"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29.Malam menegangkan dan libur yang berbeda.
Malam semakin larut, cahaya lampu jalan yang redup hanya mampu menerangi sebagian kecil jalanan sepi di pinggiran kota. Angin malam bertiup cukup kencang, menggoyangkan dedaunan di pinggir jalan hingga menimbulkan suara gemerisik yang membuat suasana terasa semakin sunyi dan mencekam. Seorang gadis berjalan terburu-buru sendirian di trotoar yang hampir tak ada orangnya. Ia mengenakan seragam sekolah berwarna putih abu-abu yang sama persis dengan yang biasa dikenakan Salsa, lengkap dengan tas punggung yang tergantung di bahunya. Langkah kakinya sedikit tergesa, wajahnya tampak lelah namun juga sedikit cemas karena hari sudah semakin malam dan ia harus pulang melewati jalan yang sepi ini.
"Seharusnya aku tidak ketiduran di perpustakaan tadi... dasar aku ini, jadi harus pulang selarut ini," gumamnya pelan, berbicara sendiri sambil meremas tali tas punggungnya lebih erat.
Gadis itu sama sekali tidak menyadari, bahwa sejak ia berpisah dari teman-temannya di ujung jalan tadi, ada sosok bayangan gelap yang diam-diam bergerak mengikutinya dari kejauhan. Sosok itu berjalan sangat hati-hati, selalu bersembunyi di balik tiang listrik, pepohonan besar, atau sudut bangunan tua agar tidak terlihat. Pergerakannya begitu halus dan senyap, persis seperti predator yang sedang mengintai mangsannya dalam diam. Semakin lama, jarak antara sosok misterius itu dengan gadis sekolah itu semakin menyempit. Napas orang itu terdengar berat namun tertahan, matanya menatap tajam ke arah punggung gadis itu, penuh dengan niat jahat yang tersembunyi di balik kegelapan malam.
"Satu... dua... semakin dekat," bisik sosok itu dengan suara serak dan rendah, hampir tak terdengar, bibirnya menyeringai membentuk senyum menyeramkan.
Saat mereka memasuki bagian jalan yang paling sepi, di mana cahaya lampu jalan justru mati total dan hanya diterangi sinar rembulan yang tertutup awan, sosok itu mulai berani melangkah lebih cepat. Kakinya yang panjang melangkah lebar, mendekat perlahan namun pasti hingga kini ia sudah berada tepat di belakang gadis itu, hanya berjarak beberapa langkah saja. Angin malam bertiup lagi lebih kencang, membuat gadis itu sedikit merinding dan merasa ada sesuatu yang tidak beres. Instingnya mulai bekerja, rasa ngeri tiba-tiba merayap di sekujur tulang punggungnya.
"Ada apa ini... kok rasanya ada yang mengawasi?" batinnya mulai gelisah. Perlahan, dengan hati-hati dan rasa takut yang mulai menyelinap, ia berniat untuk berbalik melihat ke belakang.
Namun, semuanya sudah terlambat.
Baru saja tubuhnya berputar setengah dan mulutnya terbuka hendak berteriak, "Siapa—" sosok bayangan itu sudah melompat maju dengan gerakan secepat kilat. Sebuah tangan besar dan kasar dengan cepat menutup rapat mulut dan hidung gadis itu, memotong suaranya seketika.
"Diam saja... jangan berisik, semuanya akan cepat selesai," desis orang itu tepat di telinganya, nada suaranya dingin dan mengerikan.
Gadis itu berusaha meronta sekuat tenaga, kakinya menendang-nendang ke udara, tangannya mencoba mencakar dan melepaskan cengkeraman kuat yang mengurungnya. Namun tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan orang yang menahannya itu.
"Ssstt... jangan meronta, percuma saja," ucap orang itu lagi sambil mempererat pelukannya hingga tubuh gadis itu semakin lemas. Tak lama kemudian, mata gadis itu terpejam perlahan, dan ia pun jatuh pingsan tak berdaya di dalam pelukan orang asing itu.
Sosok misterius itu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan waspada, memastikan tidak ada siapa pun yang melihat kejadian itu. Setelah merasa aman, ia segera menyeret tubuh gadis itu yang sudah tak sadarkan diri ke arah pinggir jalan. "Ayo, kita pergi dari sini," gumamnya pada dirinya sendiri.
