Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
###
Sejak percakapan di lorong itu, tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula. Bukan karena ada sesuatu yang berubah secara nyata, tetapi justru karena ada sesuatu yang kini terasa berbeda sesuatu yang tidak terlihat, namun hadir di antara mereka. Sesuatu yang tidak diucapkan, namun terus terasa.
Alya masih mengingat setiap kata yang diucapkan Arka. Cara ia berbicara, cara ia menatap, bahkan jeda di antara kalimat-kalimatnya. Semuanya terasa terlalu jelas di ingatannya, seolah menolak untuk dilupakan.
“Kamu hanya menolak, bukan melawan.”
Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Ia tidak suka mengakuinya, tapi bagian dari dirinya tahu itu benar. Selama ini, ia hanya diam, menahan, menghindar dan bukan menghadapinya...
Dan mungkin… itu sebabnya semuanya terasa semakin menekan.
Hari itu, Alya duduk di kelas seperti biasa. Buku terbuka di depannya, pena di tangannya, namun pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Ia tahu Arka akan masuk, ia tahu ia harus bersikap biasa. Namun tetap saja jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya.
Pintu kelas terbuka.
Arka masuk.
Langkahnya tenang, seperti biasa. Wajahnya datar, tanpa menunjukkan apa pun. Ia langsung berdiri di depan kelas, membuka materi, dan mulai menjelaskan.
Tidak ada yang berbeda.
Setidaknya… di permukaan.
Alya mencoba fokus.
Namun beberapa kali, tanpa sengaja, pandangannya bertemu dengan Arka.
Dan setiap kali itu terjadi ia langsung mengalihkan pandangan.
“Alya.”
Suara itu membuatnya tersentak.
Ia langsung menegakkan badan. “Iya, Pak.”
“Jelaskan bagian ini.”
Alya menatap papan tulis. Ia tahu jawabannya. Ia mengerti materinya.
Namun tetap saja, ada rasa gugup yang muncul saat ia mulai menjelaskan. Awalnya pelan. Namun perlahan, suaranya menjadi lebih stabil,ia berusaha tidak melihat Arka.
Berusaha fokus, berusaha mengontrol dirinya sendiri. Dan setelah beberapa menit ia pun selesai menjelaskan materinya.
hening.
Lalu..
“Baik.”
Satu kata itu sederhana, namun entah kenapa kali ini terasa berbeda.
Tidak dingin....
Tidak menekan...
Alya duduk kembali,menarik napas pelan dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai ia tidak merasa sedang diuji.
Kelas berlanjut seperti biasa, namun ada sesuatu yang berubah kecil tapi nyata.
Setelah kelas selesai, mahasiswa mulai keluar satu per satu. Alya berusaha cepat berkemas, berniat pergi sebelum situasi menjadi canggung.
Namun...
“Alya.”
Langkahnya terhenti.
Ia menutup matanya sebentar, lalu berbalik.
“Iya, Pak?”
Ruangan mulai kosong hanya mereka berdua dan keheningan yang terasa lebih berat dari sebelumnya.
Arka menutup bukunya lalu berjalan mendekat.
Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
“Kamu berubah.”
Alya mengernyit.
“Maksudnya?”
Arka menatapnya langsung tanpa ragu.
“Lebih tenang.”
Alya terdiam sejenak.
“Saya cuma mencoba… biasa saja.”
Arka mengangguk pelan.
“Itu bagus.”
Alya tidak menjawab.
Ia tidak tahu harus merespons apa karena percakapan ini tidak seperti yang ia bayangkan.
“Soal kemarin,” lanjut Arka, “saya tidak bermaksud membuat kamu tertekan.”
Alya menatapnya.
Beberapa detik...
“Saya tahu.”
Jawaban itu keluar lebih pelan namun lebih jujur.
Arka terdiam.
Dan untuk pertama kalinya tidak ada jarak yang terasa memaksa di antara mereka.
“Kalau kamu butuh waktu…” ujar Arka, “ambil.”
Alya sedikit terkejut.
“Untuk apa?”
“Untuk memahami semuanya.”
Alya tidak langsung menjawab.
Namun kata-kata itu tidak terasa seperti perintah,tidak seperti paksaan.
Lebih seperti…
izin.
dan entah kenapa itu membuatnya sedikit lebih lega.
Di luar kelas, Raka sudah menunggu. Begitu melihat Alya keluar, ia langsung menghampiri.
“Lama banget.”
Alya menghela napas ringan.
“Cuma dipanggil bentar.”
Raka menatapnya mencoba membaca ekspresinya.
“Dia ngomong apa?”
Alya ragu sejenak, lalu berkata
“Gak ada yang aneh.”
Raka masih menatapnya.
Namun kali ini ia tidak bertanya lebih jauh.
“Kalau lo gak nyaman…”
Alya langsung memotong.
“Gue baik-baik aja.”
Dan kali ini itu bukan sepenuhnya kebohongan.
######
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang aneh.
Tidak ada konflik besar.
Tidak ada pertengkaran.
Namun ketegangan itu tetap ada,namun terlihat halus, tidak terlihat, namun terasa.
Alya mulai terbiasa melihat Arka. tanpa langsung merasa tertekan. Tanpa harus menghindar.
Dan Arka mulai menahan dirinya.
Tidak lagi terlalu jauh...
Tidak lagi terlalu dekat....
Namun ada satu hal yang tidak bisa mereka kendalikan...
yaitu perasaan.
Suatu sore, Alya pergi ke perpustakaan. Tempat itu hampir kosong. Ia duduk di sudut, membuka buku, dan mencoba fokus, namun pikirannya kembali melayang.
Beberapa menit kemudian seseorang duduk di hadapannya.
Alya mengangkat kepala.
Arka.
Kali ini, ia tidak terkejut seperti sebelumnya.
Namun tetap saja ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya.
“Kebetulan?” tanya Alya pelan.
Arka membuka bukunya.
“Mungkin.”
Alya mengangguk.
Kembali menunduk.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Namun keheningan itu tidak lagi terasa canggung.
“Kamu sering ke sini?” tanya Arka.
“Kalau lagi butuh tenang.”
Arka mengangguk.
“Tempat yang bagus untuk berpikir.”
Alya tersenyum kecil.
“Atau buat kabur.”
Arka menatapnya.
“Dari apa?”
Alya terdiam.
Beberapa detik.
“Dari semuanya.”
Jawaban itu jujur.
Dan kali ini ia tidak berusaha menyembunyikannya.
Arka tidak langsung menjawab. Namun dari cara ia memandang Alya merasa dipahami.
“Kamu gak harus kabur terus.”
Alya mengangkat kepala.
“Kadang itu satu-satunya cara.”
Arka menggeleng pelan.
“Atau cara yang paling mudah.”
Alya tidak membantah.
Karena jauh di dalam dirinya ia tahu itu benar.
Sore itu berlalu tanpa konflik...
Tanpa tekanan...
Namun meninggalkan sesuatu yang lebih dalam pemahaman.
Dan sesuatu yang mulai tumbuh perlahan.
Tanpa mereka sadari.
maaf lancang🙏🙏🙏