Stella Vivian mendeklarasikan dirinya sebagai wanita yang bisa menaklukan seratus pria sekaligus. Wajah cantik dan bentuk tubuhnya memang tidak diragukan lagi, hingga ia dengan mudahnya mendapatkan pria mana pun yang ia inginkan.
Stella Vivian tidak menyia-nyiakan kecantikan yang ia miliki, Ia memanfaatkan kecantikannya itu untuk menggaet para pria kaya, mulai dari pria single hingga pria beristri sekali pun. dan kemudian ia akan hidup bermewah-mewahan dengan uang yang ia dapat dari pria-pria tersebut.
Namun, suatu hari kekacauan terjadi saat pria yang ia goda dan membuat hatinya luluh ternyata adalah suami kakak angkatnya sendiri.
Apakah Stella Vivian akan menyerah dan menjauhi pria tersebut demi saudarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANGKAPAN BAGUS
Steve menghampiri Vivian yang masih berdiri di depan pintu masuk The Horizon. Dari tempatnya berdiri Vivian dapat melihat beberapa teman Steve yang memperhatikan mereka di kejauhan. Menyadari bahwa wajahnya dapat dilihat oleh teman-teman Steve, Vivian segera membuka pintu dan masuk ke dalam bar tersebut tanpa menunggu Steve tiba di hadapannya.
Wajar bagi Vivian melakukan itu, statusnya sebagai wanita simpanan tidak boleh banyak terekspose, karena hal itu bisa menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Bisa saja salah satu targetnya di kemudian hari adalah salah satu teman Steve, toh Steve memiliki banyak teman yang kaya raya. Siapa yang tahu!
Tepat setelah Vivian berada di dalam ruang reservasi, pintu kembali berayun membuka dan Steve muncul dengan peluh memenuhi wajahnya yang tampan. "Aku mencarimu ke mana-mana," ujar Steve, yang terlihat senang dan lega.
"Seharusnya jangan." Vivian menjawab singkat, kemudian ia melanjutkan langkah menuju ke bagian dalam bar.
Steve mengekor tepat di belakang Vivian. "Jangan begini, Vi. Apa salahku sehingga kamu meninggalkanku seperti ini? Kamu tidak boleh mengakhiri hubungan kita secara sepihak."
Vivian memejamkan mata, lalu menepis tangan Steve yang kini menyentuh lengannya. "Ini bukan tentang siapa yang salah, Steve, tapi semua ini karena istrimu. Jadi sangat wajar menurutku jika aku ingin semua ini berakhir."
"Aku akan menceraikannya!" Steve berseru, sambil menatap Vivian dengan iba. "Akan lebih baik jika aku kehilangan dia daripada aku harus kehilangan dirimu."
Steve terlihat begitu sungguh-sungguh dengan ucapannya, dan ucapan Steve itu mampu membuat Vivian bergidik.
'Ah, sial, dia jatuh cinta setengah mati padaku,' batin Vivian.
"Vi, aku bilang aku akan menceraikan istriku." Steve mengguncang lengan Vivian, saat Vivian tidak merespon perkataannya.
Vivian yang mendapatkan kesadarannya kembali segera menggeleng. "Jangan lakukan itu. Aku tidak ingin merasa bersalah seumur hidup hanya karena keputusan gilamu. Toh, kamu dan istrimu telah memiliki seorang putri. Bukan masalah jika istrimu menjadi janda, tapi aku tidak ingin jika seorang anak kehilangan kasih sayang ayahnya. Aku tidak sejahat itu."
Mendengar ucapan yang keluar dari bibir Vivian, Steve menjadi marah. Ia mencengkram lengan Vivian dengan keras hingga Vivian meringis kesakitan. Vivian yakin jika akan muncul memar di lengannya nanti.
"Kamu menyakitiku, Steve, dan aku bisa mengajukan tuntutan jika kamu terus melakukan ini padaku." Vivian berusaha menakut-nakuti Steve, agar pria itu tidak terus bertingkah gila.
Steve mendekatkan wajahnya ke wajah Vivian, ia menyeringai dan berkata, "Tuntutan katamu? Jangan harap bisa melakukan itu padaku, Vivian, karena aku yakin sekali kamu tidak akan memiliki waktu untuk melakukan itu semua."
