Tidak ada suami yang bisa memilih antara sang Ibu dengan Istrinya, begitupun dengan Yusuf. Lalu, apa yang bisa Yusuf lakukan? Jika, sang Ibu mengaggap istrinya tidak seperti anak sendiri? Dan mampukah Febri Ayundi mempertahankan pernikahannya dengan sang suami? Dimana selalu ada Ibu Marsella sang mertua yang ikut campur dalam hubungan rumah tangga mereka. Saksikanlah, kisah penuh menguras emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febrianis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Gemericik Rumah–Tangga
"Dek, kamu masih marah?" tanya Yusuf yang tidak ditanggapi oleh sang istri. Pagi tadi, wanita itu minta dibonceng ke kantor.
Walaupun Yusuf tahu, kalau istrinya masih marah. Sebab, Febri yang tidak mau mau mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya.
Itulah wanita, jika mood-nya sedang tidak baik. Jangankan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, untuk makan atau minum pun mereka enggan.
"Adek masih sibuk, Mas! Nanti saja bahas yang itu," terang Febri yang ingin tenang sejenak. mungkin dia bisa memaafkan sang ibu mertua, akan tetapi membutuhkan waktu yang lama. Karena, kali ini. Ibu mertuanya sudah kelewatan, membuat Febri benar-benar marah. Namun, tidak bisa dia lampiaskan kepada sang suami. Hingga, dia memilih untuk bekerja dan bekerja. Membuat pikirannya sibuk, lalu bisa melupakan kesalahan sang ibu mertua.
Yusuf tidak lagi mengganggu sang istri, dia pun berlalu. Memberikan waktu untuk wanita itu, menenangkan diri. Sebab, wanita akan semakin marah. Jika, semakin ditekan.
"Sut … sut, Beb."
Berkali-kali, Mona memberi kode kepada Febri. Namun, tidak digubris sama sekali. Membuat ia merasa kesal, lalu menghampiri sahabatnya itu.
"Beb! Kamu bertengkar, sama suamimu!" pekik Mona. Membuat perhatian karyawan yang lain, tertuju kepada mereka berdua. Hal itu, membuat Febri menjadi malu. Mulut sahabatnya tersebut, memang tidak memiliki akhlak.
"Kamu kenapa sih, Mon!" bentak Febri seraya menarik Mona, agar berdiri di dekat mejanya.
Febri pun berbisik tepat di telinga wanita itu, lalu mempertanyakan kehebohan Mona yang langsung the point.
"Aku kan cuma tanya," kata Mona tanpa merasa bersala sama sekali.
Sedangkan, Febri hanya mampu membuang nafas berat dan menyuruh sahabatnya untuk kembali ke mejanya sendiri.
"Kamu yang menyuruh aku mendekat? Kamu juga yang menyuruhku pergi! Dasar!" Setelah mengatakan hal itu, Mona pun berlalu.
Febri pun kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda, dia kembali fokus pada tanggungjawabnya. Sampai, jam makan siang pun. Wanita itu tidak ke kantin, sebab menghindari sang suami. Febri hanya meminta Mona, sahabatnya untuk membawakan makan siang untuknya dan memberitahukan prihal banyaknya pekerjaan yang dia lakukan, kepada sang suami.
Mungkin, yang di lakukan olehnya termasuk salah. Namun, dia berusaha untuk menghindari pertemuan dengan suaminya. Hanya, karena dia tidak ingin terpancing emosi dan marah-marah tidak jelas kepada sang suami.
"Beb! Kamu kenapa sih? Apa perlu, marahan sama suami sendiri?" tanya Mona yang baru saja datang dan membawakan pesanan Febri.
"Mon! Kamu memang sahabatku, tapi … ada hal yang tidak perlu kamu tahu," jelas Febri dan mengambil kotak makan siangnya. Dia makan dengan lahap, sebab merasa amat lapar. Otaknya terperas dan juga perutnya, hal itu membuatnya tersiksa.
Ketika, Febri dan Mona sedang asik mengobrol dengan Febri yang masih meyuap makanan. Tiba-tiba saja, terdengar suara Pak Martin yang menegur kedua wanita tersebut.
"Ibu Febri! Ibu Mona! Kenapa, kalian masih ada di sini?"
Febri dan Mona hanya menggaruk kepala mereka yang tidak gatal, setelah mendengar pertanyaan dari Pak Matrin.
Sedangkan, lelaki itu mengerutkan dahinya dan kembali bertanya, "Kalian tidak makan siang di kantin?"
"Saya sedang makan ini, Pak," jelas Febri seraya mengangkat kotak yang masih menyisakan sedikit makanan di sana.
Kali ini, pandangan Pak Martin. Tertuju kepada Mona dan membuat wanita itu salah–tingkah dan meminta izin untuk ke kamar kecil.
"Maaf, Pak. Saya harus ke belakang dulu."
