" sebuah perjalanan dalam meraih cinta sejati "
Hana sebenarnya ragu untuk meneruskan langkahnya menuju pernikahan yang sudah didepan mata.
Hana tak pernah menduga jika ia akan diberi kesempatan lain.
Namun dengan cara yang tak biasa.
Hana terdampar dijaman dan ditempat yang entah dimana.
Ia pun dihadapkan pada takdir dengan begitu banyak kejutan.
note : Alur ceritanya lambat karena pengenalan tokoh berjalan seiring dengan berjalannya cerita.
Begitupun dengan konfliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thata Embem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke kota
🌺hem... 🌺
* * *
Hana tersenyum lebar, menatap tempayan yang penuh terisi air hujan.
Tak sia-sia hujan kemarin, ia jadi bisa menampung banyak untuk persediaan air minum.
Hana kembali ke dapur setelah sebelumnya ia menutup semua tempayan.
Ia melihat jika asap yang mulai mengepul menandakan jika bahan bakarnya mulai menipis. Hanapun menambahkan beberapa batang ranting kering kedalam tungku.
Hana memulai aktivitasnya seperti dua hari sebelumnya. Mencuci dan menjemur baju, kemudian mengumpulkan telur ayam, dan bersiap masuk kedalam hutan.
Mengandalkan tanda jalan yang ia buat waktu itu, Hana dapat dengan mudah keluar masuk hutan untuk mengambil apel liar di sana.
Sementara Lauren sibuk menata aneka tanaman yang akan dijadikan rempah kering, mulai dari dedaunan, batang pohon dan akar tanaman .Semua ia susun di atas keranjang pipih, lalu menjemurnya dibawah sinar matahari.
Sesekali pandangannya melihat bagaimana Hana yang mondar-mandir dengan lincahnya mengerjakan semua pekerjaan rumah yang selama ini ia lakukan sendiri.
Hana beberapa kali terlihat menyeka keringat yang jatuh disudut dahi dengan punggung tangannya.
Hana kembali dengan tugas memasaknya di dapur. Meski dengan peralatan masak seadanya ia hampir tak kesulitan untuk dapat beradaptasi dengan hal tersebut.
Memasak adalah hal yang paling Hana sukai. Dan semua yang ada dihadapannya kini menjadi sebuah tantangan baginya untuk berkreasi dalam mengolah makanan dengan peralatan dan juga bahan seadanya.
Hal itu membuat Hana senang. Ia merasa ada sensai baru dalam kehidupan yang mai. bisa ia Terima saat ini.
Dan untuk sejenak ia pun melupakan semua kemelut yang ada dalam pikirannya.
* * *
Begitulah yang mereka jalani selama hampir dua minggu. Hana mengambil alih semua pekerjaan rumah, sedangkan Lauren fokus pada proses membuat racikan ramuannya saja.
Seharusnya Lauren mengantarkan pesanan ke kota dalam waktu seminggu, namun beberapa hari belakangan cuaca sering turun hujan .
Membuat proses pengeringan rempah Lauren sedikit lebih lama dari biasanya. Laurenpun menyediakan lebih banyak rempah untuk stok berikutnya. Berjaga-jaga jika cuaca semakin tak bersahabat. Karena semua proses pengerjaan tersebut sangat bergantung pada panas matahari.
Seperti biasa Hana dan Lauren tidur lebih awal karena besok mereka akan memulai perjalanan menuju kota.
Malam itu ,Hana hampir tak dapat memejamkan matanya.
Ia terlihat berulang kali membolak balikan tubuhnya dengan berbagai posisi.
Apa yang harus ia lakukan jika ternyata kota tak seperti yang ia harapkan ? itulah yang terus menggangu pikiran dan membuatnya tampak begitu gelisah.
* * *
Hana berdiri didepan lemari yang pintunya terbuka lebar. Ia menatap lipatan baju yang ia kenakan waktu pertama kali datang, dan peralatan medis p3k pemberian Dr. Murni yang sudah ia keluarkan dari bingkisan parcel.
Semuanya ia satukan ke dalam sebuah kain, lalu menggulungnya hingga tertutupi dengan rapat.
Ada rasa penasaran kenapa Lauren tak pernah menanyakan barang miliknya itu. Padahal ia menaruhnya ditempat dimana Lauren selalu mengambil baju ganti setiap harinya.
