Raisa anak kedua dari keluarga dengan ibu tunggal bernama Sri, Sri telah lama menjadi tulang punggung keluarga setelah suami nya meninggal saat Raisa masih kecil.
Kakak nya yang lebih tua bernama Ratna menikah dengan Rio dari keluarga yang berada.
masalah muncuk ketika Ratna dan Rio yang sudah lima tahun menikah masih belum juga memiliki keturunan karna kesuburan Ratna kurang,, tekanan yang di berikan keluarga Rio membuat Ratna memiliki niat untuk membuat Raisa hamil anak suami nya ..
Niatan itu di ungkap kan Ratna kepada ibu dan adik nya walau pun tanpa sepengetahuan suami nya sendiri..
Apa yang harus di lakukan Raisa untuk bisa membantu kesulitan Ratna kakak nya,, Apa dia akan menerima nya dan setuju menjadi pelakor apa menolak nya..?
Jangan lewatkan cerita nya untuk mengetahui kelanjutan nya🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti_1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 10: "RAHASIA YANG TERSEMBUNYIKAN"
*****
Hari itu pagi hari yang cerah. Ratna sedang beristirahat di ruang tamu setelah sarapan, sementara Rio sibuk mempersiapkan bekal makan siang untuk Raisa yang akan pergi kuliah. Dia dengan cermat menyusun makanan dalam kotak makan—memisahkan sayuran, lauk, dan buah dengan rapi, bahkan menambahkan catatan kecil dengan pesan semangat di atasnya.
“Rio, kamu terlalu memperhatikan Raisa ya,” ucap Ratna dengan senyum tersenyum. “Seperti kamu sedang merawat anak sendiri.”
Rio terkejut sejenak lalu tersenyum pelan. “Dia kan adikmu, sayang. Dan sejak kamu sedang dalam kondisi seperti ini, aku merasa harus membantu merawatnya dengan baik. Selain itu, kuliahnya juga tidak mudah, pastinya butuh dukungan.”
Setelah mengantar Raisa ke kampus, Rio berangkat ke kantor. Namun perhatiannya tampaknya tidak sepenuhnya pada pekerjaan. Dia sering melihat ponselnya, menyimpan pesan singkat untuk mengingatkan Raisa agar makan siang tepat waktu. Pak Hendra yang melihatnya merasa heran.
“Rio, kamu tidak sedang khawatirkan Bu Ratna kan? Sudah kubilang kan, kita bisa memberikan cuti jika kamu perlu menemani dia,” ucap Pak Hendra dengan perhatian.
“Tidak, Pak. Bu Ratna dalam kondisi baik. Cuma khawatirkan Raisa saja, dia baru saja mulai kuliah dan mungkin masih belum terbiasa,” jawab Rio dengan sedikit tergesa-gesa.
Saat jam pulang kerja tiba, Rio langsung pergi ke kampus untuk menjemput Raisa. Dia membawa jus buah segar dan camilan sehat yang sudah disiapkan sebelumnya. Raisa keluar dari gedung kuliah dengan wajah yang sedikit lesu.
“Kak Rio, kamu tidak perlu selalu menjemput aku kok. Aku bisa pulang sendiri dengan angkot,” ucap Raisa dengan rasa terima kasih yang mendalam.
“Sudah tidak apa-apa, Ras. Kamu pasti capek setelah kuliah seharian. Coba minum jus ini dulu ya,” jawab Rio sambil memberikan gelas jus mangga yang masih segar.
Saat mereka sedang dalam perjalanan pulang, mobil mereka terjebak macet. Rio melihat Raisa yang mulai menguap dan segera mengambil bantal kecil dari bagasi untuknya. “Coba tidur sebentar saja, Ras. Nanti aku akan bangunkannya kalau sudah sampai rumah.”
Raisa mengangguk dan segera tertidur dengan kepalanya menyandar pada jendela mobil. Rio melihatnya dengan pandangan yang penuh perhatian—menyesuaikan posisi bantal agar dia bisa tidur dengan nyaman, bahkan menurunkan suhu AC sedikit demi kenyamanannya. Hatinya tiba-tiba terasa geli dan sedikit terkejut dengan perhatian yang dia berikan jauh lebih dari yang seharusnya.
Apa yang terjadi dengan diriku? pikir Rio dalam hati. Raisa adalah adik istriku. Aku hanya perlu merawatnya karena Ratna memintaku melakukannya.
Dia segera menepis pikiran itu dan fokus pada jalanan yang mulai lancar kembali.
