Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Sang Kurator dan Mahakarya yang Terancam
Gerbang besi raksasa kediaman Dirgantara di kawasan Menteng terbuka tanpa suara, seolah-olah ditelan oleh keheningan malam yang mencekam. Arjuna Dirgantara mencengkeram kemudi mobil Maybach-nya hingga buku-buku jarinya memutih, seirama dengan deru mesin yang tertahan. Lampu-lampu taman yang menyinari pilar-pilar bergaya Yunani di depannya tidak memberikan kesan hangat; baginya, rumah ini adalah sebuah museum spesimen hidup, di mana setiap emosi dikurasi, dibekukan, dan dipajang hanya untuk memuaskan ambisi Sang Chairman.
Hujan Jakarta masih turun dengan ritme yang monoton, membasahi kaca depan mobil dan mengaburkan pandangan Juna. Ia mematikan mesin, namun tidak segera turun. Di dalam laci dasbor, ponselnya terus bergetar. Laporan dari tim keamanan pribadinya masuk satu demi satu: Target Nona Kanaya telah tiba di apartemen. Area steril terpasang. Tidak ada kontak dari pihak ketiga.
'Target. Mereka menyebutnya target,' batin Juna, bibirnya mengulas senyum pahit yang penuh dengan kebencian pada diri sendiri. 'Bahkan dalam upaya melindunginya, aku harus memperlakukannya seperti sebuah objek strategis. Maafkan aku, Kanaya. Aku menjadikannya tawanan di gedung kaca agar ia tidak menjadi debu di tangan pria yang menungguku di dalam sana.'
Juna menarik napas panjang, menyesuaikan letak dasinya di depan cermin tengah. Ia memasang kembali topeng stoiknya—sebuah zirah mental yang ia asah selama dua puluh delapan tahun. Ia harus menjadi arsitek yang paling licin malam ini. Ia harus merancang kebohongan yang begitu megah sehingga ayahnya tidak akan mencium aroma kejujuran di dalam dadanya.
Langkah kaki Juna menggema di atas lantai marmer Carrara lobi utama rumahnya. Suara itu terdengar seperti dentuman lonceng kematian di telinganya sendiri. Ia berjalan melewati deretan lukisan karya maestro dunia yang harganya bisa membangun sepuluh hotel, namun baginya, semua itu hanyalah benda mati yang sama dinginnya dengan ayahnya.
Di ujung lorong, pintu ganda ruang kerja Sang Chairman terbuka. Ruangan itu luas, didominasi oleh kayu mahoni gelap dan aroma cerutu Kuba yang menyengat. Chairman Dirgantara duduk di balik meja kerjanya yang masif, membelakangi pintu, menatap hujan melalui jendela raksasa. Di atas meja, sebuah tablet menyala, menampilkan foto digital yang dikirimkan Siska—sosok Naya dan Bastian di warung tenda, tertawa dalam kehangatan yang manusiawi.
"Duduk, Arjuna," suara Sang Chairman menggema, rendah dan penuh dengan getaran otoritas yang tidak bisa ditawar.
Juna duduk di kursi kulit di seberang meja. Ia tidak menunggu ayahnya berbalik. Ia tetap diam, membiarkan keheningan itu menjadi medan perang psikologis pertama mereka.
"Kau tahu apa yang paling aku benci dari sebuah bangunan, Arjuna?" Sang Chairman memutar kursinya perlahan. Matanya yang tajam, yang tersembunyi di balik kerutan usia, menatap Juna dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Bukan fondasi yang retak. Bukan juga atap yang bocor. Tapi sebuah pilar yang terlihat kokoh namun di dalamnya terdapat rayap yang perlahan menggerogoti integritasnya."
Pria tua itu menggeser tablet ke arah Juna. Foto itu tampak begitu kontras di tengah ruangan yang steril ini. Senyum Naya di foto itu terlihat seperti sebuah penghinaan bagi standar keluarga Dirgantara.
"Kudengar kau memecat Siska Wiryawan pagi ini," lanjut Sang Chairman, menyulut cerutunya dengan gerakan yang sangat lambat. "Seorang desainer senior dengan rekam jejak enam tahun. Kau membuangnya hanya untuk melindungi seorang junior yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menjaga martabat perusahaanku di depan umum."
Juna tidak berkedip. "Siska melakukan sabotase data server, Ayah. Integritas sistem adalah prioritas utama CEO. Saya membuangnya karena dia adalah rayap yang sesungguhnya. Soal Nona Kanaya... dia hanyalah instrumen teknis yang sedang saya optimalkan."
