Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.
Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?
Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.
Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Yudha yang menyadari perubahan itu langsung bertanya cemas, "Mina? Kamu kenapa? Ada yang sakit?"
Mina tidak menjawab. Ia memegangi perutnya, wajahnya menunjukkan rasa sakit yang luar biasa, namun ia tampak sangat ragu untuk bicara.
Melihat gelagat itu, Yudha teringat kejadian serupa yang pernah dialami Luna dulu. Dengan nada canggung dan sangat pelan, ia berbisik, "Yun... apa... apa kamu sedang kedatangan 'tamu bulanan'?"
Mina terperanjat. Ia tak menyangka Yudha bisa menebak dengan begitu akurat apa yang sedang dialaminya. Wajahnya seketika merona merah padam karena malu; dibahas soal hal pribadi seperti itu di tempat umum oleh Yudha benar-benar menjadi momen yang tak terlupakan sekaligus canggung. Namun, pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk pasrah.
"Uh, aku punya cara untuk meredakan rasa sakitmu. Kamu mau aku bantu?" tanya Yudha sambil menatap Mina lekat-lekat.
Mina terkejut mendengar Yudha mengklaim punya solusi untuk masalah kewanitaan ini. Meski begitu, ia tidak menaruh curiga. Ia masih ingat betul 'keajaiban' yang dilakukan Yudha saat latihan militer tempo hari. Terlebih lagi, rasa nyerinya sudah tidak tertahankan, sementara jarak ke asrama putri masih cukup jauh. Tanpa pikir panjang, ia pun menyetujuinya.
Yudha membawa Mina menuju tepi lapangan olahraga yang suasananya relatif sepi, lalu memintanya duduk di atas rumput hijau yang lembut. Melihat Mina yang tampak gugup, Yudha menggelengkan kepala dalam hati dan membatin: Wanita memang terkadang merepotkan.
"Ba... bagaimana cara Kakak membantuku?" tanya Mina pelan sambil merebahkan tubuhnya di rumput. Ia menatap Yudha dengan ekspresi malu-malu yang kental.
Yudha tersenyum misterius. "Tutup matamu dan jangan pikirkan apa pun."
Mina tidak tahu apa yang akan dilakukan Yudha, tapi ia teringat saat latihan militer dulu, Yudha juga memintanya melakukan hal yang sama. Karena gugup, kelopak matanya tampak sedikit bergetar.
Tiba-tiba, sebuah ide jahil melintasi benak Yudha, dan senyum nakal terpancar di wajahnya. Ia berkata dengan nada yang sangat serius, "Ingat, kamu benar-benar dilarang membuka mata. Jika kamu membuka mata saat proses ini berlangsung, tidak hanya usahaku akan sia-sia, tapi itu juga bisa membahayakan tubuhmu sendiri!"
"I-iya! Kapten, aku mengerti," sahut Mina gentar mendengar gertakan Yudha. Ia pun segera mengangguk patuh dan memejamkan mata rapat-rapat.
Yudha tersenyum melihat tingkahnya; ia mendadak merasa Mina cukup menggemaskan. Sebenarnya, ia tidak yakin apakah mantra Cahaya Suci miliknya bisa menyembuhkan kram menstruasi. Mengingat mantra itu lebih efektif untuk luka fisik, ia memutuskan untuk menggunakan cara lain.
Meski mantra itu mungkin tidak langsung meredakan nyeri perutnya, Yudha melihat jerawat-jerawat kecil di wajah Mina dan mendapat ide lain. Ia menggerakkan tangannya, membelai lembut wajah gadis itu. Benar saja, sebuah keajaiban terjadi. Di bawah pancaran cahaya keemasan yang samar dari telapak tangan Yudha, jerawat di wajah Mina menghilang satu per satu dengan kecepatan yang bisa dilihat mata telanjang. Meski Mina merasakan sensasi sedikit gatal di wajahnya, ia tetap bertahan dan tidak berani membuka mata demi menuruti perintah Yudha.
Kini, wajah Mina yang sebelumnya dipenuhi jerawat kecil telah berubah total; kulitnya menjadi halus, putih bersih, dan tampak merona segar. Ia terlihat jauh lebih manis dari sebelumnya. Menatap bulu mata Mina yang panjang, Yudha tak tahan untuk tidak merunduk dan mengecup lembut pipi gadis itu. Meskipun merasakan sentuhan aneh di wajahnya, Mina tetap teguh memejamkan mata, percaya sepenuhnya bahwa Yudha sedang melakukan proses penyembuhan!
