Pernikahan Keyla dan Edwin yang didasari oleh perjodohan terasa dingin sejak awal. Namun, waktu telah perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di hati Edwin. Tepat saat Keyla merasa pernikahan mereka mulai membaik, badai datang dari masa lalu.
Seorang wanita dari masa lalu Edwin, cinta pertamanya, kembali muncul. Kehadirannya yang tak terduga seketika menggoyahkan hati Edwin yang tadinya sudah mulai mencintai Keyla. Edwin, yang masih menyimpan sisa-sisa perasaan, mulai bimbang antara janji pernikahan dan nostalgia.
Di sisi lain, Keyla tengah berjuang meraih impiannya di dunia modeling, sebuah profesi yang tidak disukai dan dianggap tabu oleh Edwin. Keputusan Keyla untuk tetap mengejar karier ini semakin memperkeruh rumah tangga mereka, membuat Edwin merasa tidak dihargai.
Keyla kini berada di ujung tanduk. Ia harus berjuang mempertahankan suaminya dari bayangan masa lalu yang memikat, sambil berusaha membuktikan bahwa pilihannya sebagai seorang model tidak akan menghancurkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarMaker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab10
"Ternyata kamu tidak ada bedanya sama jallang disini," ucap Reza tersenyum remeh kepada Keyla.
"Maksudmu?" Tanya Keyla menatap tajam Reza.
"Selain minum kamu pasti juga pinter muasin cowok!" Reza menatap Keyla penuh nafsu.
"Jaga mulut kamu Reza!!" Geram Keyla sudah naik pitam. Ia memang suka minum tapi dia tidak pernah menjadi perempuan murahan. Bahkan dulu ada yang menggodanya dan Keyla tidak segan untuk meninjunya. Senakal-nakalnya Keyla ia tidak akan sudi untuk menjadi pelacur.
"Kalian berdua mau debat atau minum?" ucap cewek yang duduk di depannya.
"Saya jamin kamu tepar!" ucap Reza menyunggingkan senyumannya.
"Terlalu banyak bicara juga nggak baik seharusnya kita mulai sekarang," ucap Keyla tersenyum miring.
Bagi Keyla masalah minuman seperti ini tidak ada apa-apanya. Dulu waktu SMA Keyla memang terkenal bad girl apa lagi kerjaannya yang suka keluar masuk club bersama teman-temannya, tawuran dan balapan adalah hobinya. Tapi kegiatannya itu semua terhenti karena dia di jodohkan dengan Edwin, dan Keyla sadar dia harus memperbaiki dirnya agar tidak memalukan saat bersanding dengan Edwin. Keyla menyukai cowok itu saat pertama kali di kenalkan.
Tapi untuk malam ini menjadi pengecualian, Keyla terpaksa harus minum lagi. Ini semua ia lakukan untuk menyelamatkan sahabatnya dari iblis yang pernah menjadi malaikat untuk Hana.
Reza mengangkat gelasnya yang berisi alkohol dan meminumnya sekali teguk, begitu juga dengan Keyla yang langsung meminumnya dengn sekali teguk.
Awalnya Reza tidak percaya saat Keyla menghabiskan minumannya dengan sekali teguk dan tidak sempoyongan.
"Menarik," gumam Reza sambil mengamati tubuh Keyla. Terutama pada bagian dadanya yang sedari tadi menggodanya untuk di sentuh.
"Oke saya nambah," ucap Reza seraya menuangkan minumannya ke gelas.
Ia tersenyum licik. Reza pastikan setelah ini Keyla akan menjadi miliknya untuk satu malam.
Tanpa banyak bicara Keyla juga menuangi gelasnya dengan minuman tersebut dan meneguknya habis. Reza kaget karena Keyla belum juga mabuk setelah minum dua gelas.
"Kenapa kaget? Saya bisa lebih dari ini," ucap Keyla kepada Reza yang menatapnya seperti tidak percaya.
"Sepertinya kamu harus di paksa." ucap Reza mendekatkan badannya dengan Keyla.
"Kamu jangan macem-macem!!" ucap Keyla mendorong tubuh Reza tapi cowok itu terus mendekat.
"Kita bisa selesaikan ini di kamar sayang," ucap Reza menarik tangan Keyla kencang.
"Jangan harap!" ucap Keyla berusaha melepaskan cengkraman Reza. Reza menariknya untuk pergi.
