NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Aroma Kertas dan Konversasi di Balik Jendela

Lonceng tanda istirahat bergaung nyaring, seolah membebaskan ratusan jiwa muda dari kungkungan ruang kelas. Kantin SMA Bangsa seketika disesaki oleh riuh rendah suara percakapan, denting sendok yang beradu dengan mangkuk, dan gelak tawa. Di sudut paling ujung, tempat yang seakan telah diklaim secara tak tertulis oleh kelompok Jenawa, suasana tak kalah bising. Seno dan kawan-kawan lainnya tengah asyik membicarakan siasat balasan untuk anak-anak SMA Pelita.

Namun, pikiran Jenawa sedang tidak berada di sana. Pemuda yang biasanya paling bersemangat merencanakan serangan balasan itu kini hanya duduk diam, mengaduk-aduk es tehnya tanpa minat. Pandangannya menerawang jauh melewati hiruk-pikuk kantin. Kejadian di lorong pagi tadi terus berputar layaknya pita kaset yang kusut di dalam kepalanya. Tatapan tajam, wangi melati yang samar, dan untaian kalimat baku nan lugas dari gadis bernama Sinaca itu telah menanamkan sebuah rasa penasaran yang pekat.

"Kau mendengarkan tidak, Wa?" tegur Seno, membuyarkan lamunan Jenawa. "Sore ini kita kumpul di warung simpang tiga. Kita tidak bisa membiarkan anak Pelita lewat begitu saja setelah kejadian kemarin."

Jenawa meletakkan sedotannya. Ia bangkit berdiri, meraih jaket almamaternya yang tersampir di sandaran kursi. "Kalian atur saja dulu. Aku ada urusan sebentar," ucapnya singkat.

Tanpa memedulikan raut kebingungan kawan-kawannya, Jenawa melangkah meninggalkan kantin. Langkah kakinya tak terarah ke lapangan basket atau belakang sekolah tempat ia biasa menghabiskan waktu, melainkan menuju sebuah ruangan yang paling jarang ia singgahi: perpustakaan.

Aroma khas kertas tua dan debu halus menyambut indra penciumannya begitu ia mendorong pintu ganda perpustakaan. Kesunyian di dalam sana berbanding terbalik dengan gemuruh di kantin. Jenawa menyusuri deretan rak buku yang menjulang tinggi, matanya awas mencari sesosok figur yang sejak pagi menguasai benaknya.

Di sudut ruangan, di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke taman belakang sekolah, ia menemukan gadis itu. Sinaca Tina duduk dengan postur tegak yang tak berubah, tenggelam dalam lembaran buku tebal bersampul usang. Cahaya matahari yang mengintip dari balik awan mendung membingkai siluet wajahnya, memberikan kesan damai yang tak pernah Jenawa temui di jalanan.

Dengan langkah perlahan agar tak memecah keheningan, Jenawa menghampiri meja tersebut dan menarik kursi tepat di seberang Sinaca. Suara derit pelan kaki kursi bergesekan dengan lantai membuat gadis itu mengangkat wajahnya.

Tidak ada raut terkejut di wajah Sinaca. Ia menatap Jenawa dengan tenang, lalu menutup bukunya seraya menyelipkan pembatas halaman.

"Apakah perpustakaan kini beralih fungsi menjadi markas bagi kelompokmu, Saudara Jenawa?" sapa Sinaca. Suaranya pelan, namun nadanya mengisyaratkan sebuah ketegasan yang sama seperti perjumpaan pertama mereka.

Jenawa menyandarkan punggungnya, menyunggingkan senyum miring yang biasanya ampuh membuat siswi-siswi lain tersipu. "Markasku ada di mana pun aku berada, Sinaca. Namun, untuk hari ini, sepertinya aku lebih tertarik pada ketenangan di sini." Ia menjeda kalimatnya, menatap judul buku yang ada di hadapan gadis itu. "Atau mungkin, aku lebih tertarik pada apa yang sedang kau baca."

Sinaca tidak membalas senyuman itu. "Saya meragukan hal tersebut. Seseorang yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan adu kekuatan fisik, agaknya akan cepat bosan dengan deretan aksara yang tak bersuara."

"Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan," balas Jenawa, condong sedikit ke depan, menumpukan sikunya di atas meja. "Aku memang pandai berkelahi, itu tak bisa kutampik. Di jalanan, kata-kata sering kali tidak ada harganya. Namun, bukan berarti aku tidak bisa menghargai seseorang yang bertutur kata baik sepertimu."

Mendengar hal itu, ada kilat kecil di mata Sinaca. Gadis itu merapikan posisi duduknya, menatap lurus ke dalam manik mata Jenawa. "Bertutur kata baik tidaklah cukup bila tindakan yang menyertainya justru membawa kerusakan. Kekerasan yang kalian banggakan itu bukanlah sebuah wujud kejantanan, melainkan pelarian dari ketidakmampuan berdialog secara beradab."

Kalimat itu menohok ulu hati Jenawa bak pukulan telak. Belum pernah ada yang berani menasihatinya sekeras itu secara langsung, apalagi seorang perempuan. Alih-alih marah, dada Jenawa justru berdesir. Terdapat kejujuran yang telanjang dalam setiap kata yang diucapkan Sinaca.

"Kau gadis yang keras kepala," gumam Jenawa, kekaguman tanpa sadar menyusup ke dalam nada suaranya.

"Saya menyebutnya sebagai pendirian teguh," koreksi Sinaca dengan santun. Ia kemudian meraih bukunya, bersiap untuk beranjak. "Bel masuk akan segera berbunyi. Saya rasa konversasi ini sudah cukup untuk hari ini. Permisi."

Tanpa menunggu balasan Jenawa, Sinaca melangkah pergi, meninggalkan pemuda itu duduk sendirian di meja sudut. Jenawa menatap kepergiannya dengan seulas senyum yang tak bisa ia sembunyikan. Di tengah aroma kertas dan debu perpustakaan, ia baru menyadari satu hal yang pasti: menaklukkan barisan anak SMA Pelita terasa jauh lebih mudah dibandingkan meruntuhkan dinding pertahanan seorang Sinaca Tina. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Jenawa, ia bersedia untuk berjuang demi sesuatu yang tidak melibatkan kepalan tangan.

1
Purnamanisa
badboy nih... seru keknya 😁😁
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!