Ia mendekat ke sebuah mobil sedan berwarna gelap yang mesinnya sudah menyala dan terparkir diam di balik semak-semak. Pintu mobil terbuka sedikit, dan dengan gerakan cepat, tubuh gadis itu dimasukkan ke dalam kursi belakang, ditutupi dengan selimut tebal agar tidak terlihat dari luar. Detik berikutnya, mobil itu melaju perlahan, kemudian mempercepat kendaraannya hingga menghilang ditelan kegelapan malam, meninggalkan jalanan yang kembali sunyi senyap seolah tidak pernah terjadi apa-apa di sana.
Matahari pagi bersinar cerah menembus celah-celah jendela, menerangi setiap sudut ruangan di rumah sederhana milik Rian itu. Hari itu adalah hari Sabtu, hari libur sekolah maupun kantor. Hubungan antara Salsa dan Rian kini berjalan jauh lebih baik dan nyaman dibandingkan saat awal pernikahan mereka yang dipaksakan itu. Tidak ada lagi rasa canggung atau rasa sungkan yang berlebihan di antara keduanya. Meski ikatan pernikahan ini bermula hanya demi memenuhi wasiat kakek Salsa dan perjanjian lama kedua keluarga, keduanya perlahan mulai terbiasa hidup bersama di bawah satu atap.
Memang harus diakui, belum ada percikan asmara atau kata-kata manis yang terucap di antara mereka. Tidak ada kemesraan layaknya suami istri pada umumnya. Hubungan mereka lebih mirip seperti dua orang teman baik, atau kakak dan adik yang tinggal bersama, saling menghormati, saling menjaga, dan saling membantu satu sama lain. Rian sangat menghargai privasi Salsa, begitu juga sebaliknya. Mereka berdua memahami peran masing-masing dan menjalani hari-hari dengan damai.
Namun, pagi hari libur ini terasa sedikit berbeda dari biasanya.
Di ruang tamu, suasana masih terasa hening dan tenang. Rian duduk di sofa panjang yang empuk, di depannya terdapat meja kecil tempat ia meletakkan laptop yang sedang menyala. Biasanya di hari libur seperti ini, Rian akan menghabiskan waktunya untuk beristirahat, berolahraga, atau membereskan perlengkapannya. Tapi hari ini, entah mengapa, ia justru duduk diam di sana, menatap layar laptopnya yang penuh dengan berkas-berkas dan data kasus yang belum terselesaikan. Matanya meneliti setiap baris tulisan dengan serius, berusaha menemukan benang merah dari kasus pembunuh berantai bernama kode 'Si Sepatu Hak Merah' yang hingga kini masih menjadi teka-teki besar bagi pihak kepolisian.
"Hh... kasus ini benar-benar rumit. Tidak ada jejak yang nyata, tidak ada saksi yang jelas. Pelakunya benar-benar cerdas dan berbahaya," keluh Rian pelan sambil mengusap wajahnya yang terlihat sedikit lelah meski baru pagi hari.
Tiba-tiba, suara pintu kamar di lantai atas terbuka terdengar samar. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang turun perlahan menuruni tangga kayu. Rian yang awalnya hanya fokus pada layar komputernya, tanpa sadar mengangkat wajah dan menoleh ke arah sumber suara itu.
Di sana, terlihat sosok Salsa yang baru saja bangun tidur. Gadis itu berjalan dengan langkah gontai, matanya masih setengah terpejam, dan wajahnya masih terlihat sangat mengantuk. Ia hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih polos yang panjangnya hanya sampai di atas paha, memperlihatkan kedua kakinya yang jenjang, putih, dan tampak sangat mulus. Rambut panjangnya tergerai bebas berantakan ke bawah, menambah kesan manis dan polos yang alami.
Rian seketika diam terpaku, matanya tanpa sadar menatap lekat-lekat gadis itu yang berjalan sempoyongan karena masih mengantuk berat. Di dalam benaknya, secara tidak sadar muncul sebuah pemikiran yang jarang ia rasakan sebelumnya. Ternyata gadis ini sudah tumbuh besar dan semakin dewasa ya...
Ia menatap Salsa lekat-lekat, ada rasa kagum yang tersembunyi di balik tatapan tajamnya. "Tidur saja masih seperti anak kucing, tapi lihatlah... tubuhnya sudah berubah jadi wanita dewasa," ucap Rian pelan, cukup lirih hanya untuk didengar dirinya sendiri, sambil tersenyum tipis dan sedikit menggoda.
