"Aku ingin mengakhiri semua nya"
Kalimat itulah yang selalu menempel dalam fikiran Anindita. Sampai saat ini ia belum mengetahui alasan kandas nya hubungan nya dengan Vano.
Hingga disuatu tempat, ia bertemu dengan pengusaha muda tampan bernama Fernan Wiratama,tak lain adalah Kakak dari Vano Wiratama. Dan takdir berkata lain Anindita harus selalu bersama Tuan Muda Fernan. Karena apa? Penasaran? Ikuti kisah nya.
Akankah Anindita bisa melupakan sang mantan kekasih? atau malah terjerat cinta dengan tuan muda tampan?
Up : setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali (Part 2)
Vano tertawa lepas di ruang tengah Utama. Ia sangat senang bisa bertemu dengan sang kakak.
Tawa Vano terhenti ketika menyadari Mama, Papa dan Fernan hanya terdiam dengan wajah sedih nya. Ia mengerutkan kening nya. Merasa penasaran dengan apa yang telah terjadi.
" Ada apa? Mengapa wajah kalian terlihat sedih? " Vano membuang tubuh nya ke atas sofa di samping Fernan. Ia menyilangkan kaki nya dan bersandar di punggung sofa.
" Aku ingin berbicara empat mata dengan mu! " Ucap Fernan dingin dan tegas
Deg!
Jantung Vano berdegup kencang. Ia tahu jika kakak nya sudah berbicara seperti itu. Itu tanda sang kakak sedang marah padanya. Vano berusaha bersikap santai menutupi kegugupan nya. Pasti ada sesuatu yang mambuat kakak nya pulang ke rumah. Pikir Vano.
Mama dan Papa yang mengerti dengan ucapan Fernan seketika langsung menjawab.
" Baiklah. Kalian pasti saling merindukan bukan? Mama dan papa pergi dulu. "
Fernan menghela nafas pelan ia berbalik menatap Vano tajam
" Apa yang kau sembunyikan dari ku? "
" Aku? Menyembunyikan apa? Tidak ada yang ku sembunyikan dari mu. " jawab nya santai. Padahal jauh dari lubuk hati nya ia merasa gugup.
" Jangan pernah berbohong lagi pada kakak mu Vano. " ucap nya tegas dan lantang.
Vano menariik nafas berat. Ia tahu sebesar apa ia menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga. Vano tahu pasti kakak nya mengetahui dari orang tua nya.
" Apa yang di katakan mama itu benar ada nya. " Ucap nya pelan. Vano menundukan kepala nya.
" Mengapa kau melakukan semua itu Vano? Apa kau tidak menyanyangi kami? " Ucap Fernan merasa geram dengan Vano.
" Aku lelah kak, aku cape. Aku menyerah. Menyerah dengan keadaan. Menyerah dengan takdir Tuhan yang tidak berpihak padaku. Aku sudah menjalani kemoterapi dengan baik dan benar, Aku rutin mengikuti sesuai jadwal yang di buatkan Dokter lucky. Tapi mengapa? Mengapa penyakit ku tidak kunjung sembuh? Aku ingin seperti kau kakak yang selalu sehat. Melakukan aktifitas tanpa gangguan apapun. Tapi tidak dengan ku. Takdir baik tidak memihak ke padaku. " Air mata Vano lolos dari pelupuk mata nya. Ia menangis di hadapan kakak nya. Ia menunduk menutup wajah nya dengan kedua tangan nya yang bertumpu di atas kedua paha kaki nya. Vano terlihat lemah saat ini. Fernan langsung memeluk sang adik dengan erat. Ia tahu bagaimana perasaan adik nya. Bagaimana adik nya menahan sakit nya selama beberapa tahun.
" Kau jangan mau seperti ku. Kau harus lebih hebat dari ku Vano"
Vano mengangguk samar.
