♥️♥️♥️
Perjodohan diusia muda? Yakin berjalan lancar? Usia yang masih labil, tanggung jawab besar, bisakah? Mampukah?.
Akan jadi apa pernikahan tanpa adanya ilmu pengetahuan yang cukup? Mental yang bahkan masih perlu bimbingan orang tua, apa keputusan orang tua mereka sudah benar untuk masa depan anak-anak nanti? Entahlah, semoga aja semuanya baik-baik saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SP_Daffotta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab VIII
...Selamat membaca...
.......
.......
.......
“Ngga usah cari masalah bisa ngga?!”
“Apaan sih dateng-dateng marah ngga jelas! PMS kamu?”
“Ini perbuatan kamu, ‘kan?”
“Jangan asal nuduh! Ngga ada kerjaan aku nempelin kaya gituan di mading!”
“Ngaku kamu lon*te! Jangan ngelak!”
“Aku ngga tau apa-apa!, Lepasin!!”
Di pagi yang seharusnya cerah ini malah terjadi tragedi menegangkan antara Veli dengan Akifa.
Veli menuduh Akifa meletakkan fotonya yang sedang berjalan berdua dengan pria paruh baya dan bergelayut manja.
Veli dengan brutal menarik rambut Akifa, sedang Akifa, dia hanya bisa meraung sakit, demi Tuhan, Akifa tidak melakukan apa yang dituduhkan Veli padanya.
‘Bruk!’
Abdiel datang melepas jambakan Veli dan membuat Veli terjatuh.
“Apaan sih kamu Vel? Gila kamu?!” Abdiel marah, iya lah! Dia tau Akifa ngga akan cari gara-gara duluan, ok, Akifa memang agak-agak mulutnya, tapi dia bergosip ya cuma ke pertemanan mereka yang berisi 6 orang itu aja.
“Ngga usah ikut campur kamu arang sate! Ini urusan perempuan!” Veli mengejek fisik Abdiel yang berkulit tan.
“Dih? Merasa cantik kamu ngatain aku kaya gitu? Ngaca sana di rumah! Wajahmu itu loh kayak tepung terigu tapi lehermu gelap! Bisa make up ngga sih sebenernya? Masih cantikan kucingku di rumah!” Abdiel tertawa mengejek dengan keras.
“Kenapa marah sama foto ini? Emang kamu ngelakuin ini?” Alfi memegang kertas berisi foto Veli itu.
Depan kelas Akifa ramai dikerumuni oleh siswa-siswi, Veli memang agak kontroversial, dia dari kalangan orang berada, tapi, entahlah, itu benar atau tidak.
“Ng ... ngga! Itu bukan aku! Itu editan!” dengan gugup gadis itu menjawab, dia berlari menjauh dari kelas Akifa dengan raut cemas.
‘Mereka ngga boleh tau! Aku belum bisa di keluarin dari sekolah!’ Veli membatin dengan mata berair, tapi cepat-cepat dia usap dengan kasar.
“Tuh cewek kenapa sih? Biang gosip di sekolah kan bukan cuma aku? Kenapa aku yang dituduh? Temen dia sekelas juga banyak kok yang biang gosip, dasar Veli anj*ing!” Akifa mengumpat keras penuh emosi.
Abdiel menenangkan gadis itu dengan tanpa sadar memeluknya.
“Sakit banget kah?” Abdiel bertanya lembut.
“Iyalah! Kamu mau coba?!” Akifa jengkel dengan pertanyaan Abdiel.
Abdiel terkekeh kecil mendengar ucapan gadis di depannya ini.
“Dah! Jangan nangis terus, entar cantiknya ilang loh,” bak orang tua yang menghibur anaknya yang masih SD, Abdiel menghapus air mata Akifa dengan sabar.
Perlakuan manis Abdiel jelas membuat Akifa cepat berhenti menangis, dia berdiri kemudian meraih tangan Alfi untuk ke kamar mandi, agaknya gadis itu juga malu setelah menyadari tindakan Abdiel.
“Kamu jadian ama si Akifa?” pertanyaan asal bunyi dari Rafka membuat Abdiel langsung menoleh cepat.
“Apaan sih! Ya nggalah! Kamu sendiri tadi liat kan gimana brutalnya Veli? Akifa sampe kesakitan loh!” Abdiel berbicara sambil memasang wajah serius.
“Tingkahmu tadi manis banget ke Akifa, jadi curiga, kalau belum jadian, jangan-jangan jatuh cinta?” Abhi ikut menggoda, walau dengan mimik wajahnya yang flat.
“Udahlah! Ngga penting banget kalian bahas ginian! Bubar!” seru Abdiel sambil berlalu menuju kantin.
Jatuh cinta sama Akifa? Entahlah, Abdiel ngga pernah merasakan hal itu, menurut pemuda konyol itu, semua teman, tidak ada cinta.
Di kamar mandi.
“Menurutmu, foto yang dibawa ama Veli tadi asli atay editan, Al?” disela-sela Akifa membasuh muka, Akifa masih membahas hal yang membuat kulit kepalanya sakit.
“Itu bukan editan, aku pernah lihat si Veli jalan ama om-om, bahkan saat acara pesta di hotel-hotel mewah, yang melibatkan orang-orang besar di dalamnya, aku pernah lihat Veli,” Alfi menjawab tak peduli.
“Serius kamu?! Kok kamu tau banget?!” Akifa terkejut.
“Aku kan udah bilang, aku tau sendiri, dan lagi, kalau ada pesta-pesta gitu aku selalu ikut, Ayah selalu ngajakin,” Alfi memberi penjelasan dengan malas.
"Ngeri banget, dia tadi ngatain aku lon*te, masa lon*te teriak lon*te? Iiih," Akifa bergidik geli membayang Veli benar-benar jalan bersama om-om.
.......
.......
.......
Bersambung ...
Lope you pull guys♥️
...Terima kasih guys🌹...
Ayo baca ulang karyaku, ada perubahan yang agak besar loh, in syaa Allah alurnya aku ubah biar tambah cantik😚
Love you all😚