NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:26.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Cerita Dewasa‼️

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Rencana Selanjutnya

Masih dengan tubuh yang bergetar dan jantung nan berdegup tak karuan, Sarah berjalan cepat meninggalkan ruang olahraga kediaman Aryanaka disana. Tak disangka beberapa detik sebelumnya ia baru saja berada di pangkuan Bagas Aryanaka—dibawah tatapan tajam dari pria yang dulu sangatlah ia cinta.

Sarah sadar bahwa masih ada getaran halus yang tersisa. Apalagi ketika dirinya berada dekat dengan sosok mantan suaminya itu. Namun tentu saja hal tersebut terus ia enyahkan, karena Bagas bukanlah tujuannya.

Ia datang kesini hanya untuk merebut kembali apa yang sepatutnya menjadi milik Thalia. Bagaimana pun caranya. Walaupun harus mengorbankan ketenangan batinnya dan kewarasan akal sehatnya. Keberadaan Bagas dalam sekitaran orbitnya masih menjadi gangguan terbesar bagi Sarah, namun tak apa—semua tidaklah dapat menggoyahkan rencananya.

Kini, Sarah hanya perlu lebih fokus dan berlanjut pada rencana selanjutnya. Strategi sebenarnya yang akan membuat Bagas Aryanaka menjadi porak - poranda.

Langkah kakinya perlahan kembali normal, napasnya pun terasa stabil dan tidak seribut saat ia baru saja keluar dari ruangan mencekam tadi. Kini Sarah telah sampai di depan dapur. Matanya bertatap temu dengan seorang pembantu yang sebelumnya menaruh curiga kepada dirinya. Ya, disana terdapat Marni tampak bersedekap dada dan seperti sedang menelanjangi dirinya melalui tatapan mata.

Sarah mencoba tidak menggubrisnya dan memilih menunduk ataupun menyapukan pandang ke arah lain. Hingga tak lama terdengar seruan dari seorang gadis belia—salah satu pelayan disana juga.

"Mbak Thalia ya? Ini makanan buat Nyonya mbak. Bisa anter ke lantai dua ya."

Suaranya imut sekali, sepertinya memang masih sangat muda. Sarah tidak habis pikir mengapa anak kecil dipekerjakan disini? Rasa penasaran kian menghinggapi, namun Sarah tak ada niatan untuk lebih mengetahui. Lagipula ia berada disini semata hanya untuk misi, bukan menjalin koneksi.

Sarang langsung saja menerima nampan besar yang berisi banyak makanan itu dengan hati-hati. "Oh iya mbak, sini saya akan antarkan."

Sang pelayan muda dihadapannya menyerahkan nampan sambil tersenyum. Namun sebelum Sarah berlalu, gadis tersebut tak disangka malah mengonfirmasi rasa penasaran Sarah sebelumnya. "Duh mbak Thalia, jangan panggil mbak juga dong. Aku Mentari, umur aku baru 14 tahun loh, hehe."

Mendengarnya, sontak membuat Thalia melotot tak percaya. Benar memang ia sudah menduga bahwa gadis tersebut masih muda. Namun, ia tidak menyangka dengan usia yang masih sangat kecil dan baru beranjak remaja itu, gadis di depannya ini telah bekerja menjadi pelayan—bukannya sekolah dan sibuk bermain dengan teman-teman.

Belum sempat menanggapi perkataan sekaligus perkenalan dari gadis bernama Mentari itu, Marni yang sedari tadi memang memerhatikan dirinya, tiba-tiba sudah berada dekat diantara mereka dan langsung menegurnya. "Kalian mau kerja atau mengobrol? Kamu pembantu baru! Cepat anter makanan buat Nyonya!"

Marni menunjuk Sarah disertai tatapan tidak sukanya, membuat Sarah semakin kesal saja. Baru satu hari, tetapi sudah banyak sekali hal-hal yang membuatnya ingin pergi. Tiada betah ia tinggal disini. Namun, komitmen sudah ia ambil, Sarah harus bertanggung jawab dan pura-pura menerima semuanya dengan senang hati.

"Maaf mbak, saya permisi dulu," tukas Sarah berusaha sopan dan lanjut bergegas pergi dari sana.

Sembari berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua—dalam hati, Sarah ternyata masih menggerutu, merasa tidak terima dengan sikap pembantu bernama Marni itu. "Cihh sok-sok'an banget si Marni. Awas aja nanti kalo aku dah berhasil. Aku depak dia! rese' banget orangnya ihh."

Setelah sampai di lantai dua kediaman Aryanaka, dengan santainya tanpa mengetuk pintu Sarah langsung masuk ke kamar sang Nyonya rumah, hingga membuat Suratih yang sedang berbaring santai disana merasa terkejut dengan kedatangan satu-satunya orang yang bertindak tidak sopan dengan langsung masuk ke ruangannya tanpa repot-repot meminta izin. "Ck. Kamu rupanya Sarah. Gak heran, perempuan jalang emang gak punya adab."

