Justin menarik tangan Jihan, mereka lalu menaiki balon udara itu. Para genk abatasa membantu pelepasan balon udara. Perlahan lahan balon udara itu bergerak keatas, tinggi dan semakin meninggi. Semua yang menyaksikan dibawah sangat terpesona melihat Justin dan Jihan diatas.
"Hore.. Justin.. Jihan"
"Justin.. Jihan.. bahagia selalu kalian"
Orang orang dibawah kompak menyuarakan teriakkan kebahagiaan untuk Justin dan Jihan.
"Aku yang menyiapkan kejutan ini untuk kamu jihan"
"Justin kamu romantis banget" ucap Jihan, kedua matanya berkaca kaca
Justin tersenyum berdiri mendekati Jihan.
"Boleh kah aku memelukmu, Jihan?"
"Silakan Justin, peluk aku semau mu, karena sekarang aku sudah sah jadi istri kamu"
Justin memeluk Jihan dengan waktu yang lama, tangan Jihan pun merangkul erat tubuh Justin. Kedua nya sama sama terpejam, Justin lalu melepaskan pelukan nya dan mengecup kening Jihan di udara. Kemudian mereka duduk berdampingan menatapi awan awan. Jihan menyadarkan kepalanya dipundak Justin.
Jangan lupa Like, Comen, Vote, Tip Dan Rate 5 nya ya guys, semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za N_STAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Dua hari setelah peristiwa yang menghebohkan di pesta pernikahan itu membuat Jihan kini masih shoc, akibat ulah Cici yang berkata kasar. Gadis bercadar itu terus mengurung diri dikamar, yang dilakukan Jihan sekarang semakin mendekatkan kepada sang pencipta dengan berdzikir setiap waktu. Hanya itu senjata ampuh bagi perempuan yang taat agama seperti Jihan. Agar dirinya bisa kembali tenang, Justin pun masih dalam kekalutan yang semakin merongrong jiwanya. Ia selalu merindukan Jihan hingga akhirnya Justin lalu nekad untuk mendatangi rumah Jihan meski sudah di cegah.
Sesampainya disana, Justin berdiri di depan pagar sembari mengucap salam. Tapi kali ini bukan Jihan yang biasa membukakan pintu kabar, tapi Abi Akbar yang membuka pagar rumah itu dan menyambut Justun. Abi Akbar sudah tahu tentang permasalahan mereka, karena sepulangnya dari pesta, Jihan menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada Abi akbar dan Umi Linda.
"Ayo, Justin silahkan masuk, sudah dua hari Jihan ngurung diri terus dikamar. Justin, bujuk Jihan agar mau makan, karena dari semalam dia belum makan!" ucap Abi Akbar.
Kekhawatiran semakin menambah, ia langsung berjalan masuk kedalam rumah dan berdiri mematung di depan pintu kamar Jihan.
"Assalamualaikum Jihan, ini aku ... Justin"
Jihan tersentak kaget, ia menghentikan sejenak dzikirnya, ia masih ragu untuk bicara dengan Justin.
"Wa'alaikumussalam" Jawab salam dari Jihan dan hanya itu yang ia ucapkan.
"Jihan, aku mohon kamu jangan marah lagi! Lupain masalah kemarin malam, Cici itu emang cewe yang kasar! Kamu harus maklumin" ucap Justin
Jihan masih menahan mulutnya untuk bicara, ia masih diam. Justin terus coba memulihkan hati Jihan kembali seperti semula sambil meratap, kepalanya menempal di depan pintu kamar yang terkunci dari dalam.
"Jihan... jangan siksa aku kaya gini! Aku sayang kamu ... aku kangen sama kamu " Ucap Justin merintih.
Jihan merasakan sedih ketika mendengar suara nada Justin yang memelas. Tapi Jihan belum mampu melunakan hatinya yang masih keras.
"Maaf, Justin. Jangan ganggu aku dulu! Aku lagi pengen sendiri, kalo kamu masih sayang sama aku, kamu harus ngerti persaan aku sekarang!" sahut Jihan dari dalam.
"Sampe kapan? Aku ga tahan terus ngerasain seperti ini!"
"Diam! Udah kamu pulang, jangan kesini dulu!"
Justin pun mengalah. Hari ini ia belum bisa meredakan hati Jihan kembali, Justin berpamitan.
"Oke. Aku pulang, tapi janji sekarang kamu harus makan! Nanti kamu sakit, aku ga rela" Sahut kembali Justin
Jihan masih acuhkan perkataan Justin.
"Aku masih ga pengina makan!"
JUstin terus membujuk Jihan.
"Pokoknya kamu harus makan! Kalo kamu gak nurut kata aku berarti kamu ingkar sama salah satu ayat Allah. Aku emang engga hafal bunyi ayat itu tapi guru ngaji aku pernah ngejelasin bahwa (Allah tidak menyukai perbuatan hambanya yang merugikan dirinya sendiri). Aku pulang Assalamualaikum" ucap Justin yang diakhiri salam
Justin berjalan keluar kembali pulang, Jihan sontak termangu setelah mendengar sedikit ceramah dari Justin tadi. Hatinya langsung bergeta, gadis bercadar hitam itu tersadar dan merasa malu kepada Allah.
