Ini kisah seorang gadis cantik, Sheilla Abraham namanya. Seorang gadis nakal, pembuat onar yang akhirnya memutuskan untuk berubah.
Namun, ternyata keputusan Sheilla untuk berubah malah membuat nya menjadi bahan bullyan di sekolah baru nya.
Lalu, akankah Sheilla melawan? atau membiarkanmu dirinya menjadi bahan bullyan murid-murid di SMA Raharja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizkook lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ten
Seperti biasa, Love, Nana dan Ara selalu berangkat sekolah bersama dengan mobil hitam kesayangan Love.
Ke-tiga gadis yang sudah menjadi sepaket itu tak pernah terpisahkan, selalu pergi kemanapun bertiga. Jika satu tidak, maka semua juga tidak.
"Kantin yuk, gue tiba-tiba laper pengen bakso nih."
Love menatap si gadis dengan kuncir dua itu heran, pasalnya gadis itu baru saja sarapan untuk yang ke dua kalinya di rumah Ara, dan dia masih ingin memakan Bakso lagi?
Love heran, sebenarnya terbuat dari apa perut sahabat nya itu?
"Hay, kalian." Baru setengah jalan mereka menuju kantin, tiba-tiba seorang laki-laki dengan menggunakan jas berwarna merah hati dengan lambang SMA Raharja memanggil mereka.
Ia adalah anggota OSIS, atau lebih tepatnya Ketua OSIS tampan mereka; Adnan Samudra.
"Adnan, ada apa?" Tanya Ara yang masih bisa kalem di hadapan seorang Adnan Samudra, sedangkan kedua temannya sudah mereog karena efek ketampanan laki-laki itu.
"Aku dengar, kalian kemarin dari rumah Sheilla ya?"
Ara mengejutkan kening, "Iya, kenapa? kamu kenal sama Sheilla?"
Adnan hanya tersenyum kecil, "Gak kenal juga sih, cuma sempet beberapa kali ketemu aja."
Ara mengangguk. Adnan kembali bertanya, "Kemarin, kenapa Sheilla gak masuk ya? hari ini juga aku gak ada liat dia."
"Sheilla mah pergi ke rumah nenek nya, kenapa? lo suka ya sama dia?" Nana memotong Ara yang hampir menjawab, membuat gadis itu kembali menutup mulut.
Mendengar ucapan Nana membuat Love menjadi murung, tak tahu kah Nana jika love itu suka sama Adnan? Ia udah nge-crush-in cowok itu selama 2 tahun tau!
Namun untung nya jawaban dari Adnan membuat hati Love lega.
"Enggak lah, aku cuma nanya. Kalau gitu aku duluan ya, da." Laki-laki itu melambaikan tangan tanda perpisahan.
Love melambaikan tangan sambil tersenyum, sedikit melamunkan sosok Adnan. Bahkan ketika Adnan sudah jauh pun, Love masih tetap melambaikan tangan.
Nana yang menyadari keanehan Love pun langsung melihat ke arah yang Love lihat sejak tadi.
Senyuman jahil nya terbit tak kala menyadari apa yang sedang terjadi pada sang sahabat.
"Wah~ lo suka ya sama Ketos kita?" Tanya Nana, dan dengan bodohnya, Love malah mengangguk yang membuat Nana langsung saja mengolok-olok diri nya.
"APA? SEORANG LOVE MENYUKAI SESEORANG?! APAKAH INI NYATA? OH, AKU HAMPIR SAJA SALTO!"
"Oh, Hahaha, aku akan membantu mu mendapatkan laki-laki itu Love, tenang saja."
"Akhirnya temen gue suka cowok juga, gue pikir lo suka sama yang sejenis Love!"
Oh, siapapun tolong bungkam mulut Nana dengan sesuatu, kalau bisa sih pakai bangkai tikus.
•
•
•
Oh, sebenarnya apa yang terjadi dengan cowok-cowok populer SMA Raharja hari ini?
Tadi pagi Adnan nanyain Sheilla, lalu Yudha, Ander, Dion, Luca si pembuat onar, dan sekarang? Ryan?
Apakah semua laki-laki populer SMA Raharja sedang jatuh cinta masal pada Sheilla?
"Gimana Sheilla?" Itu sudah ke-tiga kalinya Ryan mengulang pertanyaan nya.
"Dia sedang di rumah nenek nya!! Ya Allah! bisa darah tinggi gue," Dan ini sudah yang kesekian kalinya Love menjawab dengan perasaan dongkol bukan main. Kenapa sih laki-laki satu ini keras kepala banget? kan Love jadi capek ngadepinnya.
