Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Yang Teratasi
Kedua sejoli itu, rupanya lagi asik-asikan ngobrol. Mereka saling bertukar cerita, penuh canda dan tawa.
Tidak terasa kini hampir sejam sudah Ibu Esi dan Ibu Elena menikmati manisnya teh bikinan Ibu Esi, tanpa menghiraukan kedua anak mereka. Pembicaraan keduanya berhenti sesaat, ketika melihat gadis yang berparas cantik itu tergesah-gesah menghampiri mereka dengan raut wajah yang sedikit pucat.
"Ada apa denganmu, Nak?" Ibu Esi bangkit dari duduknya, dan mendekati Mey yang baru saja duduk di atas tempat tidur kecil, yang berada di samping kiri pintu masuk dapur mereka.
Mey tidak menjawabnya melainkan menyandarkan tubuhnya di dinding. Dia kemudian memejamkan kedua matanya, dan perlahan-lahan mengatur nafasnya, "Aku tidak apa-apa."
Mey masih saja memejamkan kedua matanya, sebab dia masih merasakan sedikit pusing. Walupun dia telah sadar, tetapi aroma amis darah yang ada pada tangannya membuat dia tidak bisa menjaga kestabilan tubuhnya.
"Apakah Metallo melakukan sesuatu kepadamu?" tanya Ibu Elena, dia sangat kebingungan sebab setahunya Metallo bersama dengan Mey, sehingga membuat sedikit kecewa terhadap Anaknya, 'Awas, Kau. Akan Aku berikan pelajaran setelah pulang ke rumah,' benaknya .
"Metallo?" Ibu Esi mengarahkan pandangannya Ibu Elena dengan penuh tanya, "Dimana Metallo, Elena? Kenapa dia tidak mengikutimu? Dengan siapakah dia sekarang?"
Ibu Elena menghela nafas panjang, sebelum memberikan penjelasan kepada Ibu Esi mengenai keberadaan Metallo.
"Sebenarnya Aku dan Metallo...." dia menghentikan pembicaraannya ketika melihat dua orang anak dari balik jendela yang terbuka lebar di samping kanan Mey, hendak menghampiri mereka. Kedua anak itu tak lain adalah Metallo dan Indri, "Itu, Dia," pintanya, sembari menunjuk ke arah Metallo.
Ibu Elena mengarahkan pandangannya kembali kepada Mey, dengan sedikit senyuman yang menghiasi wajahnya, "Mey, ceritakan... Ceritakanlah kepada Ibu, Nak... Apa yang terjadi denganmu, dan kenapa Metallo sekarang bersamanya?" tanya Ibu Elena. Dia kemudian menghela nafas panjang, serta mengerutkan dahinya, "Bukankah dia bersama denganmu?"
Mey menghela nafas panjang. Dia kemudian mengarahkan padangannya kepada Metallo sesaat dengan senyuman yang penuh makna, sebelum mengarahkan kembali pandangannya kepada Ibu Elena.
Mey sebenarnya ingin menjelaskan semua yang telah menimpahnya, hanya saja ketika dia mengangkat tangan kirinya untuk merapikan rambutnya yang tidak teratur dan terdapat pula ilalang yang masih terjanggal di bagian ujungnya, sesaat dia merasa pusing.
'Ah... Ini,' dia tidak memberikan penjelasan apapun kepada mereka berdua, melainkan bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.
"Bu," sapa Metallo, seraya memasuki dapur itu. Ia dan Indri kebingungan melihat mereka berdua yang saling bertatapan satu sama lain tanpa ada kata yang terucap, "Dimana Mey?"
Ibu Elena mengarahkan pandangannya kepad dia dengan raut wajah yang penuh kekesalan, "Apa yang engkau lakukan terhadap, Mey?"
Ia menundukkan kepalanya sesaat, sebelum menarik kursi yang ada di hadapannya, kemudian meletakan kedua tangannya diatas meja sembari menghela nafas panjang, "Mey tadi pingsan, Bu."
Ibu Esi mengerutkan dahinya, sebelum menatapnya dengan penuh tanya, "Apa yang engkau maksudkan? Dia pingsan..."
Indri yang berada di tempat duduk yang sebelumnya Mey berada, menggelengkan kepalanya pelan-pelan, sebelum menatap mereka bertiga secara bergantian.
Indri sebenarnya ingin memberikan penjelasan kepada mereka berdua, namun ketika dia ingin mengatakannya, dia mendengar suara percikan air di kamar mandi.
