NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:894
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

"Aku jual diri demi 1 Miliar Emas, tapi aku TIDAK JUAL HARGADIRI!"

Lin Qingyan menerima pernikahan kontrak dengan pria lumpuh tak berdaya demi menyelamatkan keluarganya. Semua orang menertawakan dia, mengira dia akan hidup menderita selamanya.

Tapi siapa sangka? Di balik tubuh lemah itu tersembunyi sosok Raja Dunia yang paling ditakuti! Dan dia hanya tunduk pada satu wanita: Lin Qingyan!

Siapa berani meremehkan istri kontrak ini? Bersiaplah digilas habis! Karena aku bukan wanita biasa, aku adalah Ratu yang akan menguasai segalanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Darah di Atas Salju Abadi

# 📖 BAB 30: Darah di Atas Salju Abadi

Udara di lereng pegunungan Alpen kini terasa lebih tajam daripada silet, menusuk hingga ke sumsum tulang. Bau besi yang amis dari darah segar yang tumpah ke atas salju putih menciptakan pemandangan yang mengerikan, seolah alam sedang melukis tragedi di atas kanvas yang suci. Di bawah sorotan lampu helikopter yang berputar liar di langit, menciptakan bayangan-bayangan hitam yang bergerak cepat, Gu Beichen berdiri bagaikan dewa kematian yang turun dari mitologi kuno.

Dua bilah pedang hitam di tangannya meneteskan cairan pekat, namun napasnya tetap teratur, dingin, dan mematikan. Tidak ada keraguan di matanya. Setiap embusan napasnya mengeluarkan uap putih yang langsung menghilang ditelan badai salju. Di belakangnya, Lin Qingyan mendekap erat anak-anaknya di balik perlindungan sebuah batu granit raksasa. Tubuh Qingyan bergetar, bukan hanya karena suhu ekstrem yang mencapai minus sepuluh derajat, tetapi karena kengerian yang ia saksikan. Ia mematuhi kata-kata suaminya untuk menutup mata Chenyu, namun ia sendiri tidak bisa memalingkan wajah. Ia harus melihat sosok yang selama ini ia cintai sebagai suami lembut dan ayah yang penyabar, kini menjelma menjadi mesin pembunuh paling efisien yang pernah diciptakan oleh tangan manusia.

### ⚔️ Duel Para Wanita: Harga Sebuah Obsesi

"Mo Ran! Keluar kau, Jalang! Jangan bersembunyi di balik punggung pria-pria malang ini!" teriak Qingyan, suaranya membelah kebisingan badai dan deru mesin helikopter.

Ia tidak lagi ingin hanya menjadi beban yang dilindungi. Rasa sakit di lengannya yang tertembak dan luka gores di pipinya seolah menjadi bahan bakar bagi api amarahnya. Sebagai seorang ibu, insting pelindungnya telah mencapai titik didih yang melampaui rasa takutnya akan kematian.

Mo Ran melangkah keluar dari balik barisan tentara klan yang tampak ragu-ragu. Ia menyeringai, sebuah ekspresi yang tampak gila di bawah cahaya remang-remang. Matanya yang tajam menyiratkan rasa iri yang mendalam—iri pada kehidupan domestik yang dimiliki Qingyan, iri pada cinta tulus yang diberikan Beichen kepada wanita "biasa" ini.

"Kau ingin bermain, Nyonya Gu? Mari kita lihat apakah keberanianmu sebanding dengan mulut besarmu yang berisik itu," sapa Mo Ran sinis.

Tanpa aba-aba, ia menerjang dengan kecepatan yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang sejak janin telah dimodifikasi di laboratorium klan.

Mo Ran mengayunkan belati beracunnya dengan gerakan melingkar yang mengincar leher Qingyan. Namun, Qingyan tidak lagi panik seperti saat di Pulau Phoenix. Ia mengingat setiap detik latihan bela diri yang pernah diajarkan Beichen sebagai "olahraga pagi" yang dulu ia anggap hanya candaan. Qingyan merunduk dengan presisi, membiarkan serangan Mo Ran lewat hanya beberapa inci di atas kepalanya, lalu ia menghantamkan pangkal pistolnya ke ulu hati Mo Ran dengan sekuat tenaga.

"Ini untuk setiap malam aku ketakutan karena ulahmu! Dan ini untuk bayi-bayiku yang kau ancam!" teriak Qingyan.

Pertarungan itu berubah menjadi pergulatan fisik yang brutal di atas salju. Keduanya berguling, saling cakar, dan saling pukul. Mo Ran mungkin lebih terlatih, tetapi Qingyan memiliki kekuatan dari keputusasaan seorang ibu. Ia berhasil meraih rambut Mo Ran dan menghantamkan kepala wanita itu ke bongkahan es, menciptakan retakan merah yang kontras.

