NovelToon NovelToon
Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:803.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: ZiOzil

Cerita ini diangkat dari sudut pandang yang bebeda, dengan alur kehidupan sehari-hari.
Dan menyebabkan kebaperan. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini.

Amanda, gadis cantik dan lembut. Harus terikat hubungan terlarang dengan pria beristri yang bernama Satria. Berawal dari pertemuan tak sengaja dan hutang budi, akhirnya mereka saling jatuh cinta dan menjalin hubungan yang tak semestinya.

Akankah mereka bersatu? Atau malah berpisah.

IG : nona_vie90
FB : Nevi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana yang gagal

Akhirnya disini aku sekarang, berkutat dengan wajan dan aneka macam bahan makanan mentah, padahal aku sudah memakai baju yang bagus dan berdandan, tapi lelaki yang satu ini dengan seenak hatinya memaksaku untuk memasak. Dan bodohnya, aku menurutinya.

"Cepat sedikit dong! Masa mengiris bawang saja lama banget? Dari tadi masih segini yang kau iris?" Aku memerintah Satria. Siapa suruh berjanji akan membantuku? Tentu aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengusili dirinya.

"Bagaimana mau cepat kalau air mataku mengalir terus seperti ini?" Satria memutar kepalanya menghadap ku, matanya sudah basah, tidak ... bukan hanya matanya saja tapi wajahnya sudah basah. Dia menangis karena ku suruh mengiris bawang.

"Hahaha ... kau mengiris bawang saja sudah seperti disiksa ibu tiri, menangis tersedu-sedu." Seketika tawaku pecah melihat Satria, aku puas bisa mengerjainya plus sekalian mengejeknya. Anggap saja kami impas.

"Bawang apa sih ini? Kenapa mataku jadi perih sekali? Aku tidak mau mengirisnya lagi!" Satria meletakkan pisau begitu saja. Ya ... dia merajuk!

"Hey ... kenapa tidak dilanjutkan?"

"Tidak mau! Aku bantu yang lain saja." Dia menjauh dari si bawang merah dan beralih mendekatiku.

"Gantian kau iris bawang itu! Biar aku yang membersihkan sayuran ini!" Dia mendorong pelan pundakku dan mengambil alih posisiku. Seenaknya saja menukar tugas.

Aku pasrah dan meneruskan mengiris bawang, dan sama seperti Satria, mataku pun perih dan air mata mulai membasahi pipiku.

"Itu kan, kau juga menangis. Sudah, tak usah diiris lagi!" Satria mendekatiku dan menghapus jejak air mata di pipiku dengan punggung tangannya. Aku yang terkejut dengan perlakuannya, segera menepis tangan pria itu.

"Apaan sih? Kalau tidak pakai bawang merah, mana enak." Aku berusaha mengalihkan suasana yang mulai terasa aneh.

Akhirnya aku meminta Satria menunggu dimeja makan, dari pada hanya membuat kerusuhan di dapur. Biar aku saja yang memasak agar cepat selesai.

"Selamat malam, Manda ..." Tiba-tiba suara Dimas mengagetkanku, sahabatku itu sudah datang rupanya.

"Iya, Mas ... masuk! Tunggu sebentar ya, aku lagi masak ni, sebentar lagi siap kok!" Aku berteriak dari dapur. Karena jarak dari dapur dan pintu utama tak terlalu jauh, Dimas pasti mendengarnya.

"Oh, iya Manda ... tak apa-apa kok! Lanjutin saja masaknya." Dimas pun ikut-ikutan berteriak dari ruang tamu. Tapi tunggu, aku tak mendengar suara Satria, entah sedang apa lelaki itu sekarang? Biarkan sajalah!

Dua puluh menit kemudian, menu tongseng daging pesanan Satria pun selesai. Aku mencicipi untuk memastikan rasanya, dan betapa kagetnya aku saat tiba-tiba suara Satria menusuk gendang telingaku, bukan cuma suaranya bahkan nafasnya pun terasa menyapu tengkukku. Satria berdiri tepat di belakangku, dengan jarak yang cukup dekat.

"Hmmm ... aromanya sedap sekali! Aku tidak sabar ingin memakannya." Ucap Satria sambil menghirup dalam-dalam aroma masakanku.

"Sudah sana, aku akan menyiapkannya untukmu." Lagi-lagi aku berusaha mengalihkan suasana yang mendadak terasa canggung untukku, kenapa jantungku berdebar kencang seperti genderang mau perang saat berada dekat dengannya?

