NovelToon NovelToon
Dan Ofid

Dan Ofid

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.

Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.

Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.

Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.

Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#15

Mansion keluarga Riccardo berdiri megah di kawasan perbukitan tersembunyi di Los Angeles, dikelilingi oleh pohon-pohon ek tua yang memberikan kesan tenang namun berwibawa.

Arsitekturnya bergaya kolonial modern dengan pilar-pilar putih besar yang menjulang. Nyx menatap gerbang besi tinggi itu dengan perasaan campur aduk. Ia terbiasa dengan kemewahan, namun kemewahan di mansion Beckham selalu terasa mencekik dan dingin. Di sini, di rumah Knox, ada kehangatan yang merambat bahkan dari sekadar warna cat dindingnya.

"Jangan tegang, Nyx," bisik Knox saat mereka turun dari Lamborghini-nya. "Anggap saja ini rumahmu. Mommy tidak akan menggigit, paling hanya akan menginterogasi mu sampai kau pusing."

Nyx hanya mengangguk pelan. Ia sengaja memakai pakaian yang paling "aman" menurut versinya: kaos hitam kebesaran yang ia masukkan sebagian ke dalam celana jeans longgar, memperlihatkan sedikit tato sayap di pergelangan tangannya. Penampilannya sangat kontras dengan kemewahan mansion itu, namun Knox justru menatapnya dengan bangga.

Begitu pintu utama dibuka, seorang wanita cantik dengan gaun rumahan yang elegan berlari kecil menghampiri mereka. Itu adalah Isabella, ibu Knox.

"Anak nakal! Kau akhirnya pulang!" Isabella mencubit pipi Knox gemas sebelum beralih menatap Nyx dengan tatapan menyelidik namun ramah.

"Mom, kenalkan. Ini Nyx, temanku. Dia... dia juga tinggal di apartemen," Knox memperkenalkan dengan nada santai.

Isabella tersenyum manis, namun dalam hatinya, ia sedikit sangsi. Teman? Ia memperhatikan penampilan Nyx dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambut pendek, pakaian yang seolah menelan tubuh mungilnya, dan tato di tangan. Isabella ingat betul daftar mantan kekasih Knox yang sering menghampirinya di mall atau butik mewah—semuanya adalah gadis-gadis "tulen" dengan gaun mini, riasan tebal, dan aroma parfum yang menyengat. Nyx sama sekali tidak masuk dalam kriteria "tipe" Knox yang biasa.

"Halo, Nyx. Senang sekali Knox membawa teman ke rumah. Ayo, makan siang sudah siap," ajak Isabella hangat.

Suasana di meja makan terasa sangat hidup. Ayah Knox, Alexander Riccardo, seorang pria berwibawa dengan tatapan mata yang mirip dengan Knox namun lebih tenang, sudah duduk di kepala meja.

"Jadi, ini gadis yang menghajar tujuh orang itu?" tanya Alexander dengan suara berat yang berwibawa.

Knox tertawa. "Ya, Dad."

Makan siang dimulai. Isabella diam-diam memperhatikan Nyx. Ia mengira gadis dengan penampilan urakan seperti Nyx akan makan dengan serampangan. Namun, ia tertegun. Nyx memegang pisau dan garpu dengan posisi yang sangat sempurna. Cara ia menyeka bibirnya dengan serbet, posisi duduknya yang tegak namun rileks, hingga caranya mengunyah tanpa suara sedikit pun—semuanya menunjukkan tata krama kelas atas yang sangat disiplin.

Nyx memang hafal di luar kepala. Aturan mansion Beckham yang kaku telah memahat gerakan tubuhnya menjadi robot protokol yang sempurna. Di meja ini, semua latihan menyiksa dari Agnesia selama belasan tahun mendadak menjadi tameng yang melindunginya.

"Bengkel mu bagaimana, Knox?" Alexander membuka pembicaraan serius.

"Bulan ini kemajuannya cukup pesat, Dad. Kami baru saja mendapatkan kontrak untuk restorasi tiga mobil klasik dari kolektor di Nevada," jawab Knox dengan nada bangga. Ia menjelaskan detail teknis tentang mesin dan manajemen suku cadang dengan sangat serius, jauh berbeda dari sosok mesum yang Nyx kenal di apartemen.

Alexander mengangguk puas. "Kau melakukan pekerjaan bagus, Nak. Aku bangga kau bisa mengelola bisnismu sendiri tanpa harus selalu mengandalkan nama keluarga."

Mendengar pujian tulus dari seorang ayah kepada anaknya membuat dada Nyx berdenyut perih. Ia membayangkan David Beckham—pria itu tidak akan pernah memujinya, bahkan jika Nyx menjadi penulis terbaik di dunia sekalipun.

"Lalu kau, Nyx? Knox bilang kau mahasiswi. Jurusan apa yang kau ambil?" tanya Isabella lembut.

Nyx menelan makanannya perlahan. "Sastra, Ma'am. Saya mengambil Bahasa dan Sastra."

Isabella tersenyum lebar, matanya berbinar tulus. "Sastra? Oh, itu hebat sekali! Dunia butuh lebih banyak orang yang memahami keindahan kata-kata di tengah dunia yang makin mekanis ini. Itu pilihan yang sangat berani dan cerdas, Nyx."

Hebat... cerdas...

Kata-kata itu menghantam Nyx. Sepanjang hidupnya, pilihannya selalu dianggap sampah atau pelarian. Baru kali ini, seorang sosok ibu memujinya hanya karena ia memilih apa yang ia cintai. Mata Nyx mendadak panas. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan genangan air mata yang mulai terkumpul di pelupuk matanya.

Knox, yang duduk di sampingnya, menyadari perubahan aura Nyx. Ia tahu gadis ini sedang berjuang menahan badai di dalam dadanya. Tinggal bersama Nyx selama beberapa hari terakhir membuat Knox mulai bisa membaca setiap getaran kecil di bahu gadis itu.

Tanpa menarik perhatian orang tuanya, Knox menurunkan tangannya ke bawah meja. Ia menggenggam tangan Nyx yang dingin di atas pahanya, lalu mengusap-usap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya secara perlahan.

Aku di sini, seolah itu yang ingin Knox sampaikan lewat sentuhan itu.

Nyx merasakan remasan hangat tangan Knox. Ia merasa seperti ditarik kembali dari jurang kesedihan. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Knox di bawah meja, mencari kekuatan.

Di meja makan ini, di antara obrolan hangat sebuah keluarga yang nyata, Nyx Morrigan merasakan jenis penyembuhan yang tidak pernah ia sangka akan ia dapatkan dari seorang pria teknik yang sering ia panggil mesum.

"Terima kasih, Ma'am," bisik Nyx dengan suara yang sedikit bergetar, namun ia berhasil tersenyum.

Makan siang itu terus berlanjut dengan cerita-cerita konyol Knox saat kecil, dan untuk pertama kalinya, Nyx tidak hanya melihat kebahagiaan itu dari jauh. Ia merasakannya. Ia adalah bagian dari meja itu, setidaknya untuk siang ini. Dan di bawah meja, tangan Knox tetap di sana, menjaganya agar tidak jatuh kembali ke dalam kesepian yang gelap.

1
ren_iren
lanjutkan.... 🤗
Ros🍂: okay kak🥰🙏
total 1 replies
ren_iren
dapatttt aja visual yg bening2 🤭😂
Ros🍂: biar halu kita lancar jaya kak 😍🤣🤣
total 1 replies
ren_iren
Nyx Knox....
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂
Ros🍂: Ma'aciww kak 🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!