"Masa sih? aku gak per__"
"Terserah lo! capek gue jelasinnya!!" Tak tahan dengan Ryan, Love pun segera pergi dari kantin meninggalkan laki-laki itu. Masa bodoh jika laki-laki ber setatus kapten basket SMA Raharja itu akan marah padanya.
•
•
•
"Hey, kuncir dua!!"
Merasa terpanggil, Nana pun menghentikan langkah nya dan menoleh ke belakang. Ternyata itu adalah Amanda dan para antek-anteknya.
"Ada apa?" Ucap Nana dengan nada sangar.
Amanda berdiri di hadapan Nana dengan kedua tangan bersidekap, terlihat sangat angkuh di mata Nana.
"Dimana teman culun yang selalu kau ikuti itu? apakah dia tidak berani sekolah karena kejadian kemarin?" Amanda tersenyum miring, sedangkan Nana mengerutkan kening.
"Maksudmu? apa yang terjadi kemarin?" Oh, tidak seperti nya Amanda telah salah bicara.
"Lupakan saja." Gadis itu hendak pergi namun Nana dengan cepat menghadang langkahnya.
"Jawab dulu!"
Bukan nya menjawab, gadis cantik itu malah melayang kan tatapan sinis pada Nana. "Bukan urusan Lo."
Nana dengan sigap menahan tangan gadis itu ketika ia lagi-lagi hendak pergi, "Itu urusan gue, karena gue udah anggap Sheilla sebagai teman gue."
Amanda tersenyum miring, "Cuma lo yang nganggap dia teman, sedang kan dia?" Amanda berdecak sambil menggeleng kan kepala, prihatin dengan Nana.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, cepet jawab gue!!"
"Oke, fine. Gue bully dia, gue mukul dia, gue nyiram dia pakai air, gue ngatain dia ******. Terus apa? lo mau apa setelah tahu apa yang gue lakuin?" Tantangan Amanda dengan muka songongnya.
PLAK...
Nana awal sudah siap untuk meninju wajah mulus Amanda, namun tangan seseorang sudah lebih dulu melayang hingga mendarat di wajah cantik itu.
"Tunggu surat panggilan buat orang tua mu."
Amanda tercengang, memegang pipinya yang memerah dengan mata menatap tak percaya laki-laki yang langsung pergi setelah menampar dirinya.
"WOY ADNAN!! LO APA-APAAN SIH?"
"Rasain tuh, biar tau rasa lo," Ledek Nana tertawa puas.
•
•
•
Entah kenapa Ryan terus saja gelisah, pikiran nya selalu mengarah pada gadis pemilik kursi di samping nya.
Bahkan hari ini pun Ryan sering melamun dan tidak fokus mendengarkan pelajaran, sampai ia beberapa kali mendapatkan teguran dari sang guru.
"Ryan, tolong fokus! Jangan melamun terus!"
Ryan yang tersadar langsung menegakkan duduk nya dan melihat ke arah papan tulis. Walau begitu, pikiran nya masih melayang jauh.
Oke, Ryan tak mau seperti ini terus. Ia sebaiknya segera menemui Sheilla atau dirinya akan menjadi gila karena terus-terusan memikirkan gadis itu.
•
Ryan memutuskan untuk mendatangi rumah Sheilla seorang diri setelah ia mendapatkan alamat rumah si gadis dari Love. Itu juga ia harus mengancam Love terlebih dahulu untuk mendapatkan alamat Sheilla.
Rumah megah itu selalu membuat siapa saja yang datang terkesima, tak terkecuali Ryan.
Ya, rumahnya memang besar, sangat besar bahkan mungkin jauh lebih besar dari rumah ini. Namun yang membuat Ryan terkesima adalah model rumah tersebut. Terkesan sederhana, tapi juga mewah dengan lapisan emas.
Menarik nafas panjang, Ryan memberanikan diri untuk memencet bel rumah tersebut.
Oh, bodohnya ke-tiga gadis kemarin yang malah memilih mengetuk pintu dari pada memencet bel.
Mungkin mereka terlalu terkesima dengan rumah unik sampai tidak melihat bel.
Cklek...
Seorang wanita dengan memakai daster dan kain lap yang tersampir di bahu membuka pintu untuk Ryan.
"Siapa ya?"
"Saya Ryan, temen sekolah nya Sheilla."
"Oh, aden ingin ketemu non Sheilla? Tapi non Sheilla nya lagi gak ada di rumah," Ucap sang bibi dengan nada tak enak.