"Astaghfirullah! Ampuni hamba ya rabb!" Jihan membatin.
Jihan segera keluar kamar, lalu ia berjalan menuju meja makan, memang benar perutnya kosong dari semalam, Jihan lalu memaksa makan.
Malam esoknya, Justin kembali mendatangi Jihan, Justin masih terus berjuang untuk mengembalikan Jihan seperti sedia kalah. Pemuda itu pantang menyerah, kali ini Justin datang menuju dinding kamar Jihan, seperti pertama mereka bertemu, yaitu pertemuan dari jendela. Seperti yang pernah Justin lalukan, mengetuk jendela kamar Jihan dari luar.
Trek! Trek!
Jihan yang masih terbangun mendadak terkejut. Suara ketukan jendela itu sudah tak asing lagi di telinganya.
"Justin? Ternyata dia datang lagi" batin Jihan
Jihan berjalan mendekati Jendela, tapi kali ini ia tidak membukakannya.
"Justin, ngapain kamu malam-malam begini datang?"
Justin merasa lega mendengar suara Jihan.
"Akuu kangen sama kamu, sekaligus memastikan kamu baik-baik aja!" sahut Justin dari luar.
"Aku baik-baik aja! Aku sehat." Timpal Jihan dari dalam.
"Syukurlah, tapi kamu masih marahkah?"
Jihan terdiam, ia masih bingung dengan hatinya. Kedua mata Jihan sedikit bersimbah air mata, Justin kembali berucap.
"Jihan, kenapa kamu masih diam? Aku ga pernah ngerasa aku ini orang kaya, itu harta ayah aku bukan harta aku. Jadi kita sama-sama orang yang serba kekurangan ... aku tetap gembel jalanan seperti kemarin!"
Jihan semakin tak kuat menahan gejolak, tapi ia masih diam.
" Oke! Kalo kamu masih marah, masih gak mau ngomong, aku akan tetap disini nungguin kamu sampe gak marah lagi! "
Jihan tidak enak tingkah, ia masih membiarkan Justin berdiri kadang duduk diluar. Setiap setengah jam sekali Jihan membuka horden jendela memperhatikan Justin yang masih bertahan disitu. Kedua mata Jihan selalu tampak jelas.
Malam semakin larut, seketika cuaca mulai berubah. Mendadak angin bertiup kencang, suara guntur terdengar hingga menggempar bumi. Hujan turun dengan derasnya, mengguyur tubuh Justin yang semakin basah kuyup. Jihan panik, ia kembali mengintai. Justin masih tetap bertahan, tubuhnya mulai menggigil kedinginan, wajah dan bibirnya membiru, Jihan mengeluarkan air mata, ia tak tega melihat Justin kedinginan menggigil. Dengan sigap Jihan mengambil payung lalu keluar Rumah menemui Justin.
"Justin! Udah Justin!" teriak Jihan sambil menangis. Jihan memayungi Justin, pemuda itu tersenyum menggigil.
.
"J-Jihan K-Kamu ... udah ga ma-rah, kan?" tanya nya sambil terbata-bata. *
"iya, Justin. Aku ga bisa marah lama-lama sama kamu. Aku sadar, mengikuti nafsu amarah gak akan pernah menemukan titik terang walaupun mulut kita berdzikir sehari - semalam. Maafin aku! "
"Iya, Jihan. Aku juga minta maaf."
Kedua tangan Justin hendak memeluk Jihan.
"Eits. Tahan! Kita belum sah" tampik Jihan
Spontan Justin kegirangan mendengar kalimat Jihan barusan.
"Apa kata kamu, Jihan? Kita belum sah? Berarti kamu mau kan nikah sama aku. Cihaaa!"
"Ups ..."
Chara menutup mulunya. Dia keceplosan.
"Horeeee ... betapa bahagianya aku!"
"Bukan ... bukan maksud aku kaya gitu, maksud aku ...,"
"Ah udah lah ngaku aja, kamu mau nikah sama aku. Ehey."
Jihan tersenyum malu.
"Udah Justin udah, berisik tau! Nanti tetangga pada denger, ntar kamu disangkain maling lagi kaya waktu itu!"
"Gapapa. Biar kita ketangkep sama warga, terus langsung di tangkep nikah deh! Hahaha ..."
"iiikh kamu ... mulain deh bercandanya!"
Akibat gerak-gerak keseringan Justin terpeleset jatuh karena tanah licin di guyur hujan.
Bruuus!
""Hihihi ... rasain kamu!"
Jihan tertawa geli. Justin meringis tapi tertawa kecil melihat Jihan sambil memegangi punggungnya yang keseleo.
Hujan mulai mereda, Justin dan Jihan berdiri di bawah payung pelangi. Rasa pilu Jihan dan Justin ikut sirna, mereka kembali seperti sedia kala.