" Maka berobatlah dengan benar! Kau harus sembuh. Kau harus sabar. Semua butuh proses. Kesabaran mu akan membuahkan hasil yang baik. Percaya dengan takdir Tuhan. Tuhan pasti bersama mu. Percayalah! "
Vano menggeleng kan kepala nya pelan. Pikiran buruk nya telah menguasai hati nya. Ia tidak percaya dengan takdir Tuhan yang akan memihak kepadanya. Ia berpikir bahwa Tuhan saat ini tidak Adil. Sehingga ia tidak mau berjuang untuk sembuh dari penyakit nya.
" Aku hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan. " Ucap nya pelan.
" Keajaiban Tuhan tidak akan datang jika kau tidak mau berjuang! " Ucap Fernan Tegas. Ia tahu Vano sangat keras kepala sama seperti dirinya. Tapi Fernan tidak akan menyerah.
Ya mungkin saat ini ia belum bisa merayu adik nya. Karna ia harus kembali ke tokyo jepang. Ada beberapa saham yang akan bekerja sama lagi dengan nya.
Setelah urusan nya selesai ia berjanji pada diri nya sendiri akan membuat adik nya sembuh.
__***__
Di Cafe XXX teihat seorang wanita yang sedang menunggu seseorang. Malam ini akan menjadi malam yang indah. Pikir nya.
Hati Fera sangat berbunga-bunga. Ia tak sabar ingin segera bertemu sang pujaan.
Ya sang pujaan yang selama ini mengisi hati ya. Di hati nya hanya ada Vano seorang. Sejak awal pertama hari kuliah, Fera langsung jatuh cinta ketika melihat Vano. Sampai saat ini, sampai detik ini Fera mencintai Vano. Cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan. Tapi Fera tidak pernah menyerah. Menyerah ketika cinta nya di tolak. Menyerah ketika Vano menjauhi nya. Berulang kali Vano mengatakan jika ia tidak bisa mencintai Fera. Tapi Fera tidak mau mendengarkan. Ia lebih percaya dengan Hati nya. Percaya suatu saat nanti ia akan memikiki Vano seutuh nya selamanya. Sudah hampir empat tahun Vano bersemayam di hati nya di jiwa dan raga nya. Banyak lelaki yang mendekati nya. Bahkan yang berani menyatakan cinta mereka. Tapi Fera tetap dengan pilihan hati nya. Hati nya yang hanya memilih Vano. Ya Vano Wiratama. Yang tak akan pernah tergantikan oleh siapapun.azan a
Fera yang sudah berdandan Cantik dan Anggun. Ia memakai dress biru langit di atas lutut yang akan jelas terlihat paha mulus nya. Dengan baju terbuka di bagian atas punggung. Nampak seksi dan elegan.
Fera terseyum cerah secerah mentari ketika ia melihat pria yang ternyata menempati janji nya.
Vano berjalan pelan menghampiri Fera ia langsung duduk di hadapan Fera tanpa menyapa dan melirik.
Fera mengerucutkan bibir nya. Ia kesal dengan Vano yang memperlakukan nya seperti itu. Tapi kekesalan nya terkalahkan dengan rasa bahagia nya. Ya bahagia karna ia bisa makan bersama dengan Vano. Menatap nya dengan jarak dekat.
" Hai bagaimana keadaan mu? " Tanya Fera memulai memecahkan suasana yang canggung.
Fera merasa canggung dan gugup. Ini yang kedua kalinya nya ia bisa makan bersama dengan Vano. Tapi ini akan berbeda dengan makan malam kali pertama. Makan malam terburuk. Pikir Fera. Berbeda dengan malam ini, malam ini akan menjadi hari bersejarah yang paling Fenominal di kehidupan nya. Pikir Fera.
" Baik. " jawab Vano santai.
" sebenar nya kau sakit apa Vano? " Bertanya dengan pelan dan hati-hati. Ia takut salah bicara.
" Itu bukan urusan mu. " Jawab Vano dingin.
" Jelas itu menjadi urusan ku Vano. Aku mengkhawatirkan mu. "
" Kau bukan siapa-siapa bagi ku. Jangan campuri Urusan pribadi ku! " titah nya dengan penuh penekanan.
