Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Saat kegelapan benar-benar mempertegas status gilirannya, dan lampu-lampu perahu menjadi satu-satunya penerangan, suasana seketika mulai berubah. Suara obrolan mereda, digantikan oleh bisikan-bisikan pelan. Hawa dingin yang aneh mulai menusuk, padahal suhu tidak terlalu rendah.
"Apakah kalian merasakan sesuatu? Tubuhku terasa menggigil, entah kenapa? Tapi aku benar-benar merasa ada perubahan suhu yang sangat mencolok." Amelia berbisik, menggosok-gosok lengannya.
"Aku mengira hawa dingin ini cuman menyentuh tubuhku, tapi kamu ternyata juga merasakannya?" Timpal Ariana. "Nyala lampu di kapal ini cuma kuning redup, sangat minim penerangan, apakah ini tidak apa-apa?"
Laura menatap ke arah hutan di tepi sungai yang kini tampak seperti dinding hitam raksasa. "Aku merasa seakan telingaku mendengar riuh suara-suara dari arah hutan di sebelah sana, mirip seperti jeritan di kejauhan."
Tiba-tiba, perahu bergetar hebat. Mesin yang tadinya berdentum, kini terbatuk-batuk, lalu mati total. Kegelapan pekat langsung menyergap, hanya menyisakan cahaya rembulan yang samar di balik awan. Teriakan-teriakan kecil, tangis bayi dan kepanikan mulai terdengar dari para penumpang.
"Ada apa ini, Pak?" tanya seorang pria paruh baya.
Sang nahkoda berusaha meredam. "Mesinnya mati, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Tenang, saya coba perbaiki." Ia segera beranjak menuju ruang mesin.
Di tengah situasi yang mencekam, suara-suara aneh mulai muncul. Bisikan-bisikan tak jelas, diselingi tawa tanggung yang terputus-putus, terdengar dari tepi sungai. Aroma yang tak dapat dijelaskan sangat kuat menderu membawa semerbak, menyeruak ke setiap hidung yang menggelitik perasaan mual.
"Bau apa ini? Terasa pahit dan amis, dan ada sedikit aroma yang mirip daging gosong?" Ariana membekap hidungnya.
Laura merasakan adanya kedatangan suatu atmosfer yang berbeda. Ia menatap ke arah hutan yang gelap. Di antara siluet pepohonan, matanya menelisik ke antara bayangan-bayangan bergerak. Bukan bayangan manusia. Bentuknya lebih samar, seperti gumpalan asap hitam yang menari-nari.
"Aku melihat sesuatu, tapi aku tidak dapat memastikan apa itu?" Laura bertanya dalam hatinya, ia memilih diam, berusaha agar suasana tidak bertambah kacau.
"Dia datang! Dia datang! Dari sebelah sana.. Dia mendekat...! Dia..! Aaggghh!! Teriak seorang wanita yang sedang menggendong balitanya, matanya kejang melotot, jari telunjuknya menunjuk ke arah permukaan sungai yang gelap. Ia terus saja meronta dan berteriak-teriak histeris. Beberapa penumpang lain coba mendekat menenangkannya.
Dari ruang mesin, sang nahkoda muncul dengan wajah panik. "Mesinnya tidak bisa dihidupkan! Sepertinya ada yang menahannya!"
Laura lalu membuka ponselnya, tidak ada sinyal sama sekali, beberapa orang di sana sepertinya juga sudah mencoba melakukan hal yang sama, hanya cahaya dari beberapa ponsel yang terlihat menerangi kegelapan.
Tiba-tiba, perahu berguncang hebat. Guncangan itu melemparkan beberapa penumpang ke lantai, termasuk Laura dan teman-temannya. Ada sesuatu yang menubruk dari dalam permukaan air, entah apakah itu namanya, gesekan dapat dirasakan oleh pipi mereka yang menyentuh dekat, seolah ada sesuatu yang besar sedang bergerak di bawah perahu.
"Kita hanyut!" teriak seorang pria. "Perahu kita terbawa arus!"
Perahu benar-benar tampak mulai terbawa arus yang deras, menjauhi jalur utama sungai. Semua orang berpegangan erat, berusaha menyeimbangkan diri, tangis dan jeritan terus terdengar bercampur dengan kegelapan dan suara arus yang menderu.
