembali uangmu. Aku enggak sudi menerima barang-barang ini," kata Elleta dingin, melemparkan rentengan tas belanjaan mewah tadi ke atas meja kerja Steve yang rapi.

​"Kamu pikir kamu siapa, Steve? Bisa seenaknya menghina hidupku, menghina Daniel, terus berlagak seakan kamu penyelamatku?" Rentetan kekesalan yang Elleta pendam sejak pagi akhirnya tumpah begitu saja.

Ia meluapkan kemarahannya tentang keangkuhan Steve, sikap mutlak Papanya, hingga penolakannya terhadap perjodohan konyol ini.

​Sepanjang Elleta meluapkan emosinya, Steve hanya bersandar di tepi meja dengan kedua tangan bersedekap di dada. Ia tidak menyela ataupun membela diri. Bagi Steve, celoteh Elleta ini jauh lebih menarik daripada agenda bisnis apa pun hari ini.

​Melihat Elleta yang berapi-api dengan binar kemarahan di matanya dan pipi yang merona karena emosi laki-laki itu menyadari satu hal.

Elleta jauh lebih hidup saat memberontak seperti ini dibandingkan saat ia diam dan berpura-pura menjadi putri penurut di depan keluarganya.

​Napas Elleta mulai putus-putus. Tenggorokannya terasa kering setelah meluapkan semua kekesalannya, sementara Steve masih tetap bergeming dengan ekspresi tenangnya yang menyebalkan.

​"Aku butuh minum," potong Elleta tiba-tiba, berusaha menstabilkan napasnya yang memburu. "Di tempat pantry?"

​Steve terkekeh pelan, sedikit terhibur dengan perubahan topik yang begitu mendadak. "Keluar dari ruangan ini, lurus saja ke ujung koridor sebelah kanan. Ada pantry di sana."

​Elleta berbalik dengan gusar. Di luar ruangan, Theo tampak sedang sibuk menerima telepon penting. Menolak untuk menurunkan gengsinya dengan bertanya pada asisten Steve, Elleta memilih mencari jalan sendiri menyusuri lorong koridor.

​Suasana di dalam pantry modern yang luas itu semula riuh oleh obrolan beberapa karyawan yang sedang beristirahat. Namun, begitu Elleta melangkah masuk, keheningan mendadak tercipta.

Beberapa orang yang mengenali wajahnya dari berita bisnis keluarga Crassia mulai saling berbisik, sementara yang lain perlahan memisahkan diri dan keluar ruangan demi menghindari kecanggungan.

​Elleta mengabaikan kasak-kusuk itu. Fokusnya hanya tertuju pada mesin kopi di sudut ruangan. Namun, tepat saat ia mau melangkah maju, seorang wanita sengaja berjalan memotong jalurnya hingga bahu mereka bertabrakan cukup keras.

​Cess!

​Sedikit sisa air panas dari cangkir yang dibawa wanita itu terciprat dan mengenai lengan Elleta. Elleta meringis kecil, refleks menarik tangannya yang mulai memerah.

​"Oh, maaf. Aku benar-benar enggak lihat, kalau ada orang luar yang tiba-tiba masuk ke area karyawan," ucap sebuah suara dengan nada sinis yang dibuat-buat.

​Wanita itu adalah Liana, sekretaris pribadi Steve yang selalu tampil dengan pakaian kerja ketat jangan lupa make up tebalnya. Namun, memiliki tatapan yang selalu dingin. Mata Liana menelurusi Elleta dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan sinis.

​"Kamu punya mata untuk lihat jalan, kan?" cetus Elleta, menahan perih di lengannya.

​Liana melipat tangan di dada, menyunggingkan senyum tipis. "Iya, terus kenapa? Dan yang aku lihat hanyalah kamu gadis manja yang nekat datang ke kantor bosku setelah membuat keributan di mall. Kenapa? Apa fasilitas dari keluargamu sudah mulai dikurangi, sampai kamu harus mencari perhatian Steve?"

​Sindiran itu terasa murahan, namun cukup untuk memantik kembali emosi Elleta yang belum sepenuhnya padam.

Elleta maju satu langkah, menatap Liana tepat di manik matanya. "Mencari perhatian? Aku pikir kata-kata itu lebih cocok untuk dirimu sendiri. Kamu bertahan di posisi ini karena berharap bosmu akan melirikmu suatu hari, kan? Sayangnya, bekerja keras di kantor ini enggak akan pernah membuatmu berada di posisi yang sama denganku. Berkaca dengan tempatmu."

​Ketegangan di antara keduanya sempat memancing perhatian beberapa karyawan yang tersisa di ambang pintu, meski tidak ada satu pun yang berani menengahi sampai akhirnya Elleta memutuskan untuk menyudahi perdebatan tidak penting itu dan melangkah pergi.

​Beberapa menit kemudian, Elleta kembali mendorong pintu ruang kerja Steve dengan kasar. Kali ini, raut wajahnya tidak hanya menyiratkan amarah, tetapi rambutnya sedikit lebih acak-adapan dan ada bekas goresan kemerahan yang kontras di kulit lengannya.

​Steve yang awalnya kembali memeriksa dokumen langsung menegakkan tubuh. Sepasang matanya tertuju pada lengan Elleta.

"Apa sebenarnya terjadimu, El?" tanya Steve, nadanya berubah menjadi lebih rendah dan alisnya yang menekuk tajam.