Beberapa hari kemudian, Ratna merasakan kontraksi ringan dan dokter menyarankan agar dia tinggal di rumah sakit untuk pemantauan lebih dekat. Rio semakin sibuk—bolak-balik antara rumah sakit, kantor, dan menjemput-antar Raisa dari kampus.
Saat menjemput Raisa satu malam hari, mereka berhenti di sebuah kedai kopi kecil untuk makan malam karena belum punya waktu memasak. Di bawah cahaya lampu yang hangat, Rio melihat betapa cantiknya wajah Raisa saat dia tertawa mendengar cerita teman sekelasnya melalui telepon. Ada sesuatu di dalam hatinya yang bergetar, sesuatu yang dia coba keras untuk mengabaikan.
“Kak Rio, kamu tidak makan ya?” tanya Raisa yang melihat Rio hanya diam dan menatapnya.
“Ah, iya. Maaf ya, Ras. Aku sedang berpikir tentang kondisi kakakmu,” jawab Rio dengan cepat dan segera mengambil sendok untuk makan.
Setelah makan, mereka pulang dan Rio membantunya mengerjakan tugas kuliah. Dia dengan sabar menjelaskan materi yang Raisa belum mengerti, bahkan membantu mengumpulkan referensi untuk makalahnya. Saat Raisa sedang fokus mengetik di depan komputer, Rio melihatnya dengan pandangan yang penuh perhatian dan rasa sayang yang tidak bisa dia sangkal lagi.
Namun segera setelah itu, dia berdiri dengan tergesa-gesa. “Aku harus pergi ke rumah sakit sekarang, Ras. Mungkin kakakmu sedang merindukanku. Kamu istirahat ya setelah selesai tugasmu.”
Di rumah sakit, Rio melihat Ratna yang sedang tidur nyenyak. Dia duduk di sisi ranjang dan memegang tangannya dengan erat. Hatinya merasa bersalah karena memiliki perasaan yang tidak pantas terhadap adik istri sendiri.
Aku mencintai Ratna dengan sepenuh hati, bisik Rio dalam hati sambil menatap wajah istri yang sedang tidur. Raisa adalah keluarga kita, dan aku hanya bisa melihatnya sebagai adik sendiri. Tidak ada yang lebih dari itu.
Keesokan paginya, Rio mencoba untuk menjaga jarak sedikit dari Raisa. Dia menyuruhnya untuk pulang sendiri dari kampus dan tidak lagi membuat bekal makan siang seperti biasa. Raisa merasa sedikit kebingungan dan sedih dengan perubahan sikap Rio.
“Saya apa ya, Kak Rio? Apakah saya melakukan kesalahan sehingga kamu tidak mau memperhatikan saya lagi?” tanya Raisa dengan suara sedikit meratap saat Rio sedang akan pergi ke kantor.
Rio merasa hatinya seperti ditusuk. Dia ingin menjelaskan tapi tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. “Tidak ada yang salah denganmu, Ras. Cuma aku sedang sedikit kesusahan dengan pekerjaan dan khawatirkan kakakmu saja. Kamu baik-baik saja ya.”
Setelah pergi dari rumah, Rio mengemudi dengan pikiran yang kacau. Di kantor, dia bekerja dengan sangat keras untuk mengalihkan perhatiannya. Namun saat Pak Hendra memberitahu bahwa Raisa telah datang untuk memberitahu bahwa kondisi Ratna sedikit memburuk, Rio langsung berdiri dan melihatnya dengan pandangan yang penuh perhatian yang tidak bisa dia sembunyikan.
Raisa melihat Rio dengan mata yang penuh kekhawatiran dan rasa sayang. Ada sebuah pemahaman tanpa kata-kata di antara mereka berdua, namun Rio segera menghindari pandangannya dan mengambil jasnya untuk pergi ke rumah sakit.
Aku harus menjaga hati ini, pikir Rio sambil mengemudi cepat menuju rumah sakit. Untuk Ratna, untuk keluarga, dan untuk Raisa sendiri. Perasaan ini harus aku tepis dengan segala cara.
Di rumah sakit, Ratna sudah sadar dan menunggu kedatangan Rio. Dia melihat wajah Rio yang penuh kekhawatiran dan juga melihat bagaimana dia memperhatikan Raisa yang berdiri di belakangnya. Ada sebuah kesadaran yang muncul dalam hati Ratna—bahwa mungkin ada sesuatu yang sedang terjadi yang tidak dia ketahui.
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...