"Optimalkan?" Sang Chairman tertawa, sebuah suara kering yang terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu. "Tertawa di pinggir jalan dengan vendor adalah bagian dari optimasimu? Arjuna, jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi di Bali. Jangan kau pikir aku buta melihat bagaimana kau menariknya dari lapangan semalam dengan alasan yang dibuat-buat."
Pria tua itu mencondongkan tubuhnya ke depan, kepulan asap cerutu membungkus wajahnya dalam kabut kelabu. "Gadis itu... dia terlalu mirip dengan ibumu. Dia memiliki binar mata yang berbahaya. Binar mata yang membuat pria kuat menjadi sentimental dan bodoh. Dan aku tidak akan membiarkan sejarah terulang di rumah ini."
Juna merasakan amarah yang panas mulai merayap di tenggorokannya. 'Jangan sentuh memori Ibu. Jangan berani-berani kau menyebut namanya dalam konteks kegagalan,' geramnya di dalam batin. Namun, Juna tetaplah Juna. Ia menekan emosinya jauh ke dalam lubang hitam di hatinya.
"Nona Kanaya adalah mahakarya desain yang akan membuat Grand Azure menjadi ikon global, Ayah," ucap Juna, suaranya kini terdengar sangat rasional, hampir klinis. "Dia adalah variabel unik yang saya butuhkan untuk memenangkan penghargaan desain internasional tahun depan. Saya menjaganya karena saya ingin memanen hasil kerjanya secara eksklusif. Soal Bastian... itu hanyalah manuver untuk memastikan vendor struktur tetap patuh pada spesifikasi kita. Saya menggunakan kedekatan mereka untuk menekan harga kontrak."
Sang Chairman menyipitkan matanya, mencari setitik saja keraguan di wajah putranya. "Kau menggunakannya sebagai alat?"
"Tentu," dusta Juna, setiap kata terasa seperti menelan duri. "Di tangan seorang Dirgantara, manusia hanyalah material. Ada yang menjadi beton sebagai fondasi, ada yang menjadi pualam sebagai pajangan. Kanaya Larasati adalah pualam yang sangat langka. Saya tidak akan membiarkan pualam itu rusak sebelum pameran berakhir."
Keheningan kembali merajai ruangan. Sang Chairman mengetuk-ngetukkan jemarinya yang berkeriput di atas meja. "Buktikan kalau begitu. Jika dia memang hanya instrumen bagimu, kau tidak akan keberatan jika aku mempercepat jadwal pertunanganmu dengan Aline. Malam ini juga, aku sudah menelepon keluarga Wijaya. Makan malam resmi akan diadakan lusa di hotel kita yang lama."
Jantung Juna berdegup satu detak lebih cepat, namun wajahnya tetap seperti patung granit. "Aline adalah aset yang bagus untuk merger properti kita. Saya tidak punya keberatan secara profesional."
"Bagus," Sang Chairman berdiri, menandakan pertemuan selesai. "Dan soal Kanaya Larasati... pastikan dia tetap di kantor pusat. Jika aku melihatnya lagi di lokasi konstruksi, atau jika aku mendengar kau menemuinya di luar jam kerja... pualam langkamu itu akan pecah berkeping-keping, Arjuna. Dan kau tahu persis aku tidak pernah bermain-main dengan kata-kataku."
Juna berdiri, membungkuk sedikit, lalu berjalan keluar dari ruangan itu. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia harus bersandar pada dinding lorong untuk mengatur napasnya yang mendadak sesak. Ia merasa kotor. Ia baru saja menyebut wanita yang ia cintai sebagai sebuah 'alat' dan 'pajangan' di depan pria yang paling ia benci.
Sementara itu, di sebuah unit apartemen kecil di kawasan Jakarta Selatan, Kanaya Larasati sedang duduk di lantai, memeluk lututnya di depan jendela kaca yang basah oleh hujan. Ruangannya gelap, hanya diterangi oleh lampu jalanan yang menyelinap masuk melalui celah gorden.
Sejak ia tiba di apartemen tiga jam yang lalu, Naya merasa seperti sedang diawasi oleh ribuan mata tak kasat mata. Ia melihat dua mobil SUV hitam terparkir di depan gerbang apartemennya—mobil yang ia tahu milik tim keamanan Dirgantara Group. Ponselnya terus berdering, nama Bastian muncul berulang kali di layar, namun Naya tidak berani mengangkatnya.