Setelah beberapa saat terbawa arus, perahu menabrak sesuatu dengan suara keras. "Breek!
Semua orang terhuyung. Perahu tersangkut. Cahaya senter ponsel langsung menyorot ke arah depan. Mereka melihat sebuah daratan kecil, dipenuhi pepohonan rimbun dan belukar. Sebuah pulau kecil yang tidak tercantum di peta mereka.
"Kita terdampar!" Sentak Roni.
Kepanikan kembali melanda. Beberapa orang mencoba turun dari perahu, namun sang nahkoda melarangnya. "Jangan turun! Kita tidak tahu tempat apa ini!"
"Tapi kita di mana sekarang, Pak?" tanya Laura, nafasnya naik turun.
Sang nahkoda menggeleng. "Saya juga tidak tahu, Nak. Sepertinya kita terbawa arus ke anak sungai yang tidak pernah saya lewati sebelumnya."
Malam semakin larut. Udara di pulau itu terasa sangat lembap dan berat. Suara-suara serangga malam berbaur dengan bisikan-bisikan aneh yang tak jelas asalnya. Dari dalam hutan di pulau itu, cahaya-cahaya kecil berwarna hijau kekuningan terlihat berkedip-kedip, seolah mengawasi mereka.
"Itu... mata apa?" Amelia berbisik, menunjuk ke arah cahaya itu.
Ariana lalu memelukkan tangannya ke bahu Laura "Aku takut, entah bagaimana, tapi seandainya kita terjebak di sini terus menerus, jadi apa yang dapat kita lakukan?"
Di tengah kegelapan dan ketidakpastian, muncul suara nyanyian samar. Sebuah nyanyian kuno, dengan lirik yang tidak mereka mengerti, terdengar dari dalam hutan. Nyanyian itu terdengar pilu dan memanggil, seolah ingin menarik mereka masuk ke dalam kegelapan pulau itu.
Semua penumpang terdiam, kecuali balita dan beberapa anak kecil yang tetap menangis, mereka terpaku mendengarkan dengan seksama nyanyian itu. Ada sesuatu yang menghipnotis dalam melodi tersebut, membuat mereka ingin mengikuti suara itu. Roni, Amelia dan Ariana, kecuali Laura yang tetap terjaga, ketiganya mulai bergerak lesu, hati mereka merasakan desakan aneh untuk melangkah segera turun dari perahu.
"Jangan dengarkan!" teriak Sang Nahkoda, suaranya tegas. Ia memercikkan air ke arah penumpang. "Itu suara penunggu pulau! Tutup telinga kalian!"
Sang Nahkoda bersama beberapa penumpang pria kembali ke arah dapur mesin, kali ini mereka membawa beberapa peralatan lain, mencoba sekali lagi memperbaiki mesin perahu.
Sejumlah penumpang menunduk dan yang lain menyelimuti putra putri mereka dengan selimut, sebagian suara tangis mulai mereda. Akan tetapi Laura melihat adanya keanehan lain, di dekat sebuah pohon besar, di situ ia melihat sepintas bayangan samar yang mirip sosok Kakek Adu si jari sebelas dengan ketiga isterinya, di atasnya ada sesuatu seperti kobaran bola api, namun terkadang nyala itu lenyap, dan terkadang kembali muncul, lalu kembali tak terlihat. Tak ingin terpedaya oleh pemandangan itu, Laura berbalik menuju ke arah kerumunan penumpang.
Ketika ada kelengahan, Ariana, Roni dan Amelia, ketiganya tiba-tiba turun dari perahu, wajah mereka datar, suasana gelap membuat beberapa penumpang termasuk Laura tak melihatnya. Tidak ada suara apapun, hanya kesunyian dan makhluk kecil yang merayap di dedaunan dan rumput.
Tatkala ketiganya telah berjalan kian menjauh dari perahu, barulah Laura menyadari, ia sontak bangkit dan mencoba berteriak memanggil sekuat tenaga, tetapi tak digubris, beberapa kali Laura melemparkan suaranya, ketiganya tetap berjalan lurus memasuki semak dan belukar di pulau itu.