" Hana " panggil Lauren dari luar rumah.
Hana bergegas, ia mengambil barang miliknya dan membawanya serta keluar dari rumah.
Tampak Lauren yang sudah menunggunya dengan duduk di kursi kemudi kereta .
Hana berjalan mendekat untuk meletakan barang bawannya tadi diantara tumpukan kain yang ada di atas kereta.
" apa kau sudah siap ? " tanya Lauren menatap Hana sambil tersenyuma lebar.
Hana menarik nafas panjang ,lalu menghembuskanya dengan perlahan .Ia lakukan berulang kali.
Hana mengangguk lalu sambil melebarkan senyuman serupa pada Lauren. Menandakan jika ia yakin dan siap untuk memulai perjalanan menuju kota.
* * *
Hari masi begitu pagi , namun mereka harus sudah memulai perjalanan agar dapat sampai sebelum gelap.
Sepanjang perjalanan Hana begitu menikmati pemandangan alam yang begitu menyejukkan mata. Ia belum pernah sekalipun berkesempatan menjelajahi tempat seperti ini di kehidupan sebelumnya.
Hingga ia tak sadar sudah berjalan berjam-jam lamanya. Hana bahkan tak merasakan terik matahari yang tak mampu menembus rimbunnya daun pepohonan.
" apa kau tak lelah, Hana .. kita bisa beristirahat sebentar jika kau mau " ucap Lauren yang memegang erat tali kemudi yang melingkar dileher keledainya.
Ia melihat pada wanita yang berjalan disamping keretanya itu. Pandangan wanita itu sejak tadi terlihat sibuk mengitari sekelilingnya.
Hana menggeleng, ia memang masih sanggup untuk melanjutkan perjalanan yang baru separuh dari perkiraan waktu tempuh.
" sepertinya kau bukan orang yang suka banyak bicara " Lauren menepikan keretanya . Karena sebenarnya ialah yang sudah merasa sangat lelah.
Ia menghentikan jalan keretanya tepat dibawah pohon besar yang akarnya menjulang keluar dari dalam tanah. Menjadikan sebuah tempat peristirahatan yang nyaman untuk dapat sekedar duduk dan bersandar .
" Apa kau baik-baik saja, bu " Hana bergegas memegang lengan Lauren ,membantunya menuruni kereta.
" aku lelah.. kita istirahat sebentar untuk makan siang.. setelah itu baru kita lanjutkan lagi perjalanan "
Setelah Lauren duduk, Hana menurunkan perbekalan mereka. Keduanya pun menikmati makan siang sederhana mereka.
" Hana "
" ya, bu "
" dengarkan aku baik-baik..
setibanya kita di kota, jangan berbicara dengan siapapun ''
Hana mengkerutkan dahinya hingga kedua alisnya hampir bertemu.
'' kau berbeda, Hana.
Kau tidak terlihat seperti kebanyakan orang disini.
Karna itu kau pasti akan menarik perhatian banyak orang. Semua mata akan tertuju padamu nantinya.
Jadi, kau harus bisa menahan diri sebelum sampai pada tujuan mu.
Dan yang lebih kutakutkan lagi adalah jika , keadaan yang bisa saja jadi tidak bersahabat "
" memangnya tempat seperti apa yang kita tuju, bu ? kita akan ke kota, bukan ? "
" Kau akan lihat sendiri nanti.
Hana, aku tidak tau darimana kau berasal .Tapi sepertinya kota di pikiranmu mungkin tidak sama dengan yang akan terlihat nanti "
" apa ? apa maksudmu, bu "
" seperti pernah kubilang ada tiga kalangan didalam wilayah kerjaan. Setiap wilayah adalah golongan masing-masing yang dipisahkan oleh gerbang pembatas yang dijaga oleh pasukan khusus "
Hana membisu, ia tak keberatan untuk tidak bersuara karena memang sudah pembawaannya juga demikian. Namun ucapan Lauren tentang kerajaan dan golongan kalangan masih tak dapat ia cerna dengan otak encernya.
" Biar ku jelaskan, gerbang pertama yang akan kita masuki nanti adalah kota. Tempat para rakyat jelata berstatus rendah sepertiku hidup dan menggantungkan penghasilan dari sana.