'Apa yang sedang kau lakukan padaku, Arjuna?' bisik Naya, air matanya jatuh tanpa suara. 'Kau mendorongku pergi dengan amarah, kau memerintahku seolah aku adalah budakmu, tapi kau mengirimkan pengawal untuk menjagaku. Kau bilang kau takut aku terbakar... tapi rasanya akulah yang sedang kau bakar perlahan dengan ketidakpastian ini.'
Naya merasa terjebak dalam sebuah paradoks yang menyiksa. Di satu sisi, ia membenci arogansi Juna yang menganggapnya sebagai 'koleksi'. Namun di sisi lain, ia tidak bisa mematikan rasa panas di pipinya setiap kali teringat bagaimana Juna memeluknya di tengah badai kemarin. Kehangatan itu terlalu nyata untuk disebut sebagai 'anomali teknis'.
Ia meraih tabletnya, mencoba membuka fail desain lobi Grand Azure untuk mengalihkan pikirannya. Namun, saat ia melihat garis-garis spiral pilar pualam yang ia rancang, ia justru melihat wajah Juna. Setiap lekukan, setiap sudut cahaya, dan setiap pemilihan material dalam desain itu seolah-olah adalah bahasa rahasia yang ia gunakan untuk berkomunikasi dengan jiwa Juna yang tersembunyi.
'Aku mendesain ini untuknya,' sebuah kesadaran pahit menghantam Naya. 'Bukan untuk dewan direksi, bukan untuk karierku. Aku ingin pilar ini berdiri tegak agar dia bisa merasa aman. Agar dia tidak perlu lagi takut menaranya akan runtuh.'
Tiba-tiba, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Bukan dari Bastian. Bukan juga dari Riko.
"Pualam harus kuat menahan tekanan, agar cahayanya tetap murni. Jangan keluar malam ini. Tetaplah dalam kegelapan yang aman, Kanaya. - J"
Naya meremas ponselnya. Pesan itu begitu dingin, begitu kaku, namun di baliknya, Naya bisa merasakan kepanikan yang luar biasa dari pengirimnya. Ia menyadari satu hal: Arjuna sedang berada di tengah medan perang yang tidak bisa ia lihat, dan satu-satunya senjata yang Juna miliki untuk melindunginya adalah dengan berpura-pura tidak mengenalnya.
Keesokan paginya, suasana di kantor pusat lantai dua puluh lima terasa seperti sebuah pemakaman yang mewah. Berita tentang rencana pertunangan CEO Arjuna Dirgantara dengan Aline Wijaya, putri dari taipan properti terbesar di negeri ini, telah tersebar di portal berita bisnis dan menjadi bahan gosip utama di setiap sudut kantor.
Naya melangkah masuk ke divisinya dengan wajah yang sekeras batu. Ia tidak melihat ke arah mana pun, telinganya seolah-olah tuli terhadap bisikan-bisikan rekan kerjanya yang menatapnya dengan rasa kasihan.
"Naya, kau sudah dengar?" tanya salah satu desainer junior dengan nada ragu. "Pak Arjuna... dia akan bertunangan lusa."
Naya menghentikan gerakannya di depan loker. Ia menarik napas panjang, lalu memutar tubuhnya dengan senyum profesional yang sangat tipis. "Tentu saya dengar. Itu adalah berita bagus untuk stabilitas saham perusahaan, bukan? Sekarang, mari kita fokus pada revisi pilar ketiga. Kita punya tenggat waktu yang tidak akan menunggu acara pesta siapa pun."
Beberapa staf tertegun melihat kedinginan Naya. Mereka mengharapkan air mata, atau setidaknya kemarahan. Namun Naya justru terlihat seperti replika Arjuna Dirgantara dalam versi wanita. Ia telah membangun dinding esnya sendiri semalam, sebuah benteng pertahanan yang ia buat dari sisa-sisa harga dirinya yang terluka.
'Kau ingin aku menjadi pualam, Arjuna? Baik,' batin Naya, jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang menakutkan. 'Aku akan menjadi pualam yang paling indah, paling sempurna, dan yang paling mustahil untuk kau sentuh kembali. Kau memilih duniamu yang steril, maka kau akan mendapatkan kesunyian yang pantas kau miliki.'
Di lantai tiga puluh, Arjuna sedang berdiri menatap pintu lift eksekutif. Ia baru saja melihat rekaman CCTV lantai bawah—Naya masuk ke kantor dengan postur yang begitu tegak, namun dengan tatapan mata yang telah kehilangan binarnya.
