Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Marvin menatap lurus gadis yang dari tadi menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantong celana dan bersandar pada mobil sedan hitam yang akan menjadi teman balapnya kali ini.
Apa gadis itu sedang mencari keberadaannya?
Tapi tiba-tiba gadis itu berjalan dengan terburu-buru menghampiri segerombolan laki-laki yang tidak Marvin kenal. Ia melihat gadis itu menyeret salah satu dari mereka untuk menjauh dan mendekat ke arena balap.
"Lihatin apa sih lo?"tanya Daffa ikut menetap ke arah pandang Marvin. Ia jadi penasaran apa yang membuat Marvin sangat fokus dan hanya berdiam diri di tempat.
Marvin mendengus, lalu pergi begitu saja meninggalkan Daffa yang masih berdiri diam mencari apa yang menjadi pusat perhatian Marvin sejak tadi.
"Gimana?"tanya Marvin pada Alvian yang baru saja selesai memeriksa mesin dan hal lainnya pada mobil yang akan dipakainya.
"Aman." Ucap Alvian sambil mengacungkan jempol.
Marvin menepuk pundak Alvian lalu memasuki mobil. Ia mulai menyalakan mesin dan melajukan mobil ke arena balapan yang langsung disambut remeh oleh lawannya.
"Gue yakin lo bakal kalah hari ini."ujar seorang laki-laki dengan jaket hitam yang berada di depan pintu mobil di sebelahnya.
Marvin hanya diam dan menatap laki-laki itu sekilas, lalu kembali melihat ke arah jalan dengan senyuman miring.
Merasa diabaikan, laki-laki itu pun mengumpat lalu masuk ke dalam mobil miliknya dengan perasaan kesal.
Marvin yang sudah siap tanpa sengaja kembali melirik ke arah gadis yang sesaat mencuri perhatiannya. Sarah, gadis itu berdiri sambil menatap ke arah mobilnya dengan tatapan khawatir.
Lagi-lagi Marvin tidak ingin ambil pusing atau segala tindakan dan kelakuan Sarah, meskipun tidak bisa dibantah bahwa gadis itu agak sulit diabaikan.
Tidak lama terdengar suara riuh penonton saat seorang wanita berjalan di garis Start sambil membawa bendera. Wanita itu terlihat menggerakkan bendera naik turun, mengisyaratkan supaya pemain bersiap. Setelahnya wanita itu mengangkat bendera ke atas dan para pemain segera menancap gas.
Awalnya Marvin merasa baik-baik saja, hingga pada putaran terakhir mobil yang dikendarainya tiba-tiba tidak terkendali.
Meskipun merasa aneh dengan mobil itu, Marvin masih berusaha untuk tenang. Hingga pada saat mendekati garis finish, mobilnya benar-benar sulit dikendalikan sehingga melaju ke arah penonton, dengan sigap Marvin segera membanting setir ke arah yang berlawanan. Tanpa disangka bagian belakang mobil menghadap sesuatu dan akhirnya mobil itu menubruk pembatas jalan hingga akhirnya berhenti.
Marvin yang menyadari telah menabrak sesuatu, bergegas keluar dari mobil meskipun sebenarnya keadaannya juga tidak baik-baik saja.
"Vin, Lo gak apa-apa?" Tanya Alvian panik, begitu juga Daffa.
Marvin hanya mengangguk singkat menanggapi pertanyaan Alvian, ia pun segera berlari menghampiri orang-orang yang berkerumun.
Setelah berhasil menerobos kerumunan itu, Marvin dibuat terkejut begitu melihat seorang gadis yang sempat menjadi pusat perhatiannya kini tergeletak di atas aspal dalam keadaan tidak sadarkan diri dan terlihat beberapa luka di beberapa bagian tubuhnya. Namun yang membuat Marvin saat ini ingin marah adalah tidak ada seorangpun yang segera menolong gadis itu.
"Daffa telepon ambulans sekarang juga!"ucap Marvin dengan nyaring dan jelas supaya orang-orang yang sadari tadi hanya diam dapat tersadar. Tatapan Marvin tajam menatap orang-orang di sekitarnya, matanya lalu beralih ke arah Tamara dan Kayla yang terlihat syok dengan kejadian tadi.
Marvin menghampiri Sarah lalu menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu dan berulang kali menyebut namanya.
"Sarah Lo denger suara gue kan? Hei!"
"Vin, ambulans sudah dalam perjalanan ke sini," ujar Daffa dan dibalas anggukan oleh laki-laki itu.
Atensi Marvin kembali pada Sarah yang masih tidak sadarkan diri. "Sar, Lo harus tetap sadar."
....
Ketika Sarah membuka mata, hal yang dia lihat adalah kegelapan. Tidak ada apapun di sekitarnya semuanya terasa hampa.
Tiba-tiba muncul sesuatu seperti layar yang sangat besar di depannya. Layar itu menampilkan sebuah adegan di mana ia yang menjadi peran utamanya. Cara melihat dirinya sendiri sedang tertawa ketika merundung Kayla yang sedang dalam keadaan berduka karena kehilangan Tamara.
"Sekarang sahabat menyebalkan lo itu udah mati. Nggak ada lagi yang sok menjadi pahlawan kesiangan buat nolongin lo!"
Tiba-tiba layar lain muncul dari arah belakang Sarah, ia melihat dirinya yang sedang berhadapan dengan Marvin. Dia dan laki-laki itu terlihat sedang berbicara.
