NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Musibah yang merubah Takdir

Di sebuah desa yang jauh dari perkotaan,hidup sebuah keluarga yang sangat sederhana,namun kesederhanaan itu tidak mengurangi kebahagian anggota keluarga tersebut,rumah kecil itu terasa nyaman,dan diliputi kebahagiaan ,dihuni pak Herman dan Bu Siti dengan empat orang anak ,Cantika ,Gilang ,Rara dan Dodi .

Cantika putri adalah putri sulung dari keluarga tersebut sementara ketiga adiknya masih duduk di sekolah menengah pertama ,sekolah dasar ,dan yang bungsu masih balita .

Walaupun terbatasnya ekonomi  keluarganya,namun Cantika tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya dan juga adik- adiknya,setiap hari terdengar candaan dan kehangatan didalam keluarga tersebut.

Dunia Cantika runtuh tepat saat adzan Maghrib berkumandang. Tidak ada tanda-tanda, tidak ada firasat. Ayahnya, Pak Herman, yang baru saja pulang dari sawah, tiba-tiba ambruk di teras rumah kayu mereka. Hanya dalam hitungan menit, napas laki-laki yang menjadi pilar keluarga itu terhenti.

Malam itu, rumah kecil di ujung desa itu penuh dengan isak tangis. Cantika, yang baru berusia sembilan belas tahun, berdiri mematung di sudut kamar. Di depannya, ibunya, Bu Asih, pingsan berkali-kali.

Sementara itu, dua adiknya yang masih SD, Gilang dan Rara, menangis ketakutan sambil memegangi ujung baju Cantika. Si bungsu, Dodi, yang bahkan belum genap empat tahun, hanya diam kebingungan melihat keramaian orang yang datang melayat.

"Bapak sudah nggak ada, Kak?" tanya Rara dengan suara serak.

Cantika tidak menjawab. Tenggorokannya terasa seperti terganjal batu besar. Ia hanya bisa merangkul ketiga adiknya dengan tangan yang gemetar. Dalam hati, ia tahu, mulai detik ini hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

***

Seminggu Setelah Kepergian

Suasana duka masih menyelimuti rumah itu, tapi perut tidak bisa menunggu. Pagi itu, Cantika mendapati ibunya duduk melamun di dapur di depan tungku yang dingin. Tidak ada asap yang mengepul. Di atas meja hanya ada sisa nasi dingin dari semalam.

"Ibu ... Ibu sakit?" tanya Cantika lembut sambil menyentuh bahu ibunya yang kini terlihat sangat kurus.

Bu Asih menoleh dengan mata sembab. "Maafkan Ibu, Cantika. Ibu bingung ... Tabungan Bapak habis untuk biaya pemakaman kemarin. Uang sekolah Gilang dan Rara sudah menunggak sebulan. Susu Dodi juga sudah habis."

Hati Cantika teriris. Ia melihat ijazah SMA nya yang tersimpan rapi di dalam lemari plastik. Seharusnya, ia akan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi walau hanya menggunakan jalur bea siswa. Namun, melihat kondisi ini, ia sadar ada mimpi yang harus dikubur demi sebuah kenyataan yang lebih mendesak yaitu bertahan hidup.

"Ibu jangan khawatir. Cantika nggak akan sekolah dulu. Cantika mau kerja," ucapnya tegas.

"Tapi Nak, kamu pintar. Bapakmu ingin kamu sukses ..."

"Sukses itu nggak harus sekarang, Bu. Yang penting sekarang kita bisa makan dan adik-adik tetap sekolah," potong Cantika sambil tersenyum tulus, meski matanya berkaca-kaca.

 

Ide dari Kebun Belakang

Cantika pergi ke belakang rumah untuk menenangkan diri. Di sana, ia melihat berpetak-petak tanaman singkong peninggalan ayahnya yang sudah siap panen. Selama ini, ayahnya hanya menjual singkong mentah ke tengkulak dengan harga yang sangat murah, kadang hanya cukup untuk beli garam dan minyak goreng.

Tiba-tiba sebuah ide muncul. Kenapa tidak diolah saja?

Dulu, almarhum ayahnya sering memuji keripik singkong buatan Cantika yang katanya sangat renyah dan gurih. Ia punya resep rahasia yang ia dapat dari neneknya cara merendam singkong dengan air kapur sirih dan bawang putih yang membuatnya berbeda dari keripik biasa.