"Puasin kalau main bro," ucap teman Reza dan langsung mendapat jempol dari Reza.
"Lepasin bangsatt!!" Teriak Keyla saat Reza menarik tangannya ke salah satu lorong club' menuju kamar yang tersedia di club' itu.
"Seharusnya saya lebih milih kamu dari pada Hana yang so alim itu," ucap Reza mendorong tubuh Keyla ke tembok.
"Brengsek!! Cuih" umpat Keyla seraya meludah tepat dihadapan Reza. Reza geram mendapatkan respon seperti itu baru pertama kalinya ada perempuan yang meludahinya.
"Saya rasa bibir manis mu harus di tutup dengan bibir saya," ucap Reza memegangi kedua tangan Keyla dengan kencang.
"Jauhin wajah busuk mu dari wajah saya bangsat!!" Teriak Keyla saat Reza berusaha mencium bibirnya. Keyla selalu mengelak dan berusaha meronta dari cekalan Reza.
"Diam! atau saya kasar!" ucap Reza mencengkram kedua pipi Keyla dengan kencang.
"Lepasin!! Saya tidak sudi di pegang cowok bajingan" Teriak Keyla. Lagi-lagi Reza mendekatkan wajahnya.
Bught
Reza tersungkur di lantai karena seseorang telah memukul nya.
Keyla menutup mulutnya saat tau dia adalah Edwin.
"Apa maksudmu!" ucap Edwin memegang kerah Reza dengan kasar, kilatan amarah tampak jelas di mata Edwin.
"Kau tanya apa maksudnya? Jelas saya mau tubuh dia!" Ucap Reza memegang tangan Edwin yang berada di kerahnya. Mendengar itu Edwin langsung meninju Reza tanpa henti. Reza pun ingin membalas pukulannya tapi belum bisa.
"Stop!!" Teriak Keyla tidak dihiraukan keduanya.
"Edwin udah!!" Lerai Keyla berusaha menjauhkan Edwin dari Reza yang sudah babak belur.
"Pukulanmu boleh juga,"
Bugh
"Edwin!" teriak Keyla.
Edwin mendapat pukulan tepat di sudut bibirnya sehingga mengeluarkan darah, sekarang posisi Edwin ada di bawah Reza. Dengan bebas Reza menghujani wajah Edwin dengan pukulan.
Edwin yang sudah naik pitam akhirnya membalikkan posisinya dan memukuli Reza tanpa ampun.
"Stop saya mohon!" teriak Keyla tanpa di dengar oleh Edwin dan terus melancarkan aksinya untuk memukuli Reza.
"Edwin berhenti atau kamu bisa bunuh anak orang!!" Teriak Keyla memperingati Edwin. Ia tidak mau suaminya mengotori tangannya. Meskipun Edwin dingin padanya tapi Keyla sangat mencintainya.
Edwin mengelap sudut bibirnya, ia melepaskan Reza dengan sekali hentak sehingga kepalanya terbentur keras dengan lantai.
"Kali ini kau selamat!" ucap Edwin seraya berdiri dan menarik tangan Keyla untuk pergi dari tempat terkutuk itu.
"****, tunggu pembalasan ku!"
°°°
Edwin menarik tangan Keyla dengan kasar keluar dari Club. Cowok itu tidak menghiraukan Keyla yang meminta di lepaskan.
"Lepasin! Ed" ucap Keyla berusaha melepaskan cekalan Edwin yang sangat kencang dan membuat pergelangan tangannya terasa sakit.
"Hana dia masih ada di dalam," ucap Keyla. Teringat dengan Hana yang masih terbaring di sofa.
"Berhenti mikirin orang lain dan pikirin diri kamu sendiri Keyla!" Bentak Edwin. Membuat Keyla tercengang. Bukan karena bentakannya tapi karena Edwin yang menyuruhnya untuk tidak peduli pada sahabatnya.
"Dia sahabat aku dan aku berhak mikirin dia!" ucap Keyla segera melepaskan tangan Edwin dan mengentakkannya kasar.
Edwin memejamkan mata sejenak sambil menghirup udara untuk mengontrol emosinya.
"Hana sudah pulang," ucap Edwin.
"Maksudnya?" tanya Keyla bingung bagaimana Keyla bisa pulang bukannya Hana tidak sadarkan diri.
"Kamu tau Juna?" Dia yang bawa pulang," ucap Edwin memperjelas. Keyla tahu Juna adalah sahabat Edwin sekaligus orang kepercayaannya.
