"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.
"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.
"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"
Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.
"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"
........
Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.
Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.
Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?
happy reading ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasib Buruk Yang Direkayasa
...🍂🍂🍂🍂🍂Selamat Membaca🍂🍂🍂🍂🍂...
"Warung ini tak memiliki ijin! Pindahkan segera barang-barangmu, kami akan merobohkannya!"
Bu Siti yang tadinya tersenyum karena beberapa mobil menepi, mengira akan membeli menu yang ia masak hari ini, justru dibuat melongo saking terkejutnya.
Beberapa saat ia berdiri mematung menatap orang-orang berdasi itu. "Eh! Anu, jangan Pak! Warung ini sudah disini hampir satu tahun!" tolak Bu Siti berusaha mempertahankan diri.
"Sawah di belakang warung ini tercemar karena ulahmu! Kau mencuci dengan sabun dan menyebabkan panen kami menurun kualitasnya!" gertak si pemimpin kelompok itu.
Bu Siti gemetar ketakutan, pasalnya memang tahun lalu mendiang suaminya membangun pondok itu hanya sebagai tempat beristirahat, namun melihat peluang yang ada, ia memanfaatkannya sebagai tempat untuk berjualan menu sederhana, sebagai santapan saat para petani beristirahat siang.
"A-anu, saya janji nggak akan cuci piring disitu lagi, Pak. Ta-tapi ini mata pencaharian saya!"
Bu Siti hanya ditemani dua petani langganannya, lebih tepatnya petani yang bekerja untuk si tuan tanah, yang tentunya sama takutnya dengan orang yang datang itu. Mereka tahu orang-orang itu adalah anak buah si tuan tanah yang congkak.
"Itu bukan urusanku! Pindahkan segera barang-barangmu selagi aku masih memberimu waktu!" sergah si pemimpin yang brewokan itu.
"Tapi kenapa baru sekarang, Pak. Kenapa baru sekarang warung saya diusir?" Dengan suara gemetar sambil membereskan barang-barangnya, Bu Siti memberanikan diri bertanya, masih berharap akan ada kasihan dari orang-orang itu.
"Kalian berdua kembali bekerja! Dasar miskin pemalas!" gertak si brewok pada dua petani yang tentu saja langsung ngacir, mengambil langkah seribu menjauh dari warung itu.
Bu Siti semakin gemetar ketakutan, hingga membuat piring yang ia pegang terjatuh dan pecah berantakan di lantai.
Si brewok mengeluarkan sebuah amplop putih, dari saku jasnya, kemudian melemparkannya dengan kasar ke meja, membuat lembaran uang berwarna merah di dalamnya tersebar di atas meja. "Bersyukurlah, Tuan Basuki masih berbaik hati memberikan modal dan ganti rugi!" ucapnya.
Bu Siti melotot tak percaya, uang sebanyak itu, ia tak tak pernah membayangkan sebelumnya. Ia kehilangan kata-kata, hanya berdiri terpaku, menatap bergantian pada uang yang berserakan, lalu memberanikan diri mendongak sedikit melirik pada si pemimpin, lalu beralih pada anak buah lain yang bersiap di pinggir jalan, menanti keputusannya.
"Kau hanya cukup pergi, dan jangan pernah kembali menyentuh tanah ini, kau bisa berjualan di tempat lain!" ujar si brewok sambil memainkan batang rumput di mulutnya, bak adegan pemimpin preman yang menggigit ujung rumput kering sambil petentang-petenteng.
Kesepakatan pun tercapai. Bu Siti tak mungkin punya keberanian untuk menolak. Dalam waktu singkat, tak sampai satu jam, warung Bu Siti yang seluruh bangunannya terbuat dari bambu itu pun rata dengan tanah, hanya menyisakan asap tipis dan abu yang beterbangan terbawa angin.
🍂🍂🍂🍂🍂
Dari kejauhan, Amira tergopoh-gopoh berlari, hingga sandal jepitnya lepas karena terburu-buru. Asap yang membubung tinggi seolah berusaha menyentuh langit, ternyata memberi efek tenaga super, membuat Amira ingin bergegas ingin tahu ada apa.
Amira menjatuhkan diri ke tanah, menatap sesak sisa pembakaran warung yang pernah menyelamatkan nyawanya satu malam. Harapan terakhirnya untuk kembali meminta bantuan pun sirna. Ia tak sempat bertanya dimana Bu Siti tinggal.