Tidak ada pilihan, Laura memutuskan menyusul turun dari perahu, ia berlari dan menangkap sigap lengan Ariana, tetapi tak ada respon, hanya diam dan sedikit kaku, ia kemudian mengguncang-guncangkan tubuh ketiganya, sangat sulit, seakan pengaruh gaib itu lebih besar menguasi kesadaran ingatan mereka.
Di atas perahu, dengan suasana mencekam, beberapa penumpang membisu dan hanya berusaha sebisa mungkin fokus menjaga diri mereka dan anak-anak mereka masing-masing, tidak ada yang saling bertanya, dan tidak pula ada waktu untuk saling bertatap.
-Kemudian.......
Di tengah keheningan itu, tiba-tiba, dari arah belakang perahu, terdengar suara gemuruh mesin yang dahsyat. Sebuah perahu patroli polisi air muncul, menyalakan lampu sorotnya yang terang benderang. Cahaya itu menyapu kegelapan, mengusir kecemasan dan membangkitkan binar di wajah.
Polisi air dengan cepat menarik perahu yang tersangkut, dan membawanya kembali ke jalur utama. Para penumpang terlihat lega, ada yang menangis, ada yang mengucapkan syukur berulang kali.
"Kami menerima laporan ada perahu yang hilang kontak, Pak," kata seorang petugas polisi kepada Sang Nahkoda. "Beruntung kami segera menemukan kalian."
Perahu kemudian dievakuasi, Sang Nahkoda dibantu beberapa petugas polisi air tampak menghitung penumpang satu persatu, tidak ada yang kurang, dan tidak pula ada yang cidera. Tiga puluh orang, termasuk sosok samaran yang menyerupai Laura, Amelia, Ariana dan Roni.
-Sementara Itu...........
Laura menghela napas panjang, frustrasi memuncak di tenggorokannya. Ia tahu ini bukan saatnya untuk bersikap halus. Dengan determinasi yang mengeras, ia mulai bergerak. Pertama, ia mulai menampar pipi Amelia, menepuk pundaknya berulang kali, lebih keras dari sekadar sentuhan peringatan. Ketika Amelia hanya menggumam dan terus menatap kosong, Laura mencondongkan tubuhnya, berteriak nyaring tepat di telinga sahabatnya itu, mengulang-ulang nama dan peringatan yang tak dapat diabaikan.
Usaha keras Laura akhirnya membuahkan hasil. Kelopak mata Amelia berkedip-kedip, pupil matanya yang semula terpaku lurus. Seolah-olah ia baru saja terbangun dari trans, ia menarik napas tajam, kesadaran kembali menerangi wajahnya. Tidak lama setelah itu, Roni dan Ariana menyusul. Mereka tersentak, sedikit terkejut dengan intensitas Laura, namun tatapan mata mereka yang semula kosong kini mulai memancarkan kebingungan yang sehat, bertanya-tanya mengapa Laura begitu mendesak.
"Ada apa, Laura? Jangan teriak-teriak ke arahku!" protes Amelia, sedikit kesal, namun ada nada khawatir yang terselip dalam suaranya.
"Kita di mana?" Bingung Ariana mengawasi sekelilingnya. "Keadaannya sangat berbeda."
"Kalian tadi turun dari perahu, aku sudah berusaha memanggil kalian, menahan kalian, tetapi kalian saat itu benar-benar dikuasai oleh pengaruh yang aku tidak tahu itu dari mana. Jadi di sinilah kita! Sekarang lebih baik kita segera kembali ke perahu, mungkin saja saat ini mesin perahu sudah dapat menyala, dan mereka sedang menunggu kita." Ungkap Laura tergesa-gesa seraya menarik lengan sahabat-sahabatnya.
Setelah pergulatan menangkap kesadaran, mereka berlari, atau lebih tepatnya terhuyung-huyung, menuju tempat yang seharusnya menjadi penjangkar harapan mereka. Namun, yang mereka temukan hanyalah kehampaan yang mencengkeram. Perahu yang baru saja membawa mereka, kini sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah pinggir sungai yang gelap, di mana riak-riak kecil air memukul-mukul tebing tanah dengan suara monoton, seolah mengejek kekonyolan mereka. Di tengah sana, di mana seharusnya ada perahu, kini hanya ada kegelapan pekat yang seolah menelan segalanya.