​Tanpa menunggu jawaban, Steve bangkit dari kursinya, berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan untuk mengambil kotak pertolongan pertama.

Ia kembali mendekati Elleta, meraih pergelangan tangan gadis itu dengan tegas, lalu menuntunnya untuk duduk. Namun, alih-alih mengarahkannya ke sofa tamu, Steve malah menarik pinggang Elleta dan mendudukkannya di atas pangkuannya begitu ia sendiri duduk di kursi kerja besarnya.

​Elleta tersentak. Kedekatan yang tiba-tiba ini membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. "Apa-apaan ini? Lepas!" Elleta berusaha memberontak.

​"Diam, Elleta," potong Steve. Suaranya terdengar bariton, tenang, namun memiliki penekanan yang membuat Elleta secara tidak sadar menghentikan geraknya.

​Dengan gerakan jemari yang tak disangka cukup telaten, Steve mulai mengoleskan krim pereda lepuh ke lengan Elleta yang memerah.

​"Sekretarismu itu benar-bener kurang ajar," gerutu Elleta, mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menyembunyikan kecanggungan akibat posisi mereka yang terlalu intim.

"Dia sengaja menumpahkan air panas dan bicara enggak pantes. Kenapa laki-laki kayak kamu memelihara karyawan kasar kayak gitu di kantor?"

​Steve hanya melirik Elleta sekilas melalui sudut matanya, lalu kembali fokus meratakan krim di lengan gadis itu. "Lalu, menurutmu aku harus memecatnya hanya karena dia berargumen denganmu?"

​Elleta menoleh cepat, menatap Steve dengan dahi berkerut. "Dia keterlaluan, Steve. Dia menghinaku di depan umum."

​Steve menutup kembali tube krim di tangannya, namun lengannya masih tetap melingkar di pinggang Elleta, menahan posisi gadis itu agar tidak beranjak dari tempatnya.

Ia sedikit memajukan tubuh, membuat jarak di antara wajah mereka terkikis hingga Elleta bisa merasakan embusan napas pria itu.

​"Dengar, Elleta," ucap Steve, menatap lurus ke dalam sepasang mata gadis di hadapannya.

"Kamu berulang kali menegaskan bahwa kamu itu gadis mandiri yang tidak bisa disetir oleh siapa pun. Kamu menolak perjodohan ini karena ingin bebas, bukan?"

​Steve menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. "Nah kalau kamu benar-benar sekuat yang kamu katakan, jadilah pemberani menghadapi orang-orang seperti Liana, itu bukan masalah besar bagimu. Aku tidak akan selalu ada untuk menjadi penengah setiap kali kamu terlibat dalam masalah. Jika kamu ingin orang lain menghormatimu karena dirimu sendiri bukan karena nama Crassia yang melekat di belakangmu, maka buktikan dengan caramu."

​Elleta terdiam. Kalimat Steve kali ini tidak terdengar seperti ejekan dingin yang biasa ia terima di meja makan. Itu adalah sebuah tantangan terbuka yang langsung menyentuh ego dan harga dirinya.

Berada di jarak sedekat ini dengan pria yang seharusnya ia benci, Elleta justru merasakan sebuah dorongan kuat untuk membuktikan bahwa ia tidak senaif yang pria itu pikirkan.

​"Aku enggak butuh bantuanmu untuk menghadapi hal kecil kayak gini" balas Elleta dengan nada menantang, mengabaikan fakta bahwa suaranya sedikit tertahan karena debaran aneh di dadanya.

​Steve tersenyum tipis, kali ini sebuah senyuman yang tampak lebih lepas dan dipenuhi ketertarikan yang nyata. "Bagus. Kita lihat gimana caramu nanti. Masih ada dua hari tersisa sebelum makan malam keluarga itu tiba, Elleta."

1
Roseanne_0606
wah seru nih mode detektif 🤭
Roseanne_0606
waduh apa nih 😭😭
Roseanne_0606
aneh nih si steve, ditampar bukannya marah malah suka 😭😭😭
Lovelyiaca: Steve aslinya bucin ya gengsi aja itu hehe 😌
total 1 replies
Roseanne_0606
Tim Elleta sih kak 💪
Lovelyiaca: Kalau aku timnya Theo aja 😆
total 1 replies
Roseanne_0606
Akhirnya update lagi kak 🤭
Lovelyiaca: Iya kak, aku bakal update terus, tunggu kelanjutannya ya 😆
total 1 replies
Roseanne_0606
Gapapa kak, semangat ya 💪
Lovelyiaca: Makasih yaa kak 😆🔥
total 1 replies
Roseanne_0606
Jangan asal nuduh woyy 😭😭😭
Lovelyiaca: Maaf ya kak, sesuai script soalnya 🙏🙏🙏 - Steve A.D
total 1 replies
Roseanne_0606
di tabok aja, El. Stevenya itu 😭😭
Lovelyiaca: tabok aja kak 🤣
total 1 replies
Roseanne_0606
Bagus kak ceritanya 😆
Lovelyiaca: makasih kak, tunggu kelanjutannya ya
total 1 replies
Roseanne_0606
Semangat updatenya thor 💪
Lovelyiaca: makasih supportnya kak 😄
total 1 replies
Roseanne_0606
Jangan mau pulang El
Lovelyiaca: makasih udah mampir ya kak
total 1 replies
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!