"Baiklah, aku tunggu di meja makan ya." Satria segera berlalu meninggalkan dapur. Huufftt ... hampir saja aku mati gemetaran karena terlalu dekat dengannya.

Aku menyiapkan semuanya, aku hidangkan nasi dan tongseng daging pesanannya di atas meja makan, tak lupa beberapa lauk yang sudah lebih dulu aku masak tadi. Aku memanggil ayah agar ikut makan bersama Satria, atau lebih tepatnya menemani lelaki itu makan karena setelah ini aku akan segera pergi bersama Dimas yang sudah menungguku.

Seperti sebelumnya, aku sendokkan nasi dan lauk ke piring Satria, lalu meletakkan piring itu dihadapannya. Begitu juga untuk ayah.

"Ya, sudah ... aku pergi dulu. Selesai makan, tinggalkan saja di meja, nanti pulangnya baru aku akan bereskan." Aku berpamitan dengan ayah dan Satria.

"Kau tidak ingin menemaniku makan?" Tanya Satria. Tiba-tiba wajahnya berubah sendu.

"Aku tidak bisa, Dimas sudah menungguku!" Ku lirik Dimas yang memandangi ke arah kami dengan tatapan ambigu.

"Ya sudahlah." Satria tertunduk lesu. Aku jadi merasa tak enak meninggalkan lelaki ini tapi aku juga tak enak jika harus membuat Dimas menunggu lebih lama lagi. Aku menjadi serba salah.

"Aku pergi dulu ya." Aku segera berlalu dari hadapan ayah dan Satria.

"Hem ..." Satria hanya berdehem.

"Hati-hati ya, nak." Ucap ayah.

"Kami pergi dulu, pak!" Dimas pun berpamitan dengan ayah tapi tidak dengan Satria.

"Iya, titip Manda ya? Jangan pulang terlalu malam!" Ayah berpesan.

"Iya, pak!" Setelah menjawab ayah, Dimas dan aku pun berlalu meninggalkan rumahku.

Ternyata sudah ada motor baru terparkir di halaman rumahku, aku sontak bertanya kepada Dimas.

"Mas, motor siapa ini?" Aku bertanya sambil memperhatikan motor itu.

"Motor aku dong!"

"Wah ... kau beli motor baru ya? Hebat deh!" Jiwa norak ku seketika muncul.

"Iya, yuk kita berangkat! Aku sudah lapar ini." Dimas segera naik ke atas motornya, lalu aku menyusul duduk di belakangnya.

"Eh ... tunggu! Oleh-oleh untukku mana? Kau tidak lupa membawanya kan?" Itu kan, aku teringat lagi. Dasar aku, pantang dijanjiin, pasti ditagih terus.

"Ada, nanti aku kasih kalau sudah sampai di tempat tujuan. Ya, sudah pegangan ... aku jalan ini." Dimas mulai menyalakan motornya dan segera melesat meninggalkan pekarangan rumahku.

Aku menikmati angin malam yang membelai lembut wajahku, meniup rambut panjangku hingga menjadi sedikit berantakan. Aku eratkan peganganku di jaket Dimas, saat Dimas mulai menambah kecepatannya, tak ada pembicaraan diantara kami, Dimas hanya fokus mengendarai motornya.

Akhirnya kami tiba disebuah restoran yang menurutku cukup mewah, aku sedikit ragu untuk masuk, merasa tak pantas saja ada di tempat ini. Sekali lagi, jiwa norak ku meronta-ronta.

"Ayo ... kenapa kau diam saja?" Dimas menarik tanganku saat melihatku terpaku di depan restoran itu.

"Kau tidak salah mengajakku ke sini? Harga makanannya pasti mahal." Aku berbisik di telinga Dimas, mencoba mengingatkannya, mungkin saja dia khilaf.

"Tenang saja! Sudah, yuk!" Dimas tersenyum dan menarik lenganku untuk mengikutinya masuk.

Kami memilih duduk di pojok restoran karena dari sana kami bisa memandang taman yang bagus di samping restoran dan seorang waiters datang membawakan daftar menu.

"Selamat malam mas dan mbak, mau pesan apa?" Tanya waiters itu sambil menyodorkan daftar menu.

"Aku pesan nasi goreng saja deh, minumnya es teh manis." Itukan, norak ku tak habis-habis. Bikin malu saja.