Melihat Mina yang masih setia menutup mata, Yudha sedikit tertegun. Apa gadis ini benar-benar percaya pada bualanku tadi? Senyum simpul kembali muncul di bibir Yudha.
Yudha segera menjernihkan pikirannya dari hal-hal yang tidak perlu. Mengikuti metode yang pernah ia gunakan untuk meredakan rasa sakit Luna sebelumnya, ia meletakkan telapak tangannya di perut Mina. Seketika, aliran energi hangat mengalir dari tangan Yudha ke dalam tubuh gadis itu. Di bawah kendali tekad Yudha, energi itu terus memperbaiki akar penyebab rasa sakit di rahimnya.
Namun, Yudha tidak sepenuhnya fokus saat ini. Tangannya bersandar tepat di perut bagian bawah Mina yang sensitif; tekstur kulit yang lembut dan kenyal itu merambat jelas melalui saraf-sarafnya, memicu hawa panas yang sulit digambarkan di dalam dirinya. Tak kuasa menahan dorongan instingnya, jemari Yudha perlahan bergerak sedikit ke bawah, menjelajahi area yang lebih pribadi. Merasakan lekukan yang masih tertutup pakaian namun begitu nyata, tangan Yudha gemetar seolah tersengat aliran listrik.
"Hmm...!" Begitu area sensitifnya tersentuh, tubuh Mina tidak bisa menahan getaran halus yang menjalar ke seluruh sarafnya.
Yudha kembali mencuri pandang ke wajah gadis itu. Rona merah kini telah menjalar hingga ke telinga Mina, namun ia tetap setia memejamkan mata. Keberanian Yudha pun semakin membuncah. Jemarinya mulai menjelajah dengan lebih berani, sementara tangan lainnya mendaki perlahan menyusuri lekuk tubuh Mina, hingga akhirnya berlabuh di bagian dadanya. Meski terhalang kain, Yudha bisa merasakan kekencangan dan elastisitas yang memberikan sensasi kenikmatan yang sulit ia tolak.
Meskipun bagian dada Mina tidak terlalu menonjol, bentuknya yang mungil dan kencang memberikan daya tarik tersendiri bagi Yudha. Terutama di titik-titik paling sensitif yang kini menjadi pusat penjelajahan jemarinya.
Melihat wajah Mina yang semakin memerah, Yudha sadar betapa lugunya gadis ini. Tiba-tiba saja sekelebat rasa bersalah muncul di benaknya. Namun, rangsangan yang begitu nyata membuat 'kebanggaan' Yudha mulai bangkit dan menuntut perhatian.
Sial! Kalau diteruskan, aku tidak mungkin menyelesaikannya di sini, batin Yudha. Meski ia menganggap dirinya cukup liar, ia belum senekat para aktor skandal yang berani berhubungan intim di ruang terbuka seperti ini.
"Sudah selesai," ujar Yudha kemudian. Ia berusaha keras menekan gejolak nafsu yang mendesaknya untuk menerkam gadis yang kini benar-benar berada di bawah kendalinya itu.
Merasakan napas Mina yang semakin memburu, Yudha tahu lapangan ini bukanlah tempat yang tepat untuk "bertempur". Ia hanya bisa menyusun rencana kapan saat yang pas untuk benar-benar menaklukkannya. Sejujurnya, meski ia mengenal banyak gadis, hanya dua orang yang benar-benar pernah menjalin hubungan intim dengannya. Luna adalah pacar resminya, namun prinsip gadis itu terlalu teguh untuk menyerahkan segalanya dalam waktu dekat.
Mina perlahan membuka matanya. Ia menatap Yudha dengan binar terkejut sekaligus lega. "Kapten, sudah selesai?"
Yudha memberikan senyum misterius yang penuh arti. "Rasakan saja sendiri, apa masih sakit?"
Mendengar itu, Mina mencoba merasakannya. Benar saja, rasa nyeri di perut bawahnya telah sirna tanpa bekas. Apa yang dilakukan Kak Yudha tadi memang murni pengobatan? Meski sempat ragu karena gerakan tangan Yudha yang terasa sangat berlebihan, fakta bahwa rasa sakitnya hilang seketika menghapus semua kecurigaan Mina. Tatapan memuja kini tertuju lurus ke arah Yudha.