"Maaf, aku mundur."
"Maksudmu?"
"Kita akhiri hubungan ini. Terima kasih untuk semuanya, Pak Riko."
Rencana lamaran gagal seketika. Hubungan yang baru seumur jagung pun kandas dalam sekejap. Riko tak paham. Ia sampai beberapa kali menanyakan keputusan Lily.
Lantas, bagaimana kelanjutan cerita mereka? Akankah tali yang sudah putus bisa disambung kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemakaman.
~Segagal apa pun kamu. Dirimu tetaplah yang terbaik. Semangatlah.~
☃️☃️☃️☃️☃️
☃️☃️☃️☃️
☃️☃️
Dua pasang kaki milik seorang lelaki mendekati Riko. Tatapannya tajam hampir menembus jantung. Dua bola mata hitam itu menilisik cermat penampilan Riko dari atas sampai bawah seolah tengah menilai.
"Anda siapa, ya?" tanya Riko penasaran. Dua detik selanjutnya pikiran Riko memutar kejadian hari kemarin. Ia tersadar. Ah ... lelaki ini.
"Bisa kita bicara?" pinta lelaki tersebut.
Sekejap Riko diam. "Ada perlu apa?"
"Ini tentang Lily."
Semangat Riko terbakar mendengar nama itu. Bagaikan tubuh yang telah lama kelaparan, lalu diberi makanan enak. Tentu tidak akan pernah disia-siakan.
"Ikuti motor saya." Lelaki itu berbalik menuju motornya yang berada tak jauh dari mobil Riko. Inilah saatnya, pikir Riko. Mungkin lelaki itu adalah kunci gerbang untuk membuka tabir rahasia Lily.
Riko menurut. Ia mengikuti dengan mobilnya. Namun, sebelum ke tempat tujuan. Suara azaan terdengar berkumandang. Riko menyusul motor laki-laki itu dan meminta waktu untuk lebih dahulu menunaikan kewajiban.
Lelaki berkemaja kotak-kotak biru itu menyetujui. Ia pun mengikuti mobil Riko dari belakang sembari mencari masjid terdekat.
Masjid didapati. Mobil Riko menepi, begitu pun dengan motor si Lelaki. Akan tetapi, hanya Riko yang masuk. Lelaki itu menunggu di depan masjid. Tak ada pertanyaan dari mulut Riko. Bisa saja lelaki itu berkeyakinan yang berbeda dengannya. Ia dengan cepat mengambil wudu dan mengerjakan salat berjamaah.
Senja berubah gelap. Meninggalkan kerinduan yang masih tersemat. Tujuh menit berlalu Riko kembali. Ia berterima kasih karena lelaki tersebut bersedia menunggu.
"Tidak apa-apa. Saya toleransi orangnya," jawabnya.
Dari kalimat tersebut pun Riko sudah Isa memastikan jika lelaki ini memang berbeda keyakinan. Namun, sama seperti perkataannya. Kita memang harus bertoleransi satu sama lain.
"Anda mau bicara di mana?" tanya Riko.
"Ikuti saya saja."
Dahi Riko berkerut. Namun, jiwa penasarannya semakin bersemangat. Puzzle ini belum terselesaikan. Ia bahkan baru memulai. Lelaki itu kembali ke motornya, begitu pun dengan Riko. Mereka meninggalkan perkarangan masjid, dan bergabung kembali dengan kendaraan yang lain di jalanan.
Riko tak tahu ke mana tujuan mereka saat ini. Ia seperti seorang anak yang tengah mengikuti arahan orang tuanya. Demi Lily. Ya, hanya itu yang ada dalam pikirannya. Setidaknya ini adalah langkah yang baik.
Mobil Riko keluar jalur utama menuju jalan perumahan besar, menyusuri setiap rumah-rumah yang mewah dan seperti tak ada ujungnya. Selang lima menit selanjutnya ia sampai di sebuah pemakaman elit. Riko tertegun. Untuk apa mereka ke sini? Sebenarnya lelaki itu ingin menyampaikan apa padanya?
Motor laki-laki itu berhenti di parkiran. Riko pun mengikuti jejaknya. Ia keluar dengan hati yaang semakin penasaran.
"Sebenarnya apa yang akan ada bicarakan?" Riko tak suka basa-basi.
"Sebentar lagi Anda akan tau," jawab laki--laki tersebut.
"Jangan buang waktu saya!" tegas Riko.
Sirangai licik itu Riko dapatkan.
"Anda masih punya pilihan untuk pergi dari sini. Itu pun kalau Anda tidak mau tau banyak tentan Lily!" Lelaki itu tak kalah tegas.
Ah ... Riko kalah. Ia memang sangat membutuhkan informasi sebanyak-banyak tentang Lily. Namun, ia tak punya keberanian jika sampai harus menyewa detektif. Itu sama saja ia mengusik secara paksa kehidupan mantan kekasihnya tersebut.
Langkah kaki lelaki itu bergerak menuju sebuah makam setelah ia meminta izin kepada petugas makam. Riko masih belum bergerak. Otaknya menimbulkan banyak pertanyaan. Apa ini? Ini bukan bercanda, kan?
Beralasan terlanjur basah, Riko akhirnya mengayunkan kedua kakinya mengarah pada makam yang kini terdapat lelaki tadi. Ia bingung. Bahkan tak tahu makam siapa ini.
Lelaki itu mengusap nisan makam tersebut dengan lembut, lalu berkata. "Fik, sorry, gue baru bisa dateng lagi."
Terdengar embusan kasar dari lelaki tersebut. Ia menoleh ke Riko. "Anda akan terus berdiri?"
Riko bergeming sebentar, lalu berjongkok tepat di dekat lelaki itu.
Pandanga si Lelaki kembali terpokus kepada nisan di depannya. "Fik, kenalin ini Riko. Mantan dari istri Lo."
Kedua bola mata Riko membulat sempurna. Jiwanya kaget. Ada kilat petir menyambar dirinya. Istri? Apa itu artinya ini adalah makam suaminya Lily? Jika benar, berarti Lily seorang single parents!
"Ini Fikri, sahabat saya. Suami Lily yang meninggal satu tahun lalu bersama selingkuhannya," ungkap lelaki itu dengan jelas.
Riko tak bisa berkata-kata. Kenyataan ini belum bisa diterima oleh otaknya. Ia diam dibawah langit malam yang gelap gulita. Hujan sepertinya akan menyapa bumi malam ini.
nikah kq dibuat mainan
begitu sih etikanya
semangat dan sukses trs untuk karya" nya yg lain 💪💪💪💗