"Bu, kita buat keripik singkong saja!" seru Cantika kembali ke dapur.

Bu Asih menatap ragu. "Memangnya ada yang mau beli, Nak? Di pasar sudah banyak penjual keripik."

"Kita coba dulu, Bu. Cantika yang cari kayu bakar, Cantika yang cabut singkongnya. Ibu cukup bantu mengiris saja kalau Ibu kuat."

Dengan modal sisa uang di dompet yang hanya dua puluh ribu rupiah, Cantika membeli minyak goreng curah dan sedikit bumbu. Ia mulai mencabut singkong-singkong itu sendiri. Tangannya yang biasa memegang buku kini dipenuhi tanah. Ia mengupas kulit singkong yang kasar hingga jari-jarinya lecet, tapi ia tidak mengeluh.

***

Dapur yang Kembali Berasap

Suasana dapur kembali hidup. Bunyi irisan singkong yang beradu dengan papan kayu terdengar berirama. Cantika menyalakan tungku kayu bakar. Hawa panas mulai menyengat, keringat bercucuran di pelipisnya, namun ada semangat baru di matanya.

"Gimana, Bu? Wangi nggak?" tanya Cantika saat kloter pertama keripik masuk ke penggorengan. Sreeeesss! Aroma bawang putih menyengat, menggugah selera.

Rara dan Gilang yang baru pulang sekolah langsung lari ke dapur. "Wangi banget, Kak! Aku mau!"

"Eits, cuci tangan dulu!" canda Cantika.

Melihat adik-adiknya makan dengan lahap meski hanya keripik singkong, semangat Cantika makin berkobar. Ia membungkus keripik-keripik itu dalam plastik kecil seharga dua ribuan.

Prosesnya sederhana sekali, hanya direkatkan dengan api lilin.

***

Perjuangan di Jalanan

Keesokan harinya, Cantika memulai petualangannya. Dengan bakul bambu yang digendong di punggung, ia mulai berkeliling desa. Dari satu rumah ke rumah lain, dari satu pangkalan ojek ke pangkalan lainnya.

"Keripik singkongnya, Pak? Gurih, renyah, cuma dua ribu," tawar Cantika dengan senyum manisnya. Meski hatinya malu dan lelah, ia tetap berusaha terlihat ceria.

"Wah, Cantika? Kok jualan? Nggak sekolah?" tanya salah satu tetangga.

Cantika hanya tersenyum sopan. "Lagi bantu Ibu dulu, Bude. Dicoba ya keripiknya, buatan sendiri lho."

Hari pertama tidak semudah yang ia bayangkan. Kakinya pegal luar biasa karena ia berjalan berkilo-kilometer. Namun, saat sore hari ia pulang dan menghitung uang recehan di tangannya, ia menangis bahagia. Uang itu cukup untuk membeli satu kaleng susu Dodi dan sedikit beras.

"Lihat Bu, habis!" seru Cantika sambil menunjukkan bakulnya yang kosong.

***

Menjadi Tulang Punggung

Bulan-bulan berlalu. Cantika benar-benar menjadi pengganti sosok ayah. Rutinitasnya dimulai sejak jam tiga pagi Dari memarut, menggoreng, lalu membungkus. Siangnya, ia berkeliling hingga ke desa sebelah. Kulitnya yang dulu putih bersih kini sedikit agak gelap karena sering terpapar matahari, tapi kecantikannya tetap terpancar dari ketulusan hatinya.

Adik-adiknya, berkat kerja keras Cantika, bisa tetap sekolah dengan seragam yang rapi. Gilang sering membantu mencabut singkong di sore hari, sementara Rara membantu menempelkan label sederhana yang dibuat Cantika dari kertas sisa sekolahnya yang bertuliskan: "Kripik Singkong Cantika".

***

Suatu sore, saat Cantika sedang beristirahat di bawah pohon rindang sambil mengusap peluh, ia menatap langit.

"Bapak, Cantika janji akan jaga Ibu dan adik-adik. Cantika nggak akan biarkan mereka lapar," bisiknya dalam hati.

Cantika menarik nafas dalam dalam menikmati semilir angin di bawah pohon rindang itu

Ia tidak pernah tahu, rutinitas berjualan keripik ini akan Berlangsung sampai kapan,didalam hatinya ia masih bercita -cita menjadi orang sukses walau hanya menjadi pengusaha kripik singkong .

1
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!