Gerbang kedua adalah kalangan bangsawan. Hanya mereka yang berstatus di atas kami saja yang ada di sana, dan tentu saja memiliki keistimewaan serta kekayaan.
Dan gerbang ketiga adalah kawasan elit, wilayah inilah penghubung jalan memasuki ke kawasan istana. Hanya orang-orang berpengaruh , para pejabat istana para tetua dan juga petinggi kerajaanlah yang hidup di kawasan itu "
Lelucon macam apa ini ? apa ini renkarnasi ? aku mati dan terlahir kembali di entah abad yang keberapa ?
Pertanyaan mulai menghantui pikiran Hana.
Setelah penjelasan singkat dan juga waktu istirahat yang dirasa cukup, maka perjalanan pun kembali mereka lanjutkan
Langit tampak mulai menggelap .Menandakan jika sebentar lagi mereka sampai di tujuan. Kini Hana pun mulai merasa pegal di kedua betis kakinya.
Benar saja, diujung jalan tanah setapak itu tampak dua orang lelaki berbadan tegap, menggunakan pelindung kepala dan memegang temeng baja serta sebuah tombak dikedua tangan mereka.
Merekalah yang dimaksud Lauren sebagai penjaga gerbang .Gerbang yang dikeliling tembok tinggi . Dari kejauhan hanya terlihat atap-atap bangunan yang tidak begitu tinggi .Hana hanya melihat dengan samar karena pencahayaan yang mulai kurang.
Lauren kembali menghentikan keretanya, ia meminta Hana untuk mendekat.
" ya bu.. " Hana melihat Lauren mengambil sebuah kain hitam, ia bentangkan ditubuh Hana yang ternyata adalah jubah panjang pemberiannya waktu itu.
Entah kapan Lauren mempersiapkannya didalam kereta.
" sebisa mungkin kau harus menyembunyikan wajahmu.. " ucap Lauren mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Hana yang sedang memperbaiki jubah tebal ditubuhnya itu menatap benda hitam seperti batang tumbuhan sebesar ruas ibu jari yang kemudian Lauren arahkan padanya.
Mata Hana melotot, tubuhnya mengkaku kala Lauren mengoleskan benda tersebut kepermukaan wajahnya. Rasanya tak nyaman, tapi Hana tak dapat menolak.
Hana menurut ketika benda seperti arang itu kembali dioleskan ditangan dan bagian tubuh lain yang terlihat.
* * *
" Hai, Lauren. . siapa yang sedang bersamamu " tanya salah satu penjaga gerbang dengan akrab, ketika Hana dan Lauren hendak memasuki gerbang .
" dia putriku... " aku Lauren.
Hana diam tertunduk ketika para penjaga mendekati .
" aku tak pernah tau kau memiliki seorang putri " Ucap penjaga satunya menatap Lauren dengan satu alis terangkat.
" dia memiliki sedikit masalah dengan kesehatannya jadi selama ini dia hanya berdiam diri dirumah... karena khawatir pada kondisiku yang sudah tua ini, jadi mungkin sudah saatnya dia kuajak ke kota u menemaniku mengantar pesanan ramuan ''
Kedua penjaga itu membuka jalan, mempersilahkan kedua wanita itu melewati gerbang tanpa rasa curiga. Karena Lauren bukanlah orang asing bagi mereka.
Sudah puluhan tahun para penjaga silih berganti mengenal Lauren dengan baik. Siapa yang tak mengenal Lauren dikalangan itu.
Karena Sintia peracik ramuan itu ternyata cukup terkenal .
" ya, Tuhan... " seketika Hana merasa lemas pada kedua kakinya.
Bagaimana tidak, pemandangan kota yang ia lihat bukan seperti yang seharusnya.
Kini ia dihadapkan pada kerumunan manusia yang tengah sibuk berlalu lalang dijalan , baik itu serah maupun yang berlainan arah dengan jalanya.
Hitam dan coklat mendominasi warna seluruh pakaian yang dikenakan, modelnyapun serupa.
Hanya berbeda pada pakaian pria yang mengenakan celana panjang, bagian atas lebih simple seperti kimono bahkan beberapa tak mengenakan baju. Sedangkan pakaian para wanita sama halnya dengan dirinya dan yang Lauren kenakan.
