Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Amukan Sahabat dan "Skakmat" untuk Sang CEO
Maya benar-benar kehilangan kesabaran. Suara notifikasi pesan yang terus masuk ke ponsel Gisel dan deru mesin mobil di depan pagar rumahnya membuat niatnya untuk tidur nyenyak hancur berkeping-keping. Dengan daster all size dan rambut yang berantakan, Maya melabrak mobil SUV hitam itu.
Dewa (35 thn) menurunkan kaca mobilnya perlahan, menatap Maya dengan wajah kuyu di balik kacamata bacanya.
"Bapak CEO yang terhormat! Coba Bapak pikirin, saya ini besok pagi harus jaga toko! Mana bos saya galak banget! Kalau saya telat atau kurang tidur gara-gara Bapak nangkring di sini dan bolak-balik kirim pesan ke Gisel, Bapak mau tanggung jawab?!" omel Maya tanpa rem.
Dewa terdiam, bahu lebarnya yang tegap tampak sedikit merosot. "Saya hanya ingin memastikan Gisel—"
"Gisel aman! Tapi dia jadi mondar-mandir ke jendela mulu kayak setrikaan gara-gara Bapak masih di sini! Tolong ya Pak, saya bisa gila kalau begini terus!" potong Maya pedas.
Mendengar ocehan Maya yang tidak ada habisnya, Dewa akhirnya menyerah. Ia memberi isyarat pada asistennya yang duduk di kursi kemudi untuk segera pergi dari depan rumah Maya.
Namun, sebelum mobil itu melaju, Maya menahan pintu mobil Dewa. Ia menatap Dewa dengan tatapan menyelidik yang tajam.
"Hallo Pak CEO... bukannya pernikahan ini cuma kontrak? Kok bisa sampai segininya sih? Apa Bapak CEO mulai jatuh cinta sama si 'muka badak' itu alias si Gisel?!"
Dewa membeku. Pertanyaan "skakmat" dari Maya barusan seolah menghantam ulu hatinya lebih keras daripada amukan tadi. Dewa tertegun, matanya yang tajam menatap kosong ke arah setir mobil.
"Atau Bapak cuma takut kehilangan 'asisten' rumah tangga gratisan?" tambah Maya dengan nada menyindir.
Dewa melepaskan kacamata bacanya, mengusap wajahnya yang lelah. "Saya... saya hanya tidak terbiasa dengan rumah yang sepi tanpa aroma white tea-nya."
"Halah, alasan klasik!" Maya mendengus. "Udah, pulang sekarang! Biarin Gisel tenang dulu. Semakin Bapak desak, semakin dia ngerasa cuma jadi bayangan Mbak Arumi!"
Mobil Dewa akhirnya melesat pergi, meninggalkan Maya yang masih ngedumel di tengah jalan.
Gisel (23 thn) meringkuk di bawah selimut tipis, aroma white tea dari tubuhnya terasa lebih sendu di tengah keheningan kamar Maya. Rasa bersalah karena telah merusak waktu istirahat sahabatnya itu membuat dadanya sesak.
"May, sori ya... gara-gara gue lo jadi kurang tidur," bisik Gisel pelan.
"Tidur nggak lo?! Atau gue bakar nih kasur?!" ancam Maya dengan suara serak khas orang mengantuk, tapi tetap menarik selimut untuk menutupi bahu Gisel.
"Iya, iya... ayo tidur," jawab Gisel pendek.
Keduanya berbaring menatap langit-langit kamar yang gelap. Keheningan merayap sejenak sebelum Maya kembali bersuara, kali ini nada bicaranya lebih lembut. "Sel... lo udah nengok nenek lo?"
Gisel terdiam, matanya yang bulat menatap kosong ke arah jendela. Bayangan neneknya yang renta adalah alasan utama ia rela menandatangani kontrak gila dengan Dewa Atala.
"Belum," jawab Gisel lirih. "Mungkin nanti kalau uangnya sudah kekumpul, gue mau bawa Nenek tinggal sama gue. Sekarang yang penting biar aman di panti dulu, biar dapet perawatan yang bener. Gue nggak mau Nenek telantar lagi kayak dulu."
"Terus... bapak sama ibu tiri lo gimana sekarang?" tanya Maya lagi.
Gisel mendengus miris, tawa getirnya terdengar sangat menyakitkan. "Dih, mana gue tahu. Habis 'jual' gue ke kontrak itu, mereka kabarnya hilang gitu aja. Mungkin lagi foya-foya pake uang muka dari Mas Dewa. Peduli amat, yang penting sekarang gue punya kontrak ini buat menghidupi Nenek."
Gisel memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh ke bantal. Ia teringat kembali wajah kaku Dewa yang seolah melihat "hantu" masa lalu dalam diri Bianca. Ironis, ia berusaha menyelamatkan keluarganya dengan masuk ke rumah pria yang hatinya masih tertinggal di masa lalu.
"Sabar ya, Sel. Muka badak lo pasti bisa ngelewatin ini," bisik Maya sebelum akhirnya benar-benar terlelap.
Di dalam gelap, Gisel hanya bisa berdoa: semoga esok pagi, aroma white tea-nya bisa membawa kekuatan baru, bukan lagi sisa-sisa kesedihan dari pesta yang menghancurkan hatinya itu.