Sebelumnya ia selalu melihat Salsa sebagai gadis kecil yang polos, lemah, dan butuh perlindungan. Namun pemandangan pagi ini membuatnya sadar, bahwa Salsa kini sudah berubah menjadi wanita muda yang cantik, menarik, dan memiliki pesona yang tak bisa dipungkiri. Ada rasa gemuruh aneh yang samar-samar terasa di dada Rian, namun ia berusaha mengabaikannya.
Salsa berjalan melewati depan sofa tempat Rian duduk, matanya masih terpejam rapat, bergumam pelan dengan suara serak khas orang bangun tidur, "Hmmm... dingin... mau cari selimut lagi..."
Ia sama sekali tidak menyadari keberadaan suaminya yang sedang duduk di sana. Ia hanya ingin mencari tempat yang nyaman untuk duduk sebentar sebelum benar-benar bangun sepenuhnya. Tanpa berpikir panjang, dan masih dalam keadaan setengah sadar karena kantuk yang berat, Salsa berjalan mendekat ke sofa di sebelah Rian, lalu duduk perlahan. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, namun sepersekian detik kemudian, kepalanya perlahan miring ke samping dan jatuh tepat bersandar di bahu bidang milik Rian.
"Ah... enak... empuk," gumamnya pelan sambil menggeser sedikit kepalanya agar posisinya lebih pas, persis seperti menemukan bantal paling nyaman di dunia.
Gerakan itu begitu tiba-tiba dan alami, seolah sudah menjadi kebiasaan lama mereka.
Rian tersentak hebat, tubuhnya seketika menegang kaku di tempatnya. Napasnya tertahan sejenak, ia sama sekali tidak berani bergerak atau mengeluarkan suara sedikit pun. "Hah? S-Salsa?" panggilnya pelan, suaranya terdengar sedikit tercekat.
Namun gadis itu tidak menjawab, justru napasnya terdengar semakin teratur dan tenang, tanda ia sudah kembali terbuai ke alam mimpi.
Jarak wajah mereka kini menjadi sangat dekat, sangat dekat hingga Rian bisa dengan jelas mencium aroma wangi khas sabun mandi dan bau rambut Salsa yang lembut. Ia menundukkan pandangannya sedikit, menatap wajah Salsa yang terlihat sangat damai dan tenang saat tidur di bahunya itu. Kelopak mata yang tertutup rapat, hidung mancung yang mungil, dan bibir kemerahan yang sedikit terbuka itu membuat jantung Rian berdetak semakin kencang dan tidak beraturan.
Ini adalah kedua kalinya aku melihat wajahnya sedekat ini... batin Rian kacau. Dulu ada rasa khawatir dan ketegangan, tapi sekarang... kenapa rasanya malah begini?
Ada rasa gugup yang aneh menjalar ke seluruh tubuhnya. Rian merasa tiba-tiba saja kepalanya menjadi panas, badannya terasa kepanasan meski ruangan ber-AC terasa sejuk, dan pikirannya yang tadinya penuh dengan data kasus kini mendadak kosong melompong. Fokusnya yang tadinya tajam pada pekerjaan hilang begitu saja, digantikan oleh sosok gadis kecil yang sedang tidur nyenyak di sampingnya itu.
"Dasar gadis aneh... tidur saja sembarangan," bisik Rian pelan, nada suaranya terdengar lembut dan sama sekali tidak marah. Ia mencoba menegur pelan, "Hei... Salsa, bangun... tidurlah di kamar jika mengantuk."
Namun Salsa hanya menggerakkan kepalanya sedikit, lalu bergumam tidak jelas, "Diam... jangan berisik... ngantuk..." membuat Rian akhirnya hanya bisa menghela napas panjang sambil tersenyum pasrah.
Rian hanya bisa diam membeku, berusaha menenangkan detak jantungnya yang semakin liar. Ia tidak berani menggerakkan bahunya, takut akan membangunkan Salsa atau merusak momen aneh namun terasa nyaman ini. Di dalam hatinya, ia bertanya-tanya sendiri, Mengapa kehadiran Salsa yang polos dan sederhana ini mampu membuatku yang dikenal tegas dan dingin jadi begini? Kenapa rasanya aku jadi gugup dan tak berkutik?
Di luar sadarnya, momen sederhana pagi itu perlahan mulai mengubah sesuatu di antara mereka, benih-benih rasa yang tak terduga mulai tumbuh diam-diam. Di saat yang sama, jauh di tempat lain, di sebuah ruangan gelap dan lembab, bahaya besar sedang mengintai, bersiap untuk segera menghampiri kehidupan mereka berdua dan menguji hubungan yang perlahan mulai terjalin itu.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