Fera menunduk. Ia merenungkan peekataan Vano. ia bukan siapa-siapa Vano. Ia bukan milik Vano. Tidak!. Tapi belum milik Vano. Pikir Fera percaya diri.
" Apapun penyakit mu semoga kau segera sembuh. " Ucap Fera dengan tulus.
" Aku tidak perlu dikasihani. Trimakasih telah mengkhawatirkan ku. " Melirik Fera sedetik.
Apa katanya!? Trimakasih? Dia mengucapkan trimakasih padaku? Oke! Di mulai dari kata TRIMAKASIH. hmmmm awal yang bagus. Batin Fera tersenyum senang.
Pelayan datang membawa pesanan mereka. Fera dan Vano memakan nya.
" Bagaiman sidang mu mu tadi Vano?"
" Lancar "
" Emmm sebentar lagi kita Wisuda. Apa kau akan melanjutkan kuliah mu. "
" Aku tidak tahu. Bukan urusan mu Fera."
Fera menghela nafas pelan. Sejak tadi Vano mengabaikan nya. Menoleh pun tidak. Sakit hati? Tentu tidak. Ini sudah terbiasa bagi Fera. Hati Fera bagaikan Batu yang terbungkus baju berbahan Besi yang apabila di robek tidak akan ada yang bisa merobek nya.
*anin berkali berbohong tapi tidak disalahkan
*fernan berbohong langsung disalahkan dan tidak mudah dimaafkan fernan hadir mengemis dulu baru dimaafkan
*anjn tinggal dengan lelaki lain tidak disalahkan
*fernan bawah karina tinggal dirumahnya, (anin juga ada disitu) dianggap kesalahan besar tidak mudah dimaafkan dan harus mengemis maaf dulu
*anin salah paham lihat fernan pelukan dengan karina kesalahan fernan dan harus mengemis maaf dulu baru dimaafkan
*fernan lihat anin pelukan dengan devan bukan kesalahan
kesalahan anin dan fernan banyak yang sama tapi karena pemikiran yang egois dan munafik oleh authornya jadi semua yang dilakukan fernan kesalahan fatal tapi semua yang dilakukan anin bukan kesalahan dan dibenarkan
kalian bangga buat novel yang kelihatan sekali kemunafikannya kayak gini, ini sama saja kalian bangga memamerkan pola pikir dan imajinasi kemunafikan kalian sendiri
* pelakor kalian laknat tapi pebinor kalian puja2 bahkan kalian spesial kan bisa berkali kontak fisik dengan istri orang (munafik)
* karina diajak fernan tinggal dirumah kalian laknat tapi anin kabur dari rumah dan tinggal dirumah lelaki lain bahkan anak panggil anin mama mereka tingg kayak sebuah keluarga kalian benarkan (munafik)
* fernan tidak tegas pada karina kalian laknat tapi anin tidak tegas pada devan dan vano kalian benarkan (munafik dan murahan)
* intraksi fernan dengan wanita lain kalian bela tapi intraksi anin dengan pria lain kalian benarkan bahkan pelukan kalian benarkan (munafik)
*anin salah paham fernan pelukan dengan karina kalian buat anin tegas pergi dan fernan harus mengejar dan mengemis maaf tapi saat fernan melihat anin pelukan pada devan kalian buat fernan kayak orang bodoh Terima begitu saja (munafik)
*saat anin tidak percaya fernan, maka fernan salah karena tidak bisa menjaga kepercayaan tapi saat devan tidak percaya anin tetap devan salah karena harus saling percaya (munafik)
*fernan membohongi anin adalah kesalahan fatal, fernan dihukum, dan harus mengemis maaf pada anin tapi anin membohongi fernan dibenarkan
* dan masih banyak lagi kemunafikan dalam novel ini yang dibela oleh author
Thor jadi novelis wanita jangan egois benar semua kesalahan anin dibela dan dibenarkan semuanya, tapi giliran fernan buat salah, dilaknat habis2an, jadi wanita dewasa sedikit jadi bisa buat novel adil