Riko masuk membawa daftar tamu untuk acara lusa. "Pak... Nona Aline baru saja mengirimkan bunga ke ruangan Anda. Apakah perlu saya buatkan catatan terima kasih?"
Juna tidak menoleh. Matanya masih terpaku pada monitor kecil yang menampilkan Naya. "Buang bunganya. Dan pastikan Nona Kanaya mendapatkan akses penuh ke perpustakaan material internasional sore ini. Suruh dia pergi ke sana sendiri, jangan ada tim pengawas yang terlihat."
"Tapi Pak, Chairman memerintahkan agar—"
"Lakukan saja!" bentak Juna, suaranya menggelegar. "Aku sedang mencoba memberinya satu jam kebebasan sebelum dia benar-benar membenciku selamanya. Lakukan, Riko!"
Riko menunduk patuh dan segera keluar. Juna kemudian mematikan monitornya. Ia berjalan menuju meja kerjanya, mengambil sebuah kotak kecil berwarna beludru hitam dari laci terdalamnya. Di dalamnya ada sebuah cincin—bukan cincin untuk Aline. Itu adalah cincin perak sederhana dengan ukiran pola bunga mawar kecil, persis seperti pola pada maket kayu yang dulu ayahnya hancurkan.
Juna menyentuh ukiran itu dengan ibu jarinya. "Kau adalah mahakaryaku yang sebenarnya, Kanaya. Dan mahakarya ini... terlalu berharga untuk dipajang di galeri yang penuh dengan monster seperti kami."
Di tengah kemegahan gedung pencakar langit Jakarta, dua hati yang saling mendambakan kini sedang saling menyakiti dengan cara yang paling terstruktur. Arjuna memilih untuk menjadi penjara agar Kanaya selamat, sementara Kanaya memilih untuk menjadi dingin agar Arjuna tidak tahu betapa hancurnya ia di dalam.
Fase Penyangkalan telah mencapai titik didihnya. Di balik dinding kaca yang steril, badai emosional yang jauh lebih besar dari badai di lokasi konstruksi sedang bersiap untuk meluluhlantakkan segalanya.
[KILAS BALIK ]
Kamera bergerak pelan menyusuri koridor sebuah rumah sakit mewah di Singapura. Suasana sunyi, hanya terdengar suara detak mesin EKG yang monoton di kejauhan.
Sembilan tahun yang lalu.
Arjuna yang baru berusia sembilan belas tahun duduk sendirian di ruang tunggu. Ia mengenakan kemeja hitam yang kusut, matanya merah karena berhari-hari tidak tidur. Ibunya, Maria, sedang berada di dalam ruang operasi untuk terakhir kalinya.
Pintu operasi terbuka. Ayahnya, Sang Chairman, keluar dengan langkah yang sangat tegap. Tidak ada setetes pun air mata di wajah pria itu. Ia merapikan jasnya, lalu menatap Juna dengan tatapan yang sangat dingin.
"Ibumu sudah tidak ada," ucap Sang Chairman datar, seolah ia baru saja melaporkan kerugian kuartal perusahaan. "Dia meninggal karena dia terlalu lemah. Dia membiarkan penyakitnya menang karena dia tidak punya keinginan untuk bertahan di dunia yang kompetitif ini."
Juna gemetar, ia berdiri dengan kaki yang lemas. "Ayah... bagaimana Ayah bisa bicara seperti itu? Ibu mencintai kita!"
Sang Chairman melangkah mendekat, mencengkeram rahang Juna dengan kekuatan yang menyakitkan. "Cinta adalah alasan dia mati, Arjuna. Dia terlalu mencintai kenangan, mencintai barang-barang tidak berguna, dan mencintai pengabdian yang tidak menghasilkan profit. Dia adalah cacat produksi dalam hidupku. Jangan pernah kau ulangi kesalahannya. Jika kau ingin hidup lama, jangan biarkan siapa pun memiliki kuncimu."
Ayahnya kemudian pergi meninggalkan Juna sendirian di lorong rumah sakit yang dingin. Juna muda jatuh berlutut, menatap lantai marmer putih yang kini terasa seperti es yang membekukan hatinya. Di detik itu, ia bersumpah untuk menjadi pria tanpa emosi, sebuah sumpah yang kini sedang ia pertaruhkan demi seorang gadis bernama Kanaya Larasati.