Dikhianati oleh suami dan adik sepupunya sendiri membuat dunia Intan Kalista Atmaja hancur. Namun ia tetap mencoba untuk kuat. Sampai dirinya dipertemukan dengan Giovanni Abiyan Prayoga, laki-laki yang umurnya lebih muda delapan tahun darinya.
Pertemuan awal yang tak mengenakan membuat keduanya saling membenci. Namun siapa sangka, Pemuda itu justru membawa delima pada Intan saat kenyamanan mulai tumbuh dalam hatinya.
Akankah mereka bersama atau justru Giovanni hanya dijadikan pelampiasan oleh Intan?
Yuk ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SWB chapter 10
"Atau jangan-jangan kamu dan Talia yang menelpon mama dan memberitahu perselingkuhan kalian!" Suara Intan pelan tapi penuh tekanan, nyaris bergetar. Kedua tangannya mengepal disamping tubuh, berusaha menahan amarah yang hampir meledak.
"Apa maksudmu, Intan. Aku tidak mengerti," kata Ilham dengan dahi yang berkerut. Nada suaranya terdengar bingung, tapi mulai tersulut oleh tuduhan yang datang tanpa peringatan.
"Jangan berpura-pura, Mas!" tuduh Intan dengan mata yang menatap tajam, seolah menembus kebohongan yang mungkin disembunyikan oleh suaminya.
Ilham menarik napas panjang, menatap Intan dengan sorot mata tak percaya. "Aku tidak sedang berpura-pura, Intan. Aku benar-benar tidak tahu maksud ucapanmu!" kekeh Ilham, kali ini dengan nada tersinggung.
Intan tak langsung merespon ucapan Ilham. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan yang bergetar. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. "Beberapa hari yang lalu ada yang menelpon mama," ucapnya pelan, namun suaranya masih sarat emosi. "Orang itu mengatakan jika kamu selingkuh."
Ilham melangkah mendekat. "Sumpah demi Tuhan, Intan. Aku tidak melakukan itu!" balas Ilham.
"Kalau bukan kamu lalu siapa? Pacar gelapmu itu?" tebak Intan seraya menahan emosi.
"Aku juga tidak tahu, Intan," balas Ilham.
Intan mendengkus kesal lantas memilih untuk berhenti berdebat dengan Ilham yang tak akan ada ujungnya. "Okey jika kamu tidak mau mengakuinya. Aku juga tidak akan tinggal diam. Aku akan cari pelakunya. Dan ... jika ini ada hubungannya dengan kalian ... aku akan melaporkan kamu dan Talia polisi."
Hening sejenak, namun suara langkah Intan terdengar tegas memecah kesunyian. Intan berbalik dan meninggalkan ruangan itu dengan mata berkaca-kaca. Ilham sendiri terpaku di tempat, berdiri dengan marah, bingung, dan takut akan kehilangan kepercayaan Intan, meskipun sejujurnya Intan sudah tak lagi mempercayai dirinya lagi.
****
Tiga hari sudah Intan menginap di rumah Nindi. Namun, semua tak berjalan seperti apa yang ia bayangkan. Kehadiran Ilham membuat suasana menjadi janggal dan menyesakkan. Demi menjaga ketenangan hati Nindi yang masih dalam tahap pemulihan, Intan terpaksa harus berpura-pura ramah pada pria yang sudah membuat hatinya remuk.
Dadanya seraya bergejolak saat setiap kali mereka duduk berdampingan, setiap kali senyuman kebahagiaan harus ia pasang di depan Nindi. Seperti ada bara yang terus menyala, memaksa dirinya menahan segala emosi yang ada di bawah kendalinya.
Bersyukur kesehatan Nindi sudah jauh lebih baik. Wajahnya terlihat jauh lebih segar, suara lembutnya pun kembali bersemangat. Hal itu sudah cukup membuat hati Intan merasa lega.
Intan memutuskan untuk pulang ke rumahnya pada saat itu juga. Bukan tanpa alasan Intan memilih untuk pulang. Talia, sepupunya itu mengancam akan datang jika Ilham tidak pulang untuk satu malam lagi. Intan tahu jika Talia datang, susana akan lebih runyam. Tidak menutup kemungkinan Talia bisa mengatakan hal yang sebenarnya.
Jam dinding rumah itu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Intan berada di teras rumah bersama Ilham dan Nindi. Setelah makan malam keduanya akan kembali ke rumah.
"Ma, Intan pulang dulu," ucap Intan mencoba untuk tersenyum meskipun hatinya terasa berat. Ia meraih Nindi dan memeluknya erat, seolah enggan untuk berpisah.
Nindi membalas pelukan itu dengan lembut. "Kamu baik-baiknya di sana. Kalau ada apa-apa hubungi Mama," pesan Nindi. Tangannya bergerak naik turun di punggung Intan.
