"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya
Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Menjadi Debu
Pagi itu, Kota yang indah mulai terbangun dengan berita ekonomi paling mengerikan dalam satu dekade .
Bursa saham sektor properti dan otomotif rontok
Perusahaan keluarga Sanjaya dan aset milik keluarga Evan dinyatakan bangkrut secara sistemik dalam waktu kurang dari enam jam,
Vandiko duduk di kursi kebesaran kantor barunya yang berada di puncak lantai 88
Di depannya, layar-layar besar menunjukkan grafik merah yang terjun bebas
"Tuan, keluarga Sanjaya sudah berada di lobi, Mereka memohon untuk bertemu," lapor Gia yang kini berdiri tegak dengan seragam taktis yang lebih elegan
"Biarkan mereka menunggu," jawab Vandiko dingin
"Biarkan mereka merasakan bagaimana rasanya menjadi pengemis di gedung yang dulu mereka klaim sebagai milik mereka."
Dua jam kemudian, pintu ruangan terbuka, Surya Sanjaya masuk dengan pakaian yang sangat kusut, wajahnya menua sepuluh tahun dalam semalam .
Di belakangnya, Clarissa merayap masuk dengan mata sembab
Tidak ada lagi gaun desainer ternama; ia hanya mengenakan pakaian sederhana yang tampak dibeli terburu-buru
"Vandiko... Nak... tolong," Surya langsung jatuh berlutut di atas karpet Persia yang mahal
"Kami salah, Aku salah..
Aku akan memberikan segalanya, bahkan Clarissa...
kau bisa memilikinya kembali, lakukan apa saja padanya, tapi tolong hentikan penghancuran saham kami!"
Vandiko memutar kursinya perlahan, Ia menatap Surya dengan tatapan yang lebih dingin daripada es kutub
Kemudian, pandangannya beralih ke Clarissa
"Vandiko, aku masih mencintaimu," isak Clarissa, mencoba mendekat dengan gaya menggoda yang kini terlihat menjijikkan
"Evan itu iblis, dia memaksaku! Aku selalu memikirkanmu setiap malam..."
Vandiko tertawa pelan, suara tawa yang membuat bulu kuduk Clarissa berdiri
"Dulu, kau bilang ketulusan tidak bisa membayar tagihan kartu kredit, bukan?"
Vandiko berdiri dan berjalan mendekati Clarissa, Ia mengeluarkan arloji murah seharga dua ratus ribu yang telah hancur—arloji yang dulu ia berikan pada Clarissa
"Ini" Vandiko menjatuhkan sisa-sisa arloji itu ke tangan Clarissa
"Ini adalah harga dirimu saat ini
Nilaimu di mataku tidak lebih dari sampah plastik ini."
[Ting! Misi Penghancuran Masa Lalu Selesai]
[Kompensasi: 50 Triliun Rupiah & Membuka Skill: 'Manipulasi Pasar Psikologis']
"Gia, serahkan bukti korupsi pajak Surya Sanjaya dan kasus pencucian uang keluarga Evan ke pihak berwenang sekarang juga," perintah Vandiko
"Vandiko! Jangan! Kau kejam!" teriak Surya saat petugas keamanan mulai menyeretnya keluar
"Aku tidak kejam," sahut Vandiko sambil kembali duduk "Aku hanya mengembalikan dunia yang kalian ciptakan sendiri kepadaku Selamat menikmati kemiskinan"
Setelah ruangan itu sunyi, Vandiko membuka berkas digital yang diberikan oleh Arka semalam
Lokasi Laboratorium Bawah Laut Naga
Lokasinya berada di Palung, ribuan meter di bawah permukaan laut
"Gia, siapkan Kapal Selam Tempur kelas siluman Sentinel-01," ucap Vandiko, matanya kini terfokus pada misi yang lebih besar
"Tuan, kita akan bergerak ke sana sekarang?" tanya Gia
"Tidak. Kita butuh umpan," Vandiko tersenyum misterius
"Kirim pesan ke Isabella Wijaya, Katakan padanya, aku butuh 'kunci' yang disimpan ayahnya di brankas baja terdalam Wijaya Group
Kunci untuk membuka gerbang Laboratorium itu."
Vandiko tahu, Isabella mungkin adalah sekutunya, tapi keluarga Wijaya juga memiliki rahasia besar
Apakah mereka benar-benar berada di pihaknya, ataukah mereka adalah 'Naga' keenam yang paling berbahaya?
Tiba-tiba, layar sistem Vandiko berkedip merah terang
[Peringatan! Pengguna Sistem Lain Terdeteksi dalam Jarak 10 Meter!]
Vandiko langsung berdiri, namun terlambat, Sebuah belati tipis sudah menempel di lehernya dari belakang kursi
Aroma parfum yang sangat ia kenal menusuk hidungnya
"Jangan bergerak, Vandiko," bisik sebuah suara wanita yang sangat lembut namun mematikan
Itu bukan Gia, Itu adalah Isabella Wijaya