### 🐉 Amukan Sang Naga Perak

Sementara itu, Beichen sedang menghadapi Viktor dan dua puluh anggota pasukan elit "Shadow Guard". Viktor, yang dulunya adalah kawan seperjuangan Beichen di medan perang Timur Tengah, kini menatapnya dengan mata penuh kepedihan.

"Maafkan aku, Beichen! Mereka akan membunuh istri dan anak-anakku jika aku tidak membawa 'Mata Kristal' itu hari ini!" raung Viktor sambil melepaskan tembakan beruntun dari senapan otomatisnya.

Beichen bergerak dengan gerakan yang hampir mustahil ditangkap mata manusia. Ia tidak berlari lurus; ia bermanuver di antara pepohonan pinus, menggunakan setiap batang pohon sebagai pelindung sementara. Saat ia mencapai jarak serang, Beichen tidak menggunakan peluru. Ia lebih suka merasakan sensasi logam pedangnya menembus baju zirah musuh.

Denting baja bertemu baja menggema di lereng gunung. Beichen adalah badai di dalam badai. Dalam satu gerakan memutar, ia mematahkan pergelangan tangan dua penyerang dan mengirim mereka terjatuh ke jurang sedalam ratusan meter. Saat ia akhirnya berhadapan satu lawan satu dengan Viktor, Beichen menghentikan pedangnya tepat satu milimeter dari jakun Viktor.

"Kau mengkhianati kepercayaan yang aku bangun dengan darah, Viktor," desis Beichen. Suaranya rendah, namun menggetarkan udara di sekitar mereka.

"Keluargamu sudah diamankan oleh tim Phoenix yang setia dua jam yang lalu di perbatasan Zurich. Kau berkhianat untuk alasan yang sudah tidak ada. Kau hanya pion yang dibuang oleh klan."

Mata Viktor membelalak, air mata mulai membeku di pipinya.

"A-apa? Kau menyelamatkan mereka?"

"Aku bukan bagian dari klan yang memperlakukan nyawa sebagai angka. Aku adalah Gu Beichen," jawab Beichen dingin. Ia memutar gagang pedangnya dan menghantamkannya ke pelipis Viktor hingga pria itu jatuh pingsan di atas salju.

"Commander, bawa dia. Biarkan dia hidup dalam penyesalan bahwa ia hampir membunuh anak dari pria yang menyelamatkan keluarganya."

### 🌑 Kebenaran yang Menyayat Jiwa

Di tengah kemenangan kecil itu, sebuah cahaya biru raksasa tiba-tiba memancar dari sebuah perangkat satelit portabel yang dijatuhkan oleh helikopter klan. Proyeksi hologram setinggi lima meter muncul di tengah medan tempur, menampilkan wajah Tetua Agung yang sedang duduk tenang di singgasana batu di markas pusat

.

"Sangat mengesankan, Longwei. Kau menghancurkan 'Shadow Guard'-ku seperti memotong rumput," suara Tetua Agung menggema, sangat jernih meski di tengah badai.

"Kau menyelamatkan istrimu dan mengampuni pengkhianatmu. Tapi kau lupa satu hukum alam dalam klan kita: Pemilik sejati selalu memiliki kunci cadangan."

Beichen menatap hologram itu dengan kebencian yang murni. "Apa lagi permainanmu, orang tua bangka?"

"Lihatlah ke langit," perintah Tetua Agung.

Di ruang angkasa, satelit militer milik Klan Tua telah mengunci koordinat GPS di lereng tersebut. Namun, mereka tidak menembakkan misil. Mereka melepaskan gelombang frekuensi infrasonik yang tidak terdengar oleh manusia dewasa, namun memiliki resonansi khusus dengan *nanobots* yang tertanam di dalam darah Naga.

Tiba-tiba, bayi Qingyu yang berada di dekapan Qingyan menjerit dengan suara yang menyayat hati. Bayi itu meronta hebat. Mata kristalnya yang semula jernih kini mulai bersinar dengan cahaya perak yang menyilaukan, hampir seperti bohlam yang akan pecah. Pembuluh darah kecil di pelipis bayi malang itu menonjol keunguan.

"Qingyu! Ada apa, Sayang?! Beichen, tolong!" Qingyan panik luar biasa. Ia mencoba menutup mata bayinya dengan telapak tangan, namun suhu tubuh Qingyu mendadak meningkat drastis hingga terasa membakar kulit Qingyan.

"Itu adalah 'Sinyal Aktivasi'," jelas Tetua Agung dari hologramnya dengan nada tanpa dosa.

