Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Yang Chen kembali menatap Feng Wuhen. "Jenderal, Anda pasti tahu bahwa Wind Dragon Horse memiliki afinitas elemen Angin dan sedikit Air. Sifat tubuhnya adalah Yin (Dingin). Rumput Red Star tumbuh di daerah vulkanik, mengandung elemen Yang (Api) yang kuat. Biasanya, kuda biasa bisa memakannya."
Yang Chen menepuk leher kuda itu lagi. Kuda itu kini tampak lebih tenang di bawah sentuhan Yang Chen, seolah tahu bocah ini mengerti rasa sakitnya.
"Tapi bagi hewan Yin murni seperti Blackwind, memberikan rumput Yang dalam jumlah banyak sama saja dengan menuangkan minyak panas ke dalam es. Energi panas itu tidak bisa dicerna. Itu menumpuk di perut, menciptakan Api Perut yang membakar organ dalamnya."
"Dan bengkak di kakinya?" Feng Wuhen bertanya, nada skeptisnya mulai goyah, digantikan oleh rasa ingin tahu.
"Itu bukan bengkak karena air," jelas Yang Chen. "Itu adalah mekanisme pertahanan. Kuda ini secara insting mengalirkan energi panas itu ke bagian tubuh paling bawah—kakinya—untuk menjauhkannya dari jantung. Jika Anda mengompresnya dengan air dingin atau membedahnya seperti yang mungkin akan dilakukan tabib biasa, energi panas itu akan berbalik naik ke jantung."
Yang Chen menatap lurus ke mata Jenderal.
"Saat itu terjadi, jantung Blackwind akan meledak. Dan Anda akan kehilangan tunggangan terbaik Anda."
Keheningan melanda lagi. Penjelasan itu... masuk akal. Sangat masuk akal. Bahkan Feng Wuhen, yang hanya seorang prajurit dan bukan tabib, bisa memahami logika aliran energi itu.
Tapi logika saja tidak cukup. Dia butuh bukti.
"Kata-kata manis," kata Feng Wuhen, matanya berkilat tajam. "Tapi siapa yang menjamin kau tidak mengarang cerita tentang rumput itu? Zhang bisa saja mengiyakan karena takut padamu."
Yang Chen tersenyum miring. "Anda butuh bukti fisik?"
"Ya. Tunjukkan padaku Api Perut itu. Jika kau tidak bisa mengeluarkannya, maka kepalamu tetap akan kupenggal."
Yang Chen mengangguk. "Pinjamkan pedangmu."
Para prajurit tersentak. Meminta senjata Jenderal?
"Jangan konyol," dengus Feng Wuhen. "Pakai ini."
Feng Wuhen mencabut sebuah pisau belati kecil dari sabuknya dan melemparnya ke tanah di depan kaki Yang Chen. Tancap.
Yang Chen membungkuk, mencabut pisau itu. Pisau itu berat, terbuat dari baja berkualitas tinggi. Terlalu berat untuk tangan lemahnya, tapi dia memegangnya dengan dua tangan.
Dia berjalan kembali ke arah kuda.
"Pegang tali kekangnya yang kuat," perintah Yang Chen pada prajurit yang memegang tali kuda. "Dia akan mengamuk sebentar."
Prajurit itu ragu, menatap Jenderal. Feng Wuhen mengangguk. Dua prajurit maju, memegang tali kekang kuda itu dari kiri dan kanan, menahannya sekuat tenaga.
Yang Chen berjongkok di samping kaki depan kanan kuda yang bengkak itu.
Dia tidak membedah bengkaknya. Dia mencari titik di bagian dalam kaki, tepat di atas kuku, di mana pembuluh darah vena terlihat menonjol berwarna biru gelap.
"Ini akan sedikit kotor," gumam Yang Chen.
Dengan gerakan cepat dan presisi—menggunakan sisa tenaga terakhir di lengannya—dia menggoreskan pisau itu ke pembuluh darah vena kecil tersebut.
Sret.
Luka kecil terbuka.
Darah tidak memancar keluar. Sebaliknya, yang keluar adalah uap.
Psssshhhhhhh!
Suara desisan nyaring terdengar, seperti teko air mendidih yang dibuka tutupnya. Asap putih tipis menyembur keluar dari luka kecil di kaki kuda itu. Baunya menyengat—bau belerang dan daging hangus.
Darah yang menetes kemudian bukan berwarna merah segar, tapi merah kehitaman dan... berbuih. Darah itu panas, begitu panas hingga saat menetes ke lumpur basah, lumpur itu mendesis dan mengering seketika.
"Itu..." mata Feng Wuhen membelalak lebar. Dia bisa merasakan hawa panas memancar dari darah itu dari jarak lima meter.
Kuda Blackwind meringkik keras, matanya melotot. Tapi itu bukan ringkikan kesakitan. Itu ringkikan kelegaan.
Tubuh kuda yang tadi tegang perlahan mulai rileks. Uap panas terus keluar selama sepuluh detik penuh, membuang racun Yang yang terperangkap. Bengkak di kaki kuda itu terlihat menyusut secara kasat mata, seolah balon yang dikempiskan.