"Kenapa pesan itu? Seperti sedang di acara ulang tahun saja, makannya nasi goreng." Dimas terkekeh. "Pesan chicken stick dua ya, minumnya es lemon tea saja dua." Dimas pun akhirnya memutuskan memesan makanan itu. Setelah mencatatnya, waiters itu pun berlalu pergi. Dan aku hanya tertunduk malu.

"Manda, sepertinya si Satria itu menyukaimu. Aku bisa melihat sikapnya yang tak biasa kepadamu." Kata-kata Dimas sontak membuatku terkejut. Apa memang benar begitu? Ah ... tidak-tidak!!! Aku segera menepisnya.

"Ah ... itu cuma perasaan kau saja! Sikapnya memang aneh, tapi bukan berarti dia menyukaiku." Aku terus berusaha menghalau prasangka-prasangka yang mulai mengganggu pikiranku. Lagipula mana mungkin Satria menyukaiku, pria standar seperti Evan saja mencampakkan aku, apalagi yang sekelas Satria.

"Mungkin saja, perasaan tak ada yang tahukan?"

"Hahaha ... sudah jangan bahas dia! Entar dia tersedak di sana." Aku berusaha menutupi perasaan aneh di hatiku. Tapi tiba-tiba netraku menangkap satu sosok yang sangat aku kenal, dia duduk tepat di depan meja kami. Mendadak hatiku panas dan meradang.

"Kau masih hidup rupanya!" Ucapku geram.

***

Ayo tebak, Amanda lihat siapa?

Likenya jangan lupa ya sayang akuh ...💜

1
Eda
mungkin cincin
Christy Ling
bagus 👍👍👍
PUJIWIDODO 18
bagus critanya
milkk_uuuu
hmm
Mita Karolina
Lha biyen di pilih,,,inilah kalau nikah modal cuma cinta,,,tp iman lemah
Kelly Lim
bagus ceritanya
Sulistyawati
wah sama kok saya juga curiga sich sama si Dimas
Kar Genjreng
mampir nanti ku teruskan bacanya ya Thor
Momy Ida 🌹
Hallo kakak autor, salam kenal saya Momy Ida 🙏. Saya akan mendubbing novel kakak ini ☺ semoga kakak suka dengan pembawaan saya ya, mohon dukungannya juga nanti di Audiobooknya 🌹 terima kasih.
Author Gabut.: hai kak, wah senang sekali. tapi apa tidak perlu saya rapikan dulu tulisannya?
total 1 replies
Rini Haryati
bagus
sukses
semangat
mksh
Sulati Cus
klu sudut pandang ku sih tetep salah kewajiban suami membimbing istri jk istri salah jgn membenarkan diri sendiri dg nyari kenyamanan pd wanita lain wajar disebut pelakor lah wong dia msh sah suami orang ng jika emang udah g sanggup bertahan y lepaskan ceraikan baru kau cari wanita lain jika udah status duda sah2 aja mau deket sama sp aja warning selingkuh biasanya akibat dr keenakan curhat sm lwn jenis jd selesai kan urusan RT mu dulu jika g mau wanita mu di sebut pelakor.
Sulati Cus
😂😂😂😂😂gitu y?
Mawar berduri
sngkat padat jelas & hapy ending. terima kasih
Riska Wulandari
apapun alasannya berhianat adalah salah,,jika sudah tidak nyaman dgn pasangan bukankah lebih baik d akhiri daripada saling menyakiti??
Sulati Cus: bener nih g mau di sebut pelakor pdhl jelas status si pria msh suami orang apapun alasannya hrsnya tunggu sp dia cerai keliatan jika si cewek g laku sm yg msh bujang😂
total 1 replies
Fransiska Siba
makanya jadi cewek itu harus tahu arti Terima kasih
NUR(V)
aku sedih aku terhanyut dengan ceritamu kak tak terasa aku juga menyumbangkan air mata ku.... 😭😭😭😭
NUR(V)
satria kamu kayak orang yang baru jatuh cinta aja 🤣🤣🤣
NUR(V)
satris knpa gak ceraikan aja sih si renita kelakuanya dah kayak gitu kenapa kamu masih bertahan.... 😣😣😣
NUR(V)
renita jangan kau sampai menyesal kemudian 😔😔😔
NUR(V)
cuma ada di novel orang kaya mau bayar hutang orang yang baru dikenal,, kalau didunia nyata mana ada mas satria kamu baik banget sihhh.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!