Sebelah tangan Steve sekarang mulai terangkat dan perlahan terulur menyentuh leher jenjang Vivian. Sentuhan pria itu lembut pada awalnya, tetapi semakin lama semakin keras hingga Vivian kesulitan bernapas.
"Apa yang ... apa yang kamu lakukan," desis Vivian dengan suara tercekat. Ia tidak menyangka jika Steve akan melakukan hal keji itu padanya. Steve berusaha untuk membunuhnya!
"Rasakan saja, nikmati saja. Kamulah yang membuatku menjadi seperti ...."
Buk!
Seseorang tiba tepat waktu dan segera menghentikan apa yang Steve lakukan pada Vivian.
"Tristan," gumam Vivian, begitu ia melihat seorang pria yang sekarang sedang sibuk mendaratkan tinju di wajah Steve berulang kali tanpa ampun.
Cukup lama Vivian hanya diam menonton apa yang terjadi di hadapannya. Ia masih terlalu terkejut, jangankan menghentikan tindakan Tristan yang terus memukuli Steve, berteriak agar Tristan berhenti saja ia tidak bisa.
Beruntung Anita datang tidak lama kemudian, ia segera menarik lengan Tristan agar menjauh dari Steve yang telah babak belur. Darah segar mengalir dari dalam mulut dan hidung Tristan yang terlihat tidak sadarkan diri.
"Astaga, apa yang kamu lakukan?" tanya Anita pada Tristan.
Tristan yang tidak mengenal Anita tentu saja tidak terlalu memperhatikan apa yang Anita katakan. Alih-alih menjawab pertanyaan Anita, Tristan justru bergegas menghampiri Vivian yang masih berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat pasi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Tristan.
Vivian mengangguk. Namun, ia tidak mengatakan apa pun. Lehernya masih terasa sangat sakit, hingga membuatnya enggan untuk berbicara.
"Ikutlah denganku ke hotel. Hotel yang tidak terlalu jauh dari sini." Tristan kembali berujar.
Vivian tidak langsung mengikuti apa keinginan Tristan, bagaimana pun juga perkenalannya dengan Tristan baru terjadi beberapa hari lalu, dan ia tidak ingin terlihat semurahan itu sampai-sampai langsung mengangguk begitu Tristan mengajaknya ke hotel.
Tristan tersenyum saat melihat wajah Vivian yang kebingungan. "Jangan salah paham, bukannya aku akan melakukan hal yang tidak senonoh padamu. Kebetulan hotel itu adalah milikku, aku bukannya sengaja menyewa kamar di sana agar bisa tidur denganmu, sungguh."
Vivian melirik Anita yang masih berdiri di belakang Tristan, dan dengan susah payah ia berusaha agar tidak menghampiri Anita lalu bersorak, "Tangkapan bagus. Dia pemiliki hotel!"
***
Virginia mengenakan kembali pakaiannya begitu ia telah selesai melakukan aktivitas menyenangkannya dengan sang suami. Darius seperti biasa, membantu Virginia mengenakan semua bagian pakaian yang menempel di tubuh wanita itu mulai dari ****** *****, bra, dan akhirnya dress selutut yang menempel pas di tubuh langsing Virginia.
Virginia bergidik dan mendesah saat Darius meninggalkan kecupan di setiap bagian tubuhnya. Ya, Darius memang seromantis itu, wajar jika akhirnya Virginia tergila-gila pada pria itu. Darius tidak meninggalkannya begitu saja setelah mereka bercinta. Tidak seperti suami Virginia terdahulu yang langsung menghilang entah ke mana setelah mendapatkan ******* yang luar biasa.
"Terima kasih," ujar Virginia ketika akhirnya Darius mendaratkan kecupan di tengkuknya sebagai tanda bahwa dress Virginia telah tertutup sempurna.
"Sama-sama, Sayangku, tapi ngomong-ngomong resleting gaunmu sudah agak macet. Tidakkah sebaiknya kamu membeli dress yang baru?"
Virginia tertawa."Hanya karena resletingnya macet, aku harus membeli yang baru begitu?"
Darius mengangguk. "Tentu, Sayangku, jangan lupa kalau suamimu ini kaya raya." Darius menyombong, hal yang biasa ia lakukan jika di depan sang istri. Bercanda ala Darius dan Virginia.
Virginia kembali tertawa. "Ya, aku tahu kamu kaya raya. Simpan baik-baik uangmu, aku akan menghabiskannya jika aku sedang ingin berbelanja."