Tadi Edwin menghubungi Juna untuk membantunya karena pirasatnya tidak enak. Ada sesuatu yang akan menimpa Keyla dan Edwin tidak bisa masuk ke club seorang diri mengingat ia adalah seorang CEO yang harus menjaga nama baik perusahaannya.
Edwin menatap Keyla. Memperhatikan baju Keyla yang mencetak jelas bagian dadanya yang berukuran cukup besar itu.
"Cardigan kamu mana!" tanya Edwin dingin berusaha santai seperti biasanya.
"Aku buang," ucap Keyla tanpa memperdulikan tatapan marah Edwin dan langsung berjalan memasuki mobil.
Keyla terdiam di dalam mobil bukan tanpa sebab dirinya terdiam.
Keyla sedikit marah saat Edwin mengatakan Hana adalah orang lain sedangkan Edwin tahu kalau Hana adalah sahabat Keyla sekaligus sepupunya.
Keyla mengalihkan pandangannya ke kaca mobil saat Edwin memasuki mobil.
"Keyla," panggil Edwin, bukannya menjawab Keyla malah memilih untuk diam dan tetap memalingkan wajahnya agar tidak melihat Edwin.
"Sejak kapan kamu jadi ngelawan!" Ujar Edwin membuat Keyla menolehkan kepalanya menghadapnya.
"Sejak kamu bilang Hana orang lain!" Sinis Keyla menatap Edwin tajam.
"Kamu minum?" tanya Edwin seraya mendekatkan wajahnya dengan wajah Keyla.
"Kenapa? Nggak boleh aku sudah sering kok minum tiap malem di club, sebelum nikah sama kamu!" Tutur Keyla, Edwin tersentak saat Keyla berkata seperti itu.
"Kamu tau apa yang kamu ucapin barusan," ujar Edwin menatap tajam. Yang di tatap terlihat jutek menanggapinya seolah itu hal yang sudah biasa.
"Kenyataan," cetus Keyla tidak peduli bahwa saat ini Edwin tengah menatapnya tajam.
"Sekali lagi kamu ulangi kamu akan tau akibatnya!" Ancam Edwin menjauhkan badannya dari Keyla.
"Kenapa? Karena aku istri kamu!" Tanya Keyla wajahnya memerah karena marah.
"Seharusnya kamu udah ngerti kan," kata Edwin berusaha tidak menaikkan nada bicaranya.
"Bukan urusan kamu, aku minum atau enggak!"
Cup
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibirnya. Keyla membeku saat Edwin mencium bibirnya tiba-tiba. Keyla mendorong dada Edwin kuat.
"Ucapin sekali lagi," titah Edwin menatap Keyla intens.
"Jangan ikut campur!"
Cup
Lagi-lagi Keyla hanya bisa terdiam saat Edwin mencium bibirnya. Edwin menekan tengkuk Keyla dan memperdalam ciumannya. Keyla berusaha menolak tapi tenaga Edwin cukup kuat untuk menahannya tetap pada posisi.
Edwin terus menerus ******* bibirnya. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut membuat Keyla kehabisan nafas. Keyla memukul-mukul dada Edwin agar ciumannya di sudahi tapi cowok itu di tidak mau.
"Enghh" Keyla melenguh matanya memerah karena menahan tangis dia tidak suka jika Edwin menciumnya seperti itu.
Edwin menyudahi aksinya lantas menatap Keyla tajam. "Jangan pernah ucapin itu lagi!" Tegas Edwin.
Keyla mengalihkan pandangannya ke arah jendela tangannya sudah mengepal menahan amarah, hari ini dia sangat membenci Edwin. Keyla baru tahu ternyata Edwin kasar dan pemaksa.
•••
Keyla turun dari mobil dan langsung memasuki rumah tanpa menunggu Edwin yang masih ada di dalam mobil.
Keyla masuk kedalam kamar sambil menangis ia membanting tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Aku benci di gituin," ucap Keyla seraya menenggelamkan wajahnya dengan bantal dengan posisi tengkurap seperti cicak yang menempel di dinding.
Cklek
Keyla mendengar pintu kamar terbuka dan ia lebih memilih untuk pura-pura tertidur.
"Ganti baju dulu baru tidur," titah Edwin.
Edwin yang tidak mendapat jawaban dari Keyla hanya bisa menghela nafas dan memilih keluar dari kamar.