Memutar bola mata jengah, Sarah hanya diam dan langsung menaruh nampan berat itu diatas meja yang berada di samping ranjang dengan hentakan kuat hingga suara piring terdengar cukup nyaring. Untung saja tidak ada yang pecah dan makanan diatasnya masihlah aman. Bisa rugi nanti Suratih jika perabotannya itu rusak. Baru sehari Sarah bekerja disini, tapi sepertinya kesabaran nyonya Aryanaka itu benar-benar telah di uji.

Masih berdiri disana, Sarah langsung saja mencecar wanita tua menyebalkan yang masih berbaring santai itu. "Nyonya Suratih yang terhormat. Anda tahu kan rencana selanjutnya harus segera dijalankan? Kenapa Anda malah berbaring santai disini hah?"

Dengan malas, Suratih bangkit dan mengambil posisi duduk. "Kamu pikir bisa secepat itu apa? Saya ini baru sampai disini, kalau rencana selanjutnya langsung dilakukan, bisa-bisa anak saya curiga."

Mendengus kesal, Sarah bersedekap dada dan menatap kian tajam pada Suratih disana. "Saya gak mau tau. Paling lama dua hari, dan Anda harus segera meninggalkan rumah ini dan pergi sejauh mungkin sampai rencana saya disini berhasil."

"Iya. IYA. Gak sabaran banget sih kamu. Belum tentu juga kamu berhasil. Saya malah skeptis dengan rencana kalian itu. Mau mengembalikan ingatan Bagas? Hahaha Mimpi! Sarah, Sarah... Bagas itu sudah di diagnosa oleh dokter bakalan susah untuk pulih ingatannya. Bahkan dokter menyarankan untuk gak usah coba untuk mengembalikan ingatan Bagas dan lebih baik fokus sama memori baru. Saya ramal, kamu cuma habisin waktu sia-sia disini."

Sarah mencoba tenang dengan ucapan provokasi nan merendahkan dari mulut sampah itu. Walaupun sebenarnya benaknya telah berteriak geram tak karuan. "Sialan! Wanita iblis sombong itu, kalau saja membunuh itu tidak dosa. Sudah aku tikam lehernya, aku cincang mulutnya, dan aku lemparkan kepada ikan sapu-sapu."

Setelah berucap seenaknya, tanpa merasa bersalah Suratih mengambil makanan yang telah disajikan dan tidak mengacuhkan lagi keberadaan Sarah yang berdiri disana. Dengan santainya ia menyuap steak yang khusus dimasak untuknya itu. Matanya terpejam merasakan kenikmatan yang satu minggu ini tidak ia dapatkan ketika menjadi seorang tahanan.

Namun baru suapan ketiga, ia dikejutkan dengan perkataan Sarah, "Nyonya, saya juga bisa ramal loh. Lima menit dari sekarang makanan yang nyonya makan bakal berakhir sia-sia."

Hah, apa maksudnya?

Suratih tidak perduli, dan Sarah yang terlanjur kesal memilih untuk segera pergi.

"Dasar aneh," pikir Suratih melihat kepergian Sarah.

Sarah meninggalkan kamar nyonya Aryanaka itu dengan meninggalkan jejak suara bantingan pintu sangat keras. Suratih yang masih fokus dengan makanannya disana pun melotot kaget—merasa terganggu dengan sikap arogan dari mantan menantu sialannya itu.

"Haduh untung aja udah jadi mantan menantu. Tingkah lakunya itu bener-bener kasta rendah."

Beberapa saat kemudian, makanan di piring telah habis tidak bersisa. Suratih memilih untuk kembali ke ranjang dan hendak mengabari teman-temannya tentang kembalinya ia dari penculikan naas yang sempat menimpa dirinya. Namun, belum sempat mengambil handphone, tiba-tiba saja perutnya merasa sangat mulas.

Bergegas ia menuju ke kamar mandi. Ia pikir ia sakit perut karena ia hanya terlambat makan saja. Namun, ia sadar, si jalang Sarah itu ternyata telah mengerjainya lagi. Karena kini, sudah ketiga kalinya ia bolak-balik kamar mandi.

"SIALAN KAMU SARAH!!!"

1
partini
waa
partini
Bagas gelo,2 th loh ngab
partini
dua tahun Weh lama banget sandiwara nya ,,agak" deh gas
partini
ayo usaha betul" Sarah biar dia ingat udah boring ini masa ga ingat"
partini
hilang ingatan Ampe tamat ini cerita kah Thor,,masa lama permanen kah
Lady Matcha: Sebentar lagi kok kak. Ditunggu ya, jangan lupa terus ikuti cerita ini, karena bakalan ada plotwist mencengangkan nanti 🤫
total 1 replies
anonim
di tunggu up nya
Ela Sari Kamaruddin
klw bisa up yg banyak2 kk
Ela Sari Kamaruddin
bgus kk
Siti Amalia
udah baguss kaaa
partini
good story
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!