"Jika kau tidak membawa anak itu kepadaku dalam waktu dua puluh empat jam untuk menjalani prosedur stabilisasi di laboratorium pusat, energi yang dilepaskan oleh matanya akan membakar korteks serebralnya sendiri. Dia akan mati dalam kondisi yang sangat menyakitkan, Beichen. Dia akan mati sebagai lilin yang terbakar habis dari dalam."

Beichen terpaku. Pedang hitamnya jatuh, menancap di salju. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai prajurit legendaris, ia merasakan kakinya lemas.

"Kau... kau menanamkan mekanisme penghancuran diri pada cucumu sendiri?"

"Dia bukan cucuku. Dia adalah puncak dari eksperimen tiga puluh tahun. Dia adalah aset yang tidak boleh dimiliki oleh siapa pun jika tidak bisa kumiliki," jawab Tetua Agung.

"Pilihannya sederhana, Longwei. Biarkan dia mati di pelukan ibunya sebagai manusia biasa, atau bawa dia padaku agar dia menjadi dewi yang abadi.

### 🏔️ Janji di Tengah Badai

Badai salju semakin menggila, seolah-olah semesta pun tidak sanggup menyaksikan kekejaman ini. Mo Ran yang terluka parah berhasil merangkak dan ditarik masuk ke dalam helikopter klan yang tersisa. Sambil terbang menjauh, ia memberikan tatapan kemenangan terakhirnya kepada Qingyan.

Beichen berlutut di samping istrinya yang sedang menangis tersedu-sedu sambil mendekap bayi mereka yang mulai melemah. Tangan Beichen yang biasanya mampu mematahkan besi, kini gemetar saat menyentuh dahi putrinya yang panas membara.

"Beichen... lakukan sesuatu... tolong jangan biarkan dia pergi," isak Qingyan, matanya menatap Beichen dengan penuh permohonan.

Beichen merogoh saku jaketnya, menggenggam *flash drive* pemberian ibunya. Ia tahu apa yang ada di dalamnya—kode dekripsi untuk mematikan sinyal itu—namun kode tersebut hanya bisa dimasukkan melalui terminal utama di jantung markas klan. Markas yang dijaga oleh ribuan tentara dan sistem keamanan paling canggih di dunia.

"Qingyan, dengarkan aku baik-baik," Beichen memegang wajah istrinya dengan penuh kasih, mencoba memberikan kekuatan yang tersisa di dalam dirinya.

"Aku akan membawa dia ke sana. Aku akan membawa Qingyu kembali ke markas pusat."

"Tidak! Mereka akan mengambilnya darimu!" teriak Qingyan.

"Tidak akan. Aku pergi bukan untuk menyerahkan dia, tapi untuk menghancurkan sistem mereka dari dalam. Aku akan menggunakan kode dari Ibu untuk membebaskan Qingyu selamanya," Beichen berdiri, tatapannya kini berubah. Mata hitamnya perlahan-lahan mulai berubah menjadi perak, persis seperti mata putrinya. Sinyal dari satelit itu ternyata juga mengaktivasi sel-sel dorman di dalam tubuh Beichen.

"Aku ikut denganmu!" tegas Qingyan sambil mencoba berdiri.

"Tidak, Sayang. Kau harus membawa Chenyu dan Chenfeng bersama Commander Phoenix. Pergilah ke koordinat aman di Islandia. Jika dalam empat puluh delapan jam aku tidak mengirim kabar..."

Beichen terdiam sejenak, menelan ludah yang terasa pahit.

"...maka hiduplah dengan baik bersama anak-anak kita. Lupakan pria bernama Gu Beichen."

"Jangan bicara seperti itu! Kau harus kembali!"

Beichen mencium kening istrinya untuk waktu yang lama, seolah ingin menyimpan rasa itu selamanya. Ia mengambil Qingyu ke dalam dekapannya, membungkusnya dengan jubah taktisnya yang hangat. Dengan langkah berat namun pasti, ia berjalan menuju helikopter Phoenix yang sudah siap lepas landas ke arah yang berlawanan.

"Sayang!" panggil Beichen satu kali lagi sebelum naik.

"Ingatlah, Naga tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya menunggu waktu untuk membakar seluruh dunia."

Helikopter itu terbang membelah badai, membawa Beichen menuju sarang serigala. Di bawah sana, Qingyan berdiri di tengah hamparan salju yang merah, menatap bayangan helikopter yang perlahan menghilang. Di tangannya, ia menggenggam lencana perak milik Beichen yang terjatuh. Perang ini baru saja mencapai puncaknya, dan dunia tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini.

**BERSAMBUNG KE BAB 31**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!