Yang Chen segera menekan luka itu dengan ibu jarinya, menghentikan pendarahan. Dia mengambil segenggam lumpur dingin dan menempelkannya ke luka itu sebagai perban darurat.
Dia berdiri, napasnya tersengal-sengal. Kakinya gemetar hebat sekarang. Manuver medis kecil ini menguras konsentrasi dan staminanya yang sudah tipis. Dia hampir jatuh, tapi dia menancapkan pisau belati itu ke tanah untuk menopang tubuhnya agar tetap tegak.
Dia menatap Feng Wuhen, wajahnya pucat pasi namun matanya menyala penuh kemenangan.
"Apakah bukti ini cukup..." Yang Chen terengah, "...Jenderal?"
Feng Wuhen tidak menjawab. Dia berjalan mendekat. Dia mengabaikan Yang Chen sejenak dan memeriksa kaki kudanya. Dia menyentuh kulit kuda itu. Suhu tubuhnya sudah turun. Napas kudanya sudah tidak berbau belerang lagi. Hewan itu menundukkan kepalanya dan menyenggol bahu Feng Wuhen dengan manja.
Sembuh. Atau setidaknya, krisisnya sudah lewat.
Feng Wuhen berdiri tegak kembali. Dia menatap Pengurus Kuda Zhang yang masih sujud.
"Bawa kuda ini ke kandang khusus. Beri dia air murni dicampur perasan Moonberry. Dan kau, Zhang..." Feng Wuhen menendang bahu Zhang pelan, tidak dengan niat membunuh, tapi cukup untuk menggulingkannya. "...kau berhutang nyawa pada Pangeran Ketiga. Ingat itu."
"Terima kasih! Terima kasih Jenderal! Terima kasih Pangeran!" Zhang menangis histeris, mencium tanah.
Feng Wuhen kemudian berbalik menghadap Yang Chen sepenuhnya.
Suasana telah berubah 180 derajat. Tidak ada lagi niat membunuh. Yang ada sekarang adalah tatapan penuh kalkulasi. Feng Wuhen melihat seorang bocah kurus, kotor, dan hampir pingsan, yang baru saja menunjukkan pengetahuan setara Grandmaster Beast Tamer.
"Kau menang taruhan ini," kata Feng Wuhen datar. "Nyawamu aman."
Jenderal itu mengulurkan tangannya. Bukan untuk menjabat tangan, tapi meminta pisaunya kembali.
Yang Chen mencabut pisau itu dari tanah, membersihkannya di lengan bajunya yang kotor (sebuah tindakan yang sangat tidak sopan namun pragmatis), lalu menyerahkannya dengan gagang menghadap ke depan.
Feng Wuhen menerima pisau itu, menyarungkannya kembali.
"Sekarang..." Feng Wuhen melipat tangannya di dada. Tubuhnya yang besar menjulang di atas Yang Chen. "Kau bilang kau menginginkan sesuatu. Sebuah harga."
Feng Wuhen mencondongkan tubuhnya sedikit.
"Apa yang diinginkan oleh seorang pangeran yang dibuang, yang tiba-tiba menjadi jenius dalam semalam? Emas? Wanita? Atau kau ingin aku menghajar kakakmu yang memukulmu itu?"
Pertanyaan jebakan. Jika Yang Chen meminta sesuatu yang terlalu ambisius (seperti menghajar Pangeran Pertama), dia akan dianggap ancaman politik dan mungkin dibunuh diam-diam nanti. Jika dia meminta emas, dia akan dianggap picik.
Yang Chen tahu ini adalah ujian terakhir.
Dia menarik napas, menegakkan punggungnya yang sakit.
"Aku tidak butuh emas," kata Yang Chen. "Dan urusan dengan saudaraku adalah urusanku sendiri."
Dia menatap mata Jenderal.
"Aku hanya butuh tumpangan."
"Tumpangan?" Feng Wuhen mengerutkan kening.
"Bawa aku keluar dari istana ini. Turunkan aku di pasar kota. Dan..." Yang Chen berhenti sejenak, "...pinjamkan aku sepuluh keping emas. Anggap itu hutang. Aku akan mengembalikannya sepuluh kali lipat bulan depan."
Hanya itu. Tumpangan keluar dan modal awal. Sederhana, praktis, dan tidak mengancam posisi Jenderal secara politik.
Feng Wuhen terdiam selama tiga detik, lalu tiba-tiba tertawa keras.
"Hahahaha! Menarik! Sangat menarik!"
Tawanya menggelegar, membuat burung-burung di atap kandang terbang kaget.
"Baik! Sepuluh keping emas untuk nyawa kuda kesayanganku. Itu harga yang sangat murah."
Feng Wuhen berbalik badan, mengibaskan jubah perangnya.
"Naiklah ke kereta barang di belakang. Kita berangkat sekarang. Jangan membuatku menunggu, Pangeran."
Yang Chen menghembuskan napas panjang. Kakinya akhirnya menyerah, dan dia terduduk di lumpur. Tapi kali ini, dia tersenyum lebar.
Gerbang penjara ini akhirnya terbuka.