'Ah... Itu dia,' instingnya mengatakan bahwa Mey berada di kamar mandi, sehingga dia pun langsung bergegas menuju ke kamar mandi untuk memastikan keberadaan Mey, "Iya, yang Metallo katakan itu, Benar adanya," pintanya, seraya berjalan menuju ke kamar mandi.
Amarah Ibu Elena makin memuncak. Dia mengigit bibir bawahnya, kemudian memukul meja itu dengan keras menggunakan tangan kanannya, sedangkan Ibu Esi terdiam beberapa saat melihat kegeram Ibu Elena yang tak terkontrol.
"Ibu..." Kedua mata Metallo terbuka lebar menatap Ibunya dengan penuh rasa takut yang mendalam, dilain sisi tindakan yang dilakukan Ibu membuatnya sangat terpukul, apalagi kejadian ini terjadi di rumah Ibu Esi.
Melihat tindakan Ibu Elena yang demikian, Ibu Esi tidak tinggal diam. Dia kemudian menatapnya dengan sedikit senyuman, sebelum mengarahkan kembali pandangannya kepada Ibu Elena, dan meredakan suasana yang hampir memuncak.
Ibu Elena mulai berdiri dan ingin menggampari Metallo, namun Ibu Esi menahannya, "Elena, dengarkan dulu penjelasan darinya."
Ibu Elena menghela nafas panjang, pandangannya sangat tajam menatap Rifael sebelum duduk kembali. Dia merasakan kekecewaan yang sangat mendalam terhadap anaknya, dilain sisi dia juga sangat malu terhadap Ibu Esi atas tidakan dari Metallo, "Kau... Kau benar-benar membuatku malu. Siapa yang mengajarimu seperti ini!"
Ia mulai menundukkan kepalanya sesaat sebelum menatap Ibunya dan berharap Ibunya dapat memaafkannya, "Jadi begini, Bu."
Metallo pun menceritakan semua kejadian yang menimpa Mey, "Bu, sebenarnya setelah kejadian itu, Aku seharusnya memanggil kalian berdua, tetapi Aku juga tidak mau meninggalkan Mey sendirian disana, apalagi dalam keadaan yang tidak sadarkan diri."
"Perbuatanmu memang patut dipuji, Nak. Engkau telah menjaga Anakku dengan baik," pinta Ibu Esi, sembari memegang lengan Metallo dengan sedikit senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Apa yang engkau lakukukan terhadapnya, sehingga dia bisa sadar?" tanya Ibu Elena, yang merasa sedikit legah atas perbuatan anaknya.
"Bu... Dia yang melakukannya," pinta Metallo, sembari menunjuk Indri yang sedang berjalan dengan Mey menghampiri mereka bertiga, "Dia memberikan nafas buatannya untuk menolong Mey."
Ibu Esi dan Ibu Elena saling berpandangan, sebelum menoleh ke belakang, ''Terima kasih, Nak," pinta keduanya secara bersamaan.
Seketika raut wajah Indri menjadi cemberut, 'Apakah ada salah dengan tingkahku?' pandangannya terarah kepada mereka berdua secara bergantian, sembari menghela nafas panjang sebelum menatap Keduanya dengan sedikit senyuman yang menghiasi ayu parasnya, "Iya, sama-sama, Bu. Memang sudah seharusnya Aku membantunya."
Ibu Esi dan Ibu Elena saling berpandangan sesaat, sebelum memandangi Metallo dan Indri dengan penuh kebahagian.
Ibu Esi terlihat sedikit sangat senang melihat tingkah Indri yang begitu baik kepada anaknya, padahal kedua orang tua Indiri sendiri tak menyukai Mey. Bagi mereka, Mey hanyalah anak pembawa sial untuk keluarga kecil Almarhum Pak Riantho dan saudaranya Pak Mel.
Sebelumnya hubungan diantara kedua keluarga kecil ini sangat harmonis, hanya saja ketika hadirnya Mey dalam kehidipan Pak Riantho dan Ibu Esi, semuanya berubah derastis.
Entah apa yang mereka pikirkan tentang Mey, sampai sekarang tetap menjadi bahan pembicaraan warga sekitar, sebab kedua orangtua Indri sangat membenci Mey tanpa ada alasan yang pasti.
Terkadang Mey sangat terpukul, karena mengingat raut wajah Bapak kecilnya yang sama dengan Ayahnya. Dan juga sikap baik Ayahnya, yang tidak sama seperti prilaku buruknya Pak Mel terhadap dia.
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??