Satu persatu bangunan mereka lewati . Berbagai penjual yang menjajakan aneka barang dagangan mereka. Semua terlihat kuno dan tradisional layaknya film kolosal yang pernah ia lihat di TV.
Apa yang terjadi padaku, bagaimana aku bisa ada di abad.. abad ke berapa ini akupun tak tau ..
tapi apa maksudnya aku terdampar disini?
apa aku benar-benar sudah mati ?
Tapi jika aku mati bukankah cuma ada surga dan neraka ?
kecuali benar adanya seperti yang sering terjadi di scenario sebuah film. Tentang dunia lain yang menjebak sebuah jiwa yang tersesat diantara dua dimensi ?
Tapi kenapa aku?
Dimana aku bisa menemukan penjelasan untuk semua ini? batin Hana kembali berkecambuk.
Langkah Hana terhenti ketika mereka memasuki sebuah lorong sempit diantara dua bangunan. Menyadari hal itu Laurenpun berhenti, turun dari kereta dan menghampirinya.
" Hana.. " Lauren menatap Hana yang tertunduk dengan wajah penuh polesan berwarna hitam .
" aku tidak apa-apa, bu.. " bohong Hana. Ia tak mungkin mengutarakan isi hati dan pikirannya pada Lauren.
" bertahanlah sedikit lagi kita akan segera sampai dipenginapan.. " Lauren mengira berhentinya Hana adalah karena lelah perjalanan yang baru saja mereka tempuh.
Untuk beberapa saat, Lauren pun membiarkan Hana duduk bersandar di kereta .
* * *
Benar saja setelah melewati lorong tadi, keduanya sampai di salah bangunan yang lebih lebar dari bangunan lainya. Penginapan yang Lauren maksud.
" selamat malam, Rosita.. beri aku kamar seperti biasa " ucap Lauren pada wanita yang terlihat seusianya ketika ia dan Hana masuk kedalam penginapan tersebut.
Hana tak lagi memperhatikan sekelilingnya, ia hanya melangkah mengikuti Lauren. Rasanya isi kepalanya kosong, tak dapat berpikir apa-apa lagi.
Ia hanya mendengar percakapan ringan Lauren dan Rosita si pemilik penginapan.
Sepi, ketika memasuki lebih dalam ke penginapan menuju ruang istirahat mereka.
" bersihkanlah tubuhmu, ada tempat pencucian di sana. kau pasti sudah merasa sangat tak nyaman " tunjuk Lauren pada sebuah ruang tak berpintu dalam ruangan yang sama tempat mereka tidur
Hanya ada sebuah kasur tipis , dua bantal kepala dan selimut usang yang terlihat disudutkan ruangan.
Setelah membuka jubahnya, Hana segera membersihkan diri. Saat keluar ia melihat Lauren sudah tertidur pulas dengan suara dengkuran yang khas.
Hana kembali teringat pada mendiang ibunya yang juga memiliki suara dengkuran khas yang sama.
Dulu sewaktu ibunya sering sakit ia sempat menemani sang ibu yang saat itu harus dirawat inap di rumah sakit.
Hana merebahkan tubuhnya tepat di samping Lauren. Ia kembali larut dalam pikirannya.
Ia meyakinkan diri, bahwa ia harus bisa menerima keadaan.
Termasuk pada ke keadaan tidurnya yang sekarang. Rasa tak nyaman mengenakan bantal, kasur lantai, dan selimut penginapan yang usang mau tak mau ia harus bisa gunakan .
Hidup tetap berlanjut, jadi apapun keadaannya akan ia coba jalani. Seperti selama ini ia selalu menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya.
Mungkin ini kesempatan dari Sang Pencipta padanya. Untuk memulai hidupnya yang baru , menata kembali hal yang ingin ia lakukan. Seperti memilih hal paling penting dalam hidupnya.
Siapa tau ia akan menemukan seseorang yang dapat membuatnya merasakan apa itu cinta, hal yang selama ini membuatnya begitu penasaran.
Sebagimana yang banyak orang lakukan ketika sedang dimabuk cinta . Mereka bisa menjadi buta, tuli, bahkan lumpuh hanya demi mendapatkan cinta yang diinginkan.
Dulu Hana menganggap hal tersebut berlebihan dan konyol. Namun untuk pertama kalinya, sekali saja ia ingin menjadi bagian dari orang-orang bodoh yang rela melakukan apapun demi cinta.