"Jadi bener ya, Sheilla sedang pergi ke rumah neneknya?"
Bi Ina hanya diam, ia tak tahu apapun, jadi ia bingung harus menjawab seperti apa.
"Maaf, tapi saya kurang tahu, aden," Ucapan Bi Ina membuat Ryan kecewa.
Merasa tak mendapatkan apa yang ia inginkan, Ryan pun berpamitan pulang. Mungkin lain kali ia akan bertanya pada saudara Sheilla jika mereka ada di rumah.
Kini tempat tujuan Ryan adalah tempat yang biasa ia gunakan untuk berkumpul dengan teman-teman nya.
Bukan di cafe ataupun restauran mewah, mereka memilih berkumpul di sebuah warteg pinggir jalan.
Walau keempatnya adalah anak-anak konglomerat, mereka lebih suka dengan sesuatu yang sederhana. Hidup mewah itu tidak menyenangkan bagi mereka.
"Weh, dari mana aja lo Yan?"
Ryan tak menjawab, laki-laki itu memilih langsung duduk di samping Ander dan memesan mie kuah.
Mood nya cukup buruk hari ini, entahlah, mungkin karena matahari nya tidak masuk.
"Cie yang galau karena ceweknya gak masuk." Ander menyenggol lengan Ryan, mengejek laki-laki itu.
Ryan hanya memberikan lirikan tajam nya, "Tutup mulut lo, atau terima akibatnya."
Oke, Ryan telah menggunakan logat 'lo-gue', itu berarti bahwa laki-laki itu sedang tidak bisa di. ganggu ataupun di ajak bicara.
Menghembuskan nafas, Ryan menatap jalanan yang padat, memperhatikan beberapa kendaraan yang berlalu lalang.
"Ini mas mie nya." Kesadarannya kembali setelah si ibu pemilik warung meletakkan semangkuk mie kuah dengan telur di meja.
Ryan hanya mengangguk sebagai jawaban, sungguh mood nya sangat hancur hari ini.
•
•
•
Gadis cantik pemilik surai hitam legam itu masih nyenyak dalam tidur, seorang tak terganggu sama sekali dengan keadaan ribut di luar sana.
Seorang laki-laki tampan yang berstatus sebagai kakak kandung nya itu terus berada di sana, juga bersama seorang laki-laki yang kini masih berada di kamar mandi, padahal sudah 30 menit berlalu.
Positif thinking saja, mungkin dia ada panggilan alam.
"Dek, bangun yuk. Kamu gak kangen sama kakak? sama Alena? sama Mahen, dan merupakan semua?" Di usap nya tangan indah itu dengan lembut.
"Kamu gak kasihan sama mommy? mommy pasti bakal shock kalau liat kamu kayak gini."
"Shock? perduli saja tidak," Sinis Arjun yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia cukup lega setelah mengeluarkan sisa-sisa makanan nya yang sudah tidak berguna.
"Apa maksud lo ngomong kayak gitu?!" Nampaknya Nathan tak terima atas ucapan Arjun.
Laki-laki itu hanya mengangkat bahunya acuh, "Gue cuma mengatakan sebuah kenyataan, tidak memiliki maksud tertentu."
"Kayaknya Sheilla lebih baik bareng kami aja terus deh, dari pada dia terus terkurung di dalam rumah mewah bak penjara itu."
Nampaknya Arjun sengaja menyinggung Nathan, Kata-kata laki-laki itu seakan membuat Nathan merasa bahwa dirinya dan keluarganya bukan lah sosok keluarga yang tepat untuk Sheilla.
Nathan sadar jika orang tuanya terlampau acuh pada anak-anak nya, tapi mereka tak seburuk itu. Mereka bukan orang tua yang membenci anaknya, mereka hanya... sedikit sibuk.
Dan jika Arjun menyalahkan Nathan untuk keadaan Sheilla, maka Nathan akan mengakuinya. Namun sungguh, ia hanya ingin adiknya menjadi perempuan baik-baik.
Bukan perempuan nakal yang suka membolos, membully murid lain, memukuli seseorang sesuka hati dan bertingkah seenaknya. Nathan tak tahu jika hal seperti ini akan terjadi kepala Sheilla.
ikutan sedih,,,soal ny penjahat asli ny lom tahu ad dendam ap sma sma sheilla trus kn kayak sembunyi d balik layar gthu,,,,
ryan keren,dh kayak pangeran berkuda besi ajj,,,🤭🤭🤭