Sekarang, hanya tertinggal Febri dan Pak Martin. Sebab, area ruangan tersebut sepi. Dikarenakan jam makan siang.
"Selesaikan makan siangmu, Ibu Ferbi. Nanti, temani saya untuk keluar!" tintah Pak Martin. Tanpa, menunggu jawaban dari Febri dan berlalu bergutu saja. Membuat, Febri menggerutu.
"Dasar! Bos edan!" batin Febri kesal.
Sesuai dengan apa yang di katakan oleh Pak Martin sebelumya, setelah selesai makan. Febri pun menghampiri sang bos di ruangannya dan mereka pun berjalan berdua.
Pak Martin, tidak menjelaskan apapun. Dia hanya, mengatakan. Jika, akan menemui seseorang dan meminta Febri untuk menemaninya.
Namun, Febri tidak langsung mengiyakan begitu saja. Ajakan sang bos, dia terlebih dahulu meminta izin kepada sang suami.
"Mohon, maaf, Pak. Saya harus izin dulu kepada suami saya," jelas Febri.
"Kamu tahu, bukan? Akan aturan kantor?"
Febri hanya menganggukkan kepala kecil, lalu mau tidak mau harus mengikuti langkah Pak Martin yang sudah menjauh. Akan tetapi, Febri sempatkan diri. Untuk mengirim pesan Chet kepada sang suami. Memberitahukan, kepada lelaki itu. Bahwa, dia menemani bosnya.
"Mas, adek. Diminta, Pak Martin menemani beliau. Maaf, adem izinnya hanya lewat pesan."
Setelah mengirim pesan tersebut, Febri segera mengejar Pak Martin yang kini telah berada di dalam mobilnya.
Febri, langsung naik ke dalam mobil bosnya itu dan duduk di kursi depan. Mobil tersebut pun mulai melaju dan meninggalkan gedung perkantoran.
Selama, di perjalanan. Febri hanya diam, perasaanya tidak nyaman. Terlebih, dia hanya izin kepada suaminya. Tanpa, tahu. Kalau di izinkan atau tidak. Hingga, dia tidak tahan lagi dan segera mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.
"Mas, izinkan."
Akhirnya, Febri bisa bernafas lega. Setelah, membaca pesan dari sang suami. Sampai, tanpa sadar dia tersenyum dan hal itu dilihat oleh Pak Martin.
"Apa yang membuatmu, terlihat bahagia?"
Febri menatap sekilas kearah bosnya dan memasukkan kembali ponselnya.
"Bukan, apa-apa, Pak."
Ferbi enggan menjelaskan, perkara apapun tentang rumah tangganya kepada orang lain. Apalagi kepada sang bos.
Setelah, itu tidak ada lagi pembicaraan. Hingga, mobil memasuki sebuah cafe. Membuat, Febri mengerutkan dahinya.
"Ikuti saya!" tinta sang bos. Membuat Febri mengekor dari belakang.
Mereka memasuki cafe yang ternyata sepi pengunjung, bukan hal yang aneh lagi. Untuk, Febri. Sebab, tentu. Bosnya yang memboking tempat tersebut.
"Sayang! Akhirnya, kamu datang juga."
Febri hanya diam, ketika seorang wanita cantik dan seksi menyapa Pak Martin dan ingin memeluk sang bos. Namun, lelaki itu mendorong pelan tubuh wanita tersebut.
Bagi, Febri. Melihat, wanita sepeti itu. Amatlah menjijikkan, sepeti tidak memilki harga diri. Padahal, wanita yang mahal. Bukan, terlihat dari barang berdit yang di kenakan. Akan tetapi, bagimana kaum hawa tersebut. Mampu, menjaga semua hal yang ada pada dirinya dan di berikan kepada yang hak.
"Aku tidak bisa lama! Jelaskan, apa yang kamu inginkan."
Ferbi hanya melihat adengan yang ada di hadapannya, dia masih tidak mengerti. Mengapa bosnya mengajaknya kecafe tersebut dan bertemu dengan wanita yang kini malah menangis.
"Sayang! Aku minta maaf, yang kemarin? Itu, kesalahanku yang tidak di sengaja. Jadi—"
"Apa, katamu tadi? Tidak sengaja? Di mana otakmu! Hah! Kamu bercumbu dengan lelaki lain? Kamu bilang tidak sengaja?"
Setelah, mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Pak Martin. Sekarang, Febri tahu. Apa masalah yang kedua orang itu tengah hadapi.
"Aku—"
"Sudahlah! Aku sudah muak! Sekarang! Aku akan segera menikah!" pekik Pak Martin seraya menarik Febri dan memeluk tubuh ramping wanita itu. Membuat, Febri ingin protes. Namun, pinggangnya di cingram kuat oleh Pak Martin. Membuat Febri hanya mampu membuang nafas berat.
"Matilah, aku!"
sabar yak, Febri😌