"Apa lagi ini, apa orang-orang yang datang malam itu pelakunya? Lalu bagaimana nasib Bu Siti?" renguh Amira semakin terpuruk saja.
Dari arah perkampungan, sebuah kendaraan melintas, orang yang sama yang lusa juga melihat Amira. "Orang gila itu lagi!" serunya menghakimi tanpa rasa peduli untuk sekedar bertanya.
"Eh, tunggu!" panggil Amira saat mereka bertemu tatap.
"Wah, dia ngamok, gas! Gas!" temannya justru menepuk pundak si pengemudi tanpa mau melihat dulu betapa serius wajah Amira yang hanya ingin bertanya.
Amira menghela napas kecewa. "Semenakutkan itu kah penampilanku?" gumamnya menatap dua orang yang berboncengan, menggeber motor bebek tuanya. Terbirit-birit takut dikejar orang gila.
"Hm, kurasa rumah Bu Siti pasti di salah satu kampung di ujung sana. Aku hanya tinggal jalan kaki ke sana, atau semoga saja ketua orang baik lainnya," harapnya kembali menguatkan diri, memaksa tubuh letihnya bergerak maju.
Dari jarak aman, sepasang mata terus mengawasi langkah Amira, memperkirakan tujuannya, kemudian mencari cara untuk menggagalkannya.
Pria misterius suruhan Loretta itu menyunggingkan senyum paling licik. "Dia benar-benar tangguh, wanita lain mungkin sudah bunuh diri, tapi dia masih bersikeras mencari pemilik warung itu. Lihat saja, apa kau mampu!" ancamnya mengawasi.
Hampir satu kilometer jarak yang ditempuh Amira, hingga akhirnya ia sampai di pintu masuk desa. Amira menghampiri beberapa remaja yang sedang asyik berkumpul di salah satu sudut jalan.
"Permisi, Dek?" sapa Amira sopan, meskipun pada anak yang lebih muda. "Apa kalian tahu rumah Bu Siti yang punya warung lotek di pinggir sawah sana, warungnya—"
"Terbakar!" sahut cepat salah satu anak memotong pertanyaan Amira.
"Ya, Betul. Kalian tahu dimana rumahnya?" tuntut Amira lega.
"Di desa dalam sana, Kak. Jalan saja lurus dari sini, nanti ketemu jembatan dan sedikit persawahan, nah nanti kelihatan desanya Bu Siti. Tanya aja sama orang-orang disana, pasti semua kenal," terang remaja laki-laki berkemeja biru.
Amira berpamitan sopan, tak lupa mengucapkan terimakasih. Kini langkahnya kembali terasa ringan, seketika semua letih dan sakit di sekujur tubuhnya menghilang, ada harapan untuk bisa pulang.
"Mau kemana, Mbak? Kalau mau silakan nebeng." Seorang pria berhelm menghentikan motornya, memotong langkah Amira.
Amira terkejut, ia berdiri diam menatap pria itu. Ia genggam erat-erat tas jinjingnya, sedangkan tangan satunya menggenggam erat pegangan kopernya, seolah bersiap melawan jika pria itu bermaksud jahat.
Pria berjaket biru jeans itu membuka helm nya, mempertontonkan senyum ramah yang hangat. "Kok malah diam sih, Mbak. mumpung saya nggak ada penumpang ini!" imbuhnya sok akrab. "Kamu ponakannya bude Siti, kan?"
Amira menaikan satu alisnya, namun mulutnya terkunci rapat. Sisi hatinya memberontak, sebagain merasa pria itu adalah warga setempat yang mengenal baik Bu Siti, tapi insting traumanya seolah terus menariknya untuk tak menanggapi tawaran itu.
"Oh, ya sudah kalau ndak mau. Semoga aja hujan nggak segera turun." Dengan acuh, seolah tak peduli lagi, Pria itu sesaat menatap ke langit yang memang mendung tebal, lalu kembali mengenakan helmnya dan bersiap menggeber lagi motornya.
"Ma-maaf, tunggu!" cegah Amira susah payah mengeluarkan suaranya yang bergetar. Rasa takut dan jijik pada dirinya sendiri, sebenarnya membuatnya enggan menerima tawaran itu.
Namun sepertinya alam pun seolah menyetujui nasib buruk Amira selanjutnya. Dengan ragu, Amira pun akhirnya membonceng pria itu, yang katanya juga tahu rumah Bu Siti.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Bersambung🤗