"Lo kenapa sih gak pernah mau melihat ke arah gue? Kenapa lo selalu belain cewek sialan itu daripada gue?!! Dia miskin, lo juga miskin, mau jadi apa kalian kalau lo pacaran sama dia!!"
"Gak usah banyak omong ya Lo!"
Di sana terlihat Marvin yang sedang menahan amarah.
"Dia anak haram, Vin! Anak haram kayak dia nggak akan jauh sifatnya dengan orang tuanya. Lo-"
"Diam!"
Marvin menunjuk ke arah Sarah dan menatap dirinya dengan tetapan yang sangat tajam. Perlahan tetapan itu berubah, entahlah bukan hanya amarah tapi terlihat juga tatapan kecewa?
Cara menutup mulutnya dengan tangan ketika melihat kejadian-kejadian itu terpampang jelas di depannya. Kemudian satu persatu layar berganti ke adegan selanjutnya. Sarah melihat dengan jelas bagaimana ia menjadi sosok perempuan jahat yang selalu menyakiti Kayla dan Marvin.
Memori itu seperti jarum menusuk-nusuk hatinya. Di satu sisi, kenangan tentang dirinya yang menghabiskan waktu berfoya-foya, membuang-buang kekayaan orang tuanya demi kesenangan semu. Kemudian, gambaran mengerikan terlintas, memori saat kedua orang tuanya dianiaya oleh sekelompok orang asing, momen saat ia sendiri didorong dari atas jembatan—wajah pelaku tak jelas, tapi bekas luka di bawah telinga pria itu membekas dalam ingatannya. Tiba-tiba, dada Sarah terasa sesak. Setiap kilas balik dari hidupnya yang terdahulu itu bukan hanya menyisakan luka, tetapi juga mengoyak-ngoyak jiwa. Ingatan-ingatan yang seharusnya terkubur dalam-dalam, kini kembali menghantui dengan intensitas yang menghancurkan.
Sarah berusaha untuk mengatur nafasnya.
Gue bukan orang yang pantas untuk hidup.
.....
Sarah membuka kedua matanya dengan keadaan tersengal-sengal. Tapi kali ini bukan ruang hampa yang ia lihat, namun ruangan serba putih dengan bau khas yang dapat Sarah tebak jika dirinya sekarang berada di rumah sakit.
Ketika Sarah hendak menggerakkan tangannya, ia merasakan nyeri luar biasa pada tangan kanannya, ia baru menyadari bahwa tangan kanannya di gips, selain itu sekujur tubuhnya juga merasa sakit.
Sarah menghela nafas, keadaannya saat ini membuat dirinya menjadi sulit untuk bergerak. Ia pun hanya bisa terdiam beberapa saat sembari menatap langit-langit kamar rawatnya, ia menerawang jauh dalam ingatan-ingatan masa lalu yang dia mimpikan.
"Sayang, kamu sudah bangun, nak?" Pekik ibunya ketika memasuki ruangan dan melihat putri semata wayangnya telah sadarkan diri.
Sarah menatap ibunya dengan tatapan nanar.
"Kenapa sayang? Kamu butuh sesuatu?"tanya ibunya sembari mengelus kepala Sarah dengan sayang lalu menekan tombol yang berada di samping ranjangnya."Mama udah panggil dokter, sebentar ya sayang kamu harus diperiksa dulu."
Tidak lama dokter datang bersama seorang suster, kemudian mereka memeriksa keadaan Sarah. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter itu bilang jika keadaan Sarah sudah membaik.
"Mama sangat bersyukur kamu sudah sadarkan diri."
Sarah hanya tersenyum menanggapi ucapan ibunya." Papa mana mah?" Tanya Sarah dengan suara para.
"Papa kamu masih ada di luar kota, papa masih harus menghadiri beberapa rapat dengan klien penting di sana. Tapi secepatnya papa akan pulang untuk menjenguk kamu."
Sarah mengangguk paham, ia pun mengubah posisinya menjadi duduk.
"Mah, aku akan berada di sini sampai kapan?"
"Menurut dokter, kamu harus dirawat di sini dalam seminggu ke depan."
Sarah terdiam sesaat mendengar jawaban ibunya." Mah, Aku boleh minta tolong?"
Ibunya menatap Sarah dengan tatapan heran, biasanya Putri semata wayangnya ini tidak pernah meminta tolong akan sesuatu.
"Minta tolong apa, nak?"
"Tolong bawakan buku paket pelajaranku ya, aku nggak mau gara-gara ini aku ketinggalan materi di sekolah."
Sekali lagi ibunya mengernyit heran, sejak kapan anaknya ini rajin belajar?
"Nanti saja ya sayang, kamu kan baru sadar."
"Aku mohon ma, sekarang aku benar-benar kamu belajar,"ujar Sarah memohon.
Ibunya menghela nafas." Ya sudah nanti Mama akan minta tolong orang rumah untuk bawain buku-buku kamu ke sini. Mama harus pergi ke butik dulu sekarang, kamu nggak apa-apa kan mama tinggal sebentar?"
Sarah tersenyum simpul dan mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat dulu ya, jangan terlalu banyak gerak dan berpikir. Mama nggak akan lama kok."
Ibunya mengecup kening Sarah lalu mengelus rambut Sarah sebelum pergi." Mamah pergi dulu ya nak."
Senyum Sarah luntur bersamaan dengan pintu yang telah tertutup. Ia menyentuh tangan kanannya yang di gips lalu mengelusnya secara perlahan.
"Tamara selamat nggak ya? Kayla baik-baik aja kan? Marvin,,"
"Marvin juga baik-baik aja kan?"