Darius mengecup singkat bibir Virginia, kemudian ia membantu Virginia untuk turun dari ranjang dan kemudian melangkah bersama keluar dari dalam kamar tamu, kamar yang letaknya paling dekat dengan ruang tamu dan paling mudah dijangkau saat Darius sudah tidak sabar untuk segera bergelut dengan Virginia seperti beberapa saat lalu.
"Kamu jarang berbelanja, Virginia, aku bahkan sampai bingung bagaimana bisa ada wanita sepertimu, yang tidak suka ke salon, tidak suka berbelanja, bahkan berjalan-jalan pun tidak. Padahal aku sangat ingin sekali melihatmu merengek karena menginginkan sesuatu," ujar Darius, begitu mereka telah tiba di ruang tamu.
Virginia mengerucutkan bibirnya. "Bukankah merengek hanya dilakukan oleh anak-anak? Sedangkan aku adalah ibu satu anak, mana pantas merengek."
Darius tersenyum. "Siapa bilang hanya anak-anak yang bisa merengek. Saat seorang istri merengek, pasti akan terlihat manis sekali."
Baru saja Virginia hendak menjawab perkataan Darius, Nirwan tiba-tiba muncul di ambang pintu. Asisten pribadi Darius itu segera menghampiri Darius dan Virginia dengan langkah tergesa.
"Tuan," ucap Nirwan. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda."
"Ya, ada apa, Nir?"
"Anda harus ke kantor sekarang. Ada panggilan darurat dari salah satu rekan bisnis Anda," ucap Nirwan.
Darius berdecak. "Apa tidak bisa besok? Aku bahkan baru sampai rumah."
Nirwan menggeleng. "Sayangnya tidak bisa, Tuan. Ini penting."
Darius memijat pelipisnya. Ia menghela napas karena merasa amat lelah.
"Pergilah, sepulang dari kantor akan aku pijat plus," ucap Virginia.
Darius menaikan sebelah alisnya sambil tersenyum. Ia senang mendengar apa yang Virginia ucapkan, karena sebelumnya belum pernah sekali pun ia mendengar Virginia menggodanya. "Janji?" tanyanya pada Virginia yang kini terlihat malu karena telah mengatakan hal itu di depan Nirwan.
Virginia mengangguk. "Janji."
"Baiklah, aku pergi dulu. Maaf, karena meninggalkanmu lagi." Darius mengecup pipi Virginia dan segera berlalu dari hadapan wanita itu, sementara Nirwan mulai mengulurkan tablet ke Darius sambil terus melangkah memperlihatkan beberapa pekerjaan yang harus Darius selesaikan.
"Kasihan dia sibuk sekali," gumam Virginia.
"Sesekali bermanja-manjalah dengannya, Virginia."
Virginia terkejut begitu mendengar suara Adi di belakangnya.
"Ayah mengagetkan saja." Virginia menggerutu, sambil mengusap dadanya.
"Ayah mendengar apa yang dikatakan Darius padamu tadi, Nak. Dia suka wanita yang manja. Tidak ada salahnya jika sesekali kamu merengek seperti keinginannya," ujar Adi Rahardian.
Virginia tersenyum begitu mendengar apa yang ayahnya katakan. "Tapi aku bukan wanita seperti itu, Ayah. Ayah kan tahu kalau aku tidak suka merengek, dan ayah juga tahu kalau aku bukan wanita yang manja."
"Kalau begitu berpura-puralah." Adi memberikan saran. Kasus perselingkuhan yang semakin marak terjadi membuat Adi ketakutan. Ia takut jika putri tersayangnya mengalami hal serupa. Apalagi mengingat bahwa suami Virginia adalah pengusaha sukses yang sering bepergian ke luar kota hingga luar negeri.
"Itu bukan diriku, Ayah. Aku tidak suka berpura-pura." Virginia menjawab dengan tenang. Ia tahu jika suasana hati sang ayah sedang kacau saat ini karena berita-berita miring tentang Vivian.
Adi Rahardian berdecak. "Ya, tunggu saja sampai ada wanita manja yang menggoda suamimu, maka habislah sudah. Semua pria akan merasa senang jika dirinya dibutuhkan lebih dari yang seharusnya, Virginia, dan ayah rasa Darius pun demikian. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."
Bersambung.