"Harusnya Intan yang mengatakan hal itu, Ma," sahut Intan berusaha terlihat santai.
Nindi tersenyum tipis. Tatapannya lantas bergeser pada Ilham yang masih berdiri di dekat pilar. "Ilham, Mama nitip Intan ya."
"Iya, Ma. Ilham pasti akan menjaganya," balas Ilham. Suaranya dalam dan mantab.
Kalimat sederhana itu justru membuat Intan menegang. Dadanya kembali bergerumuh, seperti ada arus panas yang mendaki ke tenggorokan.
Nindi tertawa kecil. "Satu lagi ... tolong bersabar dengan keras kepala Intan."
"Ma ..." protes Intan setengah kesal.
"Mama, tenang saja," balas Ilham dengan senyum samar.
Intan tak berkomentar apa-apa, tetapi dadanya bergerumuh mendengar ucapan Ilham.
"Baiklah, Ma. Kami pergi dulu," kata Ilham akhirnya.
Nindi mengangguk pelan, senyum lembutnya mengiringi kepergian mereka.
Intan berjalan menuju halaman, diikuti oleh Ilham yang nampak tenang, seolah semuannya baik-baik saja. Saat tangan Ilham tiba-tiba melingkar di pinggangnya, Intan nyaris memukul laki-laki itu. Gerakan itu membuat darahnya berdesir, bukan karena rasa rindu, melainkan rasa jijik dan marah yang selama ini tertahan. Akan tetapi Nindi masih memandangi mereka dari teras, sehingga Intan hanya bisa menggigit bibir dan berpura-pura tidak keberatan.
Begitu sampai di samping mobil Intan, Ilhamnya bergegas membukakan pintu untuknya. "Singkirkan tanganmu dariku," kata Intan lirih, tapi tajam. Matanya menatap dingin Ilham, nyaris menusuk.
Tanpa menunggu reaksi dari Ilham, Intan segera masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, dan melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah itu.
Sementara Ilham masih berada di halaman rumah itu, memandangi mobil Intan yang sudah lebih dulu meninggalkan rumah itu. Detik kemudian, Ilham masuk ke mobilnya sendiri, duduk di bangku kemudi. Ia segera melajukan mobilnya dan mengejar mobil Intan.
Hari sudah gelap dan hujan menemani perjalanan Intan. Jemarinya erat menggenggam kemudi. Sesekali pandangannya melihat ke arah kaca spion, mobil Ilham terlihat masih setia membuntuti. Intan mendengkus, tak peduli dengan laki-laki itu, ia memilih untuk berkonsentrasi mengemudi.
Mobil yang Intan kendarai berhenti sejenak di lampu merah. Lampu-lampu kendaraan lain memantul di wajahnya yang lelah. Saat warna hijau, ia kembali melaju, menembus derasnya hujan hingga sampai di depan rumahnya. Namun baru saja melewati pintu gerbang, ia mendengkus saat melihat mobil Talia terparkir di halaman rumahnya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Intan turun dan segera masuk ke dalam rumah. Kedatangannya langsung disambut oleh ocehan Talia.
"Mba, mana mas Ilham?" tanya Talia dengan marah.
Intan mengedikkan kedua bahunya acuh tak acuh. "Mana aku tahu."
"Mba, aku tidak mau kaya gini lagi. Mba harusnya jangan egois dong," ucap Talia lagi. "Aku sedang hamil mba harusnya tidak menahan mas Ilham untuk pulang."
"Dengar ini!" Intan mencengkram rahang Talia. Matanya memancarkan amarah yang selama ini ia pendam. "Aku tidak pernah menahan mas Ilham. Dia yang tidak ingin pulang."
Talia menarik tangan Intan dari wajahnya dengan kasar. "Bohong!"
"Terserah. Lagi pula aku tidak butuh kepercayaanmu!" balas intan.
TIN TIN
Suara klakson mobil Ilham terdengar, membaca ketegangan di antara mereka. Perdebatan pun berakhir seketika.
Berapa saat kemudian Talia tiba-tiba menjatuhkan dirinya di lantai lantas berteriak. "Mas Ilham tolong!"
Intan menatap Talia sejenak, detik kemudian Intan memutar bola matanya malas. Ia tak menduga Talia pandai berakting.
"Talia, ada apa?" Ilham berlari dan membantu intan berdiri.
"Mas, hik hik ..." Talia menangis di pelukan Ilham. "Mba Intan tadi mendorongku!"
Ilham langsung menatap Intan dengan amarah, namun tak membuat Intan merasa gentar. "Kamu mau menuduhku? Silahkan," kata Intan. "Tapi di sini ada CCTV." Intan menunjuk CCTV yang terpasang